Misi Jurnalistik di Balik Hilangnya Arupadhatu 1

  • 18 Sep 2026 21:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Lima jurnalis berangkat pada Senin, 7 September 2026 dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang dengan tujuan merekam aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau secara langsung.
  • Tim perjalanan terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru kapal yang menggunakan speedboat Arupadhatu 1 untuk menuju perairan Gunung Anak Krakatau.
  • Misi perekaman mengalami perubahan menjadi pencarian panjang tanpa kepastian setelah speedboat meninggalkan dermaga menuju kawasan Anak Krakatau.
Berawal dari Misi Meliput Erupsi Anak Krakatau

PADA hari Senin 7 September 2026, lima jurnalis berangkat menuju perairan Gunung Anak Krakatau. Mereka membawa satu tujuan jurnalistik, merekam langsung aktivitas gunung yang sedang mengalami erupsi.

Bersama tiga kru kapal, mereka menaiki speedboat Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang. Perjalanan menuju kawasan Anak Krakatau kemudian berubah menjadi pencarian panjang tanpa kepastian.

Delapan orang itu terdiri dari pewarta foto LKBN Antara Biro Banten Muhammad Bagus Khoirunnas. Kemudian fotografer Merdeka.com Ari Basuki, jurnalis iNews Yudistiro Pranoto, serta fotografer Anadolu Agency Firdaus Wajidi.

Turut berada dalam rombongan fotografer lepas Donal Husni bersama tiga kru speedboat Arupadhatu 1. Mereka adalah nakhoda Warta, anak buah kapal Surakman, serta pemandu perjalanan Heriyanto.

Komunikasi Terakhir dari Tengah Laut

Rombongan berangkat sekitar pukul 14.00 WIB dari Dermaga Pagedongan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Misi tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran langsung aktivitas vulkanik dari perairan Selat Sunda.

Salah satu anggota rombongan kemudian membagikan lokasi perjalanan kepada rekannya sekitar pukul 14.42 WIB. Lokasi terakhir tersebut menjadi salah satu acuan penting dalam operasi pencarian berikutnya.

Namun, komunikasi dengan rombongan tidak lagi dapat dilakukan sekitar pukul 15.04 WIB. Sejak saat itu, keberadaan lima jurnalis dan tiga kru kapal mulai tidak diketahui.

Polda Banten kemudian menerima informasi mengenai hilangnya komunikasi dengan rombongan tersebut. Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea membenarkan adanya peliputan menuju Anak Krakatau.

“Rombongan jurnalis bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin siang. Mereka melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau,” kata Maruli.

Pernyataan tersebut disampaikan saat dikonfirmasi wartawan pada Selasa malam, 8 September 2026. “Komunikasi terakhir diketahui terjadi sekitar pukul 14.42 WIB, saat salah satu anggota rombongan mengirimkan lokasi terakhir kepada rekannya.”

“Sekitar pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan rombongan jurnalis tersebut tidak dapat dilakukan lagi," ucap Maruli. Pada hari keberangkatan, kondisi cuaca dilaporkan berawan dengan angin bergerak dari selatan menuju utara.

Kecepatan angin mencapai sekitar 16,7 knot dengan gelombang antara 0,4 hingga satu meter. Kondisi lainnya adalah sebaran abu vulkanik dengan jarak pandang sekitar satu mil.

Situasi tersebut menjadi bagian dari kondisi lingkungan ketika rombongan menuju kawasan Anak Krakatau.

Ketika Misi Peliputan Berubah Menjadi Pencarian

Lokasi terakhir yang dibagikan melalui telepon menjadi titik penting dalam penyusunan operasi pencarian. Koordinat tersebut berada di kawasan perairan Selat Sunda menuju Gunung Anak Krakatau.

Informasi mengenai komunikasi setelah lokasi terakhir juga muncul dari laporan keluarga kru kapal. Namun, informasi tersebut perlu dibedakan dari catatan lokasi terakhir yang diterima tim pencarian.

Seiring waktu, tidak adanya komunikasi membuat kekhawatiran terhadap keselamatan delapan orang semakin meningkat. Pada akhirnya, upaya memastikan keberadaan mereka berubah menjadi operasi pencarian dan pertolongan.

