Mengangkat Derajat Masyarakat Desa lewat Program MBG

  • 16 Feb 2026 18:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KRISTINA Lende, sibuk mencuci piring wadah makanan Program Makan Bergizi gratis (MBG) kendati waktu sudah berganti malam. Kristina merupakan salah seorang pekerja yang bertugas mencuci ompreng atau piring di dapur umum MBG Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Watu Kawula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Rasa lelah terlihat dengan jelas dari ibu dari tiga anak tersebut karena bekerja dari pagi pukul 08.00 WITA hingga pukul 20.00 WITA atau sesuai selesainya pekerjaan tersebut. Kristina mengakui lelah namun ia tetap bersyukur karena memiliki pekerjaan tetap dan ini harus ia dan keluarga syukuri.

“Ya capek juga, tapi namanya kita cari uang, ya harus berjuang kan. Daripada duduk-duduk di rumah, melamun bikin sakit badan,”kata Kristina, Sabtu, 16 Februari 2026.

Kristina tidak malu, dan gengsi namun tetap bersyukur menjadi pencuci piring di dapur MBG bersama ibu-ibu lainnya. Bagi, Kristina, program MBG penyelamat ekonomi keluarga, dan mengangkat derajat sosial keluarganya di masyarakat.

Kristina bercerita, sebelum bekerja di MBG, ia kesulitan untuk membeli beras karena penghasilan suami hanya Rp50.000 per hari. Nominal tersebut tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan keperluan sekolah anak-anaknya.

Menurut Kristina, seharusnya keluarganya masuk kategori desil satu yakni rumah tangga sangat miskin atau paling bawah secara ekonomi. Anehnya, lanjut Kristina, keluarganya masuk desil lima atau keluarga pas-pasan secara ekonomi sehingga keluarganya tidak pernah mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah.

Kristina menyebut kondisi tersebut tidak adil dan pemberian bantuan yang tidak tepat sasaran. Menurut amatannya, banyak tetangganya yang secara ekonomi mapan namun mendapat bantuan karena masuk desil 1.

“Sebelum saya kerja di MBG, saya mau beli beras 1 kilo pun, saya susah sekali. Hanya mengandalkan penghasilan suami yang bekerja di perusahaan telasi dengan upah sekitar Rp50 ribu per hari,”ujarnya.

“Anehnya waktu pendataan saya dikasih masuk desil lima. Terus rumah yang mewah-mewah di tetangganya saya, yang punya mobil ini, yang dikasih masuk desil satu,”ungkapnya.


Kristina, menikmati hasil jerih payah bekerja di dapur MBG, bekerja siang dan malam dengan tekun demi keluarga. Kristina mampu membeli kebutuhan pangan lengkap dengan lauk pauk, beli peralatan sekolah dan hebatnya, ia mampu membeli sepeda motor.

Selama ini, bagi keluarga Kristina, sepeda motor adalah kendaraan mewah yang tidak akan mungkin dibelinya. Kini Kristina memanfaatkan sepeda motor untuk aktivitas sehari-hari termasuk aktivitas ekonomi dan antar jemput anaknya ke sekolah.

Kristina memiliki tiga orang anak, yakni sulung duduk di bangku SMP dan lainnya tingkat SD. Selama ini, anak-anaknya harus bangun lebih awal dan berjalan kaki untuk menuju sekolah dengan jarak yang tidak dekat.

“Selama saya kerja di MBG, saya sudah pernah beli motor pada tanggal 8 Februari 2026, itu dari hasil kerja saya dari MBG. Semenjak saya kerja di MBG, saya sudah bisa beli beras 20 kilo, bahkan 50 kilo pun sudah bisa saya beli,”ujarnya bahagia.

Kristina menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas program MBG yang dinilai dampaknya dirasakan masyarakat luas. Manfaat MBG, tidak hanya dirasakan puluhan jiwa penerima manfaat namun kelompok masyarakat lain seperti dirinya.

“Buat lauk-lauk anak-anak saya di rumah, dan buku penanya anak-anak saya di rumah. Sekali lagi terima kasih kepada Bapak PresidenPrabowo Subianto yang melakukan program ini dan ke depannya, mudah-mudahan akan lebih maju dan lebih baik lagi,”harapnya.

Program MBG dan Kesempatan Kedua Hidup Bagi Mantan Narapidana

Frederick Norewa, warga Kecamatan Laura, Sumba Barat Daya merupakan narapidana yang telah menyelesaikan masa hukumannya dalam kasus penganiayaan berat dengan sepupunya.

Frederick terlibat duel dengan sepupunya terkait sengketa batas wilayah pada tahun 1991. Dalam duel tersebut, salah satu tangan sepupunya putus disabet senjata tajam dan hakim menjatuhkan vonis delapan tahun.

Ia menolak vonis hakim yang dinilai tidak adil, kemudian ia mengajukan banding dan pengadilan menerima keberatan Frederick, kemudian vonis hakim lebih ringan enam tahun dipotong remisi karena berkelakuan baik menjadi 4, 6 tahun.

