Euforia Kemerdekaan di Bawakaraeng dan Risiko di Balik Jalur Pendakian
- 20 Agt 2026 14:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Puluhan pendaki Bawakaraeng dievakuasi setelah mengalami hipotermia, kelelahan, kram, asma, dan cedera saat turun gunung.
- Sebanyak 295 personel SAR gabungan disiagakan di delapan titik strategis untuk mengantisipasi kondisi darurat selama HUT ke-81 RI.
- Ribuan pendaki memadati Bawakaraeng, dengan registrasi mencapai ribuan orang melalui jalur Buluballea, Tassoso, Kanreapia, dan Lembanna.
31 Pendaki Bawakaraeng Dievakuasi, Basarnas Siagakan 295 Personel SAR
RIBUAN pendaki memadati Gunung Bawakaraeng Gowa, Sulawesi Selatan, untuk merayakan HUT ke-81 Republik Indonesia tahun ini. Namun, euforia tersebut berubah menjadi darurat setelah puluhan pendaki mengalami cedera, kram otot, hingga hipotermia saat perjalanan turun.
Basarnas Makassar mencatat 26 pendaki membutuhkan evakuasi setelah mengalami berbagai gangguan kesehatan selama berada di kawasan Gunung Bawakaraeng. Para pendaki tersebut terdiri atas 19 perempuan dan tujuh laki-laki yang mengalami masalah berbeda sepanjang jalur pendakian tersebut.
"Tim siaga Merah Putih telah menangani 26 pendaki yang mengalami trouble, terdiri dari tujuh laki-laki dan 19 perempuan," katanya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Kamis 20 Agustus 2026. Koordinator Siaga Merah Putih 2026 Basarnas Makassar Darul Astiadi menyampaikan penanganan tersebut berlangsung pada Senin 17 Agustus.
Medan patahan antara pos tujuh dan delapan menjadi salah satu bagian tersulit karena jalurnya terjal dan membutuhkan kehati-hatian. Petugas juga menangani seorang pendaki yang terpeleset di Tasoso hingga mengalami cedera tulang belakang dan membutuhkan evakuasi bertahap.
Proses evakuasi dilakukan secara estafet agar petugas dapat menyesuaikan kemampuan pendaki dengan kondisi medan yang dilalui bersama langsung. Tim dari puncak membawa pendaki menuju pos delapan, kemudian diteruskan tim pos tujuh hingga pos lima secara bergantian.
"Ada pendaki yang mengalami hipotermia, terkilir, dan kram otot paha, sehingga kondisi fisiknya menurun selama perjalanan menuju bawah," ucapnya. Ia menjelaskan, penurunan kondisi fisik membuat sebagian pendaki mengalami gejala hipotermia setelah cedera atau kelelahan cukup sepanjang perjalanan.
Setelah sampai bawah, beberapa pendaki mendapat penanganan medis awal sebelum dirujuk ke Puskesmas Tinggimoncong sesuai kebutuhan perawatan lanjut. Penanganan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kondisi pendaki tetap terpantau setelah melewati jalur dengan tantangan cukup berat.
Antusiasme pendakian juga terlihat dari jumlah registrasi yang mencapai 3.786 orang melalui empat jalur selama perayaan kemerdekaan. Registrasi tercatat 2.033 orang melalui Buluballea, 1.081 Tassoso, 422 Kanreapia, dan 250 pendaki melalui Lembanna saja menuju puncak.
Pelajaran agar Tragedi Pendakian Gunung Bawakaraeng Tak Terulang
Jumlah pendaki yang dievakuasi dari Gunung Bawakaraeng, Gowa, Sulawesi Selatan, bertambah menjadi 31 orang setelah mengalami gangguan kesehatan. Para pendaki tersebut membutuhkan pertolongan tim SAR akibat hipotermia, asma, kelelahan, hingga cedera kaki selama perjalanan turun gunung.
Basarnas Makassar memastikan seluruh pendaki mendapat penanganan sesuai kondisi masing-masing sebelum dibawa menuju posko evakuasi terdekat bersama petugas. Sebagian besar pendaki telah dievakuasi menuju Posko Buluballea untuk menjalani pemeriksaan medis setelah melewati medan pendakian cukup berat.
