Kemal, Ujian Terberat untuk Erdogan
- 03 Mei 2023 11:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
SEPULUH hari ke depan akan menjadi hari-hari yang menegangkan bagi Recep Tayyip Erdogan. Penguasa Turki selama dua dekade terakhir itu akan menghadapi tantangan Kemal Kilicdaroglu dalam pemilihan Presiden Turki pada 14 Mei 2023.
Sebenarnya kandidat yang maju tak hanya dua nama itu. Masih ada calon dari jalur independen Sinan Ogan dan jagoan Partai Tanah Air, Muharrem İnce. Namun bukan rahasia lagi bila persaingan mengerucut hanya pada dua nama terdahulu: Erdogan dan Kemal.
Sejumlah jajak pendapat yang digelar berbagai pihak menunjukkan bahwa rivalitas Erdogan dan Kemal bakal sengit. Keduanya diramalkan sama-sama bakal meraup 43-47 persen suara, sedikit sisanya dibagi dua untuk Muharrem dan Sinan.
Jika benar demikian adanya, maka pemilihan Presiden Turki 2023-2028 harus berlanjut ke putaran kedua. Sekitar 64 juta pemegang hak suara harus memutuskan siapa di antara keduanya yang berhak jadi pemenang dengan mengumpulkan minimal 50 persen suara plus satu.
Selanjutnya, "Pemilihan 2018, Muharrem Kalah Telak"
PEMILIHAN kali ini akan sangat berbeda bagi Erdogan dibanding lima tahun lalu. Saat itu, pada 24 Juni 2018, Erdogan menang mutlak satu putaran dengan 52,59 persen dukungan. Muharrem hanya mendapat 30,64 persen disusul Selahattin Demirtas (8,40) dan kandidat wanita Meral Aksener (7,29).
Pada 2018, posisi Erdogan memang sedang kokoh. Sebagai petahana sejak 2014, ia dianggap sukses membawa Turki jadi negara yang disegani di panggung politik dunia. Ditambah situasi perekonomian Turki saat itu juga sedang moncer.
Itulah salah satu alasan Erdogan setuju memajukan pemilihan presiden setahun lebih cepat agar bisa digelar sepaket dengan pemilihan anggota parlemen. Kebetulan, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang menyokong Erdogan juga sedang berkibar.
AKP membangun koalisi dengan sejumlah partai lain dalam bendera Aliansi Rakyat. Mereka berhadapan dengan Aliansi Kebangsaan yang mengusung Muharrem, tokoh yang dikenal selalu berapi-api mengkritisi kepemimpinan Erdogan.
Banyak kaum muda yang menyukai sikap kritis Muharrem. Mantan kepala sekolah dan pernah pula jadi manajer humas klub sepak bola Yalovaspor itu dianggap mewakili keresahan generasi muda yang menganggap Erdogan terlalu konservatif.
Namun, faktanya hanya 30,64 persen rakyat Turki yang memberikan suara untuk Muharrem. Jauh lebih banyak lagi yang memilih Erdogan, Perdana Menteri Turki 2003-2014 dan kemudian menduduki jabatan presiden hingga sekarang.
Selanjutnya, "Pemilihan 2023 Diprediksi Lebih Ketat"
TAHUN ini, kisah manis 2018 itu kemungkinan besar sulit terulang. Bahkan, tak hanya sulit menang satu putaran, potensi suara Kemal mengungguli Erdogan juga terbuka.
Lihat saja bagaimana suasana kampanye saat dua kandidat itu menyapa masyarakat Izmir, akhir pekan lalu. Mula-mula Erdogan yang datang di kota terbesar ketiga di Turki itu. Sambutan masyarakat lumayan antusias.
Empat hari berselang, giliran Kemal beserta tokoh-tokoh Aliansi Kebangsaan yang menyapa publik. Sambutan warga Izmir ternyata jauh lebih semarak dan antusias.
Lembaga survei TEAM kemudian merilis hasil jajak pendapat terbarunya, dua pekan jelang pemilihan. Hasilnya 47,4 persen rakyat Turki condong kepada Kemal dan hanya 44,4 persen yang masih menjadokan Erdogan.
TEAM memprediksi hasil akhir pemihan presiden pada 14 Mei 2023 akan berpihak kepada Kemal. Diperkirakan ia akan unggul sekitar 4-5 persen atas Erdogan.
Salah satu sinyal kemunduran dukungan bagi Erdogan adalah bergabungnya Walikota Istanbul (Ekrem İmamoglu) dan Ankara (Mansur Yavas) dalam barisan Kemal. Padahal, Erdogan yang kini berusia 69 tahun mulai mencuat namanya justru ketika jadi Walikota Istanbul 1994-1998.
