Banjir Serempak Ungkap Risiko Tata Kota di Indonesia
- 08 Jul 2025 21:57 WIB
- Pusat Pemberitaan
BANJIR kembali mengepung kawasan padat penduduk di Jabodetabek dan sejumlah kota besar di Indonesia lainnya. Tingginya curah hujan selama beberapa hari terakhir memperlihatkan betapa rentannya sistem tata ruang dan drainase di pusat-pusat pertumbuhan.
Data dari BPBD Jakarta menunjukkan 109 RT terdampak di empat wilayah ibu kota, dengan genangan hingga setengah meter. Sementara di Bogor, longsor dan banjir terjadi serentak di 18 kecamatan.
Begitu juga, di Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi. Air merendam perumahan padat dan menutup sejumlah akses jalan utama.
Di Bekasi, banjir bahkan menenggelamkan kendaraan pribadi di perumahan elite Grand Galaxy. Situasi serupa terlihat di Depok dan Tangerang, yang belum sepenuhnya pulih dari banjir sebelumnya.
Kondisi ini dinilai sebagaian pihak menunjukkan kegagalan sistemik. Tata kota yang belum adaptif terhadap krisis iklim dan pertumbuhan wilayah yang tak terkontrol menjadi persoalan pokok.
Kawasan-kawasan padat penduduk tumbuh tanpa mitigasi bencana, memperparah dampak saat hujan ekstrem datang. Pakar lingkungan menyebut pentingnya pendekatan menyeluruh berbasis risiko dalam penataan ruang.
Sehingga, diperlukan intervensi nyata dari pemerintah daerah hingga pusat. Perihal ini, menyelaraskan pembangunan dengan daya dukung lingkungan.
Selanjutnya, Faktor Utama Penyebab Banjir
GUBERNUR DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan kompleksitas penyebab banjir yang menerjang Ibu Kota. Menurutnya, terdapat tiga faktor yang menjadi penyebab Utama banjir terjadi di sejumlah wilayah Jakarta.
“Karena kemarin itu sesuatu yang tidak mungkin dilawan sebenarnya, pada saat bersamaan, ada banjir kiriman dari atas. Karena apa?, curah hujan sedang tinggi di atas, di Jakarta sendiri curah hujannya juga tinggi,” ujarnya usai meninjau banjir di wilayah Rawa Jati, Jakarta Selatan, Selasa (8/7/2025).
“Sedangkan pada saat itu di laut sedang terjadi pasang atau yang disebut dengan rob. Airnya tidak bergerak." Pramono menyampaikan, dirinya bersama dinas terkait berupaya mencari cara agar dampak banjir tidak meluas dan tidak menimbulkan korban.
Sementara itu, Gubernur Banten, Andra Soni, meninjau langsung lokasi terjadinya banjir di Kota Tangerang. Di antaranya Perumahan Ciledug Indah I dan II, serta kawasan Jalan KH Hasyim Ashari, Karang Tengah.
Banjir yang terjadi sejak Selasa (8/7/2025) pagi di wilayah-wilayah tersebut telah memutus akses utama dari Tangerang menuju Jakarta. Menurut Andra, banjir di Ciledug Indah disebabkan drainase yang tidak berfungsi dengan baik serta ukuran sungai yang sempit.
"Memang harus dilakukan berbagai perbaikan dari sisi aturan," ujarnya. Salah satunya dengan merevisi penataan ruang di daerah aliran sungai.
Andra mengungkapkan pihaknya akan berkoordinasi dengan beberapa kementerian terkait untuk mengatasi banjir di Tangerang. Ini karena banjir di wilayah itu kerap terjadi saat turun hujan deras di Jabodetabek.
"Kami berharap adanya inpres terkait dengan penanganan yang mulai dari hulu, tengah, sampai hilir," ucapnya. Menurut Andra, saat ini pihaknya akan melakukan pemetaan terlebih dahulu.
