Krisis Lingkungan Menguat, Aksi Iklim Menjadi Keniscayaan

  • 08 Jun 2026 09:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum memperkuat aksi nyata menghadapi krisis iklim, pencemaran, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
  • Pemerintah menekankan kolaborasi seluruh pihak untuk mencapai target net zero emission dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
  • Berbagai aksi lingkungan digelar di sekolah, kampus, dunia usaha, hingga daerah melalui penghijauan, pengelolaan sampah, dan edukasi lingkungan.
Krisis Lingkungan Menuntut Aksi Nyata

SETIAP tanggal 5 Juni, dunia kembali memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Namun di balik peringatan tahunan tersebut, bumi saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan mendesak.

Perubahan iklim terus memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah. Gelombang panas, banjir, kekeringan, hingga kebakaran hutan menjadi peristiwa yang semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Di saat yang sama, keanekaragaman hayati terus mengalami penurunan. Berbagai spesies tumbuhan dan satwa menghadapi ancaman akibat hilangnya habitat serta tekanan aktivitas manusia.

Persoalan lingkungan juga diperparah oleh pencemaran yang masih terjadi di darat, laut, maupun udara. Sampah plastik, limbah industri, dan pola konsumsi yang belum berkelanjutan masih menjadi tantangan besar di banyak negara, termasuk Indonesia.

Berbagai persoalan tersebut dikenal sebagai krisis planet tiga lapis atau triple planetary crisis. Krisis ini mencakup perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta pencemaran lingkungan yang saling berkaitan dan memengaruhi kualitas hidup manusia.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga menyentuh sektor ekonomi, kesehatan, ketahanan pangan, hingga kesejahteraan masyarakat. Kelompok rentan menjadi pihak yang paling merasakan konsekuensi dari kerusakan lingkungan yang terus berlangsung.

Karena itu, Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan lagi sekadar pilihan. Upaya tersebut menjadi tanggung jawab bersama demi memastikan generasi mendatang tetap memiliki kesempatan hidup di lingkungan yang sehat.

Tahun ini, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia mengusung semangat memperkuat aksi nyata menghadapi perubahan iklim. Pemerintah menilai upaya pelestarian lingkungan perlu diwujudkan melalui langkah konkret, sekaligus didukung kebijakan berkelanjutan.

Namun, apakah berbagai upaya tersebut sudah mampu menjawab ancaman krisis lingkungan saat ini? Bagaimana peran pemerintah dan masyarakat dalam menjaga bumi secara berkelanjutan?

Aksi Iklim Dimulai dari Langkah Sederhana

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa bumi menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan masih menjadi ancaman utama.

Pemerintah menilai kondisi tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Upaya menjaga lingkungan dinilai tidak lagi menjadi pilihan, melainkan tanggung jawab bersama.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, mengatakan peringatan tahun ini harus menjadi momentum perubahan. Menurutnya, masyarakat perlu bergerak dari kesadaran menuju tindakan yang lebih nyata.

"Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum bagi kita semua untuk merenung. Menyadari kesalahan dan bergerak memperbaiki hubungan kita dengan alam," kata Jumhur saat peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur Jakarta Timur, Sabtu 6 Juni 2026.

Ia menilai berbagai persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui komitmen. Perubahan perilaku dan pola hidup masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian alam.

Pemerintah juga mengangkat tema "Saatnya Bekerja untuk Iklim" pada peringatan tahun ini. Tema tersebut menjadi ajakan bagi seluruh elemen bangsa untuk mengambil bagian dalam aksi iklim.

Langkah tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Mulai dari pengurangan sampah, penghematan energi, hingga pelestarian ruang hijau di sekitar tempat tinggal.

Gotong Royong Jadi Kunci Capai Target Net Zero Emission

Seruan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam tidak berhenti pada tingkat kesadaran. Pemerintah menilai upaya menjaga lingkungan harus terhubung langsung dengan agenda pembangunan nasional.

Pembangunan pangan, air, dan energi dinilai tidak akan tercapai tanpa lingkungan yang terjaga. Karena itu, persoalan lingkungan disebut menjadi tanggung jawab bersama lintas generasi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, mengatakan isu lingkungan tidak bisa dipisahkan dari pembangunan. Menurutnya, keberhasilan berbagai program strategis sangat bergantung pada kualitas lingkungan hidup.

"Presiden memiliki program yang sangat konkret terkait swasembada pangan, swasembada air, dan swasembada energi. Semua itu tidak akan dapat dicapai apabila lingkungan hidup tidak terjaga dengan baik," ujarnya.

Pemerintah juga menekankan bahwa aksi iklim tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Perubahan dapat dilakukan dari lingkungan terdekat melalui kebiasaan sehari-hari.

