Malaysia, Singapura, dan Thailand Dihajar Covid-19, Bagaimana Indonesia?
- 06 Jun 2025 09:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
MASYARAKAT meminta agar pemerintah meningkatkan kembali kewaspadaan terkait merebaknya kasus Covid-19 diberapa negara tetangga. Opu dari Wajo, Sulawesi Selatan, ketar-ketir dengan merebaknya Covid-19.
Meskipun pemerintah mengklaim kondisi Indonesia masih aman, Opu tetap meminta agar pemerintah mengkampanyekan kembali lagi. "Kalau perlu adalagi kontrol lapangan dari pemerintah pusat dan daerah terhadap kepatuhan protokol kesehatan (prokes)," katanya dalam perbincangan dengan RRI Pro3, Senin (2/6/2025).
Bahkan Opu meminta jika masyarakat yang tidak menggenakan masker bisa ditegur, terutama yang ada dikeramaian. Sementara itu, Edy dari Solo, Jawa Tengah, juga khawatir kasus Covid-19 akan kembali seperti beberapa waktu lalu.
Oleh karena itu, dia meminta agar prokes kembali digalakan. Selain itu, Edy juga meminta agar vaksin booster ketiga kembali diberikan gratis bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Intinya jangan sampai kita lengah, karena akan repot kalau kasus Covid-19 seperti dulu lagi," katanya. Soan dari Samarinda, Kalimantan Timur, juga ketar-ketir dengan perkembangan Covid-19.
Soan sangat khawatir dampak Covid-19 menyebabkan ekonomi yang belum pulih benar kembali terpuruk. "Banyak UMKM bertumbangan sampai sekarangpun mereka belum bisa bangkit dan bagaimana jika dihantam kembali oleh Covid-19," katanya.
Dia juga mendesak agar vaksin booster ketiga diberikan lagi secara gratis kepada masyarakat. "Sekarang ini kita harus bayar Rp250 ribu di luar kelompok rentan," katanya dalam kesempatan sama.
Selanjutnya, Menkes Minta Masyarakat tidak Panik
Presiden Prabowo Subianto akhirnya memanggil Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ke Istana pada Selasa, 3 Juni 2025. Kepada wartawan, Budi memastikan bahwa situasi di Indonesia masih jauh lebih rendah dibanding tren global Covid-19.
Budi menyebut bahwa subvarian Omicron yang menyebar di luar negeri bukanlah hal baru. Menurutnya adanya subvarian itu sesuatu yang biasa.
“Tapi ini adalah varian-varian yang relatif tidak mematikan. Jadi enggak usah terlalu dikhawatirkan supaya masyarakat tidak panik,” ucap Budi di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa, 3 Juni 2025.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat temuan 7 kasus Covid-19 di Indonesia pada minggu ke-22 tepatnya tanggal 25-31 Mei. Pada 25-31 Mei, positivity rate sebesar 2,05 persen.
Artinya dari 100 orang yang diperiksa, terdapat 2 orang yang hasilnya positif Covid-19. Pada minggu ke-17 sampai ke-19 tahun ini, Kemenkes melihat adanya kenaikan kasus di Provinsi Banten, Jakarta dan Jawa Timur.
Kenaikan terbanyak tercatat di pekan pertama Januari 2025 dengan 27 kasus. Merespon perkembangan kasus Covid-19 di dalam dan luar negeri, Kementerian Kesehatan menerbitkan surat edaran (SE) kewaspadaan Covid-19.
Namun, demikian Kemenkes mengklaim situasi di Indonesia relatif terkendali. Varian yang beredar di Tanah Air saat ini adalah MB.1.1 yang termasuk dalam turunan varian Omicron.
Kemenkes tetap mengingatkan semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan. Surat edaran bernomor SR.03.01/C/1422/2025 yang dikeluarkan pada Jumat, 23 Mei 2025 menegaskan pentingnya deteksi dini, pemetaan.
SE juga meminta dinas kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan untuk kembali menyosialisasikan protokol kesehatan kepada masyarakat (jaga jarak, cuci tangan, dan pakai masker). Dalam surat edarannya, Kemenkes juga meminta seluruh UPT dan laboratorium kesehatan masyarakat untuk meningkatkan pelaporan dan pemetaan varian baru.
Selanjutnya, Peningkatan Kasus Covid-19 Kawasan Asia
Peningkatan kasus Covid-19 kembali membayangi Asia. Thailand, Malaysia, Hong Kong, dan Singapura sebelumnya, mereka melaporkan lonjakan infeksi akibat varian baru turunan Omicron.