Kepala BPBD Kota Bekasi, Priadi Santoso, mengatakan banjir menimpa sejumlah wilayah di sepanjang jalur Kali Bekasi. Ini merupakan dampak dari meluapnya Kali Bekasi, yang menerima kiriman air dari Kali Cileungsi dan Cikeas.
Priadi juga memastikan tidak ada korban jiwa pada peristiwa banjit tersebut. "Ini berkat penyebaran informasi kepada warga agar waspada melalui Lurah, Camat, dan Whatsapp Grup," ujarnya, Selasa (8/7/2025).
Selanjutnya, Daerah Lain Terdampak Bencana Hidrometeorologi
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghimpun sejumlah bencana hidrometeorologi basah mendominasi pada pekan pertama Juli 2025. Bencana hidrometeorologi basah berupa banjir terjadi di sejumlah kota besar di Indonesia.
Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur wilayah Kota Mataram juga menghadapi situasi banjir setelah diguyur hujan lebat disertai angin kencang. Wilayah Kota Mataram dan sekitarnya mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mulai pukul 14.00 Wita, Minggu (6/7/2025).
Wilayah yang terdampak banjir mencakup tiga kecamatan utama di Kota Mataram, yaitu Kecamatan Sandubaya, Kecamatan Mataram, dan Kecamatan Cakranegara. Berdasarkan pendataan awal, sebanyak 92 KK terdampak langsung oleh banjir, dan setidaknya 92 unit rumah warga terendam air.
Kemudian wilayah Sulawesi, banjir terjadi di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Jumat (4/7/2025). Curah hujan yang cukup ekstrem tersebut menyebabkan banjir di sejumlah wilayah, khususnya di Kecamatan Matakali dan Kecamatan Wonomulyo.
Ketinggian air mencapai 30 hingga 50 cm mengakibatkan genangan di permukiman warga. Serta merendam kawasan pertanian dan perikanan di beberapa titik.
Wilayah terdampak banjir meliputi dua kecamatan dan tersebar di 1 kelurahan dan 5 desa, yaitu Desa Patampanua, serta Kelurahan Sidodadi. Begitu juga Desa Sumberjo, Desa Campurjo, Desa Tumpiling, dan Desa Galeso di Kecamatan Wonomulyo.
Selanjutnya, Upaya Penyelamatan dan Bantuan Warga
BANJIR yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Bekasi lebih disebabkan kiriman air dari Bogor melalui sungai Cikeas dan Cileungsi yang mengakibatkan sungai Bekasi meluap. Meski begitu, saat ini debit air sungai Bekasi sudah mulai surut seiring kiriman air dari Bogor yang mulai menurun.
Selain itu, Pemkot Bekasi juga telah mengalirkan air sungai Bekasi ke wilayah Bekasi Utara untuk mengurangi debit air. Sejumlah wilayah di Kota Bekasi terdampak banjir juga dilaporkan mulai surut.
Meskipun masih ada sebagian yang masih tergenang. "Kami tetap mengingatkan agar warga waspada karena kondisi cuaca ekstrem, tetap ikuti setiap informasi melalui sumber resmi untuk memantau situasi," ujarnya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang terus bergerak cepat untuk memastikan kebutuhan dasar warga yang terdampak banjir. Pemberian bantuan terus dilakukan sejak Minggu hingga saat ini pada Selasa (8/7/2025).
Melalui Dinas Sosial (Dinsos), Pemkot Tangerang telah mendistribusikan sebanyak 5.755 bantuan permakanan dan 245 bantuan logistic. Bantuan tersebut di bagikan ke berbagai wilayah yang terdampak banjir sejak beberapa hari terakhir.
Kepala Dinsos Kota Tangerang Mulyani mengatakan, pendistribusian bantuan ini merupakan bentuk respons cepat Pemkot Tangerang. Mengantisipasi dampak bencana serta menjamin kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat.
