Ketika Ibu Kota Berselimut Polusi

  • 18 Jun 2023 21:47 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

“SEBELUM terlalu mati”, begitu sebuah video musik fiksi-ilmiah yang dijuduli Primata Band, grup trio musik rock-instrumental berbasis di Tangerang Selatan. Dalam video tersebut, mereka menggambarkan keadaan bumi pada 2030 yang begitu mencekam. 

Pencemaran udara sudah membahayakan kehidupan manusia. “Kita sudah tidak bisa lagi menyepelekan sekecil apapun sumber pencemaran yang kita ciptakan,” ucap Rama Wirawan, sang gitaris.

Apa yang dibuat Primada Band relevan dengan apa yang terjadi saat ini. Kota-kota besar yang tumbuh di bumi menjadi sumber polusi, tak terkecuali di ibu kota Jakarta.

Kualitas udara di Jakarta kembali masuk kategori tidak sehat. Bahkan, menurut Air Quality Index (AQI), Kamis (15/6/2023), Jakarta menjadi terkotor tiga besar di dunia.

Melansir dari IQAir, AQI menunjukkan, kualitas udara Jakarta berada di angka 156 dan menduduki peringkat kedua. Jakarta berada setelah Minneapolis (nilai AQI 203) sebagai kota dengan udara terkotor di dunia.

IQAir menyatakan, PM2.5 masih menjadi polutan utama Jakarta dengan konsentrasi sebanyak 66 mikrogram per normal meter kubik. Angka tersebut 13.2 kali lebih banyak daripada nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, Jumat (16/6/2023) mengatakan, Jakarta terus mengalami penurunan kualitas udara. Kualitas itu berada dalam kategori sedang hingga tidak sehat. 

"Selama periode Mei hingga Juni 2023 terjadi peningkatan konsentrasi PM 2.5. Rata-rata harian di level 47,33 sampai 49,34 µg/m3,” kata Asep Kuswanto.

Ia menambahkan buruknya kualitas udara Jakarta disebabkan rendahnya curah hujan dan kecepatan angin. Hasil pantauan konsentrasi PM 2.5 Dinas LH DKI menunjukkan pola diurnal mengindikasikan perbedaan pola antara siang dan malam.

“Konsentrasi PM 2.5 cenderung mengalami peningkatan pada waktu dini hari hingga pagi. Kemudian di siang hingga sore hari menuru,” ujar Asep.

Asep memprediksikan kondisi tersebut akan terus berlangsung hingga Agustus 2023. “Saat memasuki musim kemarau pada Mei hingga Agustus, akan terjadi penurunan kualitas udara di wilayah DKI,” ujarnya. 

Selanjutnya, “Penyebab Udara Kotor di Jakarta”

APA sebetulnya biang kerok udara Jakarta sangat kotor? Dilansir dari greenpeace.org, memang ada banyak faktor, satu di antaranya asap batu bara.

Berdasarkan studi Vital Strategies, hampir seperlima polusi berasal dari pembakaran batu bara. Tak heran karena Jakarta diimpit delapan PLTU batu bara dalam radius 100 kilometer. 

Pada 2020, lembaga penelitian Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat, Jakarta juga dikelilingi 118 fasilitas industri. Ini sangat berkontribusi terhadap pencemaran O2.

Aktivis lingkungan dari Koalisi Ibukota membawa manekin dan poster saat melakukan aksi menuntut hak atas udara bersih di kawasan Monas, Jumat (16/9/2022) (Foto: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)


Proses peledakan dan pengeboran dalam proses penambangan menghasilkan mineral halus yang tercampur pada debu. Ini bisa terhirup dan menjadi penyebab pneumokoniosis atau penyakit yang terjadi akibat menghirup serbuk batu bara untuk waktu yang lama.

Hasilnya, sebelum dibakar pun batu bara sudah menjadi penyebab bahaya polusi. Bahkan lebih parah lagi kalau setelah dibakar di tungku uap PLTU, yang menyebabkan sebaran polusinya tambah meluas. 

Asap kendaraan memang menjadi penyebab besar polusi udara di Jakarta. Namun, kegiatan industri batu bara juga bertanggung jawab betapa mesranya udara kotor dengan langit ibu kota.

Selanjutnya, “Partikel Udara Batasi Pertahanan Sel”

PAPARAN polutan nanopartikel lingkungan yang sangat kecil di udara, membatasi kemampuan sel membela diri dari bahaya potensial lainnya. Hal ini menyebabkan kemampuan pertahanan tingkat seluler melalui autofagi menjadi berkurang.