Salah satu langkah yang dinilai paling sederhana adalah memilah sampah dari sumbernya. Upaya tersebut penting karena persoalan sampah tidak hanya terkait kebersihan lingkungan.

Indonesia menghasilkan sekitar 51 juta ton sampah setiap tahun. Sebagian besar masih berakhir di tempat pemrosesan akhir dalam kondisi tercampur.

Sampah organik yang menumpuk menghasilkan gas metana. Gas tersebut memiliki dampak pemanasan yang lebih besar dibanding karbon dioksida.

Karena itu, pengurangan, pemilahan, dan daur ulang sampah dinilai dapat membantu menekan emisi. Langkah tersebut juga dapat mengurangi beban tempat pemrosesan akhir.

Melalui Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah atau ASRI, pemerintah mengajak masyarakat membangun budaya baru. Pemilahan sampah diharapkan menjadi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.

Pemerintah menilai aksi iklim tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. Perubahan perilaku sehari-hari justru dapat memberikan dampak besar jika dilakukan bersama-sama.

Semangat "No Generation Left Behind" juga menjadi bagian penting dalam gerakan tersebut. Tidak boleh ada generasi yang tertinggal dalam menghadapi krisis lingkungan.

Pemerintah menegaskan keberhasilan pengendalian perubahan iklim membutuhkan kolaborasi semua pihak. Masa depan lingkungan ditentukan oleh tindakan yang dilakukan mulai hari ini, bukan sekadar rencana di atas kertas.

Sekolah Jadi Garda Depan Membangun Kepedulian Lingkungan

Upaya mengurangi sampah dan emisi tidak bisa berhenti pada tingkat individu. Pemerintah menilai pencapaian target net zero emission juga membutuhkan keterlibatan seluruh pihak.

Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat menegaskan target net zero emission bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Menurutnya, seluruh pelaku usaha dan masyarakat harus ikut berperan mengurangi emisi.

Ia mengatakan setiap kegiatan yang berpotensi menghasilkan emisi wajib mematuhi aturan lingkungan. Kepatuhan tersebut dinilai penting agar pertumbuhan ekonomi tetap berjalan beriringan dengan keberlanjutan lingkungan.

“NZE itu bukan hanya tugas pemerintah, ada yang sifatnya mandatory, sifatnya compliance. Artinya, semua orang yang melakukan kegiatan harus sesuai dengan aturan sehingga tidak menambah emisi,” ujar Jumhur, di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur Jakarta Timur, Sabtu 6 Juni 2026.

Menurut Jumhur, pelaku usaha yang menghasilkan emisi perlu melakukan langkah pemulihan lingkungan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penanaman pohon maupun rehabilitasi mangrove.

Ia menilai gerakan sukarela masyarakat untuk menjaga lingkungan terus berkembang. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu diperkuat.

“Jadi soal zero emission, kita sedang bekerja ke sana. Mudah-mudahan gotong royong ini bisa terjadi dengan baik,” katanya.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon. Keterlibatan sektor swasta dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung target tersebut.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan sebagian besar investasi dekarbonisasi diharapkan berasal dari badan usaha. Baik perusahaan milik negara maupun swasta memiliki peran besar dalam proses tersebut.

Menurutnya, keterbatasan fiskal membuat pemerintah tidak bisa bekerja sendiri membiayai transisi energi. Karena itu, sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.

“Karena itu, kita perlu mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak bersama,” ujar Yuliot.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu mempercepat pencapaian target net zero emission. Langkah itu juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Menanam Kepedulian Lingkungan Dimulai dari Sekolah

Keberhasilan menekan emisi dan menjaga lingkungan juga bergantung pada pendidikan sejak usia dini. Karena itu, sekolah dinilai memiliki peran penting dalam membentuk budaya peduli lingkungan.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian mengatakan sekolah dapat menjadi ruang pembelajaran lingkungan yang efektif. Pembiasaan sederhana dinilai mampu menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.

“Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan degradasi lingkungan, sekolah perlu menjadi tempat yang mendorong tumbuhnya kepedulian. Khususnya terhadap alam melalui kebiasaan sederhana,” kata Hetifah.

Menurutnya, kebiasaan menjaga kebersihan, menanam tanaman, dan merawat lingkungan perlu terus ditanamkan. Langkah tersebut dapat membentuk karakter peserta didik yang lebih peduli terhadap alam.

Ia menjelaskan Gerakan Sekolah ASRI menjadi salah satu upaya memperkuat pendidikan karakter di sekolah. Program itu diharapkan mampu melahirkan generasi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Melalui lingkungan belajar yang aman dan sehat, kesadaran ekologis dapat tumbuh secara berkelanjutan. Sekolah juga diharapkan menjadi pusat pembiasaan perilaku ramah lingkungan bagi peserta didik.

