Dampak Positif dan Negatif Kesepakatan Tarif AS-Indonesia

  • 18 Jul 2025 07:42 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

PRESIDEN Prabowo Subianto melakukan percakapan via telepon dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Rabu (16/7/2025). Dalam percakapan itu, Prabowo dan Trump menyepakati sejumlah perjanjian ekonomi.

“Saya baru saja melakukan pembicaraan yang sangat baik dengan Presiden Donald Trump. Kami sepakat untuk membawa hubungan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat ke era baru yang saling menguntungkan bagi kedua negara," kata Prabowo dalam unggahannya di Instagram.

Presiden Prabowo menyampaikan hal itu tak lama setelah kicauan Trump di Truth Social terkait kesepakatan yang baru disetujui keduanya. “Pagi ini saya merampungkan kesepakatan penting dengan Indonesia setelah berbicara dengan Presiden Prabowo Subianto," ucap Trump dalam unggahannya, Selasa (15/7/2025), dilansir Reuters.

Trump memaparkan kesepakatan ini menjadikan pasar Indonesia  terbuka sepenuhnya untuk Amerika Serikat. "Ini menandakan Indonesia membuka seluruh pasarnya bagi Amerika Serikat untuk pertama kali dalam sejarah," kata Trump.

Dalam kesepakatan tersebut, AS dipastikan tidak akan membayar tarif apapun alias 0 persen atas barang mereka yang masuk ke Indonesia. Sebaliknya, Indonesia dikenai tarif sebesar 19 persen atas ekspor ke AS. 

Menurut Trump, ini merupakan bagian paling penting dari kesepakatan yang diklaim menguntungkan kedua belah pihak. "Mereka (Indonesia) akan membayar 19 persen, sementara kami tidak membayar apa pun dan kami mendapatkan akses penuh ke Indonesia," lanjut Trump.

Tarif impor untuk barang dari Indonesia sebesar 19 persen, jika dibandingkan dengan negara ASEAN lain lebih kecil. Malaysia (25 persen), Vietnam (20 persen), Thailand dan Kamboja (36 persen), serta Laos dan Myanmar yang di atas 40 persen.

Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, Indonesia telah berkomitmen untuk membeli energi AS senilai US$15 miliar. Selain itu, Indonesia juga akan membeli produk pertanian AS senilai US$4,5 miliar.

Indonesia juga akan membeli 50 Jet Boeing 777.  Impor produk pertanian AS berarti akan melesat sangat tajam menjadi US$4,5 miliar atau sekitar Rp79,6 triliun (US$1=Rp 162.55). 

Menurut catatan Departemen Pertanian AS (USDA), ekspor produk pertanian AS ke Indonesia mencapai US$2,9 miliar pada 2024. Angka itu turun 4 persen dibandingkan 2023, tapi kesepakatan baru ini akan membuat impor produk pertanian melonjak 55 persen.

Selanjutnya, Produk AS yang Masuk Indonesia

Amerika Serikat merupakan pemasok pertanian terbesar keempat ke Indonesia. Menyumbang 10 persen dari total pasar impor pertanian Indonesia, setelah Brasil, Tiongkok, dan Australia.

USDA menyebut, komoditas ekspor pertanian utama dari AS ke Indonesia pada 2024 adalah kedelai, senilai US$1,3 miliar. Kemudian gandum US$149 juta, naik US$64 juta atau 74 persen dibandingkan 2023.

Ekspor AS lainnya ke Indonesia adalah daging sapi dan produk turunannya, serta produk makanan olahan masing-masing meningkat 15 persen dan 30 persen. Namun, ekspor kapas dan bungkil kedelai (soybean meal) mengalami penurunan masing-masing sebesar 29 persen dan 27 persen pada 2024.

Secara rata-rata, ekspor pertanian AS ke Indonesia mencapai hampir US$3 miliar per tahun dari 2020 hingga 2024. Komoditas terbesar impor Indonesia dari AS lainnya, yakni bahan bakar mineral dan minyak, peralatan mekanis,  serta buah dan biji penghasil minyak. 

Indonesia bahkan akan meningkatkan impor energi dari AS, termasuk LPG dan minyak mentah. Komitmen nilai impornya mencapai US$ 15,5 miliar atau sekitar Rp244 triliun. 