Kesimpulan tersebut muncul dari penelitian Keck School of Medicine of Universiity of South California (USC), Amerika Serikat. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Autophagy Reports, dikutip dari situs Keck School of Medicine of USC, Kamis (18/5/2023).

Autofagi adalah proses alami tubuh untuk membuang sel-sel yang rusak dan tidak berfungsi. Proses ini sekaligus menggantikan sel-sel baru yang sehat.

"Kita tahu bahwa penyakit, terutama penyakit paru-paru, dapat disebabkan paparan polusi udara. Yang belum kita ketahui adalah mekanisme yang menyebabkannya," kata Edward Crandall.

Ia adalah profesor patologi, anggota Hastings Center for Pulmonary Research Keck School of Medicine of USC, yang melakukan riset tersebut. Riset dilakukan bersama Will Rogers Institute Pulmonary Research Center di Keck School of Medicine of USC.

Mereka mempelajari proses pertahanan seluler autofagi, yang digunakan sel untuk menghancurkan material internal yang rusak atau tidak normal. Untuk pertama kalinya, mereka menemukan ketika terpapar nanopartikel, aktivitas autofagi dalam sel tampaknya mencapai ambang batas tertentu.

"Implikasi dari penelitian ini adalah autofagi menjadi mekanisme pertahanan yang memiliki batas atas. Di luar batas tersebut, autofagi tidak dapat lagi membela sel lebih lanjut," kata Crandall.

Warga memotret suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena polusi udara di Jakarta, Selasa (6/6/2023) (Foto: ANTARA/Fauzan/aww)


Para peneliti melakukan serangkaian tes menggunakan sel adenokarsinoma paru-paru. Di awal mereka memaparkan sel dengan nanopartikel.

Berikutnya, peneliti memaparkan dengan rapamisin (zat kimia yang diketahui merangsang autofagi. Terakhir, peneliti memaparkan dengan dua bahan tersebut nanopartikel dan rapamisin. 

Dalam setiap tes, aktivitas autofagi mencapai ambang batas atas yang sama dan tidak dapat meningkat lagi.

Akibatnya, sel-sel tampak kehilangan kemampuannya untuk lebih meningkatkan autofagi dalam membela diri dari bahaya lain. Bahaya-bahaya tersebut seperti asap, infeksi virus, atau bakteri. 

Hal ini membantu menjelaskan mengapa polusi udara meningkatkan risiko seseorang terkena sejumlah penyakit paru-paru akut dan kronis. Temuan baru ini dapat membantu penelitian yang sedang berlangsung tentang autofagi, termasuk untuk pengobatan kanker. 

Selanjutnya, “Polusi Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial”

POLUSI udara di ibu kota bukan menjadi barang baru. Bahkan sudah ada sejak abad ke-17 saat Pemerintah Kolonial Belanda berkuasa.

Mereka melakukan banyak perencanaan agar Batavia—sebutan Jakarta—waktu itu bebas dari polusi. Namun memang bukan perkara mudah, pada praktiknya, polusi sulit diatasi dan terus menghantui masyarakat di Batavia.

Sejak didirikan pada 1619, Batavia telah diproyeksikan menjadi basis kegiatan ekonomi Belanda di Hindia Timur. Benar saja, satu dekade saja, kota ini tumbuh dengan pusat-pusat kegiatan produksi.

Nah, secepat perkembangan Batavia itu, secepat itu pula polusi itu jadi hantu terbang yang menyelimuti Batavia. Dalam tulisannya, "Urban pollution in Java 1600-1850" dimuat Issu in Urban Development, Luc Nagtegaal menyebut selain kualitas buruk air di kanal dan kali, polusi udara juga sangat buruk.


Sejumlah kendaraan parkir dan melintas di salah satu jalan di Batavia pada zaman Pemerintah Kolonial Belanda (Foto: Nationaal Museum van Wereldculturen)


Pencemaran udara berasal dari pabrik gula, mesiu, batu bara, penggergajian kayu, penyulingan arak, hingga kapur. Pabrik-pabrik itu kokoh ditemukan hampir di sepanjang kali Batavia.

Bondan Kanomoyoso dalam disertasinya "Beyond the City Wall" merinci lokasi pabrik-pabrik gula di Batavia. Ada 16 pabrik di Kali Ciliwung, 36 pabrik di sepanjang Sunter, dan 26 pabrik di tepi Pesanggrahan. "Jumlah itu bertambah pada 1710 ketika industri ini mencapai kejayaannya," tulisnya.

Sementara pabrik bubuk mesiu dan lainnya telah berdiri sejak 1657 di wilayah pinggiran. Menurut Luc dari semua pabrik yang ada, tempat produksi mesiu yang paling berbahaya, karena zat polutan yang dihasilkan sangat beracun.

"Penduduk di kota itu tak tahan lagi. Sebagian besar memilih pindah ke wilayah yang lebih sehat di luar kota," ucap Luc.

Selanjutnya, “Solusi Masa Kini”

PENJABAT Gubernur Jakarta Heru Budi Hartono mengatakan pihaknya serius membenahi polusi udara di Jakarta. Salah satunya dengan mendorong realisasi peralihan kendaraan bahan bakar alternatif. 

"Ya itu memang tantangan Pemda DKI polusi udara, maka berbenah. Harus menambah RTH (Ruang Terbuka Hijau), kita semua menanam pohon," kata Heru, Kamis (8/6/2023).

Pemda DKI juga akan menggenjot peralihan kendaraan bahan bakar fosil menuju kendaraan bertenaga listrik. Khususnya dengan mendorong realisasi transportasi publik dengan kendaraan listrik.

"Termasuk juga Transjakarta terus berbenah menggunakan listrik. Kira-kira masyarakat juga harus membantu," ujarnya.

Heru mengatakan, perbaikan kualitas udara di DKI Jakarta adalah program jangka panjang. “Namun Dinas Lingkungan Hidup terus setiap tahun melakukan tes uji emisi," ujar Heru. 

"Ya, jadi semuanya harus sama-sama menurunkan emisi. Itu merupakan masalah bersama," kata Heru.

Penjabat Gubernur Jakarta Heru Budi Hartono memberikan keterangan kepada wartawan (Foto: ANTARA/Wahyu Putro A)


Sementara Pemerhati Tata Kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Yoga, mengatakan persoalan polusi udara di ibu kota sudah pelik. Pemprov DKI Jakarta harus berani mengambil kebijakan tidak populis demi kurangi polusi udara Jakarta.

Nirwono menyebut ada beberapa kebijakan non-populis yang bisa diterapkan sebagai solusi jangka pendek. Misalnya melakukan penerapan jalan berbayar elektronik bagi kendaraan yang melintas di jalur tertentu. "Kecuali angkutan umum, di jalur-jalur macet parah terutama di hari kerja," kata Nirwono Jumat (9/6/2023).

Menurutnya, pemprov juga harus menghapus putar balik atau u-turn yang kurang efektif. Namun harus sesuai dengan perencanaan dengan kajian matang dan komprehensif.

Ia setuju dengan wacana soal pengetatan kualifikasi emisi gas buang kendaraan. Pemerintah harus secara progresif menerapkan uji emisi kepada kendaraan yang berasal dari Bodetabek (Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi).

"Serta SPBU hanya menjual BBM yang ramah lingkungan. Yaitu euro 4 ke atas," kata Nirwono.

Selanjutnya, “Langit Jakarta Pernah Bersih”

COVID-19 bisa membuat langit biru di Jakarta. Membaiknya kualitas udara tersebut tak terlepas dari hampir berhentinya roda perekonomian ketika pandemi melanda, semua karena lockdown atau penguncian.

Mobil-mobil yang hanya mengunci di garasi, membuat polusi udara mereda. Itu juga akibat banyaknya pabrik-pabrik yang menjadi penyumbang polusi yang tutup. 

Tidak hanya dirasakan warga ibu kota, juga terjadi di Beijing, ibu kota Tiongkok. Ada pemandangan langit yang cerah yang tidak biasa karena pabrik-pabrik di kawasan itu menghentikan produksinya.

Citra udara dari gedung bertingkat di kawasan Jalan Jendral Sudirman (Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta)


Gambar satelit dari Badan Antariksa Eropa (ESA) menunjukkan berkurangnya tingkat nitrogen dioksida. Itu adalah produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil yang menyebabkan masalah pernapasan. 

Pemandangan itu tampak di seluruh kota besar seperti Paris, Madrid, dan Roma. Kota-kota di seluruh Amerika Serikat juga telah mengalami efek yang sama ketika warganya tinggal di rumah pada kota-kota yang rawan macet seperti Los Angeles dan New York.

"Dalam hal pergeseran atau perubahan yang benar-benar terjadi dalam semalam. Ini sangat dramatis," kata penulis laporan Carbon Brief dan analis utama di Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih, Lauri Myllyvirta.

Pada akhirnya tanggung jawab membuat udara bersih harus benar-benar dijalankan. Sebab pada dasarnya setiap manusia berhak mendapatkan udara yang bersih dan sehat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....