Tengge-tengge, Permainan Tradisional Gorontalo yang Mulai Hilang
- 25 Jan 2024 14:25 WIB
- Gorontalo
KBRN, Gorontalo - Permainan Tradisional merupakan kekayaan budaya bangsa yang mempunyai nilai-nilai luhur untuk dapat diwariskan kepada anak-anak sebagai generasi penerus. Sejalan dengan berkembangnya teknologi maka, berkembang pula jenis mainan anak-anak. Permainan-permainan tradisonal pun sudah jarang sekali kita jumpai contohnya permainan engklek atau tengge-tengge dalam penyebutan di Gorontalo.
Permainan ini mempunya banyak nama atau istilah lain. Permainan ini berasal dari “zondag-maandag” yang berasal dari Belanda dan menyebar ke Nusantara pada jaman kolonial. Permainan ini dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, baik di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi dengan nama yang berbeda-beda.
Di beberapa daerah Permainan ini memiliki nama- nama berbeda, antara lain Engklek (Jawa), Gala Asin (Kalimantan), Intingan (Sampit), Cak Lingking (Bangka), Dengkleng, Teprok (Bali), Gili-gili (Merauke), Deprok (Betawi), Gedrik (Banyuwangi), Bak-baan, engkle (Lamongan), Bendang (Lumajang), Engkleng (Pacitan), Sonda (Mojokerto), Tepok Gunung (Jawa Barat), dan masih banyak lagi.
Dirangkum dari ece-ung.blogspot.com dalam makalah yang berjudul Permainan Tradisional Tengge-tengge, permainan tradisional ini dilakukan dengan gerakan lompat-lompatan pada bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah, dengan membuat gambar kotak-kotak kemudian melompat dengan satu kaki dari kotak satu ke kotak berikutnya. Permainan tengge-tengge biasa dimainkan oleh 2 sampai 5 anak perempuan dan dilakukan di halaman. Namun, sebelum kita memulai permainan ini kita harus membuat kotak-kotak di pelataran semen, aspal atau tanah, menggambar 5 segi empat berhimpit vertical kemudian di sebelah kanan dan kiri diberi lagi sebuah segi empat.
Cara bermainnya sederhana saja, cukup melompat menggunakan satu kaki di setiap petak-petak yang telah digambarkan sebelumnya di tanah. Untuk dapat bermain, setiap anak harus mempunyai kereweng atau gacuk yang biasanya berupa pecahan genting, keramik lantai, ataupun batu yang datar. Kereweng atau gacuk dilempar pada salah satu petak yang digambar di tanah, petak yang ada gacuknya tidak boleh diinjak atau ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak-petak yang ada. Saat melemparkannya tidak boleh melebihi kotak yang disediakan, jika melebihi, maka dinyatakan gugur, dan diganti dengan pemain selanjutnya.
Pemain yang menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu melemparkan gacuk dengan cara membelakangi tengge-tenggenya, jika pas pada petak yang dikehendaki, maka petak itu akan menjadi “sawahnya”, artinya di petak tersebut pemain yang bersangkutan dapat menginjak dengan dua kaki, sementara pemain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan. Peserta yang memiliki sawah paling banyak adalah pemenangnya. Permainan ini sangat seru karena biasanya paling sering kesalahan yang dilakukan adalah saat kita melempar gacuk tapi tidak pas di kotaknya atau meleset dari tempatnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....