Mengenal Topeng Blantek, Teater Khas Betawi
- 23 Jun 2025 18:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Selama ini masyarakat mengenal seni pertunjukan Betawi yaitu Topeng dan Lenong. Tak banyak orang tahu bahwa ada seni pertunjukan asli Betawi yang terlupakan yaitu: Topeng Blantek. Blantek adalah sandiwara tanpa teks, sebuah seni budaya Betawi yang kini semakin tergerus zaman.
Mengutip Abdul Aziz dalam “Tinjauan Sosiologi Topeng Blantek Betawi” (2015), Blantek hadir ditengah kesenjangan antara Lenong dan Topeng.
Awalnya, Topeng Blantek dipentaskan dengan memanfaatkan obor sebagai penerang. Obor tersebut digunakan karena dahulu pertunjukan Topeng Blantek selalu digelar pada malam hari.
Kesenian asal Betawi ini berkembang dan disebarluaskan oleh kalangan petani/ pedagang. Sambil menunggu para pembeli di pagi hari, mereka bercerita dengan sesama pedagang lainnya.
Dilansir dari laman “Seni Budaya Betawi”, di tahun 1950-an para seniman tidak banyak mementaskan Blantek. Namun, 20 tahun setelahnya,sekitar tahun 1970-an, Pemerintah Daerah DKI Jakarta mulai menampilkan kembali Topeng Blantek, dimulai dari layar Televisi Republik Indonesia (TVRI_.
Penayangan Topeng Blantek di TVRI mampu menyedot kembali perhatian dan antusias masyarakat. Hal ini berdampak positif, hingga memicu kolaborasi antara pementasan Topeng Betawi dan Topeng Blantek di ruang terbuka.
Sebenarnya terdapat banyak kesamaan antara kesenian Topeng Blantek dengan Topeng Betawi. Perbedaannya hanya terletak pada iringan musiknya.
Pertunjukan Topeng Betawi diiringi oleh musik gamelan yang ditambah dengan iringan rebab. Sementara Topeng Blantek diiringi oleh rebana biang, rebana ketok, hingga kotek.
Di tahun 1979, pernah diadakan loka karya dan festival Topeng Blantek. Kemudian di tahun 1990-an, pertunjukan Topeng Blantek mulai menyita antusiasme masyarakat karena sandiwara yang dihadirkan tanpa teks (naskah).
Dalam pementasan Topeng Blantek, ada seorang tokoh yang akan menjadi pemimpin pertunjukan, ia dinamakan Jantuk. Tokoh Jantuk ditampilkan dengan memakai topeng dan selalu membawa obor sebagai ciri khas Topeng Blantek.
Tak lupa "Sundung" dan Obor selalu dihadirkan dalam pementasan kesenian ini. "Sundung" ialah alat angkut tradisional yang terbuat dari bambu, biasanya sundung digunakan untuk meletakkan obor diatasnya.
Tema cerita yang disajikan pada pementasan Topeng Blantek diantaranya, tentang Legenda Betawi, seperti Si Pitung, Jampang, Nyai Dasima. Selain pertunjukan sandiwara, turut ditampilkan pula tari-tarian, misalnya tari Ronggeng Blantek, Ngarojeng, dan Yapong.
Sebuah film pendek berjudul "Totok di Batavia" membahas mengenai seni Blantek. Film ini diunggah di media sosial FB tahun 2015. Sutradara film ini adalah Muhammad Dio Thahara.
Seiring perkembangannya, Topeng Blantek semakin tergerus zaman. Kesenian ini berkembang di pinggiran Jakarta dan di wilayah Bogor, seperti Bojong Gede, Pondok Rajeg, Citayam dan Ciseeng.
Salah satu pegiat seni Topeng Blantek yang masih eksis dan giat menghidupkan seni tersebut adalah Ras Barkah. Pada tahun 1994 ia membawa topeng Blantek kembali dikenal masyaraat. Namun kini Blantek redup kembali. Entah kapan ada seniman yang menggerakan lagi kesenian itu. (Afriani Respati)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....