Gebrakan Presiden: Perbarui Buku Pelajaran hingga Galakkan Budaya Baca

  • 13 Agt 2026 01:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah mendatangkan buku-buku dari ASEAN untuk dibandingkan dengan buku pelajaran di Indonesia
  • Pemerintah akan memperbarui buku pelajaran di sekolah
  • Pemerintah menargetkan 80.000 sekolah rampung direnovasi tahun 2026
  • Budaya baca buku dengan menyediakan bacaan buku yang menarik minat siswa
Pemerintah akan Bagikan Buku Tulis untuk Siswa

RATUSAN buku ajar atau pelajaran dari negara tetangga, tertata dengan rapih di atas meja di Presidential Lounge, Istana Kepresidenan, Jakarta. Buku ajar tersebut dari negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, hingga Vietnam.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan, buku-buku pelajaran dari negara ASEAN menindaklanjuti arahan dari Presiden Prabowo. Kepala Negara meminta para menteri terkait mempelajari buku tersebut lalu dibandingkan dengan buku pelajaran yang dipakai siswa di Tanah Air.

“Petunjuk bapak presiden untuk kita diminta mempelajari buku-buku SD, SMP dan SMA. Beliau minta kita perbandingkan dengan negara sahabat, kita lihat kualitas buku negara sahabat,” kata Prasetyo Hadi kepada wartawan di Presidential Lounge, Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat 7 Agustus 2026.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (Kiri) menunjukan buku dan memberikan penjelasan kepada wartawan di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat 7 Agustus 2026 (Foto: RRI/Sugandi)

Prasetyo menjelaskan Kepala Negara akan melakukan pembaruan buku pelajaran siswa Indonesia baik secara materi atau isi maupun tampilan. Pembaruan buku pelajaran merupakan salah satu perhatian Presiden Prabowo untuk pendidikan di Tanah Air.

Bagi pemerintah, pendidikan investasi jangka panjang untuk kemajuan bangsa. Oleh sebab itu, yang perlu ditingkatkan tidak hanya kualitas guru, prasana tetapi juga buku-buku pelajaran.

“Kita mau mengejar ketertinggalan sehingga buku yang kita desain baik tampulan maupun isi ke arah sana. Masalah pendidikan merupakan fondasi dasar yang harus kita perkuat,” katanya.

Ia mengatakan Presiden Prabowo memberikan perhatian terhadap tiga aspek buku pelajaran yakni memuat mengenai nasionalisme dan kebangsaan. Selanjutnya matematika dan bahasa inggris.

Pemerintah telah mengevaluasi buku pelajaran bahasa inggris, dan diiakui ada perbedaan materi dengan buku pelajaran di Indonesia. Perbedaan antara negara yang warganya menggunakan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita harus meramu ulang. Contoh kemampuan bahasa inggris negara yang keseharian dengan bahasa inggris dengan kita yang belum menggunakan, bentuk atau isi materi berbeda,” katanya.

Potret Buku Pelajaran Indonesia mulai Mudah Rusak hingga Huruf Tulisan Kecil

Presiden Prabowo Subianto menginginkan anak-anak Indonesia terbiasa menulis. Oleh sebab itu, pemerintah akan membagikan buku tulis terutama untuk siswa kelas 1,2 dan 3 sekolah dasar (SD).

Mensesneg mengatakan buku akan dibagikan secara bertahap terutama siswa SD dan sekolah negeri. Buku tulis yang dibagikan beragam mulai buku latihan menulis huruf latin dengan kemasan polos, buku reguler hingga buku yang dilengkapi gambar.

“Petunjuk bapak presiden diminta desain buku menulis terutama adik kelas 1, 2 dan 3 SD. Buku ada yang polos, menulis dengan berbagai gambar diharapkan menarik dan garis besar karena sekarang ada kecenderungan adik tulisan kecil,” ujar Prasetyo menerangkan.

