Moderasi Imlek, Bersama-sama Merayakan Sincia

  • 21 Jan 2023 00:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RIBUAN lampion mulai berpendar memancarkan sinar. Menggantikan terang yang pergi ke ufuk barat. Banyak warga berlalu-lalang. Malam terus merambat, denyut kehidupan kota belum ada tanda berkurang.

Itulah gambaran Pasar Gede Solo jelang perayaan Imlek. Tiap tahun tempat itu selalu ramai di kala Sincia. Kawasan pecinan tersebut tidak pernah sepi, mulai pagi sampai fajar menyingsing lagi.

Kemeriahan Imlek terasa di mana-mana. Tidak hanya di Solo, tetapi juga di berbagai daerah lainnya. Medan, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Pontianak, dan masih banyak lagi.

Tahun ini Imlek jatuh pada Minggu (22/1/2023). Ini adalah tahun baru berdasarkan penanggalan Tiongkok dari peredaran bulan. Sincia (tahun baru Tiongkok) dihitung pada tanggal 1 bulan pertama musim semi.

Di Indonesia, Imlek sejak 2003 ditetapkan sebagai hari libur nasional. Berarti pada 2023 ini genap 20 tahun menjadi hari saat orang-orang bisa bersantai merayakannya semalam suntuk.

Bagi penganutnya Imlek merupakan hari yang penting. Bahkan di Tiongkok jutaan orang pulang kampung, berkumpul bersama keluarga dan rekan-rekan terdekatnya. Selain juga mengenang para leluhur.

Selanjutnya, "Sejarah Imlek"

ADA beberapa versi tentang sejarah Imlek. Salah satunya perayaan ini dilakukan untuk menyambut musim semi. Musim tersebut harus dirayakan sebagai bentuk kebahagiaan dan rasa syukur, karena selama musim dingin tidak bisa bekerja maksimal.

Maka itu Imlek juga dikenal dengan nama Sincia (Xin Jia). Arti dari Sincia secara harfiah adalah festival musim semi. Disebut festival karena perayaan Imlek berlangsung dari tanggal 1 sampai 15, yang ditutup dengan cap go meh.

Ada pula versi lain tentang sejarah Imlek, yang menyebutkan momen itu diperingati sebagai lahirnya Maha Dewa Giok Hong Sian Tee. Bagi orang Tionghoa dewa itu dipercaya sebagai yang paling berkuasa di jagat raya.

Adapun penanggalan Tiongkok ini memakai kalender lunar. Kalender ini konon diciptakan Kaisar Huan Di, sekitar 1600-1046 Sebelum Masehi (SM). Patokan yang dipakai adalah pergerakan bulan dan matahari dalam mengelilingi bumi.

Sejumlah siswa menunjukkan ketangkasan bermain Liong dalam lomba di SMP K, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (20/1/2023). Lomba Liong atau tarian naga digelar untuk menyambut Imlek (Foto: ANTARA/Yusuf Nugroho/foc)

Satu tahun dalam kalender lunar terdiri dari 12 bulan. Melalui perhitungan astronomi yang akurat, didapat perayaan Imlek atau tahun baru selalu jatuh di antara 21 Januari-20 Februari. Kalau di Indonesia biasanya masih berlangsung saat musim hujan.

Masing-masing tahun ada namanya sendiri yang berputar sebanyak 12 kali. Ke-12 nama tahun itu dikenal dengan shio. Urutan shio adalah tikus, sapi, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan diakhiri babi. Pada 2023 masehi ini shio-nya adalah kelinci.

Dalam astrologi Tiongkok, kelinci melambangkan kesabaran, keberuntungan, welas asih, keanggunan, dan keindahan. Kelinci menjadi hewaan keempat dalam shio kongzili dan berkorelasi dengan air. Tahun kelinci air berlangsung mulai 22 Januari 2023 hingga 9 Februari 2024.

Selanjutnya, "Tradisi Imlek"

PEMERHATI agama Konghucu dan budaya Tionghoa, C. Suhadi, mengatakan Imlek merupakan rangkaian ibadah kepada Tuhan, alam, dan leluhur. Perayaannya dimulai sepekan sebelum tahun baru tiba. Momennya disebut dji si siang ang atau er si sheng an, yang berarti hari persaudaraan.

Pada waktu-waktu tersebut masyarakat Tionghoa akan berbagi dengan saudara-saudaranya yang kurang mampu. Hal itu sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas berkah yang didapat selama satu tahun.

Kemudian hari terakhir dalam satu tahun diadakan acara makan bersama dalam keluarga. Mirip-mirip perayaan Lebaran secara umum di Indonesia, setelah menunaikan ibadah salat Id. Dalam tradisi Imlek makan bersama sangat penting, karena menjadi ajang bertemunya seluruh anggota keluarga besar.

