Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya bagi Ekonomi Dunia
- 16 Mar 2026 11:47 WIB
- Pusat Pemberitaan
SELAT Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan energi global. Jalur laut sempit tersebut terletak di antara Iran dan Oman dan sangat penting untuk distribusi minyak dunia.
Jalur tersebut menjadi pintu keluar utama minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional. Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan muncul ancaman penutupan selat tersebut, pasar energi dunia biasanya langsung bereaksi.
Para analis memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak global dan mengguncang stabilitas ekonomi internasional. Menurut data dari Badan Energi Internasional (IEA), sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 persen dari konsumsi minyak dunia, sehingga menjadikannya salah satu jalur energi paling strategis. Selain minyak mentah, sejumlah besar gas alam cair juga melewati jalur tersebut.
Ekspor Gas Alam Cair (LNG) dari Qatar, salah satu eksportir gas terbesar di dunia, sangat bergantung pada akses pelayaran melalui selat ini. Arus minyak melalui Selat Hormuz anjlok tajam hingga 86 persen dibandingkan rata-rata harian tahun 2026, dilansir dari Anadolu.
Pada Minggu, 1 Maret 2026, hanya tiga kapal tanker yang tercatat melintasi jalur strategis tersebut, jauh di bawah rata-rata normal. Sementara itu, lebih dari 700 kapal lainnya mengantre di kedua sisi selat.
Penurunan drastis ini terjadi setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu lonjakan risiko keamanan dan biaya asuransi pelayaran.
Ketergantungan Dunia pada Selat Hormuz
Negara-negara produsen minyak di Timur Tengah sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk mengirimkan energi ke pasar global. Minyak dari Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab sebagian besar dikirim melalui Selat Hormuz sebelum menuju pasar global.
Menurut laporan dari IEA, sekitar 84 persen minyak yang melewati Selat Hormuz dikirim ke pasar Asia. Negara-negara seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi tujuan utama ekspor energi dari kawasan Teluk Persia.
Ketergantungan yang tinggi tersebut membuat negara-negara Asia sangat sensitif terhadap setiap gangguan yang terjadi di jalur pelayaran tersebut. Bahkan rumor mengenai potensi konflik di kawasan Teluk dapat memicu lonjakan harga minyak di pasar global.
Apa yang Terjadi jika Selat Hormuz Ditutup?
Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup atau mengalami gangguan serius, dampak pertama yang dirasakan adalah gangguan pasokan energi global. Kapal tanker yang membawa minyak dari negara-negara Teluk tidak dapat keluar menuju pasar internasional.
Gangguan ini dapat menyebabkan jutaan barel minyak per hari tertahan di kawasan Teluk Persia. Situasi tersebut hampir pasti memicu lonjakan harga minyak di pasar global.
Lonjakan harga minyak biasanya segera memengaruhi berbagai sektor ekonomi. Harga bahan bakar meningkat, biaya transportasi naik, dan biaya produksi industri ikut terdorong.
Jika penutupan berlangsung lama, para analis memperkirakan harga minyak dapat melonjak tajam. Harga minyak bahkan berpotensi menembus 100 dolar (Rp1,7 juta) per barel.
Namun selain energi, jalur tersebut juga sangat penting bagi perdagangan pupuk global. Para petani di berbagai negara mulai bersiap menghadapi kemungkinan kekurangan sumber daya yang dapat menurunkan hasil panen.
Kawasan Teluk menyumbang sekitar 20 persen perdagangan global pupuk utama seperti amonia, fosfat, dan sulfur. Hampir setengah perdagangan urea, pupuk nitrogen dalam pertanian dunia berasal dari kawasan Teluk, dilansir dari Deutsche Welle.
Dampak perang Iran berpotensi menjadi ancaman besar ketiga bagi ketahanan pangan global dalam enam tahun terakhir. Sejak konflik terbaru dimulai, harga pupuk meningkat antara 10 persen hingga 30 persen.
Menurut Badan Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), sekitar 1,33 juta ton pupuk melewati Selat Hormuz setiap bulan. Penutupan jalur tersebut selama 30 hari saja bisa memicu kekurangan pupuk.
