Sepiring Gado-Gado, Cita Rasa Jakarta yang Merangkul Keberagaman

  • 24 Mei 2025 20:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Menjelang siang, saat langit Jakarta mulai mendung, di ujung sebuah gang kecil di Matraman Jakarta Timur, seorang perempuan paruh baya tampak sibuk menyiapkan dagangannya. Ia mengatur letak bahan-bahan di atas gerobaknya, sambil memastikan terpal terpasang rapi.

Ini dilakukan sebagai antisipasi hujan yang segera turun. Namanya Bu Mae, pedagang gado-gado yang telah bertahun-tahun berjualan di sana.

“Semua udah siap, tinggal menunggu pelanggan,” ujarnya, sambil merapikan cobek besar tempat ia mengulek bumbu kacang. Seporsi gado-gado di warung gerobaknya dihargai lima belas ribu rupiah.

Ia bercerita pelanggannya beragam, mulai dari karyawan kantor, pengemudi ojek online, hingga orang-orang yang kebetulan lewat di depan gang itu. “Banyak yang suka karena sayurnya lengkap, sehat, bumbunya saya ulek sendiri,” ucapnya sambil tersenyum.

Gado-Gado: Makanan Rakyat yang Merangkul Segala Rasa

Gado-gado memang bukan sekadar makanan. Dalam sepiring sajian yang terdiri dari sayuran rebus, tahu, tempe, kentang, telur, serta bumbu kacang kental yang diulek, tersimpan cerita tentang keberagaman dan kesederhanaan.

Di Jakarta, makanan ini bukan hanya mudah ditemukan. Tapi juga menjadi bagian dari identitas kota.

Dari pedagang keliling, warung rumahan, hingga restoran, gado-gado hadir dengan berbagai rupa. Tapi dengan semangat yang sama, yaitu menyatukan perbedaan rasa dalam satu piring.

Tokoh budaya Betawi, Yahya Andi Saputra, menjelaskan bahwa secara etimologis, kata gado-gado berasal dari bahasa Betawi “gado”, yang artinya "dimakan begitu saja". “Biasanya hanya ditambah ketupat atau lontong, tapi yang penting bumbunya harus diulek, bukan disiram,” katanya.

Inilah yang membedakan gado-gado Betawi dengan yang lain. Menurutnya, dalam filosofi gado-gado, terdapat nilai keberagaman dan kesabaran.

Ini terlihat dari proses menyiapkan setiap bahan dan mengulek bumbu dengan tangan. “Makan itu bukan hanya soal kenyang, tapi juga soal menjaga kesehatan, kebugaran, dan bisa menjadi gaya hidup,” ucap Yahya.

Tak Hanya Betawi, Gado-Gado Kini Milik Semua

Kehadiran gado-gado sebagai kuliner lintas daerah juga menegaskan daya tariknya. Tak hanya dijajakan oleh orang Betawi, gado-gado kini juga dijual oleh masyarakat dari berbagai suku di Indonesia.

Seperti Bu Siti, wanita Jawa yang berjualan gado-gado di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat. “Ini gado-gado Jawa, karena saya aslinya dari Tegal,” ujarnya, sambil sedikit tertawa, saat ditanya tentang gado-gado buatannya.

Klaim bu Siti tersebut menandakan gado-gado sudah sangat populer. Menjadikannya makanan yang menyatukan selera banyak orang, melampaui batas etnis.

Jakarta: Miniatur Indonesia yang “Digado” Setiap Hari

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmad Hidayat, melihat gado-gado sebagai gambaran kecil dari Jakarta sendiri. Menurutnya, Jakarta adalah kota yang terbentuk dari migrasi dan keberagaman.

“Gado-gado mencerminkan itu. Beragam isinya, tapi menyatu dalam satu rasa,” katanya.

Jakarta adalah tempat berbaurnya banyak identitas. Seperti bumbu kacang dalam gado-gado yang menyatukan seluruh bahan.

Nilai kebangsaan, toleransi, dan semangat gotong royong seharusnya menjadi “bumbu” utama yang menyatukan masyarakat Jakarta. Namun tantangan sosial seperti kemacetan, kesenjangan ekonomi, dan polarisasi politik kadang membuat “rasa” Jakarta menjadi timpang.

Filosofi gado-gado mengingatkan kita untuk terus menjaga keseimbangan. Antara modernitas dan kearifan lokal, antara kebutuhan individu dan kepentingan bersama.

Jakarta Kota Global yang Berbudaya

Sebagai kota global yang terus berkembang, Jakarta bersaing dengan kota-kota besar di dunia seperti Tokyo, New York, hingga Singapura. Namun, menurut sosiolog UNJ itu, kekuatan Jakarta justru terletak pada akar budayanya yang kuat.

Kuliner tradisional seperti gado-gado, bukan hanya bertahan, tapi juga menjadi ekspresi budaya dan penguat identitas kota. Meskipun begitu, ia juga mengingatkan bahwa tantangannya tetap ada.

“Ancamannya adalah adanya penetrasi budaya dari luar, seperti K-pop dan musik-musik dari barat. Itu yang menjadikan adanya kontestasi budaya lokal dengan yang dari luar,” kata Rakhmad Hidayat.

Selain itu, tren makanan cepat saji, hingga arus globalisasi, lanjutnya, dapat menggeser minat generasi muda terhadap pangan lokal. Karena itu, ia mengatakan perlu ada ruang-ruang kreatif dan promosi aktif untuk memperkenalkan kembali kuliner tradisional kepada masyarakat urban.

“Event budaya, festival kuliner, hingga media sosial bisa jadi jembatan untuk menjaga eksistensi makanan tradisional. Jangan sampai yang lokal justru kalah di kampungnya sendiri,” kata Rakhmad.

Meracik Jakarta dengan Semangat Gado-Gado

Jakarta bisa belajar banyak dari sepiring gado-gado. Tentang bagaimana menerima perbedaan, menjaga rasa, dan tetap berpadu meski berasal dari unsur-unsur yang berbeda.

Jika gado-gado bisa bersatu dalam satu sajian yang lezat, mengapa masyarakat Jakarta tidak? Seperti para pelanggan di warung gerobak Bu Mae, yang walaupun berbeda-beda tapi tetap saling akrab.

Lewat tengah hari, suara ulekan bertalu-talu, aroma bumbu kacang memenuhi udara yang lembap. Di tengah gemuruh kendaraan yang lewat, sepiring gado-gado disiapkan dengan tangan sabar.

Mungkin sederhana, tapi dari situlah Jakarta bicara. Hangat, terbuka, dan penuh rasa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....