Vaksinasi Campak Massal upaya Lindungi Nakes dari Penularan
- 11 Apr 2026 10:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PLT Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni menyebut imunisasi campak bagi nakes menjadi langkah awal perlindungan nasional.
- Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia menyebut pemerintah mengambil langkah tambahan melalui Outbreak Response Immunization (ORI)
- Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia
Perluasan Indikasi Vaksin untuk Orang Dewasa
PROGRAM imunisasi campak bagi tenaga kesehatan resmi dimulai serentak di 14 provinsi untuk melindungi nakes dari risiko penularan. Program ini menjadi langkah strategis pemerintah untuk melindungi tenaga kesehatan dan tenaga medis sebagai garis terdepan pelayanan dari risiko penularan penyakit.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni menyebut imunisasi campak bagi nakes menjadi langkah awal perlindungan nasional. Program ini akan diperluas bertahap hingga menjangkau seluruh tenaga kesehatan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan Indonesia.
“Ini merupakan kick-off yang mewakili rumah sakit umum pusat dan RSUD di 14 provinsi. Pelaksanaan dilakukan secara serentak dan akan terus dilanjutkan hingga seluruh tenaga kesehatan tercakup,” kata Andi Saguni saat konferensi pers di Jakarta, Jumat 10 April 2026.
Hingga saat ini, kata Andi, sudah ratusan tenaga kesehatan dan medis yang menerima vaksin campak. “Hingga saat ini sudah ada 565 tenaga kesehatan, termasuk tenaga medis, yang telah menerima imunisasi campak,” ucap Andi.
Stok Vaksin Dipastikan Aman
Selama ini vaksin campak lebih dikenal sebagai imunisasi wajib bagi anak-anak. Program nasional imunisasi campak diberikan tiga kali, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan booster saat anak duduk di kelas 1 sekolah dasar.
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia menyebut pemerintah mengambil langkah tambahan melalui Outbreak Response Immunization (ORI). Program ini dilakukan pada daerah yang mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) atau memiliki tingkat kasus yang tinggi.
Lucia menyebut imunisasi campak bagi tenaga kesehatan dimungkinkan setelah adanya perluasan indikasi penggunaan vaksin untuk orang dewasa. Vaksin yang sebelumnya digunakan anak kini dapat diberikan kepada tenaga kesehatan guna memperkuat perlindungan tambahan.
“Kami mengapresiasi BPOM yang memberikan izin perluasan indikasi vaksin campak Bio Farma bagi orang dewasa. Langkah ini memungkinkan vaksinasi diberikan kepada tenaga kesehatan untuk memperkuat perlindungan dari penularan campak,” ucap Lucia.
Kasus Campak Mulai Menurun
Di tengah meningkatnya upaya vaksinasi, pemerintah memastikan ketersediaan vaksin campak dalam kondisi cukup untuk mendukung program imunisasi nasional. Lucia mengatakan saat ini stok vaksin MR yang digunakan dalam program pemerintah masih berada dalam batas aman.
“Saat ini ketersediaan vaksin MR yang digunakan untuk program pemerintah jumlahnya sekitar 9,8 juta dosis di seluruh Indonesia. Tingkat ketersediaannya jika diukur sekitar 5,5 bulan,” kata Lucia.
Selain itu, distribusi serta kualitas vaksin terus dipantau secara real-time melalui sistem digital milik pemerintah. “Kami terus memantau ketersediaan dan kualitas dari vaksin di tingkat provinsi hingga puskesmas,” ucapnya.
Sistem pemantauan digital memungkinkan pemerintah memonitor distribusi vaksin secara cepat hingga tingkat daerah di seluruh Indonesia. Langkah ini juga memastikan ketersediaan stok vaksin tetap terjaga dan mencegah terjadinya kekurangan pasokan.
Campak Disebut Penyakit Paling Menular
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan mencatat tren kasus campak di Indonesia mulai menunjukkan penurunan dalam beberapa minggu terakhir. Andi menyebut jumlah kasus yang sebelumnya tinggi pada awal tahun kini berangsur turun seiring meningkatnya upaya vaksinasi dan respon kesehatan masyarakat.
“Jika kita lihat pada minggu pertama jumlah kasus campak mencapai 2.220. Sementara, pada minggu ke-13 sudah turun menjadi 195 kasus,” kata Andi.
Ia mengatakan penurunan tersebut juga terlihat di sejumlah provinsi yang sebelumnya mencatatkan kasus tertinggi. Tren serupa juga terlihat di Sumatera Selatan, DKI Jakarta, serta Jawa Barat yang sebelumnya mencatatkan angka kasus cukup tinggi.
“Kita bisa melihat di Aceh pada minggu ke-13 sudah sangat sedikit kasusnya, lalu Sumatra Utara juga mengalami penurunan. Begitu juga Sumatra Barat yang sebelumnya tinggi di akhir 2025 dan awal 2026 kini sudah menurun,” ujar Andi menjelaskan.
Menurut Andi, penurunan kasus ini tidak terlepas dari peningkatan pelaksanaan Outbreak Response Immunization di berbagai daerah. “Ini menunjukkan respon daerah terhadap pengendalian campak semakin kuat,” katanya.
Pemerintah Ingatkan Bahaya Hoaks Vaksin
Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia. Menurutnya, tingkat penularan campak jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit menular lainnya, termasuk COVID-19.
“Campak itu adalah penyakit yang paling menular. Kalau dulu COVID-19 satu orang menulari dua atau tiga orang, campak satu orang bisa menulari hingga 18 orang,” kata Menkes Budi.
Meski demikian, ia menegaskan penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi yang efektif. Menkes mengingatkan bahwa campak bukan hanya menyebabkan demam dan ruam, tetapi juga dapat berujung pada komplikasi serius bahkan kematian.
“Untungnya sekarang sudah ada vaksinnya dan vaksinnya efektif. Jadi kalau divaksinasi, seharusnya tidak akan terkena penyakit campak lagi,” ujarnya.
Karena itu ia menegaskan imunisasi tetap menjadi langkah utama dalam pengendalian wabah. “Kalau ada outbreak, tindakan nomor satu adalah melakukan imunisasi,” kata Menkes menegaskan.
Dalam kesempatan yang sama, Menkes juga menyoroti maraknya informasi keliru mengenai vaksin yang beredar di media sosial dan aplikasi pesan instan. Ia menilai hoaks mengenai vaksin dapat menghambat upaya pengendalian penyakit menular.
“Sekarang banyak berita WhatsApp yang mengatakan jangan imunisasi atau jangan vaksinasi. Itu sangat berbahaya. Kita sudah melihat ada anak-anak yang meninggal hanya karena masyarakat diteror oleh berita-berita seperti itu,” ucap Menkes Budi.
Pemerintah mengimbau masyarakat memastikan anak memperoleh imunisasi campak lengkap sesuai jadwal guna mencegah penularan penyakit. Langkah ini penting untuk membentuk perlindungan menyeluruh terhadap campak di tengah masyarakat luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....