Mengungkap Fenomena El Nino 'Godzilla' Berpotensi Tingkatkan Stok Ikan Indonesia

  • 24 Mar 2026 15:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • El Nino 'Godzilla' saat ini mencari buah bibir di tengah masyarakat Indonesia
  • Fenomena El Nino 'Godzilla' ini, akan membuat lautan seperti teraduk
  • Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi kedatangan 'Godzilla' El Nino pada April 2026
  • Pranata Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya BMKG Nganjuk, Setiyaris menyoroti, pentingnya kewaspadaan terhadap musim kemarau 2026

FENOMENA El Nino 'Godzilla' saat ini menjadi buah bibir di tengah masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, El Nino 'Godzilla' digadang-gadang menjadi 'angin surga' bagi sektor kelautan di Indonesia.

Dengan memanfaatkan fenomena El Nino 'Godzilla' ini, pemerintah diyakini mampu meningkatkan stok ikan secara signifikan. Banyak pihak mendorong, pemerintah bergerak cepat agar potensi tersebut tidak terlewat begitu saja.

Pengamat Maritim dari Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Center (ISC), Mercellus Hangkeng Jayawibawa menjelaskan, fenomena ini memicu proses upwelling atau pengadukan air laut. Kondisi tersebut membuat nutrisi dari dasar laut naik ke permukaan dan memperkaya ekosistem perairan.

“Fenomena El Nino 'Godzilla' ini, akan membuat lautan seperti teraduk. Sehingga membuat ganggang-ganggang atau alga itu tumbuh dengan baik, dan alga-alga inilah yang akan dimakan oleh ikan,” kata Marcellus dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Senin 23 Maret 2026.

Melimpahnya nutrisi, menurutnya, berpotensi mendorong pertumbuhan alga yang menjadi sumber makanan ikan. Dampaknya, populasi ikan berpotensi meningkat dan memberikan keuntungan ekonomi bagi nelayan.

“Selain dari potensi kenaikan ikan, panas yang berlebih nantinya juga keuntungan bagi petani-petani garam tentunya. Petani-petani garam akan lebih banyak mengakses garam untuk dikonsumsi oleh masyarakat,” ujar Marcellus.

Namun, Mercellus menyoroti kesiapan pemerintah dalam mengelola lonjakan potensi tersebut, baik dari sisi produksi maupun distribusi. Program pemerintah seperti makan bergizi gratis (MBG), didorongnya dapat mulai mengarah pada konsumsi ikan.

Menurutnya, secara wilayah, perairan yang berpotensi mengalami peningkatan stok ikan meliputi wilayah Pasifik Ekuator ke atas, seperti Jepang dan Filipiana. Indonesia sendiri juga masuk dalam wilayah Ekuator.

“Jadi yang saya lihat itu daerah-daerah Laut Arafuru, lalu Laut Natuna. Kemudian juga lautan-lautan di sekitar Sulawesi itu akan melimpah ikannya,” ucap Marcellus.

Meski demikian, ia menilai, Indonesia masih belum maksimal memanfaatkan fenomena alam serupa di masa lalu. Kurangnya edukasi dan fokus sebagai negara maritim menjadi salah satu penyebab potensi tersebut belum tergarap optimal.

“Pemerintah sudah mulai melakukan pembuatan kampung-kampung nelayan yang memang terfokus untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki. Tapi perlu juga kecepatan dilakukan sehingga kampung-kampung nelayan ini tidak hanya satu waktu, tapi dimanfaatkan secara masif untuk diperlukan atau dibangun,” kata Marcellus.

Di sisi lain, nelayan diimbau tetap memperhatikan keselamatan dengan menghindari jalur pelayaran internasional. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan saat aktivitas penangkapan ikan meningkat.

Fenomena ini diperkirakan berlangsung mulai April hingga Oktober dan dampaknya bisa terasa hingga beberapa tahun ke depan. Karena itu, momentum ini dinilai krusial untuk memperkuat sektor kelautan sebagai penopang ketahanan pangan nasional.

