Lobi Ciamik Presiden, Wujudkan Tarif Baru Saling Menguntungkan RI-AS

  • 22 Feb 2026 20:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

INDONESIA berhasil mencapai kesepakatan bersama dalam meningkatkan ekonomi nasional, melalui perjanjian tarif perdagangan bersama Amerika Serikat (AS). Hal itu diungkapkan Sekertaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya, melalui akun Instagram Sekretariat Kabinet (Setkab) @sekertariat.kabinet.

Ia menyebut bahwa kesepakatan dalam sektor ekonomi ini, merupakan hasil konkret diplomasi Presiden Prabowo Subianto. Dimana puncak diplomasi melalui berbagai perundingan dan pertemuan digelar Kepala Negara, saat berkunjung ke Washington D.C pada 17-21 Februari 2026.

Kesepakatan itu ditandatangani langsung oleh Presiden Prabowo dengan Presiden AS, Donald Trump, baru-baru ini. Bahkan tidak hanya bagi sektor ekonomi, kesepakatan ini juga akan memperkuat sektor energi nasional.

"Diplomasi yang dilakukan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Washington D.C., Amerika Serikat, membuahkan hasil konkret bagi perekonomian dan kedaulatan energi kita," kata Seskab Teddy dalam keterangannya @sekertariat.kabinet, dikutip Minggu 22 Februari 2026.

Seperti dijelaskan Seskab dalam sektor ekonomi perdagangan, Indonesia berhasil menekan angka tarif yang dikenakan AS. Dari hasil pertemuan bilateral, tarif dagang resiprokal Indonesia turun sekitar 50 persen dari tarif yang ditetapkan sebelumnya.

Selain itu diungkapkannya, bahwa diplomasi Presiden Prabowo juga menyepakati kesepakatan di dalam sektor pertanian dan industri. Seskab menuturkan bahwa Indonesia mendapatkan fasilitas tarif nol persen, bagi 1.819 produk unggulan di pertanian dan industri strategis.

"Tarif perdagangan berhasil diturunkan hampir 50 persen, dari 32 persen menjadi 19 persen. Kemudian yang kedua, ada tarif nol persen untuk 1.819 produk unggulan, khususnya di bidang pertanian dan industri, kopi, kakao, minyak kelapa sawit, kemudian semikonduktor," ujarnya.

Ribuan Produk Unggulan Tarif 0 Persen

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menuturkan, Agreement on Reciprocal Tariff (ART) akan memberikan keuntungan bagi Indonesia-AS. Airlangga mengungkapkan bahwa untuk Indonesia, ART ini akan membuka peluang ekspor 1.819 produk komoditas unggulan.

Seperti diantaranya dirincikan Airlangga, yakni produk kopi, kakao, karet, minyak sawit, rempah-rempah. Selain itu terdapat pula produk komponen elektronik dan semikonduktor, komponen pesawat terbang yang mendapatkan tarif nol persen.

Selain itu kesepakatan perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat juga menyasar pada produk tekstil dan apparel Indonesia. Hal ini dijelaskannya, bahwa produk tersebut dapat masuk ke AS dengan tarif nol persen menggunakan mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ).

"Baik itu pertanian maupun industri, antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik, termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, tarifnya adalah nol persen. Khusus untuk produk tekstil dan apparel Indonesia, Amerika juga akan memberikan tarif nol persen dengan mekanisme TRQ," ujarnya.

Bermanfaat untuk 4 Juta Pekerja

Lebih lanjut Menko Airlangga mengungkapkan bahwa dengan kebijakan kesepakatan perjanjian perdagangan ini, akan memberikan keuntungan bagi Indonesia-AS. Sebab dengan tarif rendah tersebut, membuat produk-produk Indonesia semakin kompetitif dan berdaya saing.

Hal itu juga akan meningkatkan kapasitas produksi sejumlah produk komoditas unggulan Indonesia. Selain itu juga akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja di sejumlah sektor tersebut.

"Hal ini tentunya memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini. Dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini akan sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia," ucapnya.K

Kesepakatan Perjanjian di Sektor Energi

Sementara itu dalam sektor energi dan mineral, Indonesia dan Amerika Serikat telah menyepakati sejumlah bentuk kerja sama strategis. Seperti salah satunya dijelaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yakni terkait kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Bahlil mengatakan pembelian BBM dari Negeri Paman Sam ini merupakan upaya untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan dalam negeri. Dalam kesepakatan ini Bahlil menyebut ahwa Indonesia akan membeli BBM dengan nilai mencapai USD15 Miliar.

