Masjid Agung 'Seribu Tiang' Al-Falah Jambi
- 09 Apr 2024 16:01 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jambi: Di kota Jambi, terdapat sebuah masjid yang disebut sebagai Masjid Seribu Tiang. Masjid yang menjadi salah satu ikon Kota Jambi tersebut bernama Masjid Agung Al-Falah.
Masjid ini terletak di Jalan Sultan Thaha No. 60, Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi. Lokasi masjid ini sangat strategis karena berada di pusat kota.
Namun siapa sangka, dibalik indah dan megahnya masjid ini memiliki sejarah menarik dan arsitektur yang unik. Hal itu diceritakan oleh Ketua Harian Masjid M Umar Yusuf.
Ia menceritakan, tanah lokasi dibangunnya Masjid Agung ini berdiri, dulunya merupakan pusat kerajaan Melayu Jambi. Namun pada tahun 1885 dikuasai penjajah Belanda dan dijadikan pusat pemerintahan dan benteng Belanda.
"Kemudian ini tanah punya sejarah, inilah tempat kerajaan Melayu (Jambi) disini. Tapi sebelum kemerdekaan, tanah lokasi tempat ini diambil oleh Belanda," katanya ditemui tim ekspedisi Mudik Lebaran RRI 2024 di Masjid Agung Al-Falah, Jambi, Selasa (9/4/2024).
"Tapi direbut kembali oleh kerajaan Jambi setelah Sultan Thaha," ujarnya. Dikutip dari berbagai sumber, Sultan Thaha terpilih menjadi pemimpin di Kesultanan Jambi pada tahun 1858.
Tim Ekspedisi Mudik Lebaran 2024 RRI saat melakukan wawancara bersama Ketua Harian Masjid Al-Falah M Umar Yusuf, di Masjid Agung Al-Falah, Jambi, Selasa (9/4/2024). (Foto: RRI/Tim Ekspedisi)
Pada saat terpilih ia membatalkan semua perjanjian yang dibuat Belanda dengan mendiang ayahandanya. Hal itu dikarenakan perjanjian tersebut sangat merugikan kesultanan Jambi.
Saat itu, Balanda sangat marah dan mengancam akan menyerang Istana. Tak takut, Sultan Thaha justru lebih dulu menyerang pos Belanda di daerah Kumpe.
Tak Terima, Belanda melakukan serangan balasan dengan membui hanguskan komplek Istana Tanah pilih. Pada tahun 1906, lokasi bekas istana sultan tersebut dijadikan asrama tentara Belanda yang digunakan sebagai tempat pemerintahan Keresidenan.
Di era kemerdekaan sampai tahun 1970-an lokasi tersebut masih difungsikan sebagai asrama TNI di Jambi. Umar pun bercerita, gagasan pembangunan masjid ini telah dibahas sejak tahun 1961.
Gagasan tersebut mengemuka dari pemerintah Jambi beserta para tokoh-tokoh islam dan ulama Jambi waktu itu. Namun demikian, proses pembanguan masjid ini baru selesai tahun 1971.
"Masjid Agung ini didirikan pada tahun 1971. Jauh sebelum itu pada tahun 1961 para tokoh masyarakat Jambi, para ulama itu kumpul," ujarnya.
"Bagaimana cara Jambi itu punya Masjid Agung yang besar dan harus punya ikon, dadi berunding itu. Nah direalisasi bisa terbangun mulai pada tahun 1971 dengan tiga tahap dan itu dibangun selama 9 tahun," ucapnya.
"Selesai tahun 1971-1979, dan diresmikannya itu tahun 1980, selesai (akhir) 1979. Kalau enggak salah akhir 29 Desember itu diresmikan oleh Presiden Soeharto, waktu itu Gubernur kita Masjchun Sofwan," katanya.
Arsitektur Masjid Agung Al-Falah
Jika anda berkunjung ke masjid ini, anda mungkin akan terkesima dengan keindahan arsitektur Masjid Agung Al-Falah. Masjid Agung Al-Falah dibangun lengkap dengan kubah besar ditengah masjid dengan menara yang menjulang.