“Kami bersama Basarnas akan terus melakukan upaya pencarian secara maksimal. Dan, menyampaikan perkembangan informasi sesuai hasil di lapangan,” ujar Maruli.

Pernyataan tersebut menandai dimulainya penanganan bersama terhadap hilangnya rombongan tersebut.

Hari-Hari Panjang Menyisir Selat Sunda

Kantor SAR Banten kemudian mengerahkan unsur pencarian setelah menerima laporan hilangnya komunikasi rombongan. RIB 02 Banten, KN SAR Tetuka, dan RIB Lampung bergerak menyisir kawasan sekitar.

Pencarian awal dilakukan di sekitar Pulau Krakatau dan Pulau Panjang, namun belum membuahkan hasil. Tim kemudian mempelajari rute perjalanan dari Carita menuju kawasan Anak Krakatau.

“Untuk rencana besok tetap nanti kita memperluas area pencarian. Karena hari ini kita mempelajari rute dari Carita sampai dengan Anak Gunung Krakatau,” kata Al Amrad.

Kepala Kantor SAR Banten itu menjelaskan evaluasi rute diperlukan sebelum pencarian diperluas. Memasuki hari kedua, Basarnas membagi wilayah pencarian menjadi sejumlah sektor operasi.

Berbagai kapal, perahu karet, unsur TNI, Polri, BPBD, serta potensi SAR dikerahkan. Dua drone thermal juga disiapkan untuk membantu pencarian dari udara.

Peralatan tersebut digunakan untuk memperluas pengamatan terhadap wilayah yang sulit dijangkau pencarian laut.

Mencari di Laut, Berhadapan dengan Gunung yang Masih Aktif

Pada hari kedua, KN SAR Tetuka 247 menyisir sektor dengan cakupan sekitar 68,3 nautical mile. KAL Anyer juga melakukan pencarian dengan cakupan sekitar 69,5 nautical mile.

RIB 02 dan RIB 03 Lampung menyisir sektor lain dengan total sekitar 67 nautical mile. RIB 02 Banten kemudian diarahkan menyisir kawasan Pulau Rakata dan Pulau Panjang.

KP Sanjaya menyisir sektor berbeda dengan cakupan sekitar 67,3 nautical mile. KRI Leuser dan KRI Lepu turut bergerak berdasarkan pembagian sektor operasi pencarian.

Pencarian juga melibatkan unsur Basarnas Banten dan Lampung, TNI, Polri, BPBD, serta KSOP. Keluarga, nelayan, masyarakat, dan sejumlah unsur potensi SAR ikut memberikan dukungan pencarian.

“Hari kedua ini kami memperluas area pencarian dengan membagi tim menjadi beberapa SRU di sejumlah sektor. Seluruh sarana dan unsur yang terlibat kami optimalkan untuk menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian,” katanya.

Di tengah pencarian, kondisi Gunung Anak Krakatau tetap menjadi perhatian tim SAR. Aktivitas vulkanik menyebabkan operasi tidak hanya bergantung pada luas wilayah pencarian.

“Selama proses pencarian Gunung Anak Krakatau terpantau mengeluarkan material debu vulkanik yang cukup tebal,” ujarnya. Debu vulkanik dan kondisi cuaca kemudian menjadi pertimbangan dalam menentukan pergerakan unsur SAR.

Harapan yang Bertahan di Tengah Pencarian

Pencarian menghadapi persoalan lain ketika tim menemukan sejumlah benda terapung. Salah satunya adalah jaket pelampung bersama sebuah botol putih yang ditemukan KAL Anyer.

Benda tersebut ditemukan sekitar 7,05 nautical mile sebelah barat Anyer. Namun, temuan tersebut belum dapat dipastikan berkaitan dengan rombongan Arupadhatu 1.

Pemilik kapal, Sandi Wiyasa, menyebut warna jaket pelampung Arupadhatu 1 berbeda. Menurutnya, jaket pelampung kapal tersebut berwarna merah dan hijau terang.

“Tadi konfirmasi ke kapten II, bukan punya Arupadhatu 1 katanya,” kata Sandi Wiyasa. Tim SAR juga meminta publik menunggu proses verifikasi sebelum mengaitkan temuan dengan korban.

