Istanbul, Kota Sepak Bola dengan 16 Klub

  • 08 Mei 2023 08:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

HAMPIR tak ada penduduk Istanbul, Turki, yang tak “nyambung” saat diajak bicara tentang sepak bola. Siapapun orangnya –respsionis hotel, pekerja kantoran, sopir taksi, hingga profesor ilmu sejarah—akan merespons dengan antusias jika diajak bicara soal Fenerbahce, Galatasaray, atau Besiktas.

Ya, kota dengan penduduk sekitar 15 juta jiwa itu memang dikenal memiliki penggemar sepak bola fanatik. Tak hanya klub kesayangan, mereka juga sangat bersemangat saat bicara tentang tim nasional Turki.

Konon, para pendatang asal Inggris yang memperkenalkan sepak bola kepada penduduk Istanbul pada masa Kekaisaran Ottoman. Namun pada mulanya penguasa setempat melarang olahraga ini sehingga hanya dimainkan secara terbatas oleh warga keturunan Yunani atau Amerika Serikat.

Kendati begitu, daya tarik sepak bola tak bisa dibendung. Minat penduduk Istanbul memainkan si kulit bundar begitu besar. Sehingga pada 1903 secara resmi sudah berdiri klub pertama yang dinamai Besiktas JK –sesuai nama distrik tempat klub itu berlokasi. Disusul lahirnya Constantinople Football League yang mulai digelar setahun kemudian.

Setelah itu, sejarah sepak bola Istanbul bergulir dan membesar seperti putaran bola salju. Hingga saat ini, tercatat sedikitnya ada 16 klub asal Istanbul yang bermain di liga regional maupun profesional.

Bahkan tercatat ada delapan klub asal Istanbul yang kini bermain di kasta tertinggi Spor Toto Super Lig 2022–23. Padahal kompetisinya sendiri hanya diikuti 19 klub terkuat dari seluruh negeri yang 92 persen penduduknya beragama Islam itu.

Selanjutnya, “Istanbul Menguasai Liga Turki”

SEJARAH panjang kompetisi sepak bola di “Negeri Transkontinental” itu dimulai pada 1924 ketika Federasi Sepak Bola Turki menggelar kejuaraan berskala nasional. Pesertanya adalah klub-klub yang memenangi kompetisi lokal di Istanbul, Ankara, Izmir, Trabzon, Bursa, dan sejumlah kota lainnya.

Format kompetisi itu dipertahankan sampai awal 1950-an. Usai berbenah setelah berakhirnya Perang Dunia II, Federasi Sepak Bola Turki pun mulai memodernisasi kompetisi domestiknya dengan membentuk liga berskala nasional.

Sebelum itu, pada 1937-1950, sebenarnya lebih dulu terbentuk liga mininasional yang diikuti klub-klub dari berbagai kota. Namun terbatas hanya klub dari kota-kota besar, seperti Istanbul, Ankara, dan Izmir.

Liga nasional yang sebenarnya mulai bergulir pada 1956-57 sejalan dengan partisipasi Turki dalam kompetisi antarklub Eropa. Besiktas memenangi dua musim pertama kompetisi nasional sebelum diambil alih Fenerbahce pada 1959 plus 1960-61 dan kemudian Galatasaray pada musim selanjutnya.

Meski berdiri paling awal, Besiktas bukanlah klub paling sukses dalam sejarah Liga Turki. Klub dengan kostum putih-hitam itu hanya 16 kali juara. Masih kalah cukup jauh dibanding Fenerbahce yang juara 19 kali. Bahkan Galatasaray jadi kampiun sampai 22 kali.

Tercatat sudah 66 musim kompetisi Liga 1 digelar. Luar biasa, klun-klub asal Istanbul mendominasi dengan 58 kali jadi kampiun. Sisanya dibagi untuk Tabzonspor (7 kali) dan Bursaspor (1). Klub-klub asal Ibukota Turki, Ankara, belum ada yang mampu menjuarai liga.

Selanjutnya, “Besiktas, Pemegang Hak Istimewa”

SEJARAH panjang sepak bola Turki tentu tak bisa dipisahkan dari berdirinya Bereket Jimnastik Kulubu pada 3 Maret 1903. Inilah cikal bakal lahirnya Besiktas JK yang diakui sebagai nama resmi klub mulai 1909.

Besiktas diambil dari nama salah satu distrik di kota besar Istanbul yang mempunyai total 39 distrik. Besiktas sendiri berlokasi di sisi benua Eropa dan persis berada di tepian Selat Bosphorus yang memisahkan Turki bagian Asia dan Eropa.

