Masjid Agung As-Salam Lubuklinggau Tampilkan Arsitektur Timur Tengah
- 10 Apr 2024 16:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Lubuklinggau: Masjid Agung As-Salam terletak di jantung Kota Lubuklinggau, Sumatra Selatan. Tidak sekadar tempat ibadah, masjid ini telah menjadi salah satu objek wisata religi dan ikon kota tersebut.
Konsep arsitekturnya yang megah seakan menampilkan nuansa Timur Tengah di masjid tersebut. Kubahnya yang besar dapat dikatakan mirip dengan yang berada di Masjid Nabawi di Madinah.
Tim Ekspedisi Mudik Lebaran RRI bertemu Ketua DKM Masjid As-Salam, Luthfi Ishak, Rabu (10/4/2024). Dia menceritakan sejarah serta arsitektur masjid yang mulai dibangun pada 1990 itu.
"Saat itu adalah masa kepemimpinan Bapak Haji Nang Ali Solichin sebagai Bupati Musi Rawas," ujarnya. Ini karena Lubuklinggau pada masa itu merupakan Ibu Kota Kabupaten Musi Rawas.
Pembangunan masjid belum rampung sewaktu Solichin turun dari jabatannya pada 1995. Penggantinya yaitu Radjab Semendawai kemudian meneruskan pekerjaan tersebut hingga akhirnya bisa diresmikan pada 31 Desember 1997.

Partisipasi Masyarakat
Menurut Luthfi, Masjid As-Salam dibangun dengan partisipasi masyarakat dengan arsiteknya bernama Hasanudin asal Bandung. "Seluruh warga diminta kontribusinya untuk pembangunan masjid ini," ujarnya.
Misalnya anak-anak sekolah dasar (SD) menyumbang lima batu bata merah per orang. Sedangkan murid SMP dan SMA masing-masing dikenakan 15 dan 50 batu bata merah per orang.
"Ini supaya mereka merasa memiliki, bukan untuk memeras warga," kata Luthfi. Sehingga, seluruh penduduk Musi Rawas merasa memiliki masjid dan menjadi kebanggaan untuk mereka.
Masjid As-Salam terdiri dari dua lantai yang dapat menampung sekitar 5.000 jemaah. Masjid ini dibangun di atas tanah seluas 10 ribu meter persegi.
Konsep Arsitektur Timur Tengah
Luthfi mengatakan Masjid Agung As-Salam dibangun dengan konsep ala Timur Tengah. Ini tampak jelas dari kubahnya yang terinspirasi dari Masjid Nawabi di Madinah.
Pada 2015, Ridwan Mukti sebagai Wali Kota Lubuklingau ketika itu merevitalisasi masjid tersebut. "Namun, fokus revitalisasi hanya di bagian luar saja," katanya.
Revitalisasi dilakukan terhadap 40 tiang yang berada di seluruh bangunan masjid. Menurut Luthfi, ada filosofi di balik jumlah pilar tersebut.
"Ini menandakan usia Nabi Muhammad SAW saat beliau diangkat sebagai Rasulullah," ujarnya. Sehingga, dibuatlah tiang yang seluruhnya berjumlah 40 itu.

Selain pilar, masjid ini juga memiliki fasilitas lain seperti menara kembar dan taman kurma. Pohon kurma memang menjadi salah satu daya tarik Masjid As-Salam.
"Sewaktu pertama kali dibangun, pohon kurma yang ditanam berjumlah 63 buah," kata Luthfi. Hal ini menggambarkan usia Rasulullah pada saat beliau wafat.
Menurut Luthfi, sebagian pohon kurma itu berasal dari Timur Tengah dan sebagian lagi dari Pulau Madura, Jawa Timur. "Alhamdulillah pohon-pohon tersebut sudah berbuah beberapa kali," ucapnya.
Di belakang masjid juga terdapat kantin khusus untuk kaum duafa. "Setiap Jumat kami membuka kantin untuk memberi makan kepada para jemaah," katanya.
Masjid As-Salam memiliki lima kubah. Satu kubah besar di bagian tengah dan masing-masing dua kubah di sisi kiri dan kanan.
"Ini menggambarkan filosofi lima Rukun Islam," ucap Luthfi. Di bagian dalam seluruh kubah terdapat kaligrafi asmaul husna atau nama-nama Allah yang indah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....