Buku pelajaran sekolah untuk siswa sekolah dasar (SD). Buku didesain dengan tampilan menarik (Foto: Sekretariat Presiden)

Rencananya buku akan dibagikan 10 jenis kepada siswa. Buku tulis didesain sedemikian menarik karena tampilannya kemudian nyaman bagi siswa terutama untuk kesehatan mata.

“Masing-masing 10 buku, ada yang bergambar polos, dengan ilmu atau tema tertentu. Semua sedang dihitung, kita bertahap ya terutama kelas 1,2 dan 3 SD dimana mulai menulis,” ujarnya.

Menteri Prasetyo meminta upaya membiasakan anak menulis agar tidak disalahartikan. Ia mencontohkan pendidikan di negara maju, kembali ke buku fisik dan mengurangi ketergantungan terhadap gadget atau gawai.

Politisi Partai Gerindra itu berharap siswa akan semakin percaya diri, rajin dalam mencatat dan melatih kemampuan menulis. Ia juga berharap dengan kebiasaan menulis, daya ingat siswa semakin tajam.

“Jangan dianggap ke-era jadul ya. Negara di Eropa mengurangi gadget dan membiasakan kembali ke buku fisik,” katanya menegaskan.

Presiden Prabowo Ingin Galakkan Budaya Baca Buku Siswa

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan pembaruan buku ajar berawal dari kunjungan Kepala Negara ke sejumlah sekolah. Ia menjelaskan dalam kunjungan ke sekolah, Presiden Prabowo memeriksa satu persatu buku pelajaran yang dipakai para siswa.

Presiden Prabowo mendapati kualitas buku yang tidak bagus sehingga mudah rusak, huruf tulisan yang kecil. Siswa SD membaca buku dengan jarak yang dekat karena huruf dibuku kecil.

"Saat mengecek buku pelajaran, itu beliau lihat satu persatu, kemudian kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang sudah rusak juga. Tulisannya kecil-kecil, sehingga anak-anak SD khususnya bacanya sangat dekat, kalau dibaca kurang baik, atas dasar itu, beliau mau cek buku-buku dari SD sampai SMA semuanya," ujar Teddy dalam keterangannya kepada awak media pada Jumat 7 Agustus 2026.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (Kanan) memberikan keterangan kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat 7 Agustus 2026 (Foto: Sekretariat Presiden)

Oleh sebab itu, Kepala Negara mendatangkan sejumlah buku pelajaran dari negara ASEAN. Kemudian Presiden Prabowo menginstruksikan agar dilakukan perbandingan dengan buku ajar dari negara-negara tetangga sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas buku pelajaran nasional.

"Awalnya yang punya kita dulu, dicek dulu semuanya, beliau lihat satu-satu. Kemudian coba dibandingkan ke negara tetangga. Pada awalnya seperti itu, sehingga yang tadi Pak Mensesneg sampaikan, dicek, nanti intinya akan diperbaiki menjadi lebih baik," ujar Seskab.

Pemerintah Bentuk Tim

UNESCO menyebut Indonesia berada di urutan kedua terbawah dalam hal literasi dunia, artinya minat membaca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat membaca masyarakat Indonesia sangat mengkhawatirkan, hanya 0,001 persen.

Artinya, dari 1.000 penduduk Indonesia, hanya 1 orang saja yang gemar baca buku. Oleh sebab itu, pemerintah kembali menggalakan budaya wajib membaca bagi kalangan pelajar di Tanah Air.

"Mari kita kembali membiasakan diri sebanyak-banyaknya membaca buku. Itu juga mulai kita galakan lagi, mulai kita giatkan lagi, gemar membaca buku dan wajib membaca buku bagi kita semua," kata Prasetyo Hadi.

Mensesneg mengatakan buku adalah sumber ilmu sehingga kebiasaan membaca sangat penting. Ia terus berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kementerian Dikdasmen) untuk menggalakan kembali budaya baca buku.

