Sejarah dan Makna Ratoh Jaroe dalam Budaya Aceh 

  • 10 Jan 2026 13:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Ratoh Jaroe merupakan tarian asal Aceh yang berkembang sebagai representasi budaya religius dan kebersamaan masyarakat setempat. Tarian ini dikenal luas setelah tampil dalam berbagai acara nasional dan internasional yang menampilkan kekuatan visual serta kekompakan para penarinya.

Dilansir dari laman Kementerian Agama, Ratoh Jaroe dikenal sebagai tarian tradisional Aceh, meski proses kelahirannya justru berlangsung di Jakarta. Istilah ratoh dimaknai sebagai dzikir, sementara jaroe berarti jari, yang bersama-sama melambangkan kedisiplinan serta kepatuhan manusia kepada Allah.

Syair yang dilantunkan oleh syahie terdengar tegas dan berirama kuat, menyuarakan pujian atas kebesaran Allah secara penuh penghayatan. Lantunan tersebut menjadi elemen penting yang memperkuat makna spiritual dan kekhidmatan dalam setiap gerakan tarian Ratoh Jaroe.

Ratoh Jaroe lahir dari proses kreatif seniman Aceh yang mengolah unsur tradisi menjadi bentuk pertunjukan modern tanpa meninggalkan akar budaya. Sejak awal kemunculannya, tarian ini dirancang agar dapat dipentaskan secara massal dengan pola gerak seragam dan ritmis.

Secara etimologis, ratoh dimaknai sebagai lantunan doa atau pujian yang diucapkan secara berulang dengan penuh penghayatan. Sementara itu, jaroe merujuk pada gerakan jemari yang menjadi elemen utama dalam membangun dinamika visual tarian.

Makna Ratoh Jaroe terletak pada pesan spiritual, kedisiplinan, serta nilai persatuan yang tercermin melalui keselarasan gerak para penari. Setiap rangkaian gerakan mencerminkan kebersamaan dan kerja kolektif yang dijunjung tinggi dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh.

Ratoh Jaroe kerap dianggap serupa dengan tari Saman karena sama-sama menampilkan gerakan cepat dan dilakukan secara duduk berbanjar. Meski demikian, kedua tarian tersebut memiliki latar budaya, fungsi, serta struktur penyajian yang berbeda.

Tari Saman secara tradisional dibawakan oleh penari laki-laki dengan pola vokal tanpa iringan alat musik pengiring. Sebaliknya, Ratoh Jaroe umumnya dibawakan oleh penari perempuan dan diiringi musik rapa’i untuk memperkuat ritme gerakan.

Perbedaan lainnya terlihat pada konteks pertunjukan, di mana Ratoh Jaroe lebih fleksibel ditampilkan dalam berbagai acara modern. Meski sering disandingkan, Ratoh Jaroe dan tari Saman tetap berdiri sebagai dua warisan budaya Aceh dengan identitas masing-masing.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....