Gerakan tersebut dinilai mendukung pembangunan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan. Upaya ini penting untuk menjawab tantangan lingkungan yang semakin kompleks di masa depan.

Dengan demikian, pelestarian lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan dunia usaha. Generasi muda juga perlu dipersiapkan menjadi pelaku utama perubahan menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Kampus Hijau Jadi Benteng Menghadapi Krisis Iklim

Pendidikan lingkungan tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di kelas. Berbagai aksi nyata juga terus didorong agar peserta didik terlibat langsung menjaga alam.

Salah satunya dilakukan melalui Gerakan Sekolah ASRI atau Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Program ini digelar bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyelenggarakan kegiatan tersebut di Kalimantan Timur. Kegiatan dirangkaikan dengan penanaman mangrove sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Program ini bertujuan membangun budaya hidup bersih dan berkelanjutan di lingkungan sekolah. Selain itu, sekolah didorong menjadi ruang pembentukan karakter yang peduli lingkungan.

SMA Negeri 8 Balikpapan dipilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Sekolah itu dikenal sebagai satu-satunya sekolah mangrove di Indonesia.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti menegaskan pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dengan alam. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan.

“Sesungguhnya sesuai cita-cita bangsa, kita membangun hubungan harmonis dengan sesama. Hubungan harmonis dengan alam juga harus diwujudkan,” kata Mu'ti.

Ia menjelaskan penanaman mangrove memiliki manfaat besar bagi lingkungan pesisir. Selain menjaga ekosistem, langkah tersebut juga membantu mencegah abrasi dan kerusakan kawasan pantai.

Melalui kegiatan seperti ini, kesadaran lingkungan diharapkan tumbuh sejak usia sekolah. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya memahami pentingnya menjaga alam, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya pelestariannya.

Dari Tegal hingga Medan, Aksi Nyata Mulai Digerakkan di Daerah

Upaya menjaga lingkungan juga perlu diperkuat di lingkungan perguruan tinggi. Kampus dinilai memiliki peran strategis dalam membangun budaya keberlanjutan dan kepedulian terhadap alam.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono mendorong kampus memperluas ruang terbuka hijau. Langkah tersebut dinilai penting untuk menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

Menurut Diaz, sejumlah perguruan tinggi dapat mencontoh Institut Pertanian Bogor dalam menjaga kawasan hijau kampus. Ia menilai keberhasilan IPB mempertahankan ruang terbuka hijau patut menjadi inspirasi.

“IPB luar biasa, ruang terbuka hijaunya sudah 91 persen. Seharusnya menjadi contoh bagi kampus lain,” kata Diaz saat peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Ia menjelaskan luas ruang terbuka hijau di IPB mencapai 91 persen. Angka tersebut jauh melampaui ketentuan nasional yang menetapkan minimal 30 persen.

Menurutnya, keberadaan ruang hijau tidak hanya memperindah kawasan kampus. Ruang tersebut juga membantu menjaga kualitas udara dan mengurangi dampak perubahan iklim.

Diaz mengingatkan suhu bumi terus meningkat akibat aktivitas manusia sejak revolusi industri. Dampaknya kini semakin dirasakan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.

“Bumi ini semakin panas. Temperatur bumi sudah naik sekitar 1,4 hingga 1,6 derajat Celsius,” ujarnya.

Ia menyoroti mencairnya es di Pegunungan Jayawijaya sebagai salah satu tanda perubahan iklim. Selain itu, ancaman tenggelamnya pulau-pulau kecil juga semakin meningkat.

Karena itu, Diaz mengajak masyarakat melakukan langkah sederhana untuk menjaga lingkungan. Salah satu cara yang dinilai paling mudah adalah menanam pohon.

“Cara paling sederhana menghadapi perubahan iklim adalah penanaman pohon. Satu orang satu pohon,” katanya.

Ajakan tersebut mempertegas bahwa aksi iklim dapat dimulai dari mana saja. Mulai dari rumah, sekolah, hingga kampus, setiap langkah kecil memiliki peran penting menjaga masa depan bumi.

Kolaborasi Lingkungan Membutuhkan Keterlibatan Semua Pihak

Kesadaran menjaga lingkungan juga mulai diwujudkan melalui berbagai gerakan di daerah. Sejumlah pemerintah daerah menggelar aksi penghijauan sebagai bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Salah satunya dilakukan Pemerintah Kabupaten Tegal melalui gerakan Satu Rumah Satu Pohon. Program tersebut menjadi bentuk komitmen daerah dalam merespons krisis lingkungan yang semakin nyata.

Wakil Bupati Ahmad Kholid mengajak masyarakat menanam pohon di lingkungan masing-masing. Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat membantu menghijaukan bumi secara berkelanjutan.

“Kalau bisa, kita akan dengan sadar menanam satu rumah satu pohon. Sehingga kalau kesadaran itu muncul ada satu pohon satu rumah, insya Allah bumi ini akan kita hijaukan,” kata Kholid di Tegal, Jumat 5 Juni 2026.