Danlanal Banten Letkol Laut P Wawan Subagyo Mardani mengingatkan pentingnya kehati-hatian terhadap setiap temuan. Menurutnya, benda terapung tidak dapat langsung dinyatakan berkaitan dengan delapan orang tersebut.

“Di lokasi yang ditemukan itu baru satu buah life jacket tanpa identitas dan satu buah botol tabung putih. Sepertinya hal itu masih umum digunakan oleh nelayan jadi kita tidak bisa langsung men-declare bahwa itu barang barang yang berkaitan dengan korban,” ujarnya.

Kawasan Pulau Sertung juga menjadi perhatian karena berada dalam radius tiga kilometer Gunung Anak Krakatau. Wilayah tersebut dinilai berisiko berdasarkan informasi aktivitas vulkanik dari PVMBG.

“Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 kilometer, ya. Sebagaimana kita ketahui bersama, data dari PVMBG menyatakan wilayah tersebut masih daerah rawan.”

“Namun, kami akan tetap berupaya mencari cara agar bisa masuk ke sana berdasarkan data BMKG, BNPB, dan perkiraan tindakan yang harus dilakukan,” kata Amrad.

Upaya pencarian menggunakan drone menuju Pulau Sangiang juga menghadapi keterbatasan jarak pandang. Kabut asap tebal membuat pengamatan udara belum memberikan hasil maksimal.

“Untuk hari ini, informasi dari rekan-rekan di lapangan yang menggunakan drone melalui KN SAR Tetuka mencoba hal tersebut. Tetapi hasilnya belum maksimal karena kabut asap sangat tebal,” ucapnya.

Pada kesempatan berikutnya, kondisi cuaca dan aktivitas gunung memungkinkan tim mendekati sejumlah pulau. Tim kemudian dapat mendarat dan melakukan penyisiran di Pulau Sertung, Rakata, serta Pulau Panjang.

“Hasilnya nihil,” kata Amrad setelah tim menyelesaikan penyisiran di tiga pulau tersebut. Tim menggunakan perlengkapan keselamatan lengkap selama melakukan pencarian di wilayah tersebut.

“Alhamdulillah, hari ini cuaca sangat mendukung, Gunung Anak Krakatau juga sangat mendukung. Sehingga teman-teman bisa merapat di ke tiga pulau tersebut dan bisa naik ke daratan untuk melakukan pencarian,” kata Amrad.

Operasi SAR Terus Diperpanjang

Hari demi hari berlalu tanpa kepastian mengenai keberadaan lima jurnalis dan tiga kru kapal. Di tengah proses tersebut, keluarga korban terus menunggu perkembangan pencarian dari posko utama.

Mansur, ayah Muhammad Bagus Khoirunnas, berharap putranya dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Ia juga mengapresiasi kerja Basarnas, TNI Angkatan Laut, dan unsur pencarian lainnya.

“Ya kalau pihak keluarga, ya termasuk kami, menginginkan Bagus itu bisa selamat, ya bisa datang ke sini. Tetapi toh ya semua berikhtiar, ya Basarnas, TNI Angkatan Laut, dan lainnya saya apresiasi,” katanya.

Bagi keluarga, pencarian bukan sekadar operasi kemanusiaan, tetapi juga penantian terhadap kepastian. Setiap perkembangan temuan menjadi harapan sekaligus alasan untuk terus menunggu.

Solidaritas juga datang dari komunitas pers yang mengikuti perkembangan pencarian secara intensif. Pewarta Foto Indonesia menggelar doa bersama untuk lima jurnalis yang hilang tersebut.

Ketua Umum PFI Dwi Pambudo mengatakan doa tersebut menjadi bentuk dukungan bagi keluarga korban. Ia berharap seluruh jurnalis dan kru kapal dapat kembali kepada keluarga masing-masing.

“Acara malam ini doa bersama dari Pewarta Foto Indonesia untuk kawan-kawan kami yang meliput di Anak Krakatau. Harapannya semoga kawan-kawan kami selamat, sehat, dan kembali ke keluarga,” kata Dwi.

Solidaritas juga dipandang sebagai bagian dari kebersamaan insan pers ketika menghadapi situasi bencana. Dukungan tersebut berjalan bersamaan dengan upaya pencarian yang dilakukan tim gabungan.

