Insiden di Lebanon Selatan, Tragedi Menimpa Prajurit TNI Penjaga Perdamaian

  • 05 Apr 2026 13:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tiga prajurit TNI gugur dalam dua insiden berbeda di Lebanon selatan dalam waktu kurang dari 24 jam, saat menjalankan tugas pengawalan dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di tengah eskalasi konflik Israel–Hizbullah.
  • Meningkatnya intensitas konflik membuat wilayah operasi UNIFIL menjadi zona berbahaya, dengan serangan proyektil dan ledakan darat yang turut mengancam pasukan penjaga perdamaian yang tidak memiliki mandat tempur.
  • Indonesia mendesak PBB menjamin keselamatan pasukan dan mengevaluasi prosedur keamanan, disertai kecaman keras dari Prabowo Subianto serta instruksi Panglima TNI untuk memperketat perlindungan prajurit di lapangan.
Indonesia Tuntut Jaminan Keselamatan Pasukan Perdamaian ke PBB

MISI perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa yang seharusnya berada di garis netral justru berubah menjadi medan berbahaya. Dalam kurun kurang dari 24 jam, tiga prajurit TNI yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) gugur di Lebanon selatan.

Insiden ini menjadi salah satu tragedi paling serius yang menimpa kontingen Indonesia dalam misi penjaga perdamaian. Ketegangan di Lebanon selatan meningkat sejak pecahnya konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah pada awal Maret 2026.

Wilayah yang menjadi area operasi UNIFIL berubah menjadi zona aktif pertempuran, dengan serangan artileri, roket, hingga ledakan darat yang saling berbalasan. UNIFIL sendiri merupakan misi penjaga perdamaian PBB yang telah beroperasi sejak 1978 untuk menjaga stabilitas di perbatasan Lebanon–Israel.

Namun dalam konflik terbaru, posisi pasukan penjaga perdamaian kerap berada di antara dua pihak yang bertikai. Insiden bermula ketika sebuah proyektil meledak di sekitar posisi pasukan UNIFIL.

Ledakan tersebut menghantam area tempat prajurit Indonesia bertugas. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah menjelaskan berdasar laporan dari daerah penugasan.

"Insiden tersebut terjadi saat Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL tergabung dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR)," katanya dalam keterangan resmi yang diterima RRI, Selasa 31 Maret 2026. Ia menjelaskan bahwa prajurit TNI melaksanakan pengawalan konvoi Combat Support Service Unit (CSSU).

Pengawalan itu dalam rangka tugas memberikan dukungan dari Mako Sektor Timur UNIFIL United Nations Post (UNP) 7-2. Insiden itu juga mengakibatkan dua prajurit lainnya mengalami luka yaitu Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.

Keduanya telah dievakuasi dan dalam penanganan medis di Rumah Sakit St. George Beirut, Lebanon.

Desak Evaluasi Prosedur

Pemerintah Indonesia menuntut jaminan keamanan dan keselamatan bagi seluruh prajurit penjaga perdamaian ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menyusul peristiwa serangan yang menewaskan tiga prajurit TNI di Lebanon.

"Harus ada satu garansi keamanan bagi prajurit-prajurit penjaga perdamaian karena mereka menjaga perdamaian. They are peace keeping, not peace making," ucap Menteri Luar Negeri Sugiono di Tangerang, Sabtu 4 April 2026.

Ia menekankan bahwa ada perbedaan mendasar antara misi penjaga perdamaian atau peacekeeping dan misi pencipta perdamaian alias peacemaking. Menurutnya, serangan terhadap pasukan PBB adalah pelanggaran serius karena mereka bukan merupakan pihak yang terlibat dalam pertempuran.

Secara teknis dan mandat, para prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan upaya membuat perdamaian. Seluruh perlengkapan dan pelatihan yang diberikan kepada mereka difokuskan pada upaya menjaga situasi damai yang sudah ada.

"Mereka tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk membuat ataupun peace making. Ini perlengkapannya dan latihannya adalah untuk menjaga perdamaian," jelas dia.

Pemerintah Indonesia menilai situasi di Lebanon saat ini tidak seharusnya membahayakan keselamatan personel PBB. Sebab itu, jaminan keamanan fisik bagi prajurit menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar.