Tanaman seperti jagung, gandum, dan padi yang membutuhkan nitrogen tinggi berisiko mengalami penurunan hasil panen. Peneliti Lembaga Penelitian Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI), Joseph Glauber, mengatakan harga pupuk tinggi dapat mengubah pilihan tanaman para petani.
Glauber mengatakan bahwa para petani mungkin beralih ke tanaman yang membutuhkan pupuk lebih sedikit. Di negara miskin, sebagian petani bahkan mungkin mengurangi penggunaan pupuk secara keseluruhan.
Gangguan di Selat Hormuz juga memicu lonjakan harga energi global, yang menyumbang hampir setengah dari total biaya produksi pangan. Harga bahan bakar yang lebih tinggi memengaruhi biaya mesin pertanian, transportasi hasil panen, hingga proses pengolahan makanan.
Kenaikan biaya tersebut akhirnya berdampak pada harga pangan di pasar. Negara-negara yang bergantung pada impor pupuk dan energi akan paling merasakan dampaknya.
Selain itu, negara-negara Teluk yang mengimpor hingga 90 persen kebutuhan pangan juga menghadapi risiko serius. Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz dapat menguras cadangan pangan mereka dalam beberapa bulan.
Efek Domino terhadap Ekonomi Global
Kenaikan harga energi dapat memicu inflasi di berbagai negara. Ketika biaya transportasi dan produksi meningkat, harga barang konsumsi biasanya ikut naik.
Lonjakan harga minyak juga dapat memperbesar biaya operasional bagi banyak industri, mulai dari sektor manufaktur hingga pertanian. Kondisi ini membuat perusahaan terpaksa menaikkan harga produk untuk menutup peningkatan biaya produksi.
Menurut analisis dari Dana Moneter Internasional (IMF), lonjakan harga energi sering kali berdampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi global. Hal tersebut karena energi merupakan komponen penting dalam hampir semua sektor industri.
Selain itu, gangguan di Selat Hormuz juga dapat memengaruhi rantai pasokan global. Perusahaan pelayaran menghadapi risiko keamanan yang lebih tinggi, sementara biaya asuransi kapal tanker biasanya meningkat tajam ketika konflik terjadi di kawasan tersebut.
Kondisi tersebut dapat memperlambat arus perdagangan internasional karena perusahaan logistik harus menyesuaikan rute pelayaran atau menghadapi biaya operasional lebih tinggi. Dalam jangka panjang, gangguan ini dapat memicu ketidakpastian di pasar komoditas global.
Laporan Bank Dunia menyebutkan, negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi berpotensi menghadapi tekanan besar pada neraca perdagangan mereka. Tekanan tersebut dapat meningkat ketika harga minyak dunia melonjak dan biaya impor energi menjadi jauh lebih mahal.
Negara-Negara yang akan Terdampak
Melansir dari CNBC, analis menilai sejumlah negara Asia sangat rentan terhadap lonjakan harga energi akibat situasi ini. Menurut data IEA, sekitar 80 persen lebih ekspor minyak Teluk Persia yang melewati Selat Hormuz dikirim ke pasar Asia.
Jika jalur tersebut terganggu, negara-negara Asia berpotensi menghadapi lonjakan harga energi yang signifikan. Kondisi ini dapat memicu inflasi, meningkatkan biaya produksi industri, serta menekan pertumbuhan ekonomi.
Hal tersebut karena sektor transportasi dan manufaktur sangat bergantung pada pasokan energi yang stabil. Negara-negara seperti Thailand, India, Korea Selatan, dan Filipina diperkirakan akan merasakan dampak signifikan karena ketergantungan besar pada impor minyak.
Sebaliknya, Malaysia berpotensi memperoleh keuntungan relatif karena merupakan pengekspor energi. Di Asia Selatan, gangguan pasokan diperkirakan paling terasa, terutama terkait LNG.
Pakistan dan Bangladesh sangat bergantung pada impor LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Kedua negara tersebut memiliki kapasitas penyimpanan energi yang terbatas sehingga sangat rentan jika pasokan terganggu.
Bangladesh bahkan sudah menghadapi kekurangan pasokan gas domestik yang cukup besar. Sementara itu, India menghadapi risiko ganda akibat lonjakan harga minyak dan LNG, karena lebih dari separuh impor energinya terkait kawasan Teluk.
