​Dunia Pendidikan Terjepit Kolong Jembatan

  • 18 Sep 2023 21:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

MENCARI Kemerdekaan dalam dunia pendidikan di bawah kolong jembatan harus dijalani anak-anak usia 5-10 tahun di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Sabtu (16/9/2023). Tim RRI, coba menelurusi kawasan kolong tol dan fly over, di sepanjang Jalan Pemuda Pramuka, Rawamangun, pukul 09.00 WIB.

Tepat perempatan lampu merah arah Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sekitar 100-200 meter, kami menemukan kumpulan anak-anak kecil. Pukul 09.30 WIB, jumlah anak-anak kecil itu terus bertambah dari berbagai arah di kawasan Jalan Pemuda Pramuka.

Muka-muka polos, terpancar rasa riang gembira di wajah generasi penerus bangsa yang mencari kemerdekaan dalam dunia pendidikan. Bermodalkan alas kaki sandal jepit, pakaian seadanya, anak-anak 'kolong jembatan' tersebut tampak antusias menunggu sang pengajar datang.

Kebisingan kendaraan, debu, hingga polusi di jalan, tak menggaggu jiwa membara anak-anak untuk bisa baca, tulis, dan menghitung. Tepat pukul 10.00 WIB, terlihat hadir seorang wanita dengan menaiki motor tua hadir menghampiri anak-anak 'kolong jembatan' tersebut.

Suasana proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh relawan dari UNTAR untuk anak-anak kolong jembatan Rawamangun, Jakarta Timur. (Foto: RRI/Dedi Hidayat)

Sosok wanita tersebut adalah Valentina Sastrodihardjo, seorang relawan pendiri Rumah Belajar Pelangi Nusantara. Alumni UNJ tersebut ternyata sudah 13 tahun lebih mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar untuk anak-anak 'kolong jembatan'.

Mendirikan sekolah kolong secara gratis sejak 2010 silam, Valen (sapaan akrab) harus menembuh berbagai tantangan dan cobaan. Mulai menyisihkan gaji Rp800 ribu sebagai guru honorer, untuk cukup membiayai kuliah dan perlengkapan pendidikan anak-anak kolong.

Tidak hanya soal biaya, Valen juga dilanda rasa bimbang. Karena keluarga terutama sang ayah tidak mendukung langkahnya tersebut.

Lalu, sadar biaya untuk pendidikan anak-anak kolong kurang, Valen memberanikan diri menjadi ojek online (ojol). Pilihan itu dijalani demi menutupi semua kebutuhan.

Karena, setiap kali mengajar, Valen ini selalu membawa perkakas alat-alat pembelajaran hingga bekal makanan. Ya, bekal makanan itu bukan untuk dirinya, melainkan diberikan kepada anak-anak kolong.

Pada kesempatan itu, Valen tidak hadir sendirian dalam melakukan belajar-mengajar anak-anak kolong. Valen ditemani oleh Indira dan Talita Manda, selaku relawan pengajar murid-murid Rumah Belajar Pelangi Nusantara.

Perlu diketahui, Indira merupakan alumni Rumah Belajar Pelangi Nusantara yang kini duduk di bangku SMA. Ya! Indira merupakan anak didik Valen, sang murid kini mengabdikan waktu liburnya untuk membantu sang guru.

Pendiri Rumah Belajar Pelangi Nusantara, Valentina Sastrodihardjo saat berbincang dengan Tim  LPP RRI, di Kolong Jembatan Fly Over Rawamangun, Jakarta Timur. (Foto: RRI/Dedi Hidayat)

Kemudian, Talita merupakan mahasiswa Universitas Dian Nusantara (Undira). Kepada RRI, Talita mengaku senang jika bisa bermain dengan anak kecil, apalagi sambil mengajar belajar.