Thailand sedang digempur varian XEC dan JN.1, sementara Singapura didominasi LF.7 dan NB.1.8, keduanya merupakan subvarian JN.1. Di Hong Kong varian JN.1 masih mendominasi, dan Malaysia dilaporkan menghadapi XEC yang juga turunan dari JN.1.
Sementara itu, data dari Amerika Serikat menunjukkan varian dominan kini adalah LP.8.1, diikuti XFC dan XEC. Menurut laman Nebraska Medicine, Dr. Mark Rupp, pakar penyakit infeksi, menyebut subvarian Omicron masih mendominasi, seperti MC.10.1, LB.1.3.1, dan LF.7.
Ia menekankan pentingnya vaksinasi dan kewaspadaan di ruang publik. Di Nebraska, misalnya, dari 2.152 tes Covid-19 yang dilakukan dalam sepekan, ditemukan 127 kasus positif atau setara 5,9 persen.
Angka ini sudah melewati ambang 5 persen yang menurut CDC menunjukkan penularan tidak terkendali. Adapun kasus Covid-19 ini, lonjakan signifikan terjadi di Singapura.
Otoritas setempat mencatat 14.200 kasus dalam periode 27 April – 3 Mei 2025, naik dari 11.000 kasus di pekan sebelumnya. Mayoritas disebabkan oleh varian LF.7 dan NB.1.8, dua turunan dari JN.1 yang juga digunakan dalam platform vaksin saat ini.
Epidemiolog Dicky Budiman dari Griffith University Australia menjelaskan bahwa perbedaan utama varian JN.1 dibandingkan dengan varian Covid-19 sebelumnya. Perbedaannya terletak pada kemampuannya untuk menginfeksi lebih cepat.
"Varian ini memiliki kemampuan untuk menempel pada saluran napas jauh lebih cepat dibandingkan varian sebelumnya. Meskipun tingkat keparahan varian JN.1 tergolong rendah, kelompok lansia dan penderita komorbid tetap berisiko tinggi,” ujar Dicky dalam wawancara RRI Pro1 Jakarta, Kamis (5/6/2025).
Dicky menyebut, ebanyak 88 persen dari kasus kematian akibat varian ini terjadi pada usia di atas 65 tahun. Diapun menekankan perlunya kewaspadaan dan pengawasan terhadap kelompok rentan tersebut.
Selanjutnya, Parlemen Soroti Keseriusan Pemerintah
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, meminta agar pemerintah lebih serius menindaklanjuti perkembangan meningkatnya kasus Covid-19 di negara tetangga. Pemerintah, katanya, tidak cukup hanya memberikan pernyataan bahwa Covid-19 di Indonesia masih aman.
“Harus ada langkah-langkah antisipasi yang lebih lanjut agar tidak sampai terjadi seperti kasus Covid-19 sebelumnya. Dimana waktu itu ketika kasus Covid-19 naik masyarakat panik, ekonomi terpukul,” katanya dalam perbincangan dengan RRI Pro3, Senin (2/6/2025)
“Memang Kemenkes sudah mengeluarkan surat edaran (SE) kewaspadaan Covid-19. Tapi implementasi dari SE itu bagaimana?, pelaksanaan SE itu bagaimana?, sistem reporting dan pengawasan pelaksanaannya juga bagaimana?.”
Paling tidak, katanya, tenaga kesehatan dan fasilitasnya kesehatan yang sebelum menangani Covid-19 di cek kembali kesiapannya. Jadi jika terjadi lonjakan kasus yang mengkhawatirkan bisa langsung diaktifkan.
Repotnya, kata Netty, saat ini ada juga ketidakharmonisan antara Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dengan para tenaga kesehatan. “Sekarang ini polemiknya makin mengkhawatirkan dan ini saya takutkan mempengaruhi juga kerja para nakes," Netty menambahkan.
“Padahal kan para nakes ini adalah garda terdepan yang siap berkorban jika menghadapi kasus seperti Covid-19. Kita belajarlah dari Covid-19 sebelumnya, merekalah yang menghadapi pasien, melakukan pelancakan, dan lain sebagainya.”
Hal ini juga, sebut Netty, harus menjadi perhatian menkes atau Kemenkes. Bagaimanapun, kata dia, kesiapan faskes juga tergantung dari para nakes.