Pada pagi harinya semua akan bersembahyang memanjatkan puji syukur kepada Tuhan. Sembahyang dilakukan di kelenteng atau wihara. Sambil menyampaikan janji dan komitmen untuk berusaha lebih baik dalam menjalani kehidupan setahun ke depan.

“Maka sejatinya Imlek memiliki makna spiritual dari sebuah ajaran agama yang disempurnakan Konfusius (filsuf Tiongkok yang ajarannya berkembang menjadi agama Konghucu). Perayaan ini juga selalu didasari semangat persaudaraan, agar tercipta keharmonisan bagi semua orang,” kata Suhadi, seperti dikutip dari Antara.

Warga Tionghoa membersihkan patung dewa di Kelenteng Xian Ma, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (16/1/2023). Ini sebagai persiapan menyambut Imlek 2574 Kongzili (Foto: ANTARA/Arnas Padda/rwa)

Dalam perayaan Imlek ada beberapa tradisi yang melekat. Misalnya warna yang serbamerah, bagi-bagi angpau, bersih-bersih rumah, kue keranjang, kue lapis, jeruk, hingga mi panjang. Semua itu memiliki makna tersendiri.

Warna yang serbamerah disimbolkan sebagai pembawa hoki atau keberuntungan. Merah juga dilambangkan sebagai kekuatan dan kesejahteraan. Masyarakat Tionghoa pun percaya kalau warna merah bisa mengusir nian, makhluk buas yang hidup di dasar laut atau gunung dan keluar saat musim semi tiba.

Lalu tradisi bersih-bersih rumah yang dilakukan sehari sebelum Imlek, dilakukan untuk membuang segala keburukan. Dengan membuang keburukan maka bisa mendatangkan keberuntungan.

Soal makanan biasanya ada 12 macam hidangan yang disajikan saat makan bersama. Itu sebagai lambang 12 shio. Dari sekian banyak hidangan yang wajib ada adalah kue keranjang, mi panjang, jeruk, hingga yu sheng. Makanan yang disebut terakhir ini jenisnya adalah irisan ikan salmon, wortel, kemudian dilengkapi saus wijen, buah plum, dan lain-lain.

Tradisi lainnya adalah petasan. Banyak keluarga yang akan membakar petasan saat Imlek tiba. Hal itu dipercaya bisa mengusir roh jahat. Pentas barongsai dan liong tidak ketinggalan diselenggarakan. 

Lampion juga benda yang wajib ada dalam tradisi Imlek. Lampion dianggap sebagai simbol kemakmuran, kesatuan, dan rezeki. Sinar lampion diyakini akan menerangi rezeki.

Selanjutnya, "Imlek Milik Masyarakat"

MAJELIS Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) untuk perayaan Imlek 2574 mengambil tema “Teraturnya Negara Sesungguhnya Berpangkal kepada Keberesan dalam Rumah Tangga”. Matakin akan menggelar perayaan Imlek bersama pada 26 Januari 2023.

“Tema ini relevan dengan kondisi Indonesia sebagai negara besar, dengan SDA melimpah dan jumlah penduduk yang banyak. Maka dibutuhkan rumah tangga yang kuat, demi kestabilan politik dan ekonomi negara, untuk menentukan masa depan bangsa,” kata Ws Mulyadi, Wakil Sekretaris Dewan Rohaniwan Matakin.

Kebebasan merayakan Imlek seperti yang dilakukan Matakin, telah menghapus cerita lalu yang getir. Karena kita tahu tradisi masyarakat Tionghoa pernah mengalami masa suram di Indonesia. 

Tentu saja termasuk perayaan Imlek yang harus dilakukan secara privat. Bahkan agama Konghucu tidak bisa berkembang, lantaran hanya ada lima agama yang diakui.

Warga memilih pakaian khas Tiongkok di Kabupaten Jombang, Kamis (19/1/2023). Jelang perayaan Imlek penjualan baju khas tersebut mengalami peningkatan (Foto: ANTARA/Syaiful Arif/nym)

Ketika Gus Dur menjadi Presiden keadaan berubah. Sejak itu tradisi Imlek dan agama Konghucu bebas berkembang, memperlihatkan aktualitasnya. Bahkan Imlek menjadi hari libur nasional dan banyak orang ikutnya merayakan, tidak hanya etnis Tionghoa.

Di beberapa tempat ibadah agama lain juga sering menggelar perayaan Imlek. Sebab orang Tionghoa banyak pula yang memeluk agama-agama yang diakui di Indonesia. Kemeriahan Imlek turut menghidupkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di banyak daerah. Alhasil Imlek seperti sudah menjadi milik masyarakat secara umum. 

Pada akhirnya perayaan Imlek di Indonesia bisa menjadi jalan moderasi beragama. Karena mampu menghapus sekat identitas agama tertentu dan orang-orang merayakan Sincia dengan penuh sukacita.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....