Dulu, Besiktas bermarkas di Stadion BJK Inolu yang dibangun pada 1947. Namun, sejak 2016, mereka berpindah ke markas baru yang lebih modern di Vodafone Park Stadium dengan kapasitas 41.903 tempat duduk.

Pendukung Besiktas dikenal sangat militan. Bahkan atmosfer laga kandang di Vodafone Park diakui oleh The Times sebagai salah satu yang paling hingar-bingar di Eropa. Salah satunya tercatat saat Besiktas menjamu Liverpool di ajang antarklub Eropa pada 2008.

Pendukung Besiktas mengibarkan bendera kebesaran klub dengan logo bernuansa bendera Turki. Besiktas satu-satunya klub di Istanbul dengan logo istimewa ini (Foto: Istimewa)

Secara sosiologis, Besiktas identik dengan klub kaum pekerja dan masyarakat kelas menengah ke bawah. Itulah sebabnya klub ini dikenal punya afiliasi kuat dengan politisi atau partai politik sayap kiri.

Biasanya para pendukung Besiktas akan berkumpul di Patung Burung Gagak dekat stadion untuk bercengkerama sambil minum-minum. Setelah itu mereka berduyun-duyun masuk stadion sambil memamerkan simbol “A” –konon bermakna: anarki—yang jadi ciri khasnya.

Meski kalah dari segi prestasi, Besiktas punya keistimewaan yang tak dimiliki para rivalnya. Besiktas adalah klub pertama yang menjuarai liga lokal Istanbul pada 1923-24.

Besiktas juga satu-satunya klub di Istanbul yang “berhak” memajang bendera Turki dalam logonya. Ini berkaitan dengan peran sejarahnya sebagai klub pertama yang mewakili Turki berpartisipasi dalam sejumlah kejuaraan di Eropa.

Selanjutnya, "Galatasaray, Klub Turki Paling Populer"

JIKA Besiktas punya sejarah tersendiri, Galatasaray boleh membanggakan diri sebagai tim paling sukses. Tidak hanya 22 kali juara liga, Galatasaray juga memenangi Piala Turki 18 kali dan Piala Super Turki 16 kali.

Klub dengan warna dominan merah dan kuning itu juga punya catatan sukses di Eropa. Inilah satu-satunya klub asal Turki yang pernah menjuarai Piala UEFA 1999-2000 dan Piala Super Eropa 2000 saat masih diperkuat penyerang legendarisnya, Hakan Sukur.

Galatasaray dibentuk 20 Oktober 1905 oleh pelajar bernama Ali Sami Yen yang saat itu menuntut ilmu di Galatasaray High School. Sekolah tersebut berada di kawasan Istiklal Street, salah satu pilar sistem pendidikan modern di Istanbul.

Dengan latar belakang yang seperti itu, tak heran jika pendukung Galatasaray dikenal lebih kalem dan terpelajar. Seperti halnya Besiktas, basis pendukung Galatasaray juga berada di sisi benua Eropa. Tepatnya di kawasan padat penduduk Karakoy di distrik Beyoglu.

Sejak 2011, pertandingan kandang Galatasaray digelar di Turk Telekom Arena. Inilah salah satu dari lima stadion termodern di Eropa saat ini dengan daya tampung 53.650 penonton. Lokasinya pun terbilang dekat dengan pusat kota Istanbul.

Pada September 2019, Areda Survey pernah membuat polling secara daring soal klub paling populer di Turki. Hasilnya: Galatasaray dipilih oleh 36,4 persen peserta jajak pendapat. Sisa suara terbagi untuk Fenerbahce (32,5 persen), Besiktas (16,1), Trabzonspor (9,8), dan klub-klub lain.

Selanjutnya, “Kebangkitan Klub Elite Fenerbahce”

JIKA berkunjung ke Istanbul, salah satu kawasan yang mungkin Anda datangi adalah distrik Kadikoy. Inilah salah satu kawasan paling padat dan ramai di Istanbul dengan deretan tempat makan, belanja, dan bangunan klasiknya.

Kadikoy justru berada di sisi Asia kota Istanbul. Ia berada tepat di tepian Laut Marmara. Lokasinya sangat strategis karena dekat dengan kawasan wisata utama seperti Hagia Sophia, Blue Mosque, dan Grand Bazaar.

Tak heran jika Kadikoy dianggap sebagai salah satu kawasan elite di Istanbul. Dan di kawasan itulah klub Fenerbahce yang didirikan pada 3 Mei 1907 bermarkas. Di sana pula berada stadion kebanggaan mereka, Sukru Saracoglu, yang berkapasitas 47.834 tempat duduk.

Di Istanbul, Fenerbahce identik dengan klubnya orang kaya yang tinggal di kawasan pusat kota. Mereka identik dengan kostum kuning dan birunya sehingga dijuluki “Sarı Lacivertliler (The Yellow-Navy Blues)”.