"Hingga pagi ini, 31 pendaki mengalami trouble dan sudah mendapat penanganan tim SAR. Mayoritas mengalami hipotermia, asma, kelelahan, dan cedera kaki sehingga membutuhkan pertolongan setelah kondisi fisik mereka menurun," ucapnya.
Namun, satu pendaki menjalani proses evakuasi dari sekitar Pos Tujuh jalur Lembanna karena mengalami cedera lutut cukup parah. Pendaki tersebut terjatuh setelah tersandung batu ketika berjalan, sehingga tim SAR harus menyesuaikan proses evakuasi dengan medan terjal.
Tim SAR gabungan bergerak bertahap agar proses evakuasi tetap aman, sekaligus memastikan kondisi pendaki terus terpantau sepanjang perjalanan. Setibanya di posko, pendaki mendapat penanganan medis dan beberapa orang kemudian dirujuk ke Puskesmas Tinggimoncong sesuai kebutuhan penanganan.
"Penanganan terus kami lakukan bertahap, pendaki mendapat penanganan medis di posko dan beberapa dirujuk ke Puskesmas Tinggimoncong. Kami mengimbau pendaki saling menjaga, tidak memaksakan diri, dan segera melapor ke pos siaga jika membutuhkan bantuan," ucapnya.
Basarnas Makassar masih menyiagakan 295 personel SAR gabungan di delapan titik strategis untuk mengantisipasi kebutuhan evakuasi pendaki. Personel ditempatkan termasuk di Lembah Ramma dan Puncak Bawakaraeng, sementara pendaki diminta mengutamakan keselamatan hingga perjalanan selesai bersama.
Peringatan HUT ke-81 RI di Gunung Bawakaraeng kembali menarik ribuan pendaki dari komunitas pencinta alam dan pehobi hiking tersebut. Basarnas Makassar mencatat sebanyak 3.273 pendaki melakukan registrasi melalui empat jalur pendakian selama momentum kemerdekaan tahun ini berlangsung.
Data registrasi menunjukkan 223 pendaki melalui Lembanna, 1.681 melalui Bulu Balea, 947 melalui Tassoso, serta 422 melalui Kanreapia. Padatnya aktivitas pendakian membuat kesiapsiagaan menjadi penting karena kondisi medan pegunungan dapat berubah cepat selama perjalanan pendakian.
Kepala Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar mengatakan delapan pendaki mengalami gangguan kesehatan saat berada di pendakian Gunung Bawakaraeng. Keluhan mereka meliputi hipotermia, asma, kram paha, hingga gejala tifus yang membutuhkan pertolongan dan pemantauan medis lebih lanjut.
"Delapan pendaki mengalami kondisi berbeda, mulai hipotermia, asma, kram paha, hingga gejala tifus saat mendaki Gunung Bawakaraeng tersebut. Setelah dievakuasi, beberapa pendaki mendapat penanganan medis dan dirujuk ke Puskesmas Tinggi Moncong sesuai kebutuhan para pendaki yang ada," katanya.
Untuk mengantisipasi kondisi darurat, Basarnas menempatkan personel pada delapan titik pemantauan selama siaga khusus berlangsung di lapangan ini. Operasi tersebut melibatkan 295 personel dari Basarnas, komunitas SAR, relawan, tenaga medis, organisasi kemanusiaan, serta unsur terkait lainnya.
"Kami menempatkan personel pada sejumlah titik strategis agar pendaki tetap merasa aman sepanjang jalur pendakian Gunung Bawakaraeng berlangsung. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, kami harus hadir dan memberikan respons secepat mungkin selama kondisi darurat berlangsung di lapangan," ujarnya.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar Andi Sultan menyebut pendakian Bawakaraeng saat HUT RI sudah rutin dilakukan beberapa tahun terakhir. Menurutnya, pelarangan bukan pilihan utama sehingga pengawasan dan kesiapsiagaan menjadi langkah penting untuk menjaga keselamatan para pendaki.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....