Fenomena ‘Krisis Ojol’ di Bulan Ramadan

  • 14 Mar 2026 15:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

SELAMA Ramadan, keluhan sulit mendapatkan ojek online mulai ramai disuarakan para pengguna aplikasi transportasi daring. Banyak penumpang mengaku harus menunggu lebih lama dari biasanya untuk mendapatkan driver.

Fenomena ini paling sering terjadi pada sore hari saat rush hour dan menjelang waktu berbuka puasa. Pada jam tersebut, aktivitas masyarakat meningkat tajam seiring waktu pulang kerja dan persiapan berbuka.

Di media sosial, berbagai pengalaman serupa juga dibagikan pengguna. Sebagian mengaku harus memesan berkali-kali sebelum akhirnya mendapatkan pengemudi yang menerima pesanan.

Tidak sedikit pula yang menyebut waktu tunggu menjadi jauh lebih lama dibanding hari biasa. Situasi ini kemudian memunculkan istilah ‘krisis ojol’ di kalangan warganet untuk menggambarkan sulitnya menemukan driver pada waktu tertentu selama Ramadan.

Perubahan pola aktivitas masyarakat selama bulan puasa turut memengaruhi layanan transportasi online. Permintaan perjalanan dan layanan pesan antar makanan sering terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan.

Kondisi tersebut membuat sistem aplikasi harus memproses pesanan dalam jumlah besar pada waktu yang relatif singkat. Akibatnya, proses pencarian driver bagi setiap penumpang menjadi lebih lama.

Fenomena ini terutama terasa di kota-kota besar dengan mobilitas tinggi. Ketika banyak orang bergerak pada waktu yang sama, ketersediaan driver di aplikasi menjadi lebih terbatas dibandingkan permintaan.

Meski demikian, layanan ojek online tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk mobilitas sehari-hari. Kemudahan pemesanan melalui aplikasi membuat layanan ini tetap banyak digunakan, termasuk selama Ramadan.

Situasi inilah yang kemudian memunculkan fenomena baru dalam layanan transportasi daring selama bulan puasa. Pada waktu-waktu tertentu, penumpang harus lebih bersabar menunggu driver datang dibandingkan hari biasa.

Kisah Penumpang Menunggu Driver Berjam-jam

Bagi sebagian pengguna ojek online, pengalaman memesan layanan transportasi selama Ramadan terasa berbeda dari biasanya. Tidak sedikit penumpang yang mengaku harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan driver.

Situasi ini paling sering terjadi pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa. Pada jam tersebut, banyak orang mulai pulang kerja sekaligus memesan makanan untuk berbuka.

Akibatnya, permintaan layanan ojek online meningkat dalam waktu yang hampir bersamaan. Kondisi ini membuat penumpang harus bersabar menunggu hingga ada driver yang menerima pesanan.

Beberapa pengguna bahkan mengaku harus memesan berkali-kali sebelum akhirnya mendapatkan pengemudi. Dalam beberapa kasus, waktu tunggu bisa mencapai puluhan menit hingga hampir satu jam.

Feby (25), salah satu pengguna ojek online, mengaku mengalami kesulitan mendapatkan driver selama Ramadan, terutama saat pulang kerja. Ia mengatakan kondisi tersebut sering terjadi pada sore hari menjelang berbuka puasa.

“Kalau pakai layanan standar mungkin bisa sekitar 10 menit lebih baru dapat. Bahkan kalau pakai yang hemat udah nggak bisa, sering banget tidak ada yang ambil sama sekali,” ujarnya kepada RRI, Sabtu 14 Maret 2026.

Selain itu, ia juga kerap mendapatkan driver dengan jarak penjemputan yang cukup jauh. “Bahkan kadang harus berkali-kali untuk dapatkan ojol yang bener-bener deket, jadi kadang saya cancel,” katanya.

Pengalaman serupa juga dialami Novia (26). Ia mengatakan kesulitan mendapatkan driver hampir selalu terjadi ketika memesan ojek online pada sekitar pukul 17.00 WIB.

“Kalau pesan jam lima sore hampir selalu susah dapat driver. Sekalinya dapat biasanya jaraknya jauh, jadi harus nunggu sekitar 10 menit atau malah di cancel sama drivernya,” katanya kepada RRI, Jumat 13 Maret 2026.