Netty juga mempertanyakan soal perkembangan inovasi vaksin oleh perusahaan farmasi nasional. “Perlu dicek lagi sejauh ini bagaimana kesiapan industri farmasi nasional soal vaksin,” ujarnya.
“Jangan sampai nanti begitu kasus makin tinggi dan kebijakan memberikan kembali vaksin secara massal (booster ketiga) kita tak siap. Kasus Covid-19 sebelumnya harus menjadi pembelajaran berharga bagaimana melakukan penanganan cepat jika terjadi lagi kondisi sama.”
Selanjutnya, Prokes Kunci Utama
Mantan Direktur Penyakit Menyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama mengingatkan, protokol kesehatan (prokes) adalah sarana efektif mencegah transmisi Covid-19. Kemenkes dan stakeholder terkait harus kembali gencar mengingatkan masyarakat pentingnya prokes menjadi kebiasaan hidup sehari-hari.
“Prokes, seperti memakai masker bukan hanya berguna sebagai bentuk pencegahan transmisi Covid-19. Tapi juga berguna pada saat flu, pilek, paparan polusi, dan lainnya,” katanya dalam perbincangan dengan RRI Pro3, Senin (2/6/2025).
“Prokes dasar yang harus kembali diterapkan dan menjadi kebiasaaan tidak hanya menggunakan masker. Tapi juga mencuci tangan secara rutin dengan sabun dan air atau menggunakan hand sanitizer.”
Selain itu, menjaga jarak saat berada ditempat ramai juga dapat mengurangi risiko penyebaran virus. Jika memang mengalami sakit, seperti flu, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah.
Yoga juga mengatakan perlunya dipertimbangkan kembali soal pemberian vaksin booster ketiga. Namun, pemberian vaksi trersebut memang harus berdasarkan juga pada data surveilans.
“Dimana data surveilans yang dikumpulkan secara sistematis dan terus-menerus dapat menjadi dasar langkah yang harus diambil oleh pemerintah terkait perkembangan Covid-19. Harusnya, vaksin booster memang diberikan setelah satu tahun mendapatkan vaksin terakhir,’ tambahnya.
Selanjutnya, Mengingat Kembali Dampak Buruk Covid-19
Dampak Covid-19 yang terjadi di Indonesia beberapa tahun lalu bisa terlihat dari berbagai sektor. Contohnya, sektor pariwisata yaitu hotel, restoran maupun pengusaha retail.
Sebagian besar hotel mengalami penurunan okupansi hingga 40 persen selama pandemi. Wisatawan mancanegara yang sepi juga berdampak pada usaha rumah makan atau restoran sekitar yang sasaran konsumennya adalah wisatawan mancanegara yang sedang berlibur ke Indonesia.
Industri retail juga mengalami penurunan yang signifikan. Belum lagi sektor UMKM yang terdampak cukup parah.
Hal itu dapat dilihat dari pemerintah yang memaparkan bahwa 1.785 koperasi dan 163.713 pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mengalami penurunan pendapatan yang sangat besar. Sektor UMKM yang paling terdampak adalah pada penjualan makanan dan minuman.
Sedikitnya 39,9 persen UMKM memutuskan mengurangi stok barang yang dibuat selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena akan menyebabkan kerugian yang sangat besar. Sementara itu 16,1 persen UMKM memilih untuk mengurangi karyawan akibat adanya penutupan toko untuk sementara waktu.
Memburuknya kondisi ekonomi akibat wabah Covid-19 memberikan tiga dampak besar bagi perekonomian Indonesia, yaitu membuat konsumsi dan kebutuhan rumah tangga atau daya beli menjadi lebih banyak. Kemudian melemahkan proses inventasi yang berkepanjangan dan memungkinkan terhentinya usaha yang sedang berjalan.
Hal lain menyebabkan harga komoditas pasar menjadi turun. Ekspor Indonesia ke beberapa negara juga berkurang bahkan terhenti karena seluruh dunia mengalami pelemahan ekonomi secara signifikan.
Hingga kinipun masih banyak sektor usaha yang belum pulih. Pekerja yang kena PHK belum kembali bekerja, dan angkatan kerja baru menumpuk tak terserap.
Kewaspadaan memang perlu ditingkatkan. Pencegahan, seperti mengawasi ketat pintu lintas batas negara, penerapan prokes, dan pemberian kembali vaksin booster dirasakan berbagai kalangan perlu dipertimbangkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....