Masjid Kuno Cerminan Sejarah Penyebaran Islam di Nusantara
- 11 Sep 2025 10:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PR APS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Libra Hari Inagurasi, mencermati eksistensi masjid kuno sebagai bagian penting dari sejarah peradaban Islam di Nusantara. Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga simbol penyebaran Islam, pusat pendidikan, dan wadah interaksi sosial budaya.
Libra mengungkapkan, secara umum, masjid kuno dapat dipahami melalui dua dimensi utama. Sebagai tempat ibadah, masjid kuno berdiri di suatu wilayah ketika jumlah umat Islam mencukupi, sehingga berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan. Sebagai warisan budaya, masjid kuno menjadi jejak sejarah penyebaran Islam, akulturasi budaya, serta identitas kolektif masyarakat muslim di Nusantara.
“Dari sini, jelas bahwa masjid kuno bukan hanya bangunan fisik, melainkan memuat nilai sosial, kultural, dan historis,” kata Libra, dalam webinar Forum Kebhinnekaan ke-30, Selasa (9/9/2025).
Menurutnya, masjid kuno menyimpan nilai historis tinggi karena mencerminkan proses akulturasi antara ajaran Islam dengan tradisi lokal. Sekaligus, memperlihatkan kekhasan arsitektur Nusantara yang berbeda dari kawasan Arab.
Libra menyebutkan beberapa masjid kuno yang hingga kini masih ada. Antara lain Masjid Indra Puri (Aceh Besar, abad ke-17), Masjid Agung Banten (Kawasan Situs Banten Lama, abad ke-16), Masjid Kenari (Banten, abad ke-17), dan Masjid Menara Kudus (Jawa Tengah, abad ke-16).
Kemudian Masjid Bondan/Sapu Angin (Indramayu), Masjid Karangsambung (Majalengka, abad ke-15), Masjid Agung Karawang (Karawang, abad ke-15), Masjid Al-Alam Muara Gembong, dan Masjid Sunan Bayat (Klaten).
Selain di Jawa dan Sumatra, masjid kuno juga ditemukan di Maluku (Pulau Haruku). “Ini menunjukkan jangkauan luas penyebaran Islam di Nusantara,” ujarnya.

Eksistensi masjid kuno sebagai bagian penting dari sejarah peradaban Islam di Nusantara (Foto: BRIN)
Arsitektur Masjid Kuno
Libra menjelaskan arsitektur masjid kuno di Indonesia yang memiliki ciri khas berbeda dengan masjid Timur Tengah. Beberapa karakteristik umum salah satunya atap tumpang/limasan bertingkat tiga atau lebih, sebagai ciri tradisional Nusantara. Bangunan panggungnya terdapat pada wilayah pesisir atau tepi sungai.
Sementara material terbuat dari bahan kayu lokal seperti jati, bambu, dan batu bata. “Ornamen ragam hiasnya memperlihatkan kesinambungan dari budaya pra-Islam, Hindu-Buddha, hingga pengaruh Tionghoa, dan Eropa,” sebutnya.
Menariknya, masjid kuno di Indonesia memiliki kesamaan arsitektur dengan masjid di kawasan Melayu. Misalnya, Masjid Kampung Laut di Kelantan (Malaysia) dan Masjid Husein di Patani (Thailand), yang sama-sama memiliki atap bertingkat dan struktur kayu. “Hal ini membuktikan adanya kesatuan budaya Islam di dunia Melayu-Asia Tenggara yang berbeda dengan gaya masjid di Arab, yang cenderung berkubah dan menara tinggi,” kata Libra.
Namun sayangnya, keberadaan masjid kuno menghadapi sejumlah ancaman serius. Seperti kerusakan alami akibat material kayu dan bambu yang mudah lapuk, pemugaran berlebihan yang menghilangkan bentuk asli masjid, kurangnya perhatian konservasi dari lembaga terkait, dan minimnya kesadaran masyarakat akan nilai historis masjid kuno.
“Dalam banyak kasus, masjid kuno hanya menjadi objek tambahan dalam penelitian permukiman atau peradaban Islam, sehingga kajian khusus tentang masjid kuno masih terbatas,” ujar Libra.
Eksistensi masjid kuno ini mencerminkan kekayaan sejarah dan budaya Nusantara. Nilai-nilai religius, sosial, seni hias, dan arsitektur yang melekat padanya merupakan bukti akulturasi budaya yang khas. Berbeda dengan bentuk masjid di kawasan asal Islam.
Libra menekankan, pelestarian masjid kuno adalah tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah atau lembaga riset, tetapi juga masyarakat lokal yang mewarisi tradisi. Dengan kesadaran kolektif, masjid kuno menurutnya dapat tetap berdiri sebagai ruang ibadah sekaligus warisan budaya yang memperkuat identitas bangsa di tengah perubahan zaman. (noor/ed:and, tnt)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....