Sepuluh Hari Tanpa Jejak

Memasuki hari ketujuh, pencarian belum menghasilkan temuan yang memastikan keberadaan delapan orang tersebut. Kondisi itu mendorong munculnya permintaan agar operasi tidak berhenti pada batas waktu standar.

Gubernur Banten Andra Soni meminta Basarnas mempertimbangkan harapan keluarga korban. Permintaan tersebut disampaikan setelah dirinya bertemu dengan keluarga para jurnalis yang hilang.

“Saya selaku Gubernur Banten berharap kepada Basarnas, sebagai pemimpin operasi ini, agar kiranya dapat mempertimbangkan harapan-harapan keluarga. Dan melihat beberapa potensi temuan hari ini,” ujar Andra di Posko SAR Nasional Carita.

Keluarga juga meminta pencarian tetap dilakukan setelah memasuki hari ketujuh operasi. Wilayah Pulau Sebesi menjadi salah satu lokasi yang diminta keluarga untuk mendapat perhatian.

Harapan tersebut diperkuat dengan adanya beberapa material yang ditemukan selama penyisiran. Namun, saat itu belum terdapat kepastian bahwa material tersebut berasal dari Arupadhatu 1.

“Beberapa tim ada yang menemukan material, namun material ini belum terkonfirmasi apakah merupakan bagian dari kapal yang dimaksud,” kata Andra. Pemerintah Provinsi Banten kemudian menyatakan tetap memberikan dukungan terhadap proses pencarian.

Tim SAR gabungan akhirnya memutuskan memperpanjang operasi pencarian selama tiga hari. Keputusan tersebut diambil setelah rapat evaluasi operasi yang berlangsung selama satu pekan.

“Hasil rapat koordinasi bersama dengan Pak Gubernur, kita akan lanjutkan pencarian selama tiga hari ke depan,” kata Al Amrad. Perpanjangan operasi memberikan tambahan waktu bagi tim untuk memperluas wilayah penyisiran.

Istri Yudistiro Pranoto, Rodiah Nasution, menyambut keputusan perpanjangan operasi pencarian tersebut. Ia berharap seluruh korban dapat ditemukan dan kembali kepada keluarga masing-masing.

“Kalau harapan, tentu saja harapan yang terbaik, mudah-mudahan semuanya bisa kembali dengan selamat. Semuanya bisa ditemukan bisa kembali ke keluarganya masing-masing,” kata Diah.

Diah juga berencana kembali ke posko pencarian untuk mendampingi proses pencarian suaminya. “Kalo rencana insyaAllah saya berencana ikut lagi,” ujarnya.

Operasi Ditutup, Pencarian Tidak Berarti Berakhir

Hari kesepuluh menjadi batas akhir setelah operasi pencarian diperpanjang selama tiga hari. Pada tahap ini, wilayah pencarian telah diperluas hingga 8.509 nautical mile persegi.

Sebanyak 24 kapal dikerahkan untuk menyisir wilayah tersebut dengan pembagian sepuluh sektor. Pencarian juga dilakukan melalui pesisir, termasuk kawasan Carita hingga Pantai Anyer.

“Kemudian untuk hari ini, luas area pencarian H+3 dari masa perpanjangan itu di 8.509 nautical mile persegi. Untuk alut yang kita gunakan 24 unit,” ucap Kasubsi Operasi Kantor Basarnas Banten Rizky Dwianto.

Informasi mengenai operasi juga disebarkan kepada kapal-kapal yang melintas di perairan Selat Sunda. Basarnas berkoordinasi dengan VTS dan pemangku kepentingan untuk memperluas informasi pencarian.

Kondisi cuaca pada hari kesepuluh dilaporkan berawan dengan angin 10 hingga 20 knot. Ketinggian gelombang berkisar 0,5 hingga 3,5 meter berdasarkan informasi BMKG.

PVMBG juga menyampaikan kondisi Gunung Anak Krakatau kepada tim pencarian. Hingga pagi hari, tidak terjadi erupsi berdasarkan informasi yang diterima Basarnas.

“Untuk pengamatan visual, gunung tertutup kabut dan asap tidak teramati. Untuk pengamatan kegempaan, masih terjadi vulkanik dangkal,” katanya.

