Aspal Buton Dioptimalkan untuk Swasembada Jalan
- 02 Apr 2025 09:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong optimalisasi pemanfaatan aspal Buton untuk mendukung swasembada aspal nasional. Melalui Direktorat Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam, Kemenperin menyusun Peta Jalan Hilirisasi Aspal Buton 2024.
Aspal Buton adalah campuran bitumen dan batuan kapur yang ditemukan di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Berdasarkan data ESDM 2023, sumber daya aspal Buton mencapai 576,87 juta ton dengan cadangan 218,87 juta ton.
“Potensi ini menjadikan aspal Buton aset nasional sebagai bahan aditif atau substitusi aspal minyak,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Potensi ini membuka peluang besar untuk industri aspal dalam negeri.
Saat ini, ada 34 pabrik pengolahan aspal Buton di Indonesia yang tersebar di berbagai pulau. Pabrik-pabrik ini memiliki kapasitas produksi 1,5 juta ton, setara 324 ribu ton aspal minyak.
Namun, tingkat utilisasi industri ini masih rendah. Pemanfaatan setiap jenis produk aspal Buton dalam empat tahun terakhir belum mencapai 15 persen.
Untuk mengatasi tantangan ini, Kemenperin menetapkan visi hilirisasi aspal Buton. Visi tersebut adalah menjadikan aspal Buton sebagai tuan rumah pasok aspal untuk swasembada nasional 2030.
Visi ini dijabarkan dalam tiga misi utama. Misi tersebut meliputi peningkatan utilisasi, pengembangan industri aspal murni, dan penumbuhan ekosistem industri berbasis industri hijau.
Sebagai langkah strategis, Kemenperin memfasilitasi partisipasi industri aspal Buton dalam kegiatan Business Matching. Kemenperin juga mengusulkan kaji ulang SNI dan mengembangkan teknologi ekstraksi murni.
Kemenperin juga berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian PUPR terkait penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK). Langkah ini bertujuan mendukung pemanfaatan aspal Buton di seluruh Indonesia.
“Dengan langkah strategis ini, Kemenperin optimistis industri aspal Buton akan berkembang pesat,” kata Taufiek Bawazier. Ini akan mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan daya saing industri dalam negeri.