Peningkatan impor energi ini juga merupakan bagian dari kesepakatan AS dan Indonesia. Peningkatan impor LPG dari AS ditargetkan mencapai 65-80 persen dari total impor LPG Indonesia. 

Peningkatan impor minyak mentah dari AS ditargetkan mencapai lebih dari 40 persen dari total impor minyak mentah Indonesia.  Selama ini, impor energi Indonesia banyak berasal dari Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara. 

Presiden Prabowo Subianto juga mengungkapkan Indonesia sepakat membeli 50 pesawat Boeing dari AS. Menurutnya, pembelian itu dibutuhkan Indonesia untuk dipakai oleh maskapai Garuda Indonesia. 

“Saya bertekad untuk membesarkan Garuda dan untuk itu ya kita butuh pesawat-pesawat baru. Saya kira enggak ada masalah (pembelian 50 pesawat Boeing) karena kita butuh dan pesawat Boeing juga cukup bagus," tegas Prabowo di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (16/7/2025).

Sementara pada tahun ini ada 10 barang utama yang diekspor AS ke Indonesia, yakni bakar mineral (US$1,63 miliar), biji dan buah mengandung minyak (US$1,26 miliar). Selain itu, mesin dan peralatan mekanis (US$1,21 miliar), bahan kimia organik (US$0,91 miliar), serta residu dan sisa dari industri makanan (US$0,62 miliar).

Ada juga pesawat udara (US$0,52 miliar), mesin dan perlengkapan elektrik (US$0,44 miliar). AS juga mengekspor pulp dari kayu dan kertas (US$0,40 miliar), instrumen dan aparatus optik (US$0,27 miliar), serta susu, telur unggas, madu (US$0,21 miliar).

Selanjutnya, Produk Indonesia yang Masuk AS

Jika di lihat dari perdagangan AS, neraca perdagangan Paman Sam dengan Indonesia negatif (defisit) untuk tahun 2024. Artinya nilai impor AS dari RI lebih besar daripada nilai ekspor AS ke RI. 

Data Gedung Putih menyebut defisit perdagangan bagi AS mencapai US$18 miliar. Data ini berbeda dengan Indonesia yang mencatat surplus tak sampai US$17 miliar pada 2024.

Merujuk data Kementerian Perdagangan RI, Indonesia surplus perdagangan sebesar US$14,34 miliar pada Januari-Desember 2024. Defisit tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-15 dalam daftar negara dengan defisit perdagangan terbesar bagi Negeri Paman Sam.

Indonesia menjadikan AS sebagai tujuan utama ekspor. Nilai ekspor Indonesia ke AS melonjak hampir 48 persen dalam lima tahun terakhir dari US$17,84 miliar pada 2019 menjadi US$26,31 miliar pada 2024.

Bagi Indonesia, AS adalah surga ekspor untuk produk tekstil dan rajutan. Selama puluhan tahun, AS menjadi pasar utama produk jersey, rajutan, hingga sepatu.

Nilai ekspor minyak sawit juga melonjak dalam lima tahun terakhir. Produk lain yang diekspor dalam jumlah besar ke AS adalah udang dan ikan serta peralatan elektrik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang Januari-Maret 2025 total nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai USD7,30 miliar. Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS dalam Rilis BPS di Jakarta, Senin, (21/4/2025), merinci komoditas utama yang diekspor ke AS, adalah mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) dengan nilai ekspor mencapai USD1,22 miliar atau mencakup 16,71 persen. 

Angka ini naik 17,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Kemudian, alas kaki (HS 64) sebesar USD657,90 atau 9,01 persen dari total ekspor ke AS, naik 16,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Disusul oleh pakaian dan aksesorinya (rajutan) (HS 61) mencapai USD629,25 juta atau 8,61 persen, naik 20,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lalu, pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan) (HS 62) sebesar USD568,46 juta atau 7,78 persen dari total ekspor ke AS. 

Angka ini naik 1,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selanjutnya, Dampak Postif 

Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Budi Santoso, mengatakan penurunan tarif impor dari Indonesia ke Amerika Serikat menjadi 19 persen akan meningkatkan investasi, ekspor, dan daya saing Indonesia di pasar global. “Kalau dibandingkan dengan negara ASEAN lainya, tarif 19 persen masih paling rendah," ujarnya di Jakarta pada media, Kamis (17/7/2025). 