Pengunjung Perpustakaan Nasional sedang mencari buku (Foto: RRI/Sugandi)

Lantas Prasetyo memberikan contoh pola pendidikan didalam keluarga Presiden Prabowo yang kemudian menjadi salah satu inspirasi pemerintah untuk menggalakan budaya membaca buku. Mensesneg bercerita, ayah dari Presiden Prabowo, Soemitro Djojohadikoesoemo mewajibkan anak-anaknya untuk membaca buku.

Setelah membaca buku, diwajibkan untuk membuat rangkuman atau ringkasan. Kebiasaan tersebut diterapkan sejak Presiden Prabowo masih belia.

"Salah satu resep di keluarga bapak presiden, sejak usia belia, keluarga Pak Mitro mewajibkan putra dan putrinya setiap minggu membaca buku. Kemudian membuat rangkuman atau resensi dan disampaikan ke orang tua," ujarnya.

Pemerintah Renovasi Puluhan Ribu Sekolah

Pemerintah telah membentuk tim terkait pembaruan buku pelajaran bagi siswa didik. Mensesneg Prasetyo mengatakan tim yang terlibat dari berbagai kementerian dan lembaga seperti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Selanjutnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen); Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Selanjutnya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Beberapa kali kita rapat,” katanya. Tim telah meminta waktu untuk menuntaskan pembaruan buku pelajaran dan diharapkan tahun ini dapat diterapkan di sekolah-sekolah.

“Tadinya tahun ajaran ini selesai tetapi tim butuh waktu. Kemarin lapor ke presiden minta tambahan waktu, harapan akhir tahun atau paling lambat tahun depan,” ujarnya.

Gen-Z Dukung Pembaruan Buku hingga Budaya Baca Buku

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pemerintah merenovasi 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia untuk tahun 2026. Revitalisasi untuk semua jenjang pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Tahun ini, kami dengan anggaran yang sudah disetujui DPR, Rp14 triliun, itu mengalokasikan untuk 11.744 satuan pendidikan. Inshaallah akan ada tambahan 60.000 satuan pendidikan, sehingga tahun ini kami akan melakukan revitalisasi untuk 71.744,” kata Mu’ti.

Ia mengatakan revitalisasi atau renovasi sekolah sudah berjalan 70 persen. Mendikdasmen mengatakan pembangunan gedung sekolah sangat dinanti oleh masyarakat terutama yang puluhan tahun tidak pernah direnovasi.

Adapun Mensesneg Prasetyo mengatakan pemerintah menambah jumlah sekolah yang direnovasi dari sebelumnya 17.000 menjadi 60.000 unit. Ia berharap renovasi 80.000 unit sekolah akan rampung tahun ini.

Pemerintah menargetkan 100.000 sekolah direnovasi tahun 2027 sehingga diharapkan dua tahun mendatang, semuanya sekolah berhasil diperbaiki. Prasetyo mengatakan puluhan ribu sekolah direnovasi karena kemampuan pemerintah menyisir anggaran yang kurang produktif dan dialihkan untuk program yang berdampak.

“Ini juga akibat dari keberhasilan kita terus menerus melakukan penyisiran terhadap anggaran-anggaran, Anggaran yang memang dirasa kurang produktif untuk direalokasi ke program-program yang jauh lebih berdampak,” kata Menteri Prasetyo Hadi.

Rencana pemerintah untuk memperbarui buku pelajaran di sekolah mendapatkan dukungan dari Gen-Z. Mereka juga mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan budaya baca buku dikalangan pelajar.

“Sangat setuju,” kata Siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 10 Jakarta Natasha Shinta, ditemui RRI di Perpusatakaan Nasional, Gambir Jakarta, Minggu 9 Agustus 2026. Natasha berbagi cerita kebiasaannya membaca buku dengan menghabiskan waktu dua jam untuk aktivitas tersebut setiap hari.

