Diperingati 16 Mei, Ini Sejarah Hari Cahaya Internasional

  • 16 Mei 2025 09:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Hari Cahaya Internasional diperingati setiap tanggal 16 Mei. Peringatan hari ini bertujuan untuk merayakan kontribusi cahaya dan teknologi berbasis cahaya dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Perayaan ini menyoroti peran penting cahaya dalam berbagai bidang kehidupan. Bidang-bidang tersebut mencakup seni, pendidikan, kedokteran, komunikasi, ilmu pengetahuan, dan pembangunan berkelanjutan.

Peringatan ini bertepatan dengan keberhasilan operasi laser pertama oleh fisikawan dan insinyur Theodore Maiman pada tahun 1960. Peringatan tersebut diprakarsai oleh UNESCO melalui Program Sains Dasar Internasional (I.B.S.P.), dilansir dari laman resmi UNESCO dan National Today.

Hari Cahaya Internasional dirayakan di seluruh dunia melalui berbagai acara ilmiah dan publik, melibatkan masyarakat umum maupun komunitas ilmiah. Sejak zaman kuno, manusia telah menggunakan berbagai bahan untuk menghasilkan cahaya, mulai dari minyak, lilin, hingga gas.

Namun sejarah cahaya modern dimulai dengan penemuan lampu listrik. Pada tahun 1802, Humphrey Davy menciptakan lampu busur listrik pertama, yang sayangnya masih belum praktis karena terlalu terang dan cepat rusak.

Penemuan ini kemudian memicu inovasi lain seperti lampu keselamatan tambang dan lampu jalan di Eropa. Tahun 1850, Joseph Swan mengembangkan lampu dengan filamen dari kertas karbon yang lebih murah, menggantikan filamen platina yang mahal.

Ia mematenkan temuannya pada 1878, namun lampunya masih belum efisien akibat kelemahan pada pompa vakum. Thomas Edison lalu menyempurnakan teknologi ini dan memperkenalkan lampu listrik yang lebih praktis pada Desember 1879.

Setelah sempat bersaing, Edison dan Swan akhirnya bergabung dalam perusahaan Edison-Swan United. Perusahaan tersebut kemudian menjadi produsen lampu terbesar di dunia saat itu.

Inovasi terus berlanjut hingga abad ke-20, di mana pada awal 1960-an, Nick Holonyak dari General Electric menemukan lampu LED merah. Penemuan ini diikuti oleh LED biru yang dikembangkan pada awal 1990-an oleh ilmuwan Jepang dan Amerika.

Mereka yaitu Isamu Akasaki, Hiroshi Amano, dan Shuji Nakamura, yang kemudian menerima Nobel Fisika pada tahun 2014. Berkat LED biru, ilmuwan berhasil menciptakan LED putih yang kini digunakan secara luas.

Melalui Hari Cahaya Internasional, UNESCO mengajak seluruh dunia untuk memperkuat kerja sama ilmiah. Ajakan ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi ilmu pengetahuan demi menciptakan perdamaian dan pembangunan berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....