Mendag berharap kondisinya tetap seperti itu hingga 1 Agustus 2025, yang menjadi tanggal mulai berlakunya tarif resiprokal AS secara global. Menurut Budi, Indonesia sebelumnya bersaing dengan negara lain untuk ekspor ke AS dengan tarif yang sama. 

Sekarang, Indonesia punya kelebihan karena tarif yang diberlakukan oleh AS lebih rendah. Sehingga ekspor Indonesia ke AS akan meningkat, demikian pula daya saing produk-produknya. 

Mendag menekankan Indonesia harus memanfaatkan peluang ekspor yang makin besar ke AS dengan sebaik-baiknya. Karena itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan mengidentifikasi 10 komoditas unggulan untuk diekspor ke AS. 

Misalnya untuk produk alas kaki, Kemendag akan memantau posisi negara-negara pesaing Indonesia. Menurut Budi, Kemendag akan melakukan mitigasi hingga 1 Agustus 2025. 

Tujuannya agar Indonesia dapat memposisikan potensi ekspornya ke AS secara tepat. Sedangkam Gubernur Bank Indonesia (BI)  Perry Warjiyo, yakin kesepakatan tarif Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) bisa berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi RI. 

Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI secara virtual, Rabu (16/7/2025), mengatakan dengan kesepakatan tarif itu, kinerja ekspor RI terutama ke AS akan tetap baik. Perry juga mengatakan kesepakatan tarif RI-AS juga berdampak positif bagi pasar keuangan. 

Pasalnya, memberikan kepastian bagi pelaku pasar dalam maupun luar negeri dalam membuat keputusan ke depannya. Sementara itu, Chaiman ASEAN Competition Institute, Syarkawi Rauf, menilai kesepakatan ekonomi antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden AS Donald Trump, lebih menguntungkan bagi Indonesia. 

“Pasalnya, produk yang diimpor dari AS adalah produk komplementer yang tidak diproduksi Indonesia atau produksinya belum mencukupi kebutuhan nasional,” katanya dalam perbincangan dengan RRI Pro3, Kamis (17/7/2025). Syarkawi melihat dari sisi produknya, seperti pesawat 777  belum bisa diproduksi Indonesia. 

Dia mengatakan pembelian pesawat Boeing tersebut dapat menjadi solusi bagi Garuda Indonesia soal pengadaan pesawat. "Apalagi Presiden Prabowo Subianto menyebut pembelian itu memang dibutuhkan Indonesia karena 50 pesawat itu akan dipakai oleh maskapai Garuda Indonesia. Pesawat tersebut juga akan digunakan pemerintah untuk membesarkan flag carrier nasional (Garuda Indonesia)," tambahnya.

Soal pembiayaannya yang dikhawatirkan berbagai kalangan akan membebani BUMN transportasi tersebut, Syarkawi menegaskan bisa dinegosiasikan. Garuda dengan Boeing bisa melakukan pembicaraan business to business (B to B) agar pembiyaannya lebih fleksibel bagi Garuda.

Syarkawi juga menyoroti impor produk pertanian, seperti gandum dan kedelai. Dia melihat dua produk AS memang dibutuhkan dan Indonesia tidak memiliki kapasitas dua produk tersebut untuk memenuhi kebutuhan industri nasional.

"Dengan tarif 0 persen dua produk tesebut, maka produsen Indonesia akan mendapatkan harga lebih murah. Seperti kedelai yang selama ini dikeluhkan pengusaha tahu tempe yang harganya mahal, maka dengan 0 persen mereka bisa mendapatkan kedelai dengan harga lebih murah,” ucapnya.

Sementara itu, impor energi yang lebih besar dari AS, katanya, akan membuat Indonesia memiliki produsen alternatif selain dari Timur Tengah dan Afrika. “Tinggal pengalihan pembelian saja sebenarnya dari Timur Tengah ke AS, jadi tidak ada pengaruhnya bagi kebutuhan impor energi Indonesia," ucapnya.