“Saya bisa membaca 2 jam per hari. Lebih banyak membaca buku materi pelajaran, mengulas pelajaran,” katanya.

Pelajar tersebut juga membiasakan diri untuk merangkum serta menulis kembali seluruh materi ke buku catatan. Metode ini diyakini mampu memudahkan dirinya dalam mengingat penjelasan yang disampaikan oleh guru sekolah.

“Di sekolah sering merangkum untuk memahami materi lebih mudah, padat dan jelas. Tetapi secara pribadi saya lebih suka mendengarkan langsung penjelasan dari guru daripada merangkum,” ujar Natasha.

Siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 10 Jakarta Natasha Shinta, ditemui RRI di Perpusatakaan Nasional, Gambir Jakarta, Minggub9 Agustus 2026 (Foto: RRI/Sugandi)

Ia berpesan kepada kalangan anak muda agar tidak malas membaca demi meningkatkan kualitas pendidikan. Pentingnya meningkatkan literasi membaca menjadi kunci utama dalam memajukan pemahaman belajar para siswa sekolah.

"Pesan ke Gen-Z, kita tidak boleh malas membaca karena itu penting untuk meningkatkan pendidikan kita,” ujarnya.

Pelajar lainnya, Arkan memiliki kebiasaan membaca buku kendati durasi tidak lama. Arkan mengatakan meluangkan waktu membaca buku selama 10 menit setiap hari.

Menurutnya salah satu cara untuk konsisten membaca buku adalah mengurangi gawai sehingga tetap fokus dalam membaca. Ketergantungan gawai akan menurunkan produktivitas untuk membaca buku.

“Saya membaca buku sekitar 10 menitan, setiap hari. Mengurangi main HP kita bisa meningkatkan keinginan membaca buku, tips kurangin HP biar fokus membaca,” kata Arkan.

Arkan menilai membaca buku penting karena akan menambah berbagai pengetahuan. Arkan mengatakan suka membaca buku astronomi.

“Membaca buku bagus penting untuk pengetahuan . Biasanya membaca buku, aku lebih suka pengetahuan seperti astronomi,” ujarnya.

Kepala Perpustakaan Nasional Prof. E. Aminudin Aziz, mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Air. Upaya mulai dari memperbarui buku pelajaran, revitalisasi gedung sekolah hingga menggalakan budaya membaca buku.

Ia mengatakan rencana pemerintah menggalakan budaya baca harus disambut baik karena fondasi kecerdasan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya pengembangan ilmu pengetahuan dimulai dari kebiasaan membaca yang baik.

Pemerintah harus memfasilitasi bacaan yang baik dan sesuai dengan minat siswa sehingga budaya baca semakin meningkat. Oleh sebab itu, upaya pembaruan buku perlu didukung agar siswa semakin tertarik dengan buku.

“Dengan adanya kebijakan yang benar tentang penguatan budaya baca, kita berharap kualitas SDM bangsa ini akan meningkat. Keengganan membaca, kalau memang benar-benar terjadi, adalah karena ketidaktersediaan buku atau bahan bacaan yang benar-benar sesuai dengan minat bacanya,” katanya.

Ia mencontohkan ketika ada intervensi dengan menyediakan buku-buku yang sesuai dengan minat baca mereka, disambut dengan positif. Mereka antusias dan menunjukan kegirangan untuk bisa membaca buku.

Prof Aminudin juga mendorong orang dewasa memberika contoh atau teladan bagi anak-anak dengan giat membaca buku. Orang dewasa harus membantu memfasilitasi bahan bacaan yang bermutu.

“Beri contoh bahwa kita bukan hanya pandai atau senang menyuruh mereka untuk giat membaca. Dukung mereka dengan program yang memungkinkan mereka bisa menindaklanjuti hasil bacaannya dangan karya-karya lanjutan pasca membaca,” ujarnya menerangkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....