Kondisi gunung tetap menjadi salah satu pertimbangan keselamatan dalam pelaksanaan pencarian. Di tengah pencarian terakhir, keluarga dan warga kembali menggelar doa bersama.

Doa tersebut berlangsung di Posko Utama SAR Gabungan Dermaga Marina Carita, Pandeglang. Kepala Desa Sukajadi, Carita, Sandi Wiyasa mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat.

Puluhan jamaah majelis taklim dan warga dari Carita, Jiput, serta Pulosari turut hadir. “Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian bersama dari masyarakat yang berharap para penumpang kapal dapat segera ditemukan,” kata Sandi.

Sebelumnya, keluarga lima jurnalis juga menggelar istighosah bersama di sekitar Marina Carita. Doa tersebut diikuti perwakilan Kantor SAR Banten, Ditpolairud Polda Banten, Lanal Banten, serta unsur lainnya.

Harapan keselamatan tetap disampaikan meski operasi pencarian memasuki hari terakhir.

Setelah sepuluh hari, operasi SAR gabungan akhirnya dihentikan karena pencarian dinilai tidak lagi efektif. Keputusan tersebut diumumkan Gubernur Banten Andra Soni di Posko Utama SAR Gabungan.

“Sudah tidak efektif maka dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan ini dinyatakan dihentikan,” kata Andra. Selama operasi berlangsung, tim tidak menemukan tanda keberadaan korban maupun kapal yang dicari.

Sebanyak 523 personel dikerahkan untuk pencarian melalui jalur laut, darat, dan udara. Wilayah pencarian mencapai 8.509 nautical mile persegi pada hari terakhir operasi.

Tim sebelumnya menemukan 13 objek terapung selama proses penyisiran di sejumlah lokasi. Namun, seluruh objek tersebut kemudian diverifikasi dan tidak dinyatakan berkaitan dengan Arupadhatu 1.

Meski operasi resmi dihentikan, Basarnas dan pemerintah daerah tidak menutup kemungkinan pencarian kembali. Operasi dapat dibuka apabila muncul petunjuk baru atau laporan masyarakat yang telah terkonfirmasi.

Penutupan operasi bukan berarti seluruh harapan keluarga terhadap kepastian ikut berhenti. Keluarga masih menunggu kemungkinan munculnya informasi baru mengenai keberadaan delapan orang tersebut.

Sehari setelah operasi dihentikan, keluarga Yudistiro Pranoto bersama rekan jurnalis melakukan tabur bunga. Prosesi dilakukan di titik terakhir speedboat Arupadhatu 1 dilaporkan hilang kontak.

KN SAR Tetuka membawa istri dan anak Yudistiro bersama sejumlah rekan media menuju lokasi tersebut. Mereka berangkat dari Pelabuhan Pelindo 3 Ciwandan sekitar pukul 08.01 WIB.

“Kita membawa keluarga korban, istri dan anak Yudistira, untuk melakukan tabur bunga ke laut,” kata nahkoda Septa Arif Rohadi. Perjalanan menuju titik tersebut berlangsung sekitar satu jam menggunakan KN SAR Tetuka.

Rodiah Nasution dan anaknya kemudian menaburkan bunga secara bergantian di perairan Selat Sunda. Mereka juga memanjatkan doa untuk Yudistiro dan tujuh orang lainnya yang belum ditemukan.

Bagi keluarga Firdaus Wajidi, keputusan menghentikan operasi SAR diterima dengan lapang dada. Astrid, istri Firdaus, memahami keterbatasan tenaga serta risiko yang dihadapi petugas selama pencarian.

“Kami terima apa pun keputusannya karena kami tidak bisa memaksakan mereka untuk terus mencari. Mereka pun punya keluarga di rumah yang menunggu, ada anak dan istri,” ucap Astrid.

Selama sepuluh hari, keluarga menyaksikan langsung upaya tim gabungan mencari tanpa kepastian. Kakak kandung Firdaus bahkan turut bersiaga di lokasi untuk memantau perkembangan penyisiran.

“Kami keluarga tidak ingin mendesak atau push-push pihak Basarnas untuk melanjutkan. Kami tahu mereka sudah maksimal dari pagi sampai malam tiap hari,” tuturnya.