Novia mengatakan kondisi tersebut tetap terjadi meski ia menggunakan layanan standar. “Ini juga berlaku buat mobil, karena pernah juga kena cancel terus pas pesan layanan mobil,” ujarnya.

Tidak sedikit pula penumpang yang akhirnya memilih alternatif lain. Sebagian memilih menggunakan transportasi umum, sementara yang lain memutuskan menunda perjalanan hingga kondisi layanan kembali normal.

Pengalaman tersebut menunjukkan adanya perubahan pola layanan transportasi daring selama Ramadan. Ketika permintaan meningkat pada waktu tertentu, penumpang harus menghadapi waktu tunggu yang lebih lama dibandingkan hari biasa.

Suara dari Driver Ojol di Lapangan

Di sisi lain, para driver ojek online juga merasakan perubahan pola order selama Ramadan. Banyak pengemudi menyebut pesanan meningkat pada waktu tertentu, terutama menjelang berbuka puasa.

Pada jam-jam tersebut, order sering datang hampir bersamaan dari berbagai lokasi. Namun jumlah driver yang aktif justru berkurang karena sebagian pengemudi memilih berhenti sementara dari aplikasi.

Eky (40), salah satu driver ojek online, mengatakan kondisi tersebut cukup sering terjadi menjelang waktu berbuka. Ia menyebut banyak pengemudi yang memilih offbid untuk beristirahat atau menyiapkan waktu berbuka puasa.

“Iya, biasanya kalau sore menjelang berbuka banyak driver yang offbid dulu karena mau buka puasa. Nanti biasanya mulai normal lagi di atas jam delapan malam,” kata Eky kepada RRI, Rabu 11 Maret 2026.

Situasi ini membuat pesanan yang masuk harus dibagi kepada driver yang masih aktif di aplikasi. Akibatnya, pengemudi yang tersedia sering menerima order dari lokasi yang cukup jauh.

Pahlawan (48), driver ojek online lainnya, mengatakan kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh kemacetan yang kerap terjadi menjelang waktu berbuka. Menurutnya, situasi lalu lintas pada jam tersebut membuat sebagian driver memilih tidak menarik order.

“Biasanya sebelum magrib banyak driver yang offbid atau tidak narik. Selain ingin berbuka di rumah, kondisi jalan juga macet sekali pada jam segitu,” ujar Pahlawan kepada RRI, Jumat 13 Maret 2026.

Ia menjelaskan ketika jumlah driver yang aktif berkurang, pesanan yang masuk menjadi tidak seimbang dengan pengemudi yang tersedia. Akibatnya sistem aplikasi sering memberikan order kepada driver yang lokasinya cukup jauh dari penumpang.

Menurutnya, jarak penjemputan yang muncul di aplikasi terkadang bisa mencapai lebih dari lima kilometer. Kondisi tersebut membuat sebagian driver memilih membatalkan pesanan karena dianggap memakan waktu dan bensin.

Situasi di lapangan menunjukkan bahwa lonjakan permintaan selama Ramadan juga diikuti dengan berbagai tantangan operasional. Kemacetan dan tingginya jumlah pesanan membuat layanan ojek online harus menyesuaikan ritme kerja di tengah mobilitas yang meningkat.

Sejumlah Faktor yang Memengaruhi Sulitnya Mendapat Driver

Sulitnya mendapatkan driver ojek online selama Ramadan tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Ada beberapa kondisi yang terjadi secara bersamaan sehingga memengaruhi ketersediaan layanan di aplikasi.

Lonjakan permintaan pada waktu tertentu menjadi faktor utama yang paling terasa. Ketika banyak orang memesan layanan dalam waktu yang sama, sistem aplikasi harus memproses pesanan dalam jumlah besar sekaligus.

Situasi ini paling terlihat pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa. Pada waktu tersebut, mobilitas masyarakat meningkat karena banyak orang pulang kerja sekaligus memesan makanan untuk berbuka.

Selain itu, kondisi lalu lintas yang lebih padat menjelang berbuka puasa juga memengaruhi pergerakan driver. Kemacetan membuat perjalanan menjadi lebih lama sehingga pengemudi membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan satu order.

Di sisi lain, sebagian driver juga memilih berhenti sementara dari aplikasi pada waktu tersebut. Beberapa pengemudi memutuskan untuk offbid karena ingin berbuka puasa atau menghindari kondisi jalan yang macet.