Selain mereka, hadir juga Eva Dipanti selaku Relawan Cerdas Cemerlang (Abo Edu Indonesia). Wanita ini berasal dari Kutai Timur, Sangata, Kalimantan Timur.

Beratapkan beton-beton fly over Rawamangun yang memiliki ketinggian, setinggi orang dewasa, kami menyaksikan langsung proses belajar mengajar itu. Dalam pembukaan proses belajar mengajar, Valen melakukannya dengan melontarkan yel-yel semangat.

Para orang tua murid, secara antusias menunggu anak-anak di bawa kolong jembatan. Ya, dengan membawa sebotol minuman untuk sang anak dan beberapa cemilan dari rumah.

Tidak ada tempat jajan, kantin, dan fasilitas makanan di kolong jembatan ini ya!. Anak-anak kolong ini pun tidak memikirkan uang jajan sama sekali, mereka hanya ingin bisa bermain dan belajar.

Lagu Indonesia Raya pun berkumandang di bawah kolong jembatan Rawamangun. Valen ternyata, turut memupuk jiwa 89 anak-anak kolong jembatan ini agar cinta Tanah Air.

Selanjutnya, "Valen Miliki Latarbelakang Profesi Guru"

KEPADA RRI, Valen mengatakan, selama 10 tahun dirinya merupakan seorang guru SD di sekitar Bintaro, Jakarta Selatan. Dari uang tersebut, disisihkannya untuk membiayai kuliah di UNJ.

"Sebelum terjun ke komunitas ini, profesi saya sebagai seorang pendidik, sudah mengajar selama 10 tahun. Lalu saya kuliah lagi," kata Valen.

Awal terbentuknya komunitas belajar anak-anak kolong jembatan itu, Valen mengaku iba dan kasihan. Melihat anak-anak kecil harus mengemis, berjualan tisu, hingga diekspoitasi oleh orang tuanya.

"Sepanjang jalan saya berpikir, anak-anak ini sekolah apa tidak. Kemudian, saya melakukan riset kurang lebih empat bulan, terjun langsung ke permukiman mereka di Rawamangun," ucap Valen.

Selanjutnya, "Metode Valen Membujuk Anak-Anak Kolong Belajar"

PROSES belajar-mengajar pertama kali tahun 2010 lalu, Valen mengungkapkan, membawa boneka tangan untuk anak-anak kolong. Ternyata, hal tersebut berhasil membuat anak-anak kolong mau untuk memulai dunia pendidikan.

"Cara mengumpulkannya, saya datang selalu membawa 15 boneka tangan tentang hewan. Saya memulainya dengan cerita-cerita tentang binatang, saya selalu berkeliling membawa perlengkapan dan juga snack untuk dibagikan kepada adik-adik," ucap Valen.

Valen menuturkan, harus melakukan proses belajar-mengajar dengan sabar. Awalnya, ia hanya mendidik 5-10 murid anak-anak kolong.

"Awalnya hanya 5-10 anak dan sampai akhirnya banyak. Saya lakukan refleksi nilai-nilai apa yang mereka dapat, lalu saya membagikan snack," ujar Valen.

Selama 13 tahun mengajar, Valen menekankan, dirinya tak pernah memungut sepeser uang dari orang tua murid. Seluruh kebutuhan murid dan dirinya, dicukupi dari gaji pribadinya sendiri.

"Biaya itu tidak ada dari siapa-siapa, tetapi benar benar dari gaji saya sebagai pendidik guru. kalau dibilang cukup atau tidaknya, saya terima itu yang gunakan sebaik mungkin untuk semuanya," kata Valen.

Selanjutnya, "Dari Petukangan Timur ke Rawamangun"

VALEN mengatakan, dirinya bukanlah dari kalangan orang berada atau kaya raya. Dalam kesehariannya, Valen menggunakan motor matic yang kini sudah berusia 15 tahun.