Namun, menerima keputusan penghentian operasi tidak menghapus harapan keluarga untuk menemukan kepastian. Bagi Astrid, keberadaan atau tanda tentang delapan orang tersebut tetap menjadi sesuatu yang dinantikan.

“Saat ini hanya tinggal menunggu, inginnya diketemukan. Ada wujudnya di depan kita semua, apa pun kondisinya kita sudah siap, insyaallah. Terlepas itu berapa lama, kami hanya perlu wujudnya atau ada tanda saja dari mereka yang berdelapan itu,” tambah Astrid.

Sepuluh hari pencarian berakhir tanpa ditemukannya delapan orang maupun speedboat Arupadhatu 1.

google-preference
Kata Kunci / Tags
operasi kemanusiaan operasi SAR operasi SAR dapat dibuka kembali operasi SAR dihentikan operasi SAR diperpanjang operasi SAR gabungan operasi SAR sepuluh hari Pandeglang Pantai Anyer peliputan Anak Krakatau pencarian Arupadhatu 1 pencarian berlanjut pencarian darat pencarian di Selat Sunda pencarian diperluas pencarian hari kedelapan pencarian hari kedua pencarian hari kesembilan pencarian hari kesepuluh pencarian hari ketujuh pencarian jurnalis pencarian kapal hilang pencarian korban pencarian korban Anak Krakatau pencarian korban hilang pencarian laut pencarian nihil pencarian tanpa hasil pencarian udara penutupan operasi SAR perairan Selat Sunda perpanjangan operasi SAR personel SAR petunjuk baru pewarta foto Pewarta Foto Indonesia PFI 24 kapal 523 personel 8.509 nautical mile Abu Vulkanik aktivitas Gunung Anak Krakatau aktivitas gunung api aktivitas vulkanik Al Amrad Anadolu Agency angin Selat Sunda Anyer Ari Basuki Arupadhatu 1 Astrid awak kapal hilang Banten Basarnas Basarnas Banten Basarnas tetap memantau belum ditemukan BMKG Carita cuaca Selat Sunda debu vulkanik delapan orang hilang Dermaga Carita Dermaga Pagedongan Ditpolairud Polda Banten Doa Bersama Donal Husni drone thermal erupsi Anak Krakatau Firdaus Wajidi fotografer Anadolu Agency fotografer hilang fotografer jurnalistik fotografer Merdeka.com gelombang laut Gubernur Banten Andra Soni Gunung Anak Krakatau Gunung Anak Krakatau erupsi gunung api aktif harapan keluarga korban Heriyanto hilang kontak iNews istighosah jurnalis Antara jurnalis hilang jurnalis hilang Selat Sunda jurnalis iNews jurnalis meliput erupsi KAL Anyer kapal Arupadhatu kapal cepat kapal hilang kontak kapal jurnalis hilang kapal SAR kecelakaan laut keluarga jurnalis keluarga korban kepastian korban keselamatan awak kapal keselamatan jurnalis keselamatan wartawan KN SAR Tetuka komunitas pers kondisi laut Selat Sunda korban hilang KP Sanjaya KRI Lepu KRI Leuser Lanal Banten lima fotografer hilang lima jurnalis hilang liputan erupsi LKBN Antara luas area pencarian Marina Carita Maruli Ahiles Hutapea Merdeka.com misi jurnalistik misteri Arupadhatu 1 monitoring Selat Sunda Muhammad Bagus Khoirunnas Polri Posko SAR Carita Pulau Krakatau Pulau Panjang Pulau Rakata Pulau Sangiang Pulau Sebesi Pulau Sertung PVMBG radius tiga kilometer Anak Krakatau RIB Banten RIB Lampung risiko peliputan bencana Rizky Dwianto Rodiah Nasution Sandi Wiyasa SAR Selat Sunda Selat Sunda solidaritas jurnalis speedboat speedboat Arupadhatu 1 Surakman tabur bunga tanpa jejak tidak ditemukan tiga kru kapal hilang tim SAR gabungan TNI tragedi Arupadhatu 1 Warta wartawan hilang Wawan Subagyo Mardani Yudistiro Pranoto

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....