Gerakan tersebut juga dibarengi upaya penghijauan di kawasan yang memiliki fungsi konservasi. Salah satu yang menjadi perhatian adalah lereng Gunung Slamet yang diharapkan kembali hijau.

“Mudah-mudahan di lereng Gunung Slamet akan kembali tumbuh penghijauan yang kita harapkan. Tujuannya agar tidak ada lagi bencana-bencana yang timbul kemudian,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Tegal juga menyiapkan berbagai program penghijauan di ruang publik. Ratusan bibit pohon dan tanaman buah mulai ditanam untuk memperkuat kualitas lingkungan perkotaan.

Selain itu, penghijauan berskala besar juga direncanakan di kawasan lereng Gunung Slamet. Program tersebut akan melibatkan berbagai komunitas pecinta alam dan masyarakat setempat.

Langkah yang dilakukan di Tegal menunjukkan bahwa aksi iklim tidak hanya berlangsung di tingkat nasional. Daerah juga memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui gerakan yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Semangat kolaborasi juga datang dari Kota Medan yang menggelar aksi gotong royong massal. Kegiatan yang diinisiasi pemerintah kota itu berhasil mengumpulkan 28 ton sampah.

Ribuan peserta terlibat dalam kegiatan yang dipusatkan di kawasan Taman Hutan Kota Beringin. Gotong royong dilakukan secara serentak di berbagai titik untuk membersihkan lingkungan dan kawasan sungai.

Wakil Wali Kota Medan, Zakiyuddin Harahap mengatakan tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Menurutnya, langkah kecil yang dilakukan hari ini akan menentukan kualitas lingkungan pada masa depan.

Ia mengingatkan masyarakat agar belajar dari berbagai bencana yang pernah terjadi. Kerusakan lingkungan dan buruknya pengelolaan sampah dinilai menjadi faktor yang memperbesar risiko bencana.

Zakiyuddin juga menyoroti kebiasaan membuang sampah sembarangan yang masih ditemukan di sejumlah wilayah. Karena itu, pemerintah daerah terus mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan saluran air.

“Mari sama-sama kita jaga kebersihan lingkungan kita, kita jaga parit-parit kita. Karena setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini akan menentukan kualitas kehidupan generasi yang akan datang,” kata Zakiyuddin di Taman Hutan Kota Beringin Medan, Sabtu 6 Juni 2026.

Selain aksi bersih-bersih, pemerintah Kota Medan juga melakukan penanaman ribuan bibit pohon. Berbagai kampanye pengelolaan lingkungan turut dilakukan untuk memperkuat kesadaran masyarakat.

Langkah yang dilakukan di Medan memperlihatkan bahwa aksi iklim tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Gerakan gotong royong, menjaga kebersihan sungai, dan menanam pohon menjadi bukti bahwa perubahan dapat dimulai dari lingkungan sekitar.

Upaya menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Dunia usaha juga didorong mengambil peran aktif dalam mendukung aksi iklim yang berkelanjutan.

Komitmen tersebut ditunjukkan Perumda Air Minum Tirta Ayu Kabupaten Tegal saat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Perusahaan daerah itu ikut berpartisipasi dalam rangkaian Gebyar Aksi Iklim yang digelar di kawasan GOR Trisanja Slawi.

Melalui kegiatan tersebut, Perumda Tirta Ayu menegaskan dukungannya terhadap pelestarian lingkungan. Komitmen itu diwujudkan melalui pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Direktur Utama Perumda Tirta Ayu melalui Direktur Umum, Edi Sofyan mengatakan pihaknya terus memperkuat kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tegal. “Kami selalu ikut serta dalam mendukung kegiatan penghijauan yang dilaksanakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tegal,” kata Edi di Tegal pada Jum'at 5 Juni 2026.

Dukungan itu juga diwujudkan melalui keterlibatan perusahaan dalam program penghijauan daerah. Perumda Tirta Ayu mendukung gerakan Satu Rumah Satu Pohon yang sebelumnya dicanangkan pemerintah daerah.

Selain menanam pohon, perusahaan juga menggelar aksi pengelolaan sampah. Masyarakat diajak menukar sampah plastik dengan bibit tanaman buah untuk ditanam di lingkungan sekitar.

Program tersebut menjadi contoh bahwa aksi lingkungan dapat dilakukan melalui langkah sederhana. Kegiatan seperti pengurangan sampah dan penghijauan dinilai mampu memberikan dampak nyata bagi kualitas lingkungan.

Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menunjukkan semangat gotong royong dalam menghadapi krisis lingkungan. Semangat inilah yang menjadi pesan utama Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, bahwa menjaga bumi membutuhkan peran dan kontribusi semua pihak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....