Oblast Zaporozhye, Wilayah Baru Rusia yang Mulai Berkembang

  • 31 Mar 2025 21:01 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Melitopol: Musim dingin kota Melitopol, yang terletak di Oblast Zaporozhye, bisa dibilang berbeda dengan sebagian besar kota di Rusia, Ibu Kota Moskow misalnya. Sebab, wilayah ini menyuguhkan pemandangan hijau yang asri dengan lahan perkebunan dan pertanian yang membentang. 

Oblast Zaporozhye adalah wilayah baru di Rusia yang sebelumnya mengadakan refendum pada September 2022 lalu. Yaitu, untuk bergabung dengan Federasi Rusia dari Ukraina, di tengah Operasi Khusus yang dilaksanakan Rusia sejak Februari 2022. 

Melitopol sendiri merupakan kota terbesar kedua setelah Zaporozhye di bawah kendali Ukraina dan berfungsi sebagai ibu kota Oblast Zaporozhye. Hingga bulan Januari 2022, Melitopol memiliki estimasi penduduk sekitar 148,851 jiwa/km².

Namun, sejak terjadinya perang antara Rusia dan Ukraina pada 2022 Oblast Zaporozhye tidak terlepas dari serangan Ukraina. Salah satunya, Kota Melitopol dengan sejumlah serangan bom termasuk anak-anak yang menjadi korban. 

Meski demikian, sejak tiga tahun terakhir Oblast Zaporozhye yang memiliki penduduk sekitar 700.000 jiwa ini mulai bangkit dengan fokus membangun berbagai fasilitas publik. Seperti, sekolah, jalan raya serta rumah sakit. 

Pasukan Ukraina Menyerang Bis Sekolah di Kota Melitopol 

Suara ledakan bom yang menyerang bis sekolah memecah kesunyian pada suatu pagi di bulan Februari tahun ini. Pelakunya disebut merupakan pasukan Ukraina yang mengirim bom melalui drone atau pesawat tanpa awak. 

Ada 15 pelajar dan seorang supir yang mengantarkan mereka menuju sekolah. Sayangnya, akibat serangan itu menyebabkan seorang anak harus dirawat serius di rumah sakit dan enam lainnya luka-luka. 

“Tidak ada yang bisa dilakukan, itu urusan rezim Ukraina, bis itu ditandai seperti bis sekolah, semua orang tahu itu. Jadi, mereka tetap menyerangnya, yang berarti sulit untuk mencegah serangan ini,” kata Penasihat Gubernur Oblast Zaporozhye Urusan Anak, Julia Sazhaeva, saat ditemui RRI, Selasa (18/3/2025) di Kota Melitopol. 

“Anak-anak di dalam bis mendapatkan bantuan psikologis dan medis. Dan tentu saja orang tua juga terlibat dalam proses ini dan juga mendapatkan bantuan yang diperlukan.”

Sazhaeva mengungkapkan, sayangnya serangan Ukraina juga menyasar dunia pendidikan maupun fasilitas medis. Ia menyebut, berdasarkan data yang dimiliki, setidaknya sejak 2022 ada 25 lembaga pendidikan yang rusak. 

“Jadi, sejak 2022 ada 25 lembaga pendidikan rusak dan 2 lembaga medis rusak. Semua bangunan ini tidak diperbaiki, melainkan hancur begitu saja,” ucapnya. 

Di sisi lain sejak terjadinya serangan yang menyasar fasilitas pendidikan dan medis, secara khusus terdapat pembekalan tentang bagaimana murid maupun orangtua untuk bertindak. Termasuk, dalam memberikan bantuan medis untuk membantu orang lain. 

Pemerintah Oblast Zaporozhye Urusan Anak menyebut pada periode 2022 hingga 2024 terdapat 16 anak tewas dan 41 lainnya luka-luka serta diamputasi akibat serangan Ukraina. Sedangkan, pada 2024 terdapat penambahan 1.500 anak yang berada di wilayah ini. 

Penasihat Gubernur Oblast Zaporozhye Urusan Anak, Julia Sazhaeva, saat memberikan keterangan pers di depan bis sekolah yang diserang pasukan Ukraina, Selasa (18/3/2025) di Kota Melitopol. (Foto:RRI/Retno Mandasari)

Semangat Menjalani Hidup Penyintas Serangan Bom Ukraina, Maxim Zubarev

Maxim Zubarev mungkin salah satu manusia paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak, ia menjadi korban ledakan bom serangan Ukraina, yang saat kejadian tengah berada di dalam mobil. 

