Fenomena Sekolah Inden, Orang Tua Antre Sejak Dini

  • 29 Jan 2026 18:33 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena sekolah inden semakin marak terjadi di sejumlah sekolah swasta favorit. Orang tua bahkan rela mendaftarkan anak sejak masih bayi demi mendapatkan kursi sekolah dasar di masa depan.

Salah satu sekolah yang mengalami lonjakan pendaftar inden adalah SD Muhammadiyah Sapen, Yogyakarta. Antrean calon murid di sekolah tersebut tercatat sudah penuh hingga tahun ajaran 2032-2033.

Orang tua calon murid, Dhara Dinda, mengaku telah mendaftarkan anaknya ke SD Muhammadiyah Sapen sejak usia 20 bulan. Anak tersebut baru akan memasuki usia sekolah dasar pada 2030.

“Saya daftarkan untuk tahun 2030. Sekarang anak saya masih bayi 20 bulan dan masih masuk cadangan,” kata Dhara dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Kamis 29 Januari 2026.

Dhara menjelaskan, keputusan mendaftarkan anak sejak dini didorong oleh reputasi sekolah. Dia juga merupakan alumni SD Muhammadiyah Sapen sehingga memahami kualitas pendidikan yang diterapkan.

Selain faktor reputasi, pendidikan berbasis agama menjadi pertimbangan penting bagi Dhara. Ia menilai pendidikan dasar merupakan fondasi utama pembentukan karakter anak.

Dhara menyebut, sistem inden tidak hanya berlaku di SD Muhammadiyah Sapen. Menurutnya, banyak sekolah swasta di Yogyakarta juga membuka pendaftaran inden sejak dini.

“Kalau di Yogya rata-rata sekolah swasta Muhammadiyah ya khususnya, memang sudah open sih buat inden. Nggak hanya di Sapen aja,” katanya.

Sementara itu, Kepala SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, Agung Rahmanto, menegaskan penitipan dokumen bukan berarti pendaftaran resmi. Sekolah tetap mengacu pada regulasi pemerintah terkait usia murid.

Dia menjelaskan, SD Muhammadiyah Sapen menerima murid sesuai ketentuan usia, yakni enam hingga tujuh tahun, dengan mempertimbangkan kesiapan anak. Seleksi tidak dilakukan melalui tes akademik.

Agung mengatakan, praktik penitipan dokumen awalnya dilakukan satu tahun sebelum pendaftaran resmi. Namun sejak 2021, penitipan dilakukan jauh lebih awal karena tingginya minat masyarakat.

“Kuota kami sekitar 230 murid per tahun, sementara yang menitipkan dokumen bisa lebih. Jadi masyarakat berinisiatif untuk menitipkan dokumen kependudukan lebih awal,” ujarnya.

Menurut Agung, tingginya animo orang tua merupakan dampak dari kepercayaan terhadap kualitas layanan pendidikan di sekolah tersebut. Kepercayaan itu, kata dia, telah terbangun selama puluhan tahun.

Ia menegaskan, sekolah berupaya menjaga transparansi dengan memberikan nomor urut penitipan kepada orang tua. “Nomor urut itu menjadi acuan, kami jaga transparansi dan akuntabilitasnya,” kata Agung.

Agung menambahkan, fenomena sekolah inden menjadi tantangan bagi sekolah untuk terus meningkatkan mutu layanan. Kepercayaan masyarakat dinilai harus dijawab dengan inovasi dan kualitas pendidikan yang berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....