"Arsitektur ini memang bangunan masjid salah satu pondasi cakar ayam. Ini arsitekturnya Profesor Roosseno Soerjohadikoesoemo dari ITB (Guru Besar Institut Teknologi Bandung)," katanya.
"Ini kan pondasi cakar ayam yang tahan gempa ini, dari ITB Pak Profesor Roosseno. Waktu dibangun ini masjid terbesar di Sumatra, ini terbesar," ujarnya.
Area Mimbar Masjid Agung Al-Falah, Jambi. (Foto: RRI/Tim Ekspedisi)
Jejeran ratusan tiang di masjid Al-Falah ini jika dilihat terbagi dalam dua bentuk. Bentuk pertama merupakan tiang-tiang lansing bewarna putih dengan tiga sulur ke atas.
Tiang tersebut menyanggah sekeliling atap masjid sebelah luar. Sementara bentuk tiang kedua berupa tiang-tiang silinder berbalut tembaga yang menopang struktur kubah di area tengah bangunan masjid.
"Tiangnya bahannya seperti yang kita lihat dari beton-beton, cuma di tengah 40 tiang itu dibalut dengan tembaga. Termasuk ornamen yang didepan (mimbar khatib) yang berwana emas," ujarnya.
Masjid Terbuka Tanpa Pintu dan Jendela
Umar menyebut, Masjid Agung Al-Falah ini memang dirancang dibangun dengan konsep terbuka.Masjid ini dibangun tanpa pintu, jendela, dan hanya sedikit dinding.
"Masjid agung ini yang ramah tidak pakai dinding, siapa saja bisa masuk. Ini masjid ramah tidak pakai pintu, ac alam, semua orang bisa masuk," katanya.
Konsep terbuka ini sejalan dengan arti nama Al-Falah, yaotu kemenangan. Artinya masjid Al-Falah itu kemenangan, jadi siapa yang dapat beribadah disini dapat petunjuk dan hidayah," ucapnya.
"Ada yang mengatakan salat disini, doa selalu dikabulkan Allah SWT, aritnya mendapat kemenangan, mendapat keberkahan itu. Maka orang-orang sering kalau malam-malam ganjil puasa penuh orang itikaf," ujarnya.
Masjid kebanggaan warga Jambi ini berdiri di atas lahan seluas 26.890 M2 atau lebih dari 2,7 Hektar. Sedangkan luas bangunan masjid sekitar 6.400 M2 dengan ukuran 80m x 80m, yang mampu menampung 10 ribu jamaah.
Sejarah Penyebutan Masjid 'Seribu Tiang' oleh Gus Dur
Umar menceritakan sejarah menarik mengapa Masjid Al-Falah disebut sebagai Masjid 'Seribu Tiang'. Ia mengatakan, penamaan tersebut berasal dari celetukan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
"Tiang masjid ini hanya ada 232, seribu itu saat Gus Dur Jadi Presiden beliau ke Jambi, salat disini. Begitu mendaki tangga, wah dia bilang ini masjid besar, luar biasa, ini masjid seribu tiang, kata Gus Dur," katanya.
"Jadi sampai hari ini lekat Masjid Agung Al-Falah ini disebutnya sebagai Masjid Seribu Tiang. (Padahal tiangnya cuma 232," ujarnya.
Ia mengungkapkan, banyak masyarakat banyak yang datang ke Masjid ini karena merasa penasaran. Mereka penasaran apakah benar Masjid Agung Al-Falah memiliki seribu tiang.
"Banyak orang datang ini penasaran, begitu masuk hitung tiang masjid karena terkenal masjid ini masjid seribu tiang. Begitu masuk (pengunjung) menghitung sampai penasaran mereka," ujarnya.
"Kebetulan saya sedang ada. (Pengunjung bertanya) 'misi pak saya sudah hitung tadi enggak sampai seribu (tiang) gimana sejarahnya," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....