Mengenai kekhawatiran bahwa harga impor BBM dan LNG akan lebih mahal dari AS karena rute pengirimannya lebih jauh, tentu ada solusinya. "Dengan volume pembelian lebih besar tentu biaya logistiknya akan lebih murah, tinggal nanti pembicaraan B to B saja antara Pertamina denga produsen energi AS," kata Syarkawi.

Sedangkan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sudah membuat simulasi soal efek tarif dagang yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap ekonomi Indonesia. Hasil simulasi sebagaimana diungkap Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menunjukkan angka-angka positif dari pemberlakuan tarif impor 19 persen.

DEN mencatat tarif 19 persen akan membuat produk domestik bruto (PDB) Indonesia naik sebesar 0,5 persen. Kenaikan itu didorong  peningkatan investasi dan konsumsi.

Luhut  menyebut, peluang industri padat karya dalam negeri akan semakin terbuka, terutama untuk memperluas akses pasar di Amerika. Peningkatan peluang ia yakini akan mendorong investor asing masuk dan merelokasi industrinya ke Indonesia.

Simulasi DEN menunjukkan lonjakan investasi bisa mencapai 1,6 persen imbas penurunan tarif itu. Potensi relokasi industri global ke tanah air ini didominasi sektor padat karya, seperti tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, serta perikanan.

Kenaikan investasi, kata Luhut, akan mendorong penciptaan lapangan kerja. Prediksinya, penciptaan lapangan kerja baru akibat peningkatan investasi itu bisa meningkatkan penyerapan tenaga kerja sampai 1,3 persen.

Peningkatan penyerapan tenaga kerja akan membuat kesejahteraan masyarakat  meningkat 0,6 persen. "DEN percaya arah kebijakan ekonomi nasional (ini) tepat dan berbasis data. (Ini) akan menjadi kunci dalam mengakselerasi pertumbuhan inklusif dan berdaya saing di era global," ucapnya dalam keterangan resmi, Kamis (17/7/2025). 

"Kita tidak sedang memberi karpet merah untuk pihak luar, tetapi justru membuka jalan yang lebih besar bagi produk dan pelaku usaha Indonesia untuk bersaing di pasar global. Ini adalah diplomasi ekonomi dengan visi jangka panjang yang jelas, yang berlandaskan kepentingan nasional," kata Luhut.

Luhut melihat deal Prabowo dengan Trump sebagai pijakan untuk mempercepat deregulasi dan menurunkan high cost economy di Indonesia. Oleh karena itu, DEN mendorong sinergi lintas kementerian demi memanfaatkan momentum ini.

Sementara itu, juru bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Fithra Faisal Hastiadi, meminta berbagai kalangan melihat pengenaan tarif 19 persen oleh AS dari sisi makin kompetitifnya produk ekspor Indonesia ke AS. Jika dibandingkan dengan saingan Indonesia, seperti Vietnam, Malaysia, Thailand, dan lainnya tarif impor Indonesia ke AS lebih rendah.

“Sehingga importir AS akan lebih memilih produk Indonesia yang biaya masuknya lebih rendah, karena harga produknya akan lebih murah bagi konsumen AS. Jadi harus dilihatnya dengan membandingkan produk kita dengan produk serupa dari negara pesaing,” katanya dalam perbincangan denga RRI Pro3, Kamis (17/7/2025).

Tarif impor untuk barang dari Indonesia yang masuk ke negara tersebut, yakni sebesar 19 persen, katanya, lebih rendah dari negara pesaing. Tarif Indonesia, kata dia, lebih rendah dari Malaysia (25 persen), Vietnam (20 persen), Thailand dan Kamboja (36 persen), serta Laos dan Myanmar yang di atas 40 persen.

“Contohnya CPO dan karet, saingan kita selama ini salah satunya Malaysia. Tapi dengan tarif impor 25 persen, tentu produk Indonesia yang akan menjadi pilihan dengan tarif impor lebih rendah (19 persen),” jelasnya.

Peningkatan permintaan barang dari Indonesia, katanya, juga akan membuka peluang investor asing masuk dan merelokasi industrinya ke Indonesia. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat.

Pelaku industri Indonesia juga mengapresiasi  kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat (AS). Apresiasi dari para pelaku industri tersebut disampaikan melalui Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. 