Dengan motor tua yang sudah menemaninya sejak lama itu, Valen konsisten mengajar anak-anak kolong. Valen harus menempuh jarak 25 kilometer dari Petukangan Utara ke Rawamangun, dengan modal bensin Rp45 ribu.

"Setiap hari menggunakan motor, jarak dari rumah ke sini kurang lebih 25 km, bensin kurang lebih Rp45 ribu habis. Lumayan boros karena saya mengajar, bukan hanya di sini, melainkan ada tempat lain," ucap Valen.

Selain di Rawamangun, Valen juga mengabdikan diri mengajar anak-anak kurang mampu di dekat Kantor Wali Kota Jakarta Timur. "Lalu, mengajar di Muara Angke, Jakarta Utara, untuk anak-anak nelayan," ujar Valen.

Selanjutnya, "Korbankan Masa Muda untuk Anak-Anak Kolong"

KEMUDIAN, Valen menjelaskan, sejak umur 20 tahun dirinya tidak pernah bermain dengan teman sebayanya. Seluruh waktu mudanya, dihabiskan untuk bekerja, kuliah, dan mengajar anak-anak kolong.

"Di umur 20-an ini tidak ada waktu seperti teman-teman yang lain untuk menyenangkan dirinya. Kalau me time, saya ya ke kolong (Rawamangun)," kata Valen.

Valen pun tidak sungkan, membeberkan alasan menghabiskan masa mudanya untuk mengajar di kolong jembatan Rawamangun. Valen mengaku, selama hidupnya ingin sekali memberikan pengabdian untuk masyarakat sekitar.

"Ingin membuat hari-hari saya berwarna, setiap harinya, ingin melakukan hal bermanfaat untuk orang lain. Ketika saya tua, saya bisa menceritakan kepada anak dan cucu kalau dulu saya melakukan hal hal baik," ucap Valen.

Valen menceritakan, komunitas ini berdiri Mei 2010 yang bernamakan Carrgour Education. Komunitas tersebut terdiri dari empat teman-teman Valen yang bertemu di jejaring Facebook.

"Tiga orang ini sudah resign, jadi tinggal saya dan kemudian saya ganti nama menjadi Rumah Belajar Pelangi Nusantara. Pada 2010 ada 160 anak karena mereka awalnya rumahnya belum digusur," kata Valen.

Setelah permukiman anak-anak kolong digusur, diakui Valen, jumlah anak-anak didiknya semakin berkurang. Kurang lebih 2011, akhirnya menjadi 85-100 usia 3-14 tahun tetapi itu tidak stabil.

"Awalnya saya di kawasan pemulung pada 2010 sudah dapat izin dan bersama dengan teman mencari donasi. Untuk membeli perlengkapan belajar semuanya, setelah semua jadi ternyata itu tanah sengketa, harus digusur," ucap Valen.

"Kemudian saya melihat di seberang ada kolong seperti ini, lalu berpikir, apakah saya gunakan kolong itu. Kemudian, saya memberanikan diri hingga saat ini masih kami gunakan," dia menambahkan.

Selanjutnya, "Momen Menyedihkan untuk Valen"

SELAMA 13 tahun, Valen mengakui, bola matanya selalu mengeluarkan air mata. Apalagi, ketika mengingat masa-masa kelam anak-anak didiknya.

Tidak hanya menjadi tenaga pengajar, Valen pun mendadak menjadi tenaga kesehatan. Karena, anak-anak muridnya ada yang mengalami luka sobek, tetapi tidak diobati.

"Kalau luka sampai kena beling itu bisa ke belah kakinya, dagingnya kelihatan kayak gitu kan bakteri bisa masuk. Jadi awalnya itu saya mengajarkan anak-anak merawat diri, bagaimana dia harus mandi setiap hari, sikat gigi, keramas," kata Valen.

Proses tersebut, dilakukan Valen selama dua tahun. Tidak sebentar, Valen harus meningkatkan kesabarannya dalam mendidik anak-anak kolong.