Ketika jumlah driver yang aktif berkurang, pesanan yang masuk menjadi tidak seimbang dengan pengemudi yang tersedia. Akibatnya sistem aplikasi sering memberikan order kepada driver yang lokasinya cukup jauh dari penumpang.

Kondisi ini membuat jarak penjemputan menjadi lebih panjang dibandingkan biasanya. Dalam beberapa kasus, jarak driver ke lokasi penumpang bahkan bisa mencapai lebih dari lima kilometer.

Jarak penjemputan yang terlalu jauh juga membuat sebagian driver memilih membatalkan pesanan. Hal tersebut dilakukan karena perjalanan dinilai memakan waktu lebih lama serta membutuhkan biaya bahan bakar tambahan.

Faktor cuaca juga turut memengaruhi aktivitas pengemudi di lapangan. Hujan membuat sebagian driver memilih berhenti sementara dari aplikasi karena kondisi kerja menjadi lebih sulit.

Kombinasi berbagai faktor tersebut akhirnya memunculkan fenomena sulitnya mendapatkan ojek online pada jam-jam tertentu selama Ramadan. Terutama pada sore hari ketika mobilitas masyarakat sedang berada pada titik tertinggi.

Aplikator Buka Suara, Tanggapan dari Grab dan Gojek

Menanggapi keluhan masyarakat yang kesulitan mendapatkan driver ojek online selama Ramadan, perusahaan aplikasi transportasi daring akhirnya memberikan penjelasan. Grab dan Gojek menyebut fenomena tersebut berkaitan dengan peningkatan permintaan layanan pada periode tertentu.

Head of Driver Operations Gojek, Bambang Adi Wirawan, mengatakan terdapat perubahan pola pemesanan selama akhir Ramadan. Lonjakan permintaan disebut mulai terjadi lebih awal dibandingkan hari biasa.

"Kami mendapati adanya perubahan pola pemesanan pada jam-jam sibuk, khususnya di area bisnis di pusat Jakarta. Jam sibuk dimulai lebih awal dibanding hari-hari lainnya di luar bulan Ramadan, yakni sejak pukul 15.30, hingga puncaknya pada 16.00-18.00 WIB," kata Bambang, kepada wartawan, Kamis 12 Maret 2026.

Menurut Bambang, lonjakan permintaan tersebut juga dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah mitra pengemudi di lapangan. Sebagian driver disebut sudah mulai pulang kampung menjelang Hari Raya Idulfitri.

"Cuaca hujan yang menyebabkan genangan di beberapa titik serta berakibat pada kepadatan lalu lintas turut memengaruhi ketersediaan mitra driver. Dengan demikian, orderan pelanggan di periode ini sering kali membutuhkan waktu tambahan agar dapat diterima oleh mitra," katanya.

Gojek pun mengimbau pengguna untuk memperhitungkan waktu perjalanan selama periode tersebut. Hal ini agar proses pemesanan dapat dilakukan dengan lebih terencana.

Sementara itu, Grab Indonesia juga mengakui adanya keluhan dari pengguna terkait waktu tunggu layanan yang lebih lama. Kondisi tersebut terutama dirasakan di wilayah Jakarta dan sekitarnya dalam beberapa waktu terakhir.

Director of Mobility, Food, & Logistics Grab Indonesia, Tyas Widyastuti, mengatakan layanan Grab secara umum tetap beroperasi seperti biasa. Namun pada waktu dan area tertentu pengguna dapat mengalami waktu tunggu yang lebih lama.

"Hal ini terjadi karena dalam beberapa waktu terakhir permintaan layanan mobilitas maupun pengantaran.Termasuk GrabExpress, GrabFood, dan layanan lainnya, mengalami peningkatan yang cukup tinggi,” ujar Tyas, kepada wartawan Rabu 11 Maret 2026.

“Pada saat yang sama, ketersediaan mitra pengemudi juga turut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kondisi cuaca hujan ekstrem yang sempat menyebabkan banjir. Serta kepadatan lalu lintas yang lebih tinggi dari biasanya," katanya.

Tyas menambahkan tim operasional Grab saat ini terus melakukan berbagai langkah penyesuaian. Langkah tersebut dilakukan untuk menyeimbangkan antara tingginya permintaan pengguna dan ketersediaan mitra pengemudi di lapangan.

Ia menyebut penyesuaian operasional dilakukan terutama di wilayah dengan permintaan layanan yang tinggi. Upaya ini diharapkan dapat menjaga kualitas layanan bagi para pengguna.

Rekomendasi Berita