“Tarif baru hasil negosiasi tersebut lebih menguntungkan dibanding negara pesaing Indonesia. Keuntungan itu akan memperkuat daya saing industri dalam negeri di pasar ekspor, khususnya Amerika Serikat,” katanya, Rabu (16/7/2025).

Menurutnya, kesepakatan ini membuka peluang baru bagi produk manufaktur Indonesia memasuki pasar Amerika secara lebih luas. Hal itu diyakini akan mendorong peningkatan kapasitas produksi dan daya saing industri nasional.

“Penyesuaian tarif Amerika terhadap produk kita akan langsung berdampak pada utilisasi industri dalam negeri,” kata Agus. Menurut Agus, manfaat lainnya adalah peningkatan lapangan kerja dan penguatan struktur industri nasional secara keseluruhan.

“Dalam skema rantai produksi, 20 persen output sektor manufaktur nasional ditujukan ke pasar ekspor. Sebagian besar dari porsi itu diserap oleh pasar Amerika Serikat,” Agus menambahkan.

Kesepakatan tarif itu dinilai Agus mampu mendorong peningkatan produksi di sektor industri padat karya berorientasi ekspor. “Industri tekstil, alas kaki, dan pakaian jadi diproyeksi menjadi penerima manfaat langsung dari kesepakatan tersebut,” ucapnya.

Di sisi lain, kata dia, pelaku industri juga menyambut baik penyelesaian perjanjian dagang Indonesia-European Union CEPA. Perjanjian tersebut membuka peluang ekspor produk manufaktur Indonesia ke pasar Eropa secara lebih luas dan kompetitif.

Selanjutnya, Dampak Negatif

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai komitmen Indonesia untuk memberikan tarif 0 persen terhadap berbagai produk asal AS justru dinilai mengandung risiko besar terhadap neraca dagang dan stabilitas fiskal.  Bhima menyoroti pemerintah tengah mengajukan alokasi subsidi energi sebesar Rp203,4 triliun dalam RAPBN 2026. 

Namun, dengan meningkatnya ketergantungan impor BBM dan LPG dari AS, angka tersebut dinilai  Bhima tidak akan mencukupi. Ia memperkirakan kebutuhan subsidi bisa melonjak menjadi Rp300 hingga Rp320 triliun. 

Sementara itu, analis kebijakan ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ajib Hamdani, meminta pemerintah menyiapkan langkah-langkah antisipasi membanjirnya produk dari negara pesaing Indonesia. Terutama, katanya, dari negara-negara yang tarif impor dari AS lebih tinggi dibanding Indonesia.

“Contohnya produk tekstil  impor dari Tiongkok dan Vietnam. Hal ini disebabkan oleh potensi pengalihan arus barang dari kedua negara tersebut, yang mungkin akan memanfaatkan Indonesia sebagai pengalihan pasar Amerika Serikat,” katanya dalam perbincangan dengan RRI Pro3, Kamis (17/7/2025).

Pakaian dan tekstil merupakan ekspor penting dari Tiongkok ke AS. Tekstil, termasuk pakaian dan kain, juga merupakan bagian penting dari ekspor Vietnam ke AS. 

Tarif impor yang tinggi terhadap Tiongkok di atas  30 persen, dan Vietnam 20 persen, kata Ajib, bisa membuat permintaan tekstil dan produk tekstil dari dua megara itu akan berkurang dari pasar AS.  “Harga produk mereka akan menjadi mahal bagi konsumen AS dibanding produk Indonesia yang tarif impornya 19 persen,” ucapnya.

Kehilangan pasar di AS, kata dia, akan membuat Tiongkok terutama, mencari pasar alternatif seperti Indonesia. Apalagi saat ini, tidak sedikit produk dari Tiongkok dan Vietnam yang sudah masuk dengan harga kompetitif.

Hal ini, katanya, bisa melemahkan industri lokal jika tak dikendalikan. Ajib mengatakan bahwa Apindo sudah menyampaikan pada pemerintah untuk segera mengambil langkah mitigasi. 

Seperti deregulasi  kebijakan impor dan meningkatkan pengawasan di pintu-pintu masuk produk impor. “Seperti produk tekstil dari Tiongkok selama ini memang sudah menjadi pesaing Indonesia, baik sisi harga maupun kualitas,” jelasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....