BRIN Prediksi Kekeringan El Nino 'Godzilla'

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi kedatangan 'Godzilla' El Nino pada April 2026. Fenomena ini akan diperkuat Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Efeknya, bisa menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering hingga hujan makin jarang turun. Namun ada juga wilayah Indonesia yang dilanda hujan lebat.

Mengutip keterangan BRIN, Minggu 22 Maret 2026, El Nino mulai terjadi sejak April 2026 hingga Oktober 2026. Pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Sebaliknya wilayah Indonesia mengalami minim awan dan hujan.

Sementara itu, fenomena IOD Positif di Samudra Hinda diindikasikan dengan pendinginan suhu permukaan laut di dekat Sumatra dan Jawa. Sehingga menyebabkan wilayah di Indonesia akan mengalami pengurangan hujan yang signifikan.

Teruntuk kondisi dampak El Nino-IOD Positif, diprediksi BRIN pada April-Juli 2026. Data dari model prediksi musim yang dikembangkan BRIN ini, menunjukkan kemarau yang bersifat kering terjadi di Indonesia.

Sebagian besar di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur. Sebaliknya wilayah di Sulawesi dan Maluku, Halmahera, Maluku, sebagaian besar masih akan mengalami curah hujan tinggi.

BRIN pun menyebut mitigasi pemerintah diperlukan untuk:

• Dampak kekeringan di selatan Indonesia yang dapat mengancam lumbung padi nasional khususnya di Pantura Jawa

• Dampak banjir di wilayah timur Indonesia karena cuaca hujan tinggi selama kemarau (Sulawesi, Halmahera, Maluku)

• Dampak Karhutla di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan meskipun khususnya bagian utara kedua pulau ini tetap akan mengalami hujan yang tinggi

• Mengoptimalkan produksi garam untuk mencapai swasembada garam 2026-2027 khususnya di Selatan Indonesia

"Pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumpung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa. Selain itu dampak Karhutla di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi," kata Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin.

Namun di saat yang bersamaan, ia meminta, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan. "Di wilayah Sulawesi, Halmahera, Maluku atau dampaknya terhadap banjir dan longsor," ucap Erma.

BMKG Waspadai El Nino 'Godzilla'

Pranata Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya BMKG Nganjuk, Setiyaris menyoroti, pentingnya kewaspadaan terhadap musim kemarau 2026. Menurut Yaris, tahun 2026 diprediksi akan mengalami musim kemarau yang datang lebih cepat dan bersifat lebih kering.

Fenomena El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat diperkirakan akan melanda wilayah Indonesia pada pertengahan tahun tersebut.

Bahkan, beberapa peneliti mengistilahkan kemarau tahun 2026 sebagai 'Godzilla El Nino' karena intensitasnya yang sangat kuat.

"Mumpung bulan ini masih ada hujan, kita maksimalkan memanen hujan dengan mengisi embung, air resapan. Dan, sebagainya untuk menyongsong kemarau kering di tahun 2026," ujar Yaris.

Di satu sisi, Yaris menjelaskan, Hari Meteorologi Dunia (HMD) bukan merupakan hari ulang tahun BMKG. Melainkan, hari lahir Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

WMO adalah organisasi yang menaungi seluruh negara di dunia yang melaksanakan pengamatan cuaca, iklim, dan gempa bumi, dimana BMKG merupakan salah satu anggota WMO. Salah satu fungsi penting WMO adalah membuat regulasi tentang pengamatan cuaca, termasuk di bandar udara.

“Salah satu fungsinya WMO adalah membuat suatu regulasi tentang pengamatan cuaca, salah satunya di Bandar Udara. Jadi salah satu syarat untuk Bandar Udara itu bisa melaksanakan pelayanan take off landing pesawat itu harus memakai informasi cuaca itu,” ujar Yaris.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....