"Kami mengutamakan keselamatan dan kebutuhan warga. Bantuan ini kami salurkan secara langsung ke titik-titik terdampak agar masyarakat segera mendapatkan dukungan yang dibutuhkan,” ujarnya.
Selanjutnya, TP PKK Kota Mataram mendirikan posko bantuan secara mandiri tanpa menggunakan dana pemerintah. Posko ini menjadi pengumpulan beragam bantuan darurat mulai dari alas tidur, pakaian, makanan, hingga perlengkapan anak-anak dan lansia.
Ketua TP PKK Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana, menjelaskan inisiatif pembentukan posko tersebut sebagai bentuk gerakan kepedulian. Dilakukan oleh seluruh kader TP PKK yang di mulai dari keluarga serta kerabat dekat setelah banjir melanda kota.
“Inisiatif awalnya kami galang dari keluarga-keluarga dekat dulu, supaya cepat bergerak. Ini benar-benar independen, bukan dana pemerintah,” ujar Kikin Sapaan akrabnya Selasa (8/7/2025).
Ia menyampaikan gagasan ini kepada Wali Kota, yang menyetujui dan meminta agar digabungkan dengan dua organisasi besar lainnya. Hasilnya, terbentuklah gerakan sosial gabungan yang memfokuskan upaya pencarian donatur dari masyarakat umum dan komunitas sosial.
"Respons publik pun luar biasa mulai hari senin sampai malam itu penuh ruangan ini, semua bantuan dicatat dan ditata rapi. Meskipun berupa pakaian bekas itu semua terdata dan terdistribusi dengan baik," ucapnya.
Suku Dinas Sosial Kota Administrasi Jakarta Selatan menyalurkan berbagai jenis bantuan kepada warga terdampak banjir. Yaitu di empat kelurahan, yakni Pejaten Timur, Rawajati, Tebet, dan Kebagusan, pada Minggu (6/7/2025).
Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Bernard Tambunan, menyampaikan bantuan makanan siap saji telah disalurkan ke tiga kelurahan. dengan total 3.565 boks. Rinciannya yaitu 1.765 boks di Keluarahan Pejaten Timur, 1.000 boks di Rawajati, dan 800 boks di Tebet.
"Banjir yang terjadi sejak Sabtu malam akibat curah hujan yang sangat tinggi mengakibatkan banyak warga terdampak. Kami langsung bergerak cepat untuk menyalurkan bantuan makanan sebagai langkah awal penanganan," ujar Bernard.
Selain makanan siap saji, bantuan non-pangan juga diberikan di Kelurahan Kebagusan. Bantuan tersebut meliputi family kit, sepatu, tas sekolah, seragam sekolah, beras, mi instan, kecap, dan minyak goreng.
“Di wilayah Kebagusan, selain terdampak banjir, banyak warga yang kehilangan perlengkapan pribadi dan sekolah anak-anak. Untuk itu, kami sesuaikan bantuan dengan kebutuhan mereka,” kata Bernard lebih lanjut.
Selanjutnya, Waspada Penyakit Pascabanjir
MANTAN Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan masyarakat akan ancaman penyakit pascabanjir. Ia menegaskan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan guna mencegah penyebaran penyakit di lingkungan terdampak.
Ia menjelaskan kondisi air dan lingkungan yang kotor dapat meningkatkan risiko infeksi pada masyarakat terdampak. "Setelah banjir, penyakit yang berpotensi muncul terbagi menjadi dua, yaitu penyakit menular dan penyakit tidak menular," ujarnya saat wawancara bersama RRI Pro3, Jumat (7/3/2025).
Menurutnya, penyakit menular yang paling umum terjadi setelah banjir adalah diare akibat konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi. Selain itu, leptospirosis juga menjadi ancaman serius karena penyebarannya melalui air kencing tikus yang bercampur dengan banjir.
"Leptospirosis dapat menyebabkan gangguan ginjal dan hati jika tidak ditangani dengan cepat," ucapnya. Ia menyarankan masyarakat untuk menghindari bermain air banjir serta menggunakan sepatu bot jika harus melintasi genangan.