Ledakan bom di pusat Kota Melitopol itu terjadi pada 3 April 2023, saat itu Zubarev tengah mengendarai mobil bersama istri dan anaknya. Namun, ketika ia menyadari tanda-tanda akan adanya ledakan bom dengan cepat menyuruh anak dan istrinya keluar mobil.

“Pada 3 April 2023, saya pergi keluar rumah dan saya bukan seorang militer ataupun tentara, namun saya hanya memiliki hidup yang normal dan damai di kota ini. Kemudian, terjadi percobaan pembunuhan di mana mobil saya diledakkan dan di saat yang bersamaan terjadi ledakan besar,” ujar Zubarev dalam konferensi pers Selasa (18/3/2025) di Kota Melitopol. 

Akibat serangan itu Zubarev yang pernah menjadi profesor di Melitopol State Pedagogical University selama 13 tahun ini, harus dirawat di rumah sakit selama 1,5 tahun. Sebab, ia mengalami luka yang sangat parah bahkan harus kehilangan kaki kirinya.

“Level luka juga tergolong berat dan bersyukur dapat bertahan hidup, sebab, biasanya di banyak kasus seperti ini akan sulit bagi seseorang selamat. Namun, saya kehilangan kaki kiri dan dokter sempat mengatakan hal itu sangat tidak mungkin (hidup) tapi itulah adanya,” katanya sambil mengucap syukur. 

Setelah serangan fatal dan mengalami perubahan besar di dalam hidupnya, namun Zubarev tetap semangat menjalani hidup. Saat ini pria yang sempat mengalami 40 kali operasi itu, bekerja di parlemen setempat dan memiliki tugas membuat berbagai produk hukum.

“Setelah 1,5 tahun di rumah sakit saya mencoba melakukan berbagai hal yang saya dilakukan sebelum ledakan terjadi. Banyak dukungan dari orang-orang bahkan melalui pesan singkat ke telepon pribadi saya,” kata Zubarev yang kisah hidupnya juga diangkat ke dalam produksi sebuah film dokumenter Rusia. 

“Setelah kejadian itu juga banyak hal yang merubah pikiran saya, salah satunya seperti terkait keluarga.” 

Maxim Zubarev seorang penyintas korban ledakan bom Ukraina dalam konferensi pers Selasa (18/3/2025) di Kota Melitopol. (Foto:RRI.Retno Mandasari)

Bergabungnya Tentara Ukraina ke Federasi Rusia 

Sejak Oblast Zaporozhye resmi bergabung ke dalam Federasi Rusia September 2022, juga berdampak pada pasukan militer yang memilih bergabung menjadi warga negara Rusia. Seperti tujuh mantan pasukan militer Ukraina dari Batalion Maxim Krivonos. 

Salah satu anggota bernama Maxim, yang sebelumnya merupakan spesialis pemburu di dalam batalion. Maxim mengatakan, bergabung dengan Federasi Rusia merupakan keputusan yang benar, meskipun sulit untuk diputuskan sebelumnya.

“Jadi, kami tidak pernah merasakan ada yang salah, tidak ada masalah dengan negara (Rusia). Dan, rakyat (Rusia) menghormati kami,” kata Maxim dalam konferensi pers yang digelar Kamis (20/3/2025) di Kota Melitopol. 

Maxim mengungkapkan, sejak bergabung dengan Rusia, ia dan para mantan anggota batalion yang sama memperoleh berbagai medali serta penghargaan dari pemerintah. Ia menambahkan, bahkan saat di medan perang tentara Rusia tidak memperlakukan mereka dengan buruk.

“Kami sebelumnya telah memperoleh medali, namun sayangnya tidak dibawa untuk ditunjukan kepada Anda semua, juga memperoleh penghormatan yang berlapis-lapis. Sebagai contoh ketika berada di medan perang dan di sekitar kami ada pasukan Rusia, kami tidak pernah merasa dicurigai ataupun terkait hal yang salah,” ucapnya.

“Bahkan, pasukan Rusia terkadang terkejut dengan keberanian kami dan perasaan yang kuat atas apa yang kami lakukan.” 