Sekitar 60 persen impor minyak India juga berasal dari Timur Tengah. Blokade yang berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan negara tersebut.
Tiongkok juga memiliki ketergantungan besar pada jalur energi Hormuz, tetapi dinilai memiliki penyangga berupa cadangan energi yang cukup besar. Meski demikian, gangguan jangka panjang tetap dapat memicu persaingan pasokan energi yang lebih ketat di pasar Asia.
Di sisi lain, Jepang dan Korea Selatan sangat bergantung pada minyak dari Timur Tengah. Persediaan LNG kedua negara tersebut hanya cukup untuk beberapa minggu jika terjadi gangguan berkepanjangan.
Secara keseluruhan, negara-negara Asia Tenggara kemungkinan tidak langsung mengalami kekurangan pasokan energi, tetapi lebih merasakan dampak kenaikan harga. Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan inflasi serta memperburuk neraca perdagangan banyak negara di kawasan tersebut.
Di Eropa, dampak yang dirasakan mungkin tidak sebesar di Asia, tetapi tetap signifikan. Beberapa negara Eropa mengandalkan pasokan gas alam cair dari Qatar, yang merupakan salah satu eksportir LNG terbesar di dunia.
Sebagian besar ekspor LNG Qatar juga melewati Selat Hormuz sebelum menuju pasar internasional. Jika jalur ini terganggu, pasokan gas ke sejumlah negara Eropa dapat terhambat dan berpotensi memicu ketidakstabilan di pasar energi global.
Sementara itu, negara-negara Teluk sendiri justru termasuk pihak yang paling terdampak secara langsung jika Selat Hormuz ditutup. Negara seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar sangat bergantung pada jalur ini untuk mengekspor minyak dan gas ke pasar global.
Menurut data Administrasi Informasi Energi AS, sebagian besar ekspor minyak negara-negara tersebut harus melewati Selat Hormuz sebelum mencapai pasar internasional. Jika jalur ini tertutup, jutaan barel minyak per hari berpotensi tidak dapat dikirim ke luar kawasan.
Gangguan tersebut dapat menyebabkan penurunan pendapatan ekspor bagi negara-negara produsen energi di Teluk. Gangguan ekspor dalam waktu lama dapat berdampak pada stabilitas fiskal dan ekonomi domestik mereka.
Upaya Dunia Menghindari Krisis Energi
IEA memerintahkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarahnya untuk menstabilkan harga minyak global. Langkah ini diambil setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu gejolak di pasar energi dunia.
Sebanyak 32 negara anggota IEA sepakat secara bulat untuk melepas sekitar 400 juta barel minyak mentah darurat. Jumlah tersebut setara dengan sekitar sepertiga dari total cadangan pemerintah yang dimiliki negara-negara anggota.
Melansir dari The Guardian, pelepasan ini dua kali lipat lebih dibandingkan pelepasan terbesar IEA sebelumnya. Pada 2022, IEA pernah melepas 182 juta barel minyak setelah invasi besar Rusia ke Ukraina.
“Pasar minyak bersifat global, sehingga respons terhadap gangguan besar juga harus bersifat global. Keamanan energi adalah mandat utama IEA, dan saya senang bahwa anggota IEA menunjukkan solidaritas yang kuat dengan mengambil tindakan tegas secara bersama,” ujar Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol.
IEA menyatakan minyak darurat tersebut akan disalurkan ke pasar global. Pasar saat ini kehilangan sekitar 15 juta barel per hari akibat terganggunya perdagangan melalui Selat Hormuz.
Pelepasan cadangan akan dilakukan sesuai kondisi nasional masing-masing negara anggota. Beberapa negara juga akan menambah langkah darurat tambahan untuk mendukung kebijakan tersebut.
Inggris berencana melepas sekitar 13,5 juta barel dari cadangan daruratnya. Sementara itu, Perdana Menteri Jepang mengatakan akan melepas sekitar 80 juta barel dari cadangan minyak nasional dan swasta.
Korea Selatan juga akan melepas sekitar 22,46 juta barel minyak, sementara Jerman menyatakan akan menyumbang sekitar 19,51 juta barel dari cadangannya. Pelepasan tersebut akan dimulai pada 18 Maret untuk membantu menenangkan pasar minyak global.