“Yang ketiga itu sempat terjadinya kriminal itu, mereka ada empat orang, saya sendirian. Saya takut, begitu saya ayun langkah, satu kali, tangannya putus,”kata Frederick.

Frederick telah menghirup udara bebas dan telah menjalani prosesi adat dengan menyerahkan satu ekor kuda dan kerbau. Ia menjadi manusia yang bebas seperti masyarakat lainnya, dapat melakukan berbagai aktivitas.

Namun nyatanya, stigma sebagai mantan narapidana, sangat melekat di masyarakat. Ia kesulitan untuk mencari pekerjaan ditambah usianya yang tidak muda.

Ia melakoni sebagai petani yang mengolah perkebunan dengan hasil pendapatam Rp7.000.000-Rp8.000.000/tahun. Ia juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai kuli bangunan dengan upah Rp60.000-Rp80.000/hari.

Frederick sudah berdamai dengan masa lalu, tidak ada dendam di sanubarinya dan ia akan melakoni apapun pekerjaan yang penting halal. Ia berusaha mandiri untuk menghidupi dirinya dan keluarga.

“Hasil kebun tergantung curah hujan yang tak pasti kerap membuat gagal panen. Secara pribadi memang sulit tapi apapun dan bagaimanapun, saya jalani,” ujarnya berserah diri.

Petugas SPPG di di Desa Letekonda, Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang menyajikan makanan untuk program MBG. (Foto: Bakom)

Tuhan memberi Fredik kesempatan kedua untuk memperbaiki diri dan menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Suatu ketika, ia melihat ada bangunan baru di sekitar rumahnya di Desa Letekonda.

Bangunan tersebut merupakan dapur MBG untuk mengolah, menyajikan dan mendistribusikan makanan sehat bagi anak-anak, ibu hamil dan lansia. Frederick memberanikan diri untuk mendaftar sebagai relawan dan diterima dengan baik tanpa melihat latar belakang sebagai mantan narapidana.

Selanjutnya, ia menjalani tugas sebagai petugas di dapur MBG menjalani dengan penuh kegembiraan dan Ikhlas. Frederick mendapat tugas memotong sayuran, ikan, dan tempe kemudian olah oleh juru masak.

Frederick merupakan tim persiapan dapur program MBG dengan tugas yang terlihata sederhana. Tetapi dari tangannya ribuan porsi makanan bermula.

“Saya potong-potong ayam kalau ada menu ayamnya, terus wortel, kacang panjang, buncis, tempe. Bawang ada juga, bawang putih, bawang merah,”ujarnya menerangkan.

Frederick Norewa petugas SPPG di Desa Letekonda, Kecamatan Laura, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Bakom)

Dalam kesendiriannya, Frederick merenung akan perjalanan hidupnya hingga diangkat derajatnya dari program MBG. Bagi Frederick bekerja di dapur MBG, bukan sekedar mendapatkan gaji namun berkontribusi dalam memutus rantai kelaparan di desanya.

Ia paham betul ‘wajah’ desanya, anak-anak dipaksa’berjalan’ menuju ke sekolah dengan perut kosong. Kadang dijumpai siswa yang jatuh pingsan karena perut kosong.

Bagi siswa di desanya, menu MBG adalah menu ‘mewah’ yang jarang dijumpai dalam hidup anak-anak di desanya. Keberadaan MBG, tidak hanya membuat siswa senang dan lebih kuat secara fisik namun ada senyum kebahagiaan dari orang tua siswa.

“Kadang anak-anak makan atau tidak, mereka jalan saja pergi sekolah, itu membuat anak jadi lemah, bahkan pingsan. Mungkin lewat adanya sentuhan MBG ini, ya saya rasa anak itu senang bahkan kita orang tua juga sangat senang,” ujarnya.

Ia pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas program pro rakyat. Ia berharap program tersebut tetap berjalan sehingga menjadi lebih baik.

“Secara pribadi, ucapan limpah terima kasih bagi Pak Presiden Prabowo Subianto lewat adanya program MBG ini. Harapan saya, setelah masa Pak Prabowo, siapapun presidennya program ini akan tetap berkelanjutan,”katanya berharap.

Pemerintah Sebut Program MBG, Serap 1 Juta Penerima Manfaat.

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program MBG secara bertahap mulai Januari 2025. Presiden Prabowo menegaskan , program ini bukan hanya soal makanan, tetapi wujud nyata investasi negara dalam membangun generasi sehat dan berkualitas.

Presiden Prabowo mengungkap, program MBG telah menjangkau 60,2 juta penerima manfaat baik anak-anak, ibu hamil dan lansia. Saat ini ada 23 ribu dapur MBG, dengan estimasi satu dapur mempekerjakan 50 orang.

“Kita sudah memproduksi dan mendistribusi 4,5 miliar porsi makