Rantai Ekologis: Jalan Baru Reklamasi AMMAN dari Lahan Tambang ke Hutan Mandiri
- 10 Jul 2026 01:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
REKLAMASI tambang sering kali dibayangkan secara sederhana: lahan bekas operasi ditutup kembali, tanah dirapikan, lalu pohon ditanam. Dari kejauhan, keberhasilan reklamasi kerap dinilai dari seberapa hijau sebuah kawasan terlihat. Namun, dalam literasi restorasi ekologis modern, hijau secara visual belum tentu berarti pulih secara ekologis.
Reklamasi yang kuat tidak hanya bertanya apakah pohon sudah tumbuh, tetapi apakah tanah kembali stabil, air mengalir dengan baik, spesies lokal dapat hidup, erosi terkendali, dan ekosistem memiliki peluang untuk menopang dirinya sendiri. Society for Ecological Restoration menekankan bahwa restorasi ekologis perlu mengacu pada ekosistem rujukan, melibatkan pemangku kepentingan, serta diukur dengan indikator yang jelas, bukan sekadar aktivitas penanaman.
Dari sudut pandang ini, reklamasi PT Amman Mineral Nusa Tenggara, bagian dari PT Amman Mineral Internasional Tbk atau AMMAN, di Batu Hijau, Sumbawa Barat, menarik untuk dibaca lebih jauh. Bukan hanya sebagai kewajiban lingkungan pascatambang, tetapi sebagai proses panjang membangun kembali fungsi lanskap.
AMMAN melaporkan bahwa pada 2024 perusahaan mereklamasi 79,57 hektare lahan, atau 100 persen dari rencana reklamasi yang telah disetujui pemerintah. Selain itu, perusahaan juga melakukan reklamasi sementara dan pengendalian erosi pada 15,23 hektare area infrastruktur yang telah dinonaktifkan. Metode yang digunakan mencakup pengelolaan topsoil, pemasangan coconet dan ijuk, hydroseeding, serta penanaman spesies pohon asli.

Data tersebut penting, tetapi maknanya lebih besar dari angka hektare. AMMAN menyebut tujuan reklamasi di Batu Hijau adalah mendorong suksesi ekologis menuju hutan mandiri pada periode pascareklamasi. Artinya, reklamasi tidak hanya diarahkan untuk membuat lahan kembali tertutup vegetasi, tetapi agar ekosistem yang dibangun memiliki kemampuan bertahan dan berkembang secara alami.
Pemantauan juga menjadi bagian penting. Dalam laporan keberlanjutannya, AMMAN menyebut aspek yang dipantau meliputi stabilitas lereng, kepadatan tanah, kesuburan tanah, vegetasi, potensi erosi, mikroiklim, fauna, dan air permukaan. Di sini, reklamasi bergerak dari sekadar penanaman menuju pendekatan ilmiah yang membaca hubungan antara tanah, air, tumbuhan, dan kehidupan liar.
Kebaruan yang menarik dari reklamasi AMMAN terletak pada rantai pasok ekologisnya. Reklamasi tidak hanya dimulai dari lahan yang akan dipulihkan, tetapi dari benih, pembibitan, material pengendali erosi, dan keterlibatan masyarakat lokal.
AMMAN memiliki pembibitan sendiri di Batu Hijau dan membangun dua pembibitan yang dimiliki serta dikelola masyarakat di Sekongkang dan Tongo.
Tiga pembibitan tersebut mampu memproduksi hingga 300.000 bibit per tahun, dengan lebih dari 99 jenis pohon keras dan varietas pohon lokal Sumbawa Barat. Pada 2024, dua pembibitan masyarakat memasok hampir 80 persen kebutuhan bibit reklamasi, yaitu 279.879 dari total 346.835 bibit.
Di sinilah reklamasi berubah menjadi lebih dari urusan teknis perusahaan. Ia menjadi ruang ekonomi dan pengetahuan warga. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton dari program pemulihan lahan, tetapi ikut memproduksi elemen penting bagi keberhasilan reklamasi. Benih lokal, keterampilan pembibitan, dan pemahaman tentang spesies setempat menjadi bagian dari ekonomi restoratif.
Konsep ini relatif segar dibanding narasi reklamasi yang umumnya berhenti pada jumlah pohon atau luas lahan. Dalam pendekatan rantai pasok ekologis, yang dihitung bukan hanya hasil akhir berupa kawasan hijau, tetapi juga siapa yang terlibat, pengetahuan apa yang tumbuh, dan nilai ekonomi apa yang kembali ke masyarakat sekitar.
Selain bibit lokal, material alami seperti coconet dan ijuk juga menjadi bagian penting dalam reklamasi. AMMAN menyebut coconet dan ijuk blanket telah digunakan pada area reklamasi seluas 799,53 hektare hingga akhir 2024. Material ini berfungsi membantu pengendalian erosi dan sedimentasi, terutama pada lereng reklamasi yang rentan terhadap aliran air permukaan.

