Mengenal Grup Musik Legendaris Bimbo
- 16 Mar 2025 13:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Jika Swedia memiliki grup musik ABBA di tahun 1972, Indonesia juga mempunyai Bimbo. Sebuah grup musik legendaris yang beranggotakan empat bersaudara dari Bandung yang didirikan pada tahun 1966.
Awalnya Bimbo adalah sebuah band SMA yang bernama The Alulas, beranggotakan dua saudara, yaitu Syam dan Atjil. Pada pertengahan 1950-an sampai 1960-an mereka mulai serius bermusik dan mengganti nama band mereka menjadi Aneka Nada.
Aneka Nada beranggotakan tujuh orang yang sama-sama kuliah di ITB. Seperti Guntur Soekarnoputra. Sjam dan Atjil, Memet Slamet (vokalis), Guntur (Gitar melodi), Iwan (bass), Jessy Wenas (gitar pengiring), dan Indradi (drummer),
Mereka mengusung musik irama Amerika Latin yang berirama Cha-Cha seperti lagu Trio Los Ponchos. Band ini berhasil membuat rekaman pertama berjudul Kampungku yang direkam oleh Lokananta di Solo.
Lagu itu kemudian diputar di RRI Bandung dan kota lainnya, yang akhirnya melambungkan nama mereka dan menjadi terkenal. Namun terjadi perubahan formasi personel pada band ini dengan keluarnya Iwan, digantikan oleh Atjil merangkap pada posisi bass.
Tahun 1965 Aneka Nada bubar dikarenakan perbedaan visi di antara para anggota, membuat band ini tidak bisa dipertahankan. Sjam dan Atjil sempat vakum namun semua berubah ketika adik perempuan mereka memberikan gitar sebagai bentuk dukungan.
Akhirnya Sjam dan adiknya Atjil membentuk sebuah band sendiri dengan mengajak adik laki-laki mereka Djaka. Sam banyak mendapat saran dari temannnya FR. Pattirane, yang membukakan cakrawala mereka dalam bermusik, khususnya dalam hal harmoni.
Nama Bimbo sendiri diberikan oleh Hamid Gruno, Sutradara TVRI. Bermula pada tahun 1966, ketika muncul di TVRI, band ini belum memiliki nama.
Kemudian sang sutradara memberikan nama Bimbo pada mereka yang artinya: 'Bagus laah!'. Mereka menambahkan Trio Los pada band mereka, sejak saat itu mereka dikenal dengan sebutan Trio Los Bimbos.
Belakangan mereka mengubah nama Trio Los Bimbos ini menjadi Trio Bimbo agar lebih berkesan lokal. Pada awalnya musik mereka banyak dipengaruhi musik latin karena mereka beranggapan lagu latin itu dekat dengan tembang Sunda.
Pada tahun 1969 Trio Bimbo pernah mencoba menawarkan konsep musiknya pada perusahaan rekaman Remaco. Namun demo mereka ditolak mentah-mentah oleh Remaco, dengan alasan musik yang diusung agak kurang lazim di Indonesia.
Sampai akhirnya mereka pernah dikontrak selama tiga bulan untuk bernyanyi di Ming Court Hotel di bilangan Orchard, Singapura. Mendekati kontrak mereka yang hampir selesai, mereka memutuskan pulang ke tanah air karena Acil dan Jaka harus pulang menyelesaikan kuliah mereka.
Mereka pun mencoba membuat sebuah album buat kenang-kenangan sebelum pulang ke Indonesia. Bimbo merekam album di perusahaan rekaman Polydor dengan label Fontana, Singapura, tahun 1970.
Rekaman di Kinetex Studio itu melibatkan seniman jazz, Maryono pada flute dan saksofon, serta Mulyono pada piano. Keduanya juga dikontrak main di Singapura, album itu memuat 12 lagu antara lain Melati dari Jayagiri dan Flamboyan.
Setelah dirilis ke pasaran album tersebut ternyata meledak, album yang berbentuk kaset dan piringan hitam itu dicetak terbatas. Meskipun demikian hal ini menjadi pintu masuk Trio Bimbo ke belantika musik Indonesia.
Kesuksesan rilis album itu menjadikan mereka mulai dikenal oleh pecinta musik nasional. Perusahaan Remaco pun mengubah keputusannya, mereka bekerja sama dengan Bimbo dan memasarkan lagu-lagu mereka.
Di era tahun '70-an, Bimbo identik dengan lagu-lagu balada yang cenderung berpola minor dengan lirik puitis. Hal ini menjadi sebuah keunikan yang disukai para penggemar mereka.
Memasuki era '80-an, Bimbo mulai bermain dengan lagu-lagu dengan tema-tema kritik sosial, Antara Kabul dan Beirut. Mereka juga dikenal sebagai kelompok musik religius, berawal dari dengan lagu Tuhan, album Qasidah dan Sajadah.
Dalam perjalanan musiknya, Bimbo juga banyak menjalin kolaborasi dengan sederet sastrawan seperti Wing Kardjo dan Taufiq Ismail. Mereka memberi warna tersendiri pada khazanah musik pop negeri ini lewat lagu berlirik puitis dan bernuansa religius.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....