Menyelisik Jejak Kejayaan Kesultanan Tidore
- 25 Nov 2023 09:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
DERU mesin kapal terdengar berisik di telinga. Perahu pun bergerak cepat meninggalkan Pelabuhan Bastiong, Ternate, jelang siang Sabtu (18/11/2023), di akhir pekan yang berawan.
Di pelupuk mata sudah terlihat Kepulauan Tidore dan Pulau Maitara. Anda tahu uang Rp1.000 emisi tahun 2000? Persis seperti itulah pemandangan yang terlihat saat kapal menuju Pelabuhan Rum, Tidore Kepulauan.
Hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk menapakkan kaki di Tidore Kepulauan dari Ternate dengan mengendarai kapal cepat. Kalau memakai kapal feri perjalanan dari Bastiong ke Rum sekitar 45 menit.
Dari Pelabuhan Rum kami ingin menyelisik jejak kejayaan Kesultanan Tidore yang begitu terkenal pada zamannya. Tujuan pertama adalah Kedaton Kesultanan Tidore di Jalan Soa Sio.
Tiba di kedaton kesultanan suasana terlihat sepi. Kami membuka gerbang sendiri karena tidak terkunci.
Begitu memasuki halaman kedaton, ternyata sudah menanti dua penjaga di sana, Rahman Abubakar dan Bakri Umar. Sebelumnya kami sudah menghubungi Sultan Tidore untuk beranjangsana.
Rahman sehari-hari bertugas sebagai kepala rumah tangga kedaton. Sedangkan Bakri Umar menjabat sebagai penjaga kedaton.
“Mari-mari, silakan. Selamat datang di kedaton Kesultanan Tidore,” kata Bakri, menyambut rombongan RRI dengan penuh keramahan. “Sultan Tidore sudah memerintahkan kami untuk menyambut tamu dari RRI. Namun sultan tidak ada di tempat, sedang di Jakarta,” ia menambahkan.

Bangunan kedaton ini mirip kalajengking, yaitu binatang artropoda, kakinya beruas-ruas, berekor panjang, bersengat di ujung ekornya, dan menyengat dengan cara menungging atau menjengking dengan ekornya menjengkit. Ada filosofi tersendiri dari bangunan kedaton yang mirip kalajengking ini.
“Artinya Tidore adalah kerajaan yang tenang, tetapi berbahaya bila diganggu,” kata Bakri. Bangunan kedaton ini didominasi warna putih, dengan kelir hijau di pagar, jendela, dan pintunya. Ada nuansa Spanyol di bangunan itu.
Memang ada relasi antara Tidore dan Spanyol. Pada masa lalu Bangsa Spanyol menjadi mitra Tidore. Berbeda dengan Ternate yang menjalin hubungan dengan Portugis.
Wajar bila banyak peninggalan berbau Spanyol di Tidore, termasuk corak bangunan. Bahkan ada benteng yang dibuat Spanyol pada 1609, tidak jauh dari kedaton. Mungkin hanya dua pelemparan batu, karena tembok benteng bisa terlihat dari halaman kedaton. Namanya Benteng Tahula.
Kami diterima di ruang tamu, persis di depan singgasana sultan dan permaisuri. Saat ini takhta Kesultanan Tidore dipegang Husain Alting Sjah. Ia juga menjabat sebagai Anggota DPD RI dari Maluku Utara.

Di dekat singgana terdapat beragam bendera yang berwarna-warni. Ada 10 bendera, perinciannya lima di kanan dan lima di kiri. Masing-masing bendera memiliki makna tersendiri.
Bendera di sebelah kanan singgana melambangkan kesultanan lengkap dengan jajaran pemerintahan. Mulai sultan, militer, polisi, jaksa, hingga intelijen. Kemudian deretan bendera di sebelah kiri sebagai simbol lima waktu salat: magrib (merah), isya (hitam), putih (subuh), kuning (zuhur), dan hijau (asar).
“Jadi Kesultanan Tidore ini berdiri karena semangat Islam yang kental. Sebagai syiar ke banyak tempat kala itu,” ujar Bakri.
Dalam sistem Kesultanan Tidore tidak memakai garis keturunan untuk suksesi kepemimpinan. Suksesi Kesultanan Tidore dilakukan dengan musyawarah dari berbagai raha atau marga, yang memiliki kaitan sejarah dengan pembentukan kesultanan.
Kesultanan Tidore ini memiliki sejarah yang panjang di Maluku Utara. Di provinsi ini ada empat kesultanan, yaitu Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan.
Pada masa lampau empat kesultanan itu memiliki hubungan persaudaraan adik dan kakak. Terus siapa paling tua?
“Dari keempat itu yang tertua adalah Kesultanan Tidore. Usianya sudah 915 tahun dan ada upacara adat untuk peringatan didirikannya kesultanan setiap 7-12 April,” kata Bakri.
Selanjutnya, “Kekuasaan Kesultanan Tidore”
OBROLAN di depan singgasana sultan dan permaisuri lantas bergeser ke beragam ornamen yang ada di dalam kedaton. Banyak peninggalan zaman dahulu yang menggambarkan betapa luasnya kekuasaan Kesultanan Tidore.
Itu setidaknya terlihat dari peta wilayah Kesultanan Tidore. Kekuasaannya selain di Tidore meluas hingga Halmahera, Buru, Seram, Papua Barat, hingga sebagian Papua.
Kesultanan Tidore mencapai puncak kejayaan saat Sultan Nuku berkuasa. Ia menjadi Sultan Tidore pada 1979-1805.
Kala itu Sultan Nuku bersatu dengan Ternate untuk melawan Belanda dan Inggris. Bangsa Portugis dan Spanyol yang datang pada awalnya juga tidak mampu menjajah, selain menjalin hubungan dagang biasa.