Yang menarik, produksi coconet dan ijuk tidak hanya diposisikan sebagai kebutuhan teknis reklamasi, tetapi juga sebagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Paper Mine Closure 2024 tentang kolaborasi AMMAN dengan komunitas lokal menyebut program coconet dan ijuk blanket memberi tambahan pendapatan bagi warga, mendorong kemandirian ekonomi, dan berkontribusi pada pengelolaan lingkungan. Paper itu juga menghitung Social Return on Investment atau SROI program tersebut dengan proyeksi rasio 105,31 pada tahun kelima.
Di titik ini, reklamasi memiliki lapisan makna baru. Lahan bekas tambang dipulihkan dengan material alami yang diproduksi warga. Sementara itu, warga memperoleh keterampilan, pendapatan tambahan, dan posisi dalam rantai pemulihan lingkungan. Reklamasi tidak lagi hanya menjadi biaya lingkungan perusahaan, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi lokal.
Batu Hijau berada di tepi barat Wallacea Biodiversity Hotspot, kawasan yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan tingkat endemisme penting. Karena itu, reklamasi di wilayah seperti ini tidak cukup dipahami sebagai pemulihan lanskap biasa. Ia harus dibaca dalam konteks konservasi biodiversitas.
AMMAN menyebut pengelolaan biodiversitasnya mengacu pada standar ICMM, IUCN, dan CITES. Perusahaan juga menggunakan remote sensing dan ground truthing untuk memantau gangguan hutan yang berkaitan dengan ekspansi, serta melakukan pemantauan flora dan fauna. Pendekatan ini penting karena reklamasi di kawasan sensitif harus mampu menjawab pertanyaan yang lebih luas: apakah pemulihan lahan ikut mendukung kehidupan spesies dan fungsi ekosistem.
Literasi internasional tentang rekonstruksi ekosistem pascatambang juga menunjukkan bahwa rehabilitasi tambang tidak sederhana. Kajian 2024 tentang post-mining ecosystem reconstruction menekankan pentingnya desain lanskap, pemulihan tanah, air, vegetasi, serta arah baru seperti geomorphic landscape design dan cradle-to-cradle mining. Dengan kata lain, masa depan reklamasi bukan hanya menanam pohon, tetapi merancang ulang lanskap agar stabil, hidup, dan berguna dalam jangka panjang.
Kebaharuan terbesar dari reklamasi AMMAN bukan hanya pada angka reklamasi, jumlah bibit, atau luas area yang telah ditanami. Yang lebih menarik adalah cara reklamasi itu dapat dibaca sebagai rantai pasok ekologis: benih lokal, pembibitan warga, material alami, pengendalian erosi, pemantauan biodiversitas, dan tujuan menuju hutan mandiri.
Pendekatan seperti ini sejalan dengan arah global yang mulai menuntut sektor tambang bergerak melampaui kepatuhan minimum. Literatur tentang nature-positive mine closure menekankan bahwa rencana penutupan tambang harus memikirkan hasil biodiversitas yang bertahan setelah operasi berakhir, bahkan perlu melihat skala lanskap, bukan hanya lokasi tambang.

Pada akhirnya, reklamasi terbaik bukan hanya meninggalkan lahan yang tampak hijau. Reklamasi yang kuat meninggalkan lanskap yang stabil, tanah yang hidup, air yang terjaga, warga yang memiliki pengetahuan, dan ekosistem yang mampu tumbuh tanpa terus bergantung pada intervensi manusia.
Di Sumbawa, pelajaran itu dapat dibaca dari bibit lokal, coconet, ijuk, dan upaya menuju hutan mandiri. Dari sana, reklamasi tidak lagi sekadar kewajiban pascatambang, melainkan jalan panjang untuk membangun warisan ekologis. Bukan hanya memulihkan lahan, tetapi juga menumbuhkan pengetahuan, ekonomi lokal, dan masa depan lanskap yang lebih hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....