Pentingnya dan Cara Mengenalkan Mitigasi Bencana Kepada Anak

  • 05 Feb 2025 11:49 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun: Indonesia adalah negara tropis yang memiliki dua musim, kemarau dan hujan. Dari kondisi itu, kadang cuaca tidak menentu dan bencana alam tak jarang terjadi. Bencana seperti banjir, longsor, angin kencang, gempa bumi, tsunami dan lainnya juga senantiasa mengintai. Oleh karena itu, ada baiknya mengenalkan mitigasi bencana kepada anak sejak dini.

Akademisi Universitas PGRI Madiun (UNIPMA) Dr W Linda Yuhanna M.Si mengatakan, potensi bencana alam bisa menimpa siapapun dan di manapun. “Karena itu anak-anak, perlu mulai dikenalkan ketrampilan tanggap bencana,” ujar dia saat menjadi narasumber Pengarusutamaan Gender (PUG) beberapa waktu lalu (24/1/2025).

Hal ini, jelas Linda, dilakukan agar anak-anak bisa mandiri dan adaptif menghadapi cuaca ekstrem maupun saat terjadi bencana. “Secara pengertian, mitigasi bencana adalah kemampuan, serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, sebelum, pada saat, dan sesudah bencana,” ujar dia.

Linda mengatakan, kalau ketrampilan sudah dibekali sejak dini, mulai anak, remaja, dewasa sampai mandiri, maka diharapkan akan mengurangi kekhawatiran orang tua, ketika anak dimanapun tempatnya. “Mungkin (saat anak) menghadapi bencana, atau persiapan, beradaptasi dengan kemungkinan cuaca buruk,” ujar dia.

Yang perlu ditekankan, Linda menjelaskan, konsep dalam mitigasi bencana adalah, bahwa bencana itu bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. “Tidak peduli anak-anak, remaja, dewasa atau orang tua. Saat cuaca tidak baik, orang tua juga tidak bisa mendampingi anak selama 24 jam,” ujar dia.

Olehkarena itu, pentingnya membekali anak mitigasi bencana, bahwa mereka bisa mandiri, tanggap bencana, dan bisa tahu apa yang harus dilakukan. “Tentu inisiasi kemampuan ini, saya berharap dimulai sejak dini, kalau di sekolah level Paud/TK, SD, SMP, dan SMA tetap ada pembekalan mitigasi bencana dengan proporsi yang berbeda,” ucap dia.

Dengan pemahaman mitigasi benacana, Linda mengataan, harapannya juga memberikan upaya prefentif. “Jadi tidak hanya saat kejadian, namun juga pra kejadian. Mereka mandiri, tahu, bisa ambil sikap saat bencana,” ujar dia. Ada beberapa cara untuk memberikan mitigasi bencana ini pada anak level Pendidikan Anak Usia Dini (Paud).

“Untuk level Paud, pertama, karena struktur kognitifnya masih pra operasional konkret, dimana mereka harus disampaikan terarah, sederhana, apa yang mereka bisa temui dikehidupan sehari-hari,” ujar dia. Contohnya, untuk anak usia Paud bisa dimulai dengan memberikan gambaran terlebih dahulu.

Misalnya, Linda menjelaskan, kalau hujan deras, ada yang hanyut. Nah, hanyut ini termasuk banjir. “Konsep ini harus disampaikan dulu. Kalau mereka belum memiliki pengalaman atau belum pernah melihat, maka harus diberi media, seperti minimal gambar atau video. Istilahnya proses mengubah sesuatu yang abstrak menjadi yang konkret,” ujar Linda.

Kedua dengan model studi kasus. “Anak usia Paud itu senang sekali diberikan cerita. Karena itu metode untuk mitigasi bencana ini bisa melalui proses bercerita,” ujar Linda. Kemudian, ketiga, boleh mulai dismulasikan. “Di Jepang mulai Paud, TK mereka sudah terbiasa simulasi dengan gempa, tsunami, kebakaran dan lain sebagainya. Ini juga bisa kita lakukan,” ujar dia.

Linda mengatakan, di Indonesia dengan dua musim, kemarau dan hujan, harapannya mereka tahu. “Kalau kemarau itu harus apa, jika terjadi apa. Sebaliknya kalau hujan, apa yang harus dilakukan. Karena itu perlu disampaikan (tentang mitigasi bencana sejak dini),” ujar dia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....