Seiring berjalannya waktu Kesultanan Tidore mulai mengalami kemunduran karena politik adu domba, yang menyebabkan timbul perpecahan dengan Kesultanan Ternate. Sampai akhirnya 1906 terjadi konflik internal sekaligus menandai runtuhnya kesultanan.
Pada 1947 Kesultanan Tidore sempat bangkit lagi dengan penahbisan Zainal Abidin Sjah sebagai raja. Namun kesultanan vakum lagi setelah raja meninggal.
Baru pada 1999 Kesultanan Tidore dibangun dengan pemegang takhta adalah Sultan Djafar Sjah. Setelah meninggal pada 2012 Kesultanan Tidore sepakat mengangkat Husain Sjah sebagai sultan yang baru.
“Perjalanan Kesultanan Tidore sangat panjang, banyak peninggalan yang ada di dalam kedaton menunjukkan hal itu. Di kamar sultan juga ada Al-Qur’an tulisan tangan tertua dan mahkota kerajaan,” ujar Bakri.
Selanjutnya, “Mengembalikan Kejayaan Tidore”
RAHMAN Abubakar lebih banyak diam saat menyambut rombongan RRI. Ia duduk agak jauh dari ruang tamu saat kami mengobrol dengan Bakri.
Sebagai kepala rumah tangga Kesultanan Tidore, Rahman sehari-hari tinggal di dalam kedaton. Ia memiliki kamar tersendiri, yang letaknya di depan kamar sultan.
“Sebagai bagian dari kesultanan, kami yang ada di sini tidak mendapatkan gaji. Namun kami senang bisa mengabdi untuk kesultanan,” kata Rahman.
Meski begitu Sultan Tidore memiliki hubungan yang baik dengan seluruh perangkat kesultanan. Ia pun dipandang sebagai sultan yang mampu mengayomi masyarakat.
Sultan Husain Sjah dilantik sebagai raja Kesultanan Tidore pada 23 Oktober 2014. Sang paduka menggantikan sultan sebelumnya, Jafar Sjah, yang mangkat pada 2011.
Sejak dilantik Sultan Husain Sjah berupaya keras mengembalikan kejayaan kesultanan. Kejayaan dalam hal ini bukan terkait dengan kekuasaan teritorial. Melainkan membesarkan lagi nama Kesultanan Tidore, terutama dalam aspek adat, tradisi, dan budaya.
Beragam kegiatan budaya, festival adat, hingga pemberian gelar Kesultanan Tidore telah diselenggarakan. Kita tahu misalnya kegiatan Sail Tidore yang mulai dikenal luas.
Kemudian Presiden Jokowi, Wapres Ma’ruf Amin, beberapa menteri, hingga Panglima TNI diberi gelar oleh kesultanan. Presiden Jokowi pada 2015 dianugerahi gelar ‘Biji Nagara Madafolo’ (Yang Dipertuan Agung Anak Negara). Wapres Ma’ruf Amin juga mendapat gelar ‘Nau Manyira Ngofa Kadato Nyili Gulu Gulu’ (Pangeran Sulung Anak Adat di Wilayah Jauh) pada Mei 2023.
Pada akhir 2023 ini Kesultanan Tidore juga mendapatkan momentum. Ini setelah pemerintah pusat akan merayakan puncak Hari Nusantara di Tidore Kepulauan, 10-13 Desember.
Dipilihnya Tidore tidak lepas dari sejarah sebagai wilayah eksportir cengkeh terbesar pertama Indonesia. Maka bisa dikatakan Tidore merupakan titik nol jalur rempah.
Akan terdapat banyak acara yang menyertai penyelenggaraan Hari Nusantara mendatang. Kesultanan Tidore pun mengambil peran besar dalam penyediaan lokasi acara.
Perlahan tapi pasti, Kesultanan Tidore terus mengambil peran dalam kekayaan adat nusantara. Sebab, kesultanan ini memiliki sejarah panjang yang penting dalam keberagaman nusantara.*
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....