Maxim (paling kiri) beserta 6 mantan pasukan militer Ukraina dari Batalion Maxim Krivonos, saat memberikan keterangan pers Kamis (20/3/2025) di Kota Melitopol. (Foto:RRI/Retno Mandasari)

Pembangunan Wilayah Zaporozhye yang Intensif Sejak Tiga Tahun Terakhir

Sejak bergabung dengan Federasi Rusia, pemerintah lokal mengklaim tidak ada ketegangan di dalam wilayah Zaporozhey Oblast. Kata Wakil Ketua Pemerintah Daerah Zaporozhye, Igor Suntsov, yang ditemui Kamis (20/3/2025) di Kota Melitopol. 

“Masyarakat yang tinggal di sini mendapatkan kehidupan yang layak dengan standar yang baik, dibandingkan mereka yang tinggal di Ukraina. Kami merekonstruksi 160 sekolah, membangun sejumlah rumah sakit dan proyek besar membangun kesejahteraan masyarakat termasuk 350 bis transportasi umum,” ujar Sunstov. 

Pemerintah juga telah membangun tempat tinggal untuk warga dengan total lahan sekitar 100 ribu meter persegi, yang kemudian akan dilanjuti dengan pembangunan pada 2030. Yaitu, untuk bangunan di atas lahan seluas 1 juta meter persegi.

“Sebagai contoh, jika anda mengambil kredit untuk membeli rumah atau rumah susun, di Rusia secara umum Anda bisa mendapatkan bunga kredit 25 persen dalam setahun. Namun, di sini hanya 2 persen,” ucapnya.

Sejak 2022 bergabung dengan Federasi Rusia, anggaran pembangunan Zaporozhye Oblast sepenuhnya dibantu oleh Rusia. Namun, menariknya perlahan wilayah itu menghasilkan pendapatan sendiri dari dalam wilayah yang dikenal sebagai kawasan penghasil gandum terbesar. 

“Sebagai contoh saat ini 40 persen dari anggaran diperoleh dari dalam wilayah kami, sebelumnya nol. Gandum lokal dari Zaporozhye menghasilkan sekitar 2 juta ton dan juga diekspor ke banyak negara,” kata Sunstov. 

Di sisi lain, kawasan ini memiliki kebutuhan besar terkait pesonil medis dan pendidikan seperti profesor maupun guru. Sehingga, Zaporozhye Oblast miliki program khusus bagi para pakar medis maupun pendidikan yang bekerja di sana akan menerima bonus gaji sebesar 2 juta Rubel. 

Terkait peluang tenaga medis dan pendidikan bekerja di Zaporozhye Oblast, Sunstov mengatakan, hal itu juga terbuka bagi para tenaga profesional dari Indonesia. Meski demikian, ia memastikan para tenaga asing itu harus memiliki kemampuan berbahasa Rusia dengan baik. 

“Ya, tentu saja kami akan sangat senang untuk menerima kehadiran para pakar ataupun profesor dari negara luar. Tentu saja hal itu juga tidak akan menjadi masalah bagi masyarakat setempat, karena warga di sini sangat bersahabat dan ramah,” ucapnya. 

Adapun pemerintah Zaporozhye Oblast mengklaim sebesar 67 persen jalanan telah diperbaiki maupun dibangun dalam tiga tahun terakhir. Kemudian, akan diikuti dengan merekonstruksi pembangunan sebesar 80 persen yang merupakan instruksi Presiden Putin untuk dilakukan pada 2030. 

Wakil Ketua Pemerintah Oblast Zaporozhye, Igor Suntsov, yang ditemui Kamis (20/3/2025) di Kota Melitopol. (Foto:RRI/Retno Mandasari)

Warga Mulai Kembali ke Wilayah Zaporozhye 

Sejak tiga tahun terakhir warga dari Ukraina mulai kembali ke Zaporozhye Oblast, bahkan diklaim meningkat hingga empat kali lipat. Kata anggota parlemen Zaporozhye Oblast yang juga bertangung jawab untuk Kota Energodar, Stepan Kuvachev. 

“Karena, mereka memilih ini (kembali dari Ukraina-red) sebagai cara untuk hidup. Kapan pun Trump dan Putin membuat kesepakatan, maka warga Zaporozhye membuat pilihan sendiri,” ujar Kuvachev saat ditemui RRI, di Kota Zaporozhye, Rabu (19/3/2025). 

