Lo Kheng Hong: Kisah Bertahan di Tengah Turunnya Harga Saham BUMI

  • 10 Jul 2024 00:32 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Lo Kheng Hong, sering dijuluki sebagai Warren Buffett-nya Indonesia, adalah seorang investor kawakan yang terkenal dengan prinsip investasi jangka panjangnya. Salah satu kisah yang paling menonjol dalam perjalanan investasinya adalah saat ia memutuskan untuk tetap memegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) meskipun harganya terus turun drastis pada tahun 2012. Keputusan ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana Lo Kheng Hong menghadapi tantangan dalam investasi dengan ketenangan dan keyakinan pada prinsip-prinsip dasar investasi yang ia anut.

PT Bumi Resources Tbk adalah salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang pertambangan batu bara. Pada awal tahun 2010-an, saham BUMI menjadi salah satu saham favorit di Bursa Efek Indonesia karena kinerja perusahaan yang menjanjikan dan prospek industri batubara yang cerah. Banyak investor, termasuk Lo Kheng Hong, melihat potensi besar dalam saham ini.

Pada tahun 2012, harga saham BUMI mulai menunjukkan tren penurunan yang tajam. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk masalah utang perusahaan yang membengkak, penurunan harga batubara di pasar global, serta sentimen negatif dari investor. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, banyak investor mulai panik dan menjual saham BUMI untuk meminimalkan kerugian.

Berbeda dengan kebanyakan investor, Lo Kheng Hong memutuskan untuk membeli saham BUMI pada harga Rp1000. Keputusan ini didasarkan pada analisis fundamental yang mendalam dan keyakinannya bahwa nilai intrinsik saham BUMI jauh lebih tinggi daripada harga pasar saat itu. “Saya membeli saham BUMI karena mempunyai cadangan batubara yang terbukti sebanyak 3 miliar ton berdasarkan Joint Ore Reserves Committee. Saat itu harga Batubara adalah sekitar $US 80/metrik ton. Maka kekayaan BUMI adalah $US 240 miliar.” dikutip dari buku karya Lukas Setia Atmaja yang berjudul Lo Kheng Hong.

Alih-alih naik, saham BUMI terus menerus turun hingga mencapai Rp50 per lembar. Pada periode tersebut Lo Kheng Hong terus melakukan akumulasi hingga memegang 1 miliar saham BUMI. Setara dengan 2,7% dari total 36,6 miliar saham yang beredar. Hingga pada agustus 2016 harga batubara mulai menemukan titik terang dan tak lama kemudian BUMI berhasil menyelesaikan proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Kondisi tersebut berhasil menjadi katalis yang mengangkat harga saham BUMI. Lo Kheng Hong melepas 90% saham BUMI pada harga Rp500 per lembar. Dengan harga pembelian rata-rata Rp300 maka Lo Kheng Hong berhasil membalikan kerugian menjadi keuntungan.

Kisah Lo Kheng Hong yang bertahan memegang saham BUMI di tengah penurunan harga adalah contoh nyata dari kekuatan keyakinan pada prinsip investasi jangka panjang. Keputusan ini tidak hanya mencerminkan ketenangan dan kepercayaan diri seorang investor berpengalaman, tetapi juga memberikan inspirasi bagi banyak investor untuk tetap teguh pada analisis fundamental dan keyakinan pada nilai intrinsik perusahaan. Meskipun pasar sering kali bergejolak, prinsip-prinsip investasi yang kokoh akan selalu menjadi panduan dalam meraih kesuksesan jangka panjang.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....