Energi Bersih sebagai Mesin Baru Ekonomi Daerah
- 11 Jul 2026 02:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
TRANSISI energi sering dibaca sebagai urusan emisi. Ketika perusahaan memasang panel surya, memakai energi lebih rendah karbon, atau mengefisienkan operasi, perhatian publik biasanya berhenti pada angka penurunan karbon. Cara pandang itu penting, tetapi belum cukup. Di daerah tambang seperti Sumbawa Barat, energi bersih seharusnya dibaca sebagai infrastruktur ekonomi baru.
PT Amman Mineral Nusa Tenggara, bagian dari PT Amman Mineral Internasional Tbk atau AMMAN, memberi ruang untuk membaca isu itu lebih luas. AMMAN telah mengintegrasikan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 26,8 MWp sejak Juni 2022. Dalam laporan keberlanjutan perusahaan, PLTS tersebut disebut dapat menghasilkan hingga 42 GWh listrik per tahun dan menghindari sekitar 40.000 tCO2e emisi melalui penggantian sebagian penggunaan batu bara dan diesel.
Namun, opini ini tidak ingin berhenti pada PLTS. Energi bersih bukan hanya alat pengurang emisi, melainkan fondasi daya saing daerah. Di kawasan tambang, energi menentukan kelancaran operasi, masa depan hilirisasi, kebutuhan tenaga kerja, rantai pasok lokal, hingga kemampuan daerah menarik aktivitas ekonomi baru. Listrik yang lebih bersih dan andal dapat menjadi pintu masuk bagi ekonomi yang lebih panjang napasnya.
Untuk membaca peluang itu, saya menyebutnya green local multiplier. Istilah ini bukan istilah resmi AMMAN, melainkan kerangka opini untuk menjelaskan bagaimana transisi energi dapat menciptakan efek berganda di daerah. Energi bersih akan bernilai sosial-ekonomi ketika tidak hanya mengalir ke fasilitas produksi, tetapi juga ke ruang pelatihan, bengkel kerja, vendor lokal, UMKM, sekolah vokasi, dan tenaga muda daerah.
Literasi internasional tentang transisi energi bersih menekankan hal serupa. Sebagai contoh International Energy Agency mengingatkan bahwa transisi energi harus berpusat pada manusia. Artinya, perubahan menuju energi bersih tidak cukup diukur dari teknologi yang dipasang, tetapi juga dari pekerjaan layak, pelatihan, perlindungan pekerja, inklusi sosial, dan pemerataan manfaat ekonomi. Transisi energi dapat menciptakan banyak pekerjaan baru, tetapi pekerjaan itu tidak selalu muncul di tempat yang sama atau membutuhkan keterampilan yang sama dengan ekonomi lama.
Jika perspektif ini dipakai, maka pembicaraan tentang energi bersih harus bergerak dari sekadar fasilitas menuju ekosistem. Yang dibutuhkan bukan hanya panel surya, inverter, kabel, dan jaringan distribusi, tetapi juga kemampuan lokal untuk merawat teknologi tersebut. Setiap komponen energi bersih membuka peluang pembelajaran: bagaimana listrik dibangkitkan, bagaimana sistem dipelihara, bagaimana risiko keselamatan dikendalikan, dan bagaimana layanan pendukung dapat dikerjakan oleh pelaku daerah. Di sinilah transisi energi bertemu dengan pembangunan manusia.
Di sinilah pekerjaan rumah daerah muncul. Sumbawa Barat tidak cukup hanya menjadi lokasi operasi yang memakai energi bersih. Daerah perlu menyiapkan manusia yang mampu menangkap peluang baru: teknisi listrik, operator pembangkit, tenaga pemeliharaan, ahli keselamatan kerja, analis data energi, pekerja konstruksi, pengelola logistik, penyedia jasa, dan pelaku UMKM pendukung. Tanpa persiapan keterampilan, energi bersih hanya menjadi proyek teknologi yang datang dari luar, dikerjakan oleh tenaga luar, lalu meninggalkan manfaat terbatas bagi masyarakat lokal.
AMMAN telah memiliki dampak ekonomi yang dapat menjadi dasar untuk membaca peluang tersebut. Kajian LPEM FEB UI menyebut aktivitas AMMAN pada 2018–2024 memberi kontribusi Rp173,4 triliun terhadap PDB nasional, dengan rata-rata Rp24,8 triliun per tahun. Aktivitas itu juga disebut menciptakan rata-rata 55.000 kesempatan kerja per tahun secara nasional, dengan puncak lebih dari 105.000 peluang kerja pada 2024. Angka ini menunjukkan bahwa tambang besar tidak berdiri sendiri. Ia menggerakkan kontraktor, pemasok, logistik, makanan pekerja, transportasi, jasa, dan ekonomi rumah tangga.