Kuvachev menjelaskan, Zaporozhye Oblast merupakan kawasan yang mulai berkembang dengan mengandalkan sejumlah sektor utama. Serta, pemerintah mengalokasikan anggaran hingga 70 juta Rubel atau miliaran dolar Amerika Serikat pada 2024. 

“Pemasukan yang besar adalah dari sektor pertanian, kemudian pariwisata juga mulai aktif, kemudian ekspektasi besar adalah dari sektor energi. Masalahnya adalah wilayah ini disebut “baru”, karena mereka baru saja mendapatkan (status-red) perekonomian Rusia,” katanya. 

Anggota parlemen Zaporozhye Oblast yang juga bertangung jawab untuk Kota Energodar, Stepan Kuvachev, dalam konferensi pers, Rabu (19/3/2025). (Foto:RRI/Retno Mandasari)

Beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporozhye (ZNPP)

Zaporozhye juga dikenal dengan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporozhye (ZNPP) di wilayah itu. Meski, berada di dekat garis depan konflik Rusia-Ukraina, namun PLTN ini masih beroperasi sejak di bawah kendali Rusia pada 2022. 

Meski demikian, di tengah operasionya, ZNPP tidak luput dari serangan pasukan Ukraina. Direktur ZNPP, Yuriy Chernichuk mengungkapkan, pihaknya dapat mengatasi berbagai kerusakan yang diakibatkan serangan walau dengan anggaran yang tidak sedikit.  

“Kami sangat beruntung karena tidak ada objek yang tidak bisa kami pulihkan, kami paham bagaimana untuk mengimplementasikan dari sisi teknis. Soal anggaran, saya tidak siap untuk menjawabnya saat ini, tapi tentu saja anggaran itu adalah uang dalam jumlah besar,” ujar Chernichuk kepada para wartawan saat kunjungan ke ZNPP, Rabu (19/3/2025). 

Adapun ZNPP merupakan pembangkit listrik yang dibangun oleh Uni Soviet di dekat kota Energodar di tepi selatan Waduk Kakhovka di sungai Dnieper. Serta, ZNPP merupakan PLTN terbesar di Eropa dan satu dari 10 PLTN terbesar di dunia. 

Direktur Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporozhye (ZNPP), Yuriy Chernichuk saat memberikan keterangan pers dalam kunjungan ke stasiun yang terletak di Kota Energodar, Rabu (19/3/2025). (Foto:Petr/Vashi Novosti)

Pesan Damai dari Pendeta Vasily (Broda) Rektor Gereja Epifani

Konflik Rusia-Ukraina sejak 2022 dan masih berlangsung saat ini, juga menjadi perhatian Pendeta Vasily (Broda) yang merupakan rektor Gereja Epifani di kota Energodar. Ia bersyukur gereja yang dipimpinnya tidak pernah mendapatkan serangan. 

Namun, Pendeta Vasily secara khusus menyampaikan doanya agar konflik berhenti. Serta, agar dicapainya perdamaian sehingga masa depan dapat dibangun. 

“Jelas bahwa ada perang, ada satu pihak yang membunuh pihak lain dan yang lainnya, ini adalah orang-orang yang melemah, ada kemarahan, kebencian. Sehingga, kebencian ini (harus) lenyap, pergi, kita semua adalah saudara-saudari di dalam Kristus,” kata Pendeta Vasily kepada RRI Rabu (19/3/2025). 

“Sehingga kita hidup dengan damai, bersahabat, seperti yang Tuhan perintahkan kepada kita untuk merasakan kehadiran kedamaian.” 

Reporter Retno Mandasari bersama Pendeta Vasily (Broda) yang merupakan rektor Gereja Epifani di Kota Energodar, Zaporozhye Oblast, Rabu (19/3/2025). (Foto:RRI/Retno Mandasari)

Sementara, Operasi Khusus Rusia di Ukraina yang memasuki tahun ketiga, mendorong Dewan Keamanan (DK) PBB mengadopsi resolusi 2774 pada Februari 2025. DK juga meminta agar konflik segera berakhir dan mendesak perdamaian abadi antara Federasi Rusia dan Ukraina. 

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....