“Rakyat Turki mulai bosan dengan janji-janji Erdogan,” kata Prof Dr Umit Ekin, ahli sejarah Ottoman dari Universitas Sakarya kepada RRI. “Janji Erdogan soal modernisasi dan pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak bisa dibuktikan.”
Ekin juga menilai Erdogan terjebak dalam gaya kepemimpinan yang otoriter. Terbukti dari sikap tangan besinya menyingkirkan tokoh-tokoh yang dulu berjasa mengangkat namanya, seperti Abdullah Gul dan Ahmet Davutoglu. “Kami butuh pemimpin baru,” Ekin menegaskan.
Selanjutnya, "Kemal, Antitesis Kepemimpinan Erdogan"
KEMAL adalah sosok yang dianggap tepat menggantikan Erdogan. Pemimpin Partai Rakyat Republik sejak 2010 itu bahkan sering dianggap sebagai antitesis-nya Erdogan dalam banyak hal.
Kemal dikenal vokal menentang Turkish Penal Code yang memberi kekuasaan kepada pihak berwenang untuk meringkus para kritikus Erdogan. Lebih dari 100 ribu warga Turki pernah berhadapan dengan hukum akibat aturan ini.
Kemal juga pernah membuat pernyataan populis untuk mengembalikan tempat tinggal resmi Presiden Turki ke Cankaya Mansion. Bahkan ia berjanji akan membayar tagihan listrik dan gas istana presiden dari uang pribadinya.
Pria berusia 75 tahun itu dalam beberapa hal memang dianggap lebih terbuka dan tidak sekonservatif Erdogan. Apalagi ia berasal dari Tunceli, provinsi yang kental dengan aroma etnis Kurdi.
Kemal sendiri secara terbuka selalu menyebut dirinya sebagai penganut Islam Sunni. Hal itu ditegaskannya untuk membendung isu bahwa ia penganut Allevi yang cenderung berkonotasi negatif di Turki.
Fokus kampanye Kemal adalah perbaikan ekonomi dan kesejahteraan warga Turki. Ia mengusung semboyan “Sana soz, yine baharlar gelecek” yang lebih kurang bermakna “Saya berjanji, musim semi akan datang”.
Di berbagai sudut kota Istanbul bertebaran spanduk, billboard, dan atribut lain dukungan untuk Kemal dengan tagline-nya yang populer: “Sana Souz”. “Jika tak ada kecurangan, Kemal bisa menang satu putaran,” kata Prof Ekin, penuh keyakinan.
Selanjutnya, "Erdogan Tetap Percaya Diri"
NAMUN demikian, tak semua warga Turki punya keyakinan seperti Ekin. Cukup banyak yang ragu Kemal bisa mengalahkan Erdogan. Kalaupun menang, setidaknya harus melalui pemilihan dua putaran.
“Erdogan masih punya basis dukungan kuat di kalangan menengah ke bawah,” kata Duran Temel, seorang eksekutif di Turkey Radio and Television. “Masih banyak masyarakat yang percaya bahwa Erdogan telah membawa Turki ke arah kemajuan.”
Orang-orang Erdogan sendiri tak segan menggunakan isu keterlibatan Amerika Serikat dan sekutunya pada pemilihan presiden mendatang. Mereka menuding Barat sedang merancang “kudeta politik” untuk menggulingkan Erdogan melalui pemihan 14 Mei 2023.
“Jika 15 Juli (2016) adalah kudeta yang nyata, maka 14 Mei (2023) adalah kudeta politik,” kata Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu merujuk upaya penggulingan Erdogan oleh sekelompok perwira militer, tujuh tahun lalu. “Sinyal ke arah itu sangat nyata.”
Namun tudingan itu segera dibantah Walikota Ankara Mansur Yavas. “Apa maksudnya semua ini? Berhentilah membuat ancaman,” kata kandidat Wakil Presiden yang akan mendampingi Kemal itu.
Sejauh ini, Erdogan sendiri terlihat tetap tenang dan percaya diri. Sempat jatuh sakit empat hari karena kelelahan, ia kemudian tiba-tiba muncul di Izmir untuk berkampanye. Padahal Izmir adalah basisnya kaum oposisi.
Di berbagai sudut kota Istanbul terlihat bendera, spanduk, billboard, dan baliho Erdogan bertebaran menguasai jalanan. Pesan yang dia sampaikan singkat dan sederhana: “Dogru Zaman, Dogru Adam” (Masa yang Tepat, Orang yang Tepat).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....