Pertanyaannya, bagaimana efek berganda itu dapat ditautkan dengan agenda energi bersih? Jawabannya bukan sekadar menambah kapasitas pembangkit. Yang lebih penting adalah menghubungkan investasi energi rendah karbon dengan strategi ekonomi lokal. Jika ada kebutuhan perawatan PLTS, maka harus ada pelatihan teknisi lokal. Jika hilirisasi membutuhkan pasokan energi yang lebih andal, maka perlu ada pemasok daerah yang naik kelas. Jika industri membutuhkan standar rendah karbon, maka UMKM lokal perlu belajar memenuhi standar barang dan jasa yang lebih hijau.
Dampak seperti ini penting karena ekonomi daerah tambang kerap menghadapi risiko ketergantungan. Ketika produksi mineral naik, ekonomi ikut bergerak. Namun ketika siklus komoditas melemah, daerah dapat ikut tertekan. Energi bersih memberi peluang untuk memperluas basis ekonomi, sebab keterampilan yang dibangun tidak hanya berguna bagi tambang, tetapi juga bagi sektor lain: bangunan, pariwisata, perikanan dingin, pendidikan vokasi, layanan listrik, dan usaha kecil yang membutuhkan energi lebih efisien. Dengan begitu, transisi energi dapat menjadi jembatan dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi berbasis kemampuan.
Untuk itu, energi bersih tidak berhenti sebagai citra hijau perusahaan. Ia berubah menjadi mesin ekonomi daerah. Panel surya bukan hanya simbol komitmen lingkungan, tetapi pintu masuk menuju keterampilan baru. Infrastruktur energi bukan hanya fasilitas teknis, tetapi alasan untuk membangun kurikulum vokasi. Penurunan emisi bukan hanya angka laporan, tetapi peluang memperkuat rantai nilai lokal.
Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memastikan peluang ini tidak hilang. Dinas tenaga kerja, sekolah kejuruan, kampus, lembaga pelatihan, BUMDes, koperasi, dan pelaku usaha lokal perlu membaca transisi energi sebagai agenda bersama. Kurikulum vokasi dapat diarahkan pada kelistrikan, pemeliharaan panel surya, keselamatan kerja, logistik industri, efisiensi energi, dan manajemen rantai pasok. Dengan demikian, anak muda daerah tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi masuk sebagai pelaku.
Tentu, energi bersih tidak otomatis menjamin pemerataan. Tanpa desain sosial yang kuat, manfaatnya bisa terserap oleh perusahaan besar, kontraktor luar, atau tenaga ahli dari luar daerah. Karena itu, ukuran keberhasilan transisi energi perlu diperluas. Bukan hanya berapa megawatt kapasitas terpasang, tetapi berapa banyak tenaga lokal yang tersertifikasi. Bukan hanya berapa ton emisi dihindari, tetapi berapa vendor daerah yang naik kelas. Bukan hanya berapa listrik dihasilkan, tetapi sejauh mana energi itu memperkuat hilirisasi, pekerjaan layak, dan daya saing daerah.
Di daerah seperti Sumbawa Barat, isu ini menjadi sangat relevan. Mineral memberi modal awal, tetapi kapasitas manusia menentukan keberlanjutan manfaatnya. Tanpa tenaga lokal yang terlatih, efek ekonomi mudah berhenti sebagai angka makro. Dengan tenaga lokal yang siap, transisi energi dapat menjadi jalan naik kelas bagi generasi berikutnya. Itulah nilai strategis yang perlu dijaga bersama.
Dengan demikian, masa depan ekonomi daerah tambang tidak hanya ditentukan oleh mineral yang berhasil diproduksi. Ia juga ditentukan oleh kemampuan daerah mengubah transisi energi menjadi pengetahuan, pekerjaan, dan rantai nilai lokal. Dalam konteks AMMAN dan Sumbawa Barat, energi bersih dapat menjadi lebih dari agenda lingkungan. Ia dapat menjadi mesin baru ekonomi daerah, asalkan manfaatnya mengalir ke ruang kelas, bengkel kerja, UMKM, tenaga muda, dan masyarakat lokal yang ingin tumbuh bersama perubahan zaman.
Mandra Pradipta, RRI.CO.ID
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....