Suhu Mina Capai 41 Derajat, Jemaah Diimbau Hindari Lontar Jumrah Siang Hari

  • 28 Mei 2026 11:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenhaj melarang jemaah Indonesia melontar jumrah pukul 10.00 hingga 14.00 WAS
  • Suhu Mina mencapai 41 derajat Celcius dan berisiko memicu dehidrasi serta heatstroke
  • Jemaah diminta tetap di tenda, mengikuti arahan petugas, dan memakai Jalur 2 atau Jalur Atas

RRI.CO.ID, Mina – Kementerian Haji dan Umrah RI melarang jemaah Indonesia melontar jumrah pukul 10.00 hingga 14.00 WAS. Larangan itu diberlakukan karena suhu siang hari di Mina mencapai 41 derajat Celcius.

Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengatakan imbauan tersebut dikeluarkan demi keselamatan jiwa jemaah. Ia meminta jemaah menghindari cuaca panas ekstrem dan kepadatan menuju Jamarat.

“Jemaah Indonesia yang akan menuju Jamarat kami imbau tidak melaksanakan lontar jumrah pukul 10.00 hingga 14.00 WAS,” kata Maria dalam konferensi pers melalui YouTube Kemenhaj, ditulis, Kamis, 28 Mei 2026.

Selama waktu tersebut, jemaah diminta tetap berada di tenda atau maktab masing-masing. Langkah ini dilakukan untuk mencegah risiko dehidrasi berat dan heatstroke.

Maria juga meminta jemaah mengikuti jadwal dan arahan petugas di lapangan. Menurutnya, kepatuhan terhadap jadwal membuat pergerakan menuju Jamarat lebih aman dan tertib.

“Para jemaah harus tetap berada di dalam tenda dan mengikuti arahan petugas,” ujarnya. Ia menilai pengaturan ini penting untuk menjaga kenyamanan selama fase Armuzna.

Kemenhaj juga mengarahkan jemaah menggunakan Jalur 2 atau Jalur Atas menuju Jamarat. Jalur tersebut menjadi rute resmi jemaah Indonesia untuk mengurangi potensi kepadatan.

Jemaah diminta memperbanyak minum air putih, makan tepat waktu, dan memakai pelindung kepala. Mereka juga diimbau membatasi aktivitas fisik yang tidak mendesak di luar tenda.

Perhatian khusus diminta diberikan kepada lansia, penyandang disabilitas, dan jemaah berisiko tinggi. Ketua rombongan dan sesama jemaah diminta aktif memberikan pendampingan.

Maria memastikan layanan transportasi, konsumsi, akomodasi, kesehatan, dan bimbingan ibadah tetap beroperasi. “Seluruh layanan dipastikan tetap berjalan optimal hingga seluruh rangkaian Armuzna selesai,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....