"Setiap kali datang, saya cek kepalanya, saya cium, sudah wangi apa belum, kalau belum wangi berarti belum mandi. Saya suruh pulang, suruh mandi dan keramas seperti itu," ucap Valen.

Pendiri Rumah Belajar Pelangi Nusantara, Valentina Sastrodihardjo terisak tangis saat menceritakan keluh kesah mengajar anak-anak kolong jembatan Rawamangun, Jakarta Timur. (Foto: RRI/Dedi Hidayat)

Lalu, Valen mengaku, tidak jijik atau geli ketika melihat hewan kecil 'kutu' yang mengumpul di kepala anak didiknya. Ia dengan susah payah, berjuang menghilangkan kutu-kutu tersebut.

"Terus saya cek lagi kakinya nih apakah dia rajin mengobati atau enggak. Jadi itu saya rutin kak, selama hampir dua tahun saya seperti itu," ujar Valen.

Selanjutnya, "Tiga Kunci Sakti Valen Dalam Mengajar"

VALEN menuturkan, selalu mengajarkan tiga kunci dalam hidup kepada anak-anak muridnya. Tiga kunci sakti itu adalah terima kasih, tolong, dan minta maaf.

"Kita ini makhluk sosial yang selalu bersinggung dengan orang lain, jadi selalu kata tolong itu wajib. Sekarang ini saya lebih ke pembangunan karakter dan tentang kebhinekaan atau kebangsaan," kata Valen.

Valen menegaskan, pentingnya anak-anak kolong ini memiliki rasa cinta akan bangsa Indonesia. Dia tak menampik, kebaikannya mengajar pun sempat menuai kritikan.

"Karena kita sebagai manusia itu roda itu berputar, ada titik jenuhku, (dahulu) harus kuliah. Saya harus mengurusi beberapa komunitas yang mungkin harus berbagi waktu, tenaga, keuangan, semuanya," ucap Valen.

"Bahkan, internal keluarga sendiri, aku mengalami fase didiamkan sama orang tua atau keluarga. Jadi orang tua itu marah, usianya waktu itu 20an, teman-teman kamu itu sudah bekerja," sambung cerita Valen.

"Sudah mungkin bisa punya mobil, punya rumah, tapi kamu itu masih mengurusi orang lain begitu, enggak ada hasilnya. Terus akhirnya saya memberikan pengertian sama orang tua, tetapi beliau tidak bisa menerima itu," ucap Valen lagi.

Selanjutnya, "Orang Tua Murid Akui Jiwa Tulus Valen"

TIM RRI juga berkesempatan mewawancarai Prih Utami selaku orang tua murid bernama Febriansyah (Byand). Utami mengatakan, Byand merupakan anak kedua dari keluarganya.

Kehadiran Valen, menurut Utami sangat membantu masyarakat kurang mampu di Rawamangun. Utami mengaku, keluarganya mengalami kesulitan biaya jika harus menyekolahkan di tempat pendidikan berkualitas.

"Sangat membantu, Mbak Valen orangnya ikhlas tanpa pamrih. Tidak memungut biaya sedikitpun," kata Utami.

Pendiri Rumah Belajar Pelangi Nusantara, Velentina Sastrodihardjo (kiri) saat menenangkan hati orang tua murid, Prih Utami (kanan) yang merasa sedih jika tidak ada pembelajaran gratis di Kolong Jembatan, Rawamangun, Jakarta Timur (Foto: RRI/Dedi Hidayat)

Utami pun meneteskan air mata, ketika mendengar isu Valen bakal vakum menjadi guru di kolong Rawamangun. Ia meminta, Valen tetap semangat dan bersabar hati.

"Jangan berhenti Mbak Valen, kami di sini masih butuh Mbak Valen. Kami pastinya merasa kehilangan jika itu benar terjadi, tetapi jangan sampai terjadi," ucap Utami sambil meneteskan air mata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....