Mercusuar Pulau Aceh, Jejak Maritim Masa Lalu
- 31 Mei 2025 20:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Banda Aceh : Namanya “Pulau Aceh”. Ini nama sebuah kecamatan di Kabupaten “Aceh Besar” yang berada di “Provinsi Aceh”. Yang menarik, dari nama kecamatan, nama kabupaten dan nama provinsi semuanya memakai kata “Aceh”.
Pulau Aceh ibarat sebagai wilayah “halaman depan” dari kota Banda Aceh. Bahkan mungkin juga "halaman depan" Nusantara, karena untuk memasuki pelabuhan di Banda Aceh sebuah kapal harus melalui Pulau Aceh. Untuk memasuki Selat Malaka atau Nusantara sebuah kapal laut dari Barat akan terpantau dari Pulau Aceh.
Di masa lalu ketika perdagangan komoditas rempah-rempah dijalankan melalui laut, maka lalu lintas laut menjadi perhatian para penguasa di wilayah ini.
Belanda sebagai penguasa penjajah pada masa itu merasa perlu untuk mengatur lalu lintas laut yang keluar masuk Kota Banda Aceh. Untuk itu Belanda membangun sebuah Mercusuar, menara pengawas lalu lintas laut. Saat ini, menara mercusuar itu masih berdir tegak. Ini adalah peninggalan Belanda yang bersejarah, namanya: Mercusuar Willem Toren III, sebuah bangunan navigasi yang dibangun pada masa penjajahan Belanda.
Mercusuar ini terletak di Desa Meulingge, Pulo Breuh, Kecamatan Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Ia menjadi simbol bisu dari kekuasaan kolonial Belanda yang dahulu menguasai wilayah paling barat Indonesia ini.
Dikenal pula sebagai Menara Willem Toren III, bangunan ini berdiri megah di puncak bukit. Menyajikan panorama laut lepas serta deretan pulau-pulau yang mengelilinginya.
Jika anda berada di atas menara mercusuar pasti akan terpesona dan terpana dengan keindahan alam di sekitarnya. Tetapi Belanda membangun mercusuar ini bukan semata-mata untuk menikmati keindahan alam. Mercusuar ini untuk memantau kapal yang akan masuk apakah sebuah kapal ingin berdagang atau berperang bisa dipantau dari sini.,
Menurut informasi dari situs resmi Dinas Perhubungan Aceh, nama mercusuar ini diambil dari Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk, seorang Raja Luksemburg yang memerintah pada rentang tahun 1817 hingga 1890. Menara ini memiliki ketinggian mencapai 85 meter dengan ketebalan dinding sekitar satu meter, struktur menara ini berbentuk silinder dengan sentuhan kuat arsitektur Belanda yang mencerminkan masa kolonial di Bumi Serambi Mekkah.
Pembangunan mercusuar ini dimulai pada tahun 1875 oleh pemerintah Belanda dengan tujuan memandu kapal-kapal yang berlayar melalui Selat Malaka, jalur pelayaran internasional yang sangat sibuk. Sebagai bagian penting dari sistem navigasi laut global, menara ini memiliki peran strategis.
Untuk mencapai puncaknya, pengunjung harus menapaki 168 anak tangga. Uniknya, menara serupa hanya ada tiga di dunia, yaitu di Aceh, Belanda, dan wilayah Karibia.
Hingga hari ini, mercusuar ini masih berfungsi aktif sebagai pemandu navigasi kapal yang melintas di perairan Samudra Hindia. Saat ini, pengelolaannya berada di bawah tanggung jawab Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut – Distrik Navigasi Kelas II Sabang.
Tidak hanya berperan dalam sektor pelayaran, mercusuar Willem Toren III kini juga menjadi tujuan wisata sejarah dan alam yang banyak diminati. Dengan keindahan alam sekelilingnya dan nilai sejarah yang terkandung, keberadaan mercusuar ini memperkaya daya tarik wisata Pulau Aceh.
Menara ini telah menjadi salah satu ikon sejarah maritim Indonesia yang penting. Selain itu sebagai saksi perjalanan kapal-kapal masa lalu, juga sebagai penanda arah masa kini yang terus menyala.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....