Riset Pemuliaan Kuda Pacu Indonesia Bertaraf Internasional

  • 30 Okt 2025 09:27 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Pengembangan kuda pacu Indonesia terus menjadi perhatian riset nasional, seiring meningkatnya kebutuhan terhadap pemuliaan yang unggul untuk mendukung sektor olahraga, ekonomi, dan pelestarian budaya berkuda. Hal ini disoroti dalam sesi yang digelar dalam rangkaian Applied Zoology Summer School #12, Rabu (22/10/2025), yang melibatkan peneliti dari Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) BRIN dan Universitas Hasanuddin.

Peneliti PRZT BRIN, Syahruddin menguraikan tiga isu strategis pengembangan kuda di Indonesia, yakni sains dan teknologi, peluang industri, serta budaya. Ketiganya harus bergerak sejalan melalui pendekatan triple helix untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi.

Syahruddin memproyeksikan target 2024–2045, antara lain; minimal 5 rumpun kuda lokal bersertifikasi nasional dan 2 rumpun bersertifikasi internasional. Pihaknya juga menargetkan pembentukan pusat riset dan inovasi kuda nasional, serta database genetik dan performa yang 100 persen digital.

“Teknologi repronimik seperti inseminasi buatan, transfer embrio, hingga konservasi semen pejantan pacu unggul menjadi pendekatan penting dalam pemuliaan berbasis bukti ilmiah,” ungkap Syahruddin. Menurut Syahruddin, kuda pacu Indonesia kini merupakan hasil persilangan tiga rumpun utama: kuda lokal yang dikenal adaptif, kuda thoroughbred dengan kecepatan hingga 71 km/jam, serta rumpun unggul lain yang memperkuat performa.

Tujuannya adalah memperoleh kuda dengan kecepatan tinggi, adaptasi optimal, dan daya tahan kuat. Harga pasaran juga menunjukkan potensi ekonomi yang besar.

Kuda lokal dan Sumbawa dewasa dapat mencapai Rp38–42 juta per ekor, sementara kuda pacuan berprestasi di tingkat nasional bernilai hingga Rp500 juta–Rp1 miliar. Di pasar global, beberapa kuda bahkan dibanderol hingga USD70 juta.

Lebih jauh, Syahruddin memaparkan beragam plasma nutfah kuda lokal, di antaranya Sumbawa, Sandelwood, Gayo, dan Batak masing-masing dengan karakter wilayah dan adaptasi ekologis yang khas. Melalui riset yang terintegrasi dengan industri dan budaya, pihaknya berkomitmen menjadikan pengembangan kuda pacu Indonesia semakin berdaya saing dan berkelas dunia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi olahraga berkuda.

Selain itu, Syahruddin mengatakan potensi kuda tidak hanya sebagai hewan olahraga, tetapi juga sebagai penopang ekonomi masyarakat dan simbol budaya Nusantara. Dari sisi ekonomi, kuda berperan dalam sektor transportasi tradisional, wisata rekreasi, hingga penciptaan lapangan kerja baru.

Pada ranah budaya, kuda merupakan elemen penting ritual adat, pendidikan tradisional, serta pelestarian identitas daerah. Sementara dari sisi olahraga, dunia pacuan terus berkembang sebagai wadah pembinaan atlet dan peningkatan kualitas kuda nasional.

Agenda ini menjadi momentum memperkuat kolaborasi keilmuan, khususnya pada pengembangan riset kualitas biologis, kesehatan, dan manajemen pengelolaan kuda pacu di Indonesia. “Kami berharap kegiatan ini dapat membuka wawasan baru, memperluas penelitian dan memperkuat jejaring riset kuda di Indonesia,” ujar Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) BRIN, Delicia. (shf/ed:ade,jml)


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....