Prabowo Kecam Keras Aksi Keji Gugurkan Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan bahwa Indonesia mendesak agar PBB segera mengevaluasi secara menyeluruh terhadap prosedur keselamatan di lapangan. "Kita juga meminta kepada PBB untuk mengevaluasi lagi keselamatan prajurit penjaga perdamaian PBB ini di mana pun berada, khususnya di UNIFIL ini," ucapnya.

Sebelumnya, pemerintah telah meminta Dewan Keamanan PBB untuk menggelar rapat luar biasa. Hal ini dilakukan guna membahas serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian di Lebanon.

Langkah diplomasi proaktif ini diambil sebagai respons tegas atas gugurnya tiga prajurit TNI. Yaitu Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon.

Ia menegaskan bahwa Indonesia mengutuk keras segala bentuk serangan terhadap personel. Maupun fasilitas PBB dan menuntut dilakukannya investigasi menyeluruh atas insiden tersebut.

Panglima Perintahkan Prajurit TNI di Lebanon Masuk Bunker, Hentikan Aktivitas Luar

Presiden Prabowo Subianto mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya tiga prajurit TNI gugur. Diketahui prajurit tersebut menjalankan tugas sebagai pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon.

"Kami, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, mengecam keras setiap tindakan keji. Apalagi yang merusak perdamaian dan menyebabkan gugurnya para prajurit terbaik bangsa," ujar Prabowo dalam unggahan akun Instagram resmi (@prabowo), Sabtu 4 April 2026.

Ia menyatakan duka atas wafatnya prajurit terbaik bangsa dalam menjalankan misi mulia menjaga perdamaian dunia. Ia menegaskan penolakan terhadap setiap tindakan yang merusak perdamaian dan menghilangkan nyawa personel yang bertugas.

Ia juga menyampaikan bahwa negara akan hadir untuk menghormati jasa para prajurit. Khususnya dalam menjaga kehormatan mereka serta memastikan pengorbanan yang diberikan tidak dilupakan.

Selain itu, ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk melanjutkan semangat menjaga perdamaian. Dan tidak memberi ruang bagi upaya yang dapat memecah belah kebersamaan dan kerukunan.

"Mari kita lanjutkan semangat dan tekad untuk menjaga perdamaian. Serta tidak memberi ruang bagi siapa pun yang berusaha memecah belah kebersamaan dan kerukunan bangsa," ujarnya.

Mereka merupakan bagian dari pasukan perdamaian Indonesia yang bertugas di bawah bendera UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon). Tiga prajurit yang gugur tersebut telah menerima kenaikan pangkat luar biasa dari pemerintah sebagai bentuk tanda jasa.

Jenazah ketiga prajurit TNI itu juga mendapatkan penghormatan terakhir dari Presiden Prabowo Subianto dan dilakukan upacara penghormatan militer. Diketahui, Presiden Prabowo Subianto bertakziah dan memberi penghormatan terakhir kepada tiga prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian.

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto memerintahkan prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian di Lebanon untuk tetap berada di dalam bungker. Dan menghentikan seluruh aktivitas di luar markas.

Perintah tersebut disampaikannya saat melakukan videocall dengan Komandan Satuan Tugas Yonmek XXIII-S/UNIFIL di Lebanon, Jumat 3 April 2026. "Jaga moral prajurit yang ada di sana, masuk ke bunker-bunker dan tidak ada kegiatan yang lagi keluar," ujarnya.

Menanggapi arahan tersebut, Komandan Satgas menyatakan kesiapan jajarannya untuk melaksanakan perintah Panglima. Ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat prajurit di tengah situasi yang memanas.

Arahan tersebut disampaikan menyusul gugurnya tiga prajurit TNI saat menjalankan misi penjaga perdamaian di Lebanon. Ketiga prajurit tersebut adalah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur, dan Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon.

Jenazah ketiga prajurit dijadwalkan tiba di Indonesia pada Sabtu 4 April 2026. Setelah sebelumnya dilakukan upacara pelepasan di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Lebanon, Kamis 2 April 2026.

Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Force Commander United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa dan pengabdian para prajurit.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....