Ia menambahkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga meningkat akibat kondisi pengungsian yang padat dan kurangnya ventilasi udara. "Kerumunan sulit dihindari, sehingga menjaga daya tahan tubuh dengan makanan bergizi sangatlah penting," katanya.
Lebih lanjut, kata dia, masyarakat yang memiliki penyakit kronis seperti hipertensi atau diabetes juga harus tetap mengonsumsi obat secara teratur. Tjandra mengingatkan agar para penyintas banjir tidak mengabaikan kesehatan meskipun sibuk memulihkan kondisi rumah.
Untuk mencegah penyakit, ia menyarankan masyarakat selalu mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi. Ia juga mengapresiasi tenaga medis yang telah turun langsung membantu korban banjir di berbagai daerah.
Sementara itu, Pakar Kesehatan Prof. Tjandra Yoga Aditama mengimbau masyarakat Jabodetabek untuk waspada penyakit yang timbul pascabanjir. Seperti, penyakit diare yang merupakan penyakit Menular.
"Dengan kotornya air dan lingkungan yang buruk dan orang mengkonsumsi makanan minuman kotor maka diare terjadi. Ini yang perlu diantisipasi," kata Tjandra dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Jumat (7/3/2025).
Untuk itu, kata dia, masyarakat disarankan melakukan cuci tangan. Karena cuci tangan ini menjadi bagian kehidupan masyarakat, seperti yang pernah dilakukan saat pandemi lalu.
Selanjutnya, Keterangan BMKG Soal Kondisi Cuaca
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan awal musim kemarau 2025 diperkirakan akan mundur di sekitar 29 persen zona musim di Indonesia. BMKG juga menyebut, curah hujan di atas normal pada musim yang seharusnya kemarau merupakan anomali yang terjadi sejak Mei dan berpotensi masih berlangsung hingga Oktober 2025.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, musim kemarau basah merupakan anomali karena hujan tetap terjadi di periode kemarau. Kondisi ini berbeda dari kemarau normal yang biasanya lebih kering dan minim hujan.
"Melemahnya Monsun Australia yang berasosiasi dengan musim kemarau turut menyebabkan suhu muka laut di selatan Indonesia tetap hangat. Hal ini menyebabkan peningkatan penguapan dan pembentukan awan hujan," katanya dalam Konferensi Pers bertajuk ‘Perkembangan Cuaca dan Iklim’ secara daring, Senin (7/7/2025).
Kemunduran musim kemarau akan terasa terutama di wilayah Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Pemantauan hingga akhir Juni 2025 menunjukkan bahwa baru sekitar 30 persen Zona Musim yang telah memasuki musim kemarau.
Angka ini hanya setengah dari kondisi normal, karena secara klimatologis sekitar 64 persen Zona Musim biasanya telah mengalami musim kemarau pada akhir Juni.
Selanjutnya, Mengurangi Curah Hujan dengan Modifikasi Cuaca
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan operasi modifikasi cuaca di Kota Bekasi dan Bogor, Selasa (8/7/2025). Modifikasi ini dilakukan untuk mengantisipasi hujan deras di wilayah Bogor yang menimbulkan banjir di Kota Bekasi dan Jakarta.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, Priadi Santoso mengatakan, BNPB berencana melakukan dua kali operasi modifikasi. Kepastian tersebut didapatkan berdasarkan laporan dari Direktur Kedaruratan BNPB.
Menurutnya, operasi modifikasi cuaca dirasa perlu mengingat kondisi cuaca ekstrem belakangan ini. Ia berharap dengan operasi tersebut banjir bisa ditanggulangi.
"Jadi kemarin itu, BNPB menerbangkan satu kali pesawat untuk melakukan modifikasi cuaca. Hari ini rencananya penerbangan akan dilakukan dua kali oleh BNPB," kata Priadi kepada wartawan, Selasa (8/7/2025).*(Yusuf Bagus)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....