Pembelian BBM tersebut diungkapkan Menteri SDM, akan mencakupi BBM jadi, LPG dan BBM mentah. Meski demikian ia memastikan bahwa pembelian BBM dari AS ini, tidak serta merta menambah total volume kuota pembelian.

"Untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan kita, maka kita dari sektor ESDM akan membelanjakan kurang lebih sekitar 15 miliar USD. Secara keseluruhan, pembelian BBM kita dari luar negeri tetap sama, hanya saja sumbernya kita geser," ujar Bahlil.

Kesepakatan Pengelolaan Mineral Kritikal

Selain itu Menteri ESDM menuturkan, bahwa dalam kesepakatan perjanjian perdagangan Indonesia-AS, juga membahas mengenai pengelolaan sumber daya alam (SDA). Bahlil menyebut bahwa perjanjian itu memuat poin dalam peluang pengusaha AS melakukan investasi pengelolaan mineral kritikal dan pertambangan Indonesia.

Dalam menyikapi hal tersebut, Bahlil menyebut bahwa Presiden Prabowo menginstruksikan untuk pemberian prioritas bagi pengusaha AS. Prioritas itu dikatakannya, melingkupi fasilitas pembangunan smelter dan berbagai kemudahan pengelolaan dan investasi.

"Untuk mineral kritikal seperti nikel, logam tanah jarang, dan mineral lainnya. Kami telah bersepakat untuk memfasilitasi perusahaan-perusahaan dari Amerika Serikat untuk melakukan investasi," kata Bahlil.

Meski demikian Menteri ESDM menuturkan bahwa hal itu tidak serta merta memberikan keleluasaan kegiatan ekspor mineral kritikal. Ia menjelaskan bahwa perusahaan pengelolaan milik AS hanya akan melakukan pemurnian mineral kritis di Indonesia.

"Jangan diartikan bahwa kita akan membuka ekspor barang mentah, nggak. Yang dimaksudkan disini adalah, mereka setelah melakukan pemurnian, kemudian hasilnya bisa di ekspor," ujarnya.

Kendati demikian Menteri ESDM menegaskan bahwa dalam proses pelaksanaannya, para pengusaha asal Amerika Serikat haru mematuhi ketentuan aturan yang berlaku di Indonesia. Hal ini diharapkannya dapat menjaga hubungan baik kemitraaan strategis Indonesia-AS dalam sektor pengelolaan mineral kritikal pertambangan.

"Tetap menghormati aturan yang berlaku di negara kita. Karena kita juga harus membangun, menjaga hubungan yang sudah sangat baik ini," ucapnya.

Indonesia di Tengah Kebijakan Tarif Berubah-ubah

Meski demikian dalam perjalanan kebijakan tarif yang dicanangkan Presiden Donald Trump, ditangguhkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat. Kendati putusan Supreme Court itu dikeluarkan otoritas terkait setempat, namun Indonesia optimis bahwa kesepakatan tetap dapat berproses.

Menko Perekonomian menuturkan, perjanjian tersebut memerintahkan bersama kesepakatan kedua negara dapat berjalan dalam periode 60 hari setelah ditandatangani. Ia menilai bahwa dalam pelaksanaan kesepakatan kerja sama ini, Indonesia maupun AS akan berkonsultasi dengan masing-masing institusi terkait.

"Bagi Indonesia yang sudah menandatangani perjanjian, ini namanya perjanjian antar dua negara, ini masih tetap berproses. Karena ini diminta dalam perjanjian adalah untuk berlakunya dalam periode 60 hari sesudah ditandatangani, dan masing-masing pihak berkonsultasi dengan institusi yang diperlukan," ujar Menko Perekonomian.

Disisi lain, Presiden Prabowo Subianto juga turut angkat bicara terkait dengan putusan Supreme Court Amerika Serikat. Menyikapi hal ini, Presiden menegaskan bahwa Indonesia menghormati putusan yang menjadi bagian dari dinamika politik dalam negeri AS.

"Kita siap menghadapi semua kemungkinan. Kita hormati politik dalam negeri Amerika Serikat, kita lihat perkembangannya," ucap Presiden Prabowo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....