Fenerium, pusat penjualan merchandize resmi Fenerbahce, selalu ramai didatangi para pengunjung karena lokasinya sangat strategis di pusat kota (Foto: M. Kusnaeni)

Profil mentereng dan jejak damai para suporternya membuat Fenerbahce disukai pendukung dari kalangan diaspora Turki di perantauan. Tercatat Fenerbahce juga memiliki basis pendukung di Siprus Utara, Azerbaijan, bahkan Korea Selatan.

Popularitas Fenerbahce kian menguat pada awal musim 2021-22 seiring kedatangan Mesut Ozil, bintang tim nasional Jerman berdarah Turki. Sayang, Ozil hanya bertahan dua musim di sana dan kemudian pindah ke rival sekota, Istanbul Basaksehir.

Popularitas Fenerbahce dapat dilihat dari tingkat keterisian stadionnya yang selalu tinggi dalam setiap laga kandang. Juga tercermin dari ramainya toko merchandize resmi mereka, Fenerium, yang berlokasi di salah satu area dekat pintuk masuk stadion.

Selanjutnya, "Derby Panas yang Semakin Damai"

SEDIKITNYA ada 16 klub sepak bola yang tercatat bermarkas di Istanbul. Mungkin, tak ada kota besar lain di dunia yang punya jumlah klub sebanyak itu.

Di antara 16 klub itu, sebagian mungkin tak pernah atau sangat jarang Anda dengar namanya. Seperti Anadoluhisarı yang memiliki basis pendukung di distrik Beykoz. Meski kini hanya bermain di liga amatir, Anadoluhisarı punya stadion sendiri –bekerjasama dengan Universitas Marmara—yang berkapasitas 2.500 penonton.

Klub sekelas Anadoluhisarı ada lumayan banyak di Istanbul dan rata-rata punya stadion sendiri meskipun kapasitasnya kecil. Seperti Eyupspor yang bermarkas di Eyup Stadium atau Kurtulus SK yang selalu mengklaim diri klub tertua di Turki dengan tahun berdiri pada 1896.

Ada pula klub yang lebih profesional namun namanya sebatas populer di tingkat lokal. Misalnya Zeytinburnu yang berdiri pada 1953 dan stadionnya berkapasitas 16 ribu penonton. Klub ini pernah main di Turkish Super League pada 1989-91, 1993-95, dan 1996-97.

Klub kecil lainnya tapi punya gengsi tinggi adalah Kasimpasa SK. Stadionnya di kawasan Kasimpasa hanya berkapasitas 14 ribuan tempat duduk. Tapi namanya cukup angker: Recep Tayyip Erdogan Stadium.

Ya, ini memang klub dari kampung halaman Erdogan. Meskipun semasa remaja Erdogan justru bermain untuk Camialtispor FC, manajemen Kasimpasa tetap menamai stadion mereka dengan tokoh yang kini jadi Presiden Turki tersebut.

Rivalitas di antara klub-klub Istanbul pada dasarnya memang relatif landai. Keangkeran mereka lebih banyak ditunjukkan saat menghadapi lawan dengan latar belakang tertentu, seperti klub asal Israel. Klub asal Inggris, Liverpool, juga pernah merasakan angkernya sambutan suporter Besiktas saat bertandang ke Turki.

Rivalitas yang terbilang panas relatif hanya terjadi di antara tiga klub terbesar di Istanbul: Besiktas, Galatasaray, dan Fenerbahce. Dimulai dengan terjadinya kerusuhan pada laga persahabatan Fenerbahce lawan Galatasaray, 23 Februari 1934, yang berujung kerusuhan.

Sepanjang abad lalu, rivalitas tiga tim besar itu sangat kental. Jangan harap pendukung Fenerbahce, misalnya, menikahi wanita dari keluarga pendukung Galatasaray atau Besiktas. Begitu pula sebaliknya.

Laga derby di antara ketiga tim itu biasa disebut sebagai “The Interkontinental Derby”. Stadion terasa bergetar dan bergemuruh oleh riuh-rendah dukungan suporter tim tuan rumah. Bom asap dan pembakaran atribut tim lawan sering mewarnai duel tim sekota itu.

Namun, seiring ketatnya aturan dari Pemerintah Turki dan UEFA, laga Interkontinental Derby kini semakin terkendali. Gemuruhnya masih dashyat, tapi suasananya relatif aman. Itulah sebabnya tiket partai derby Fenerbahce vs Galatasaray atau Galatasaray vs Besiktas kini justru jadi buruan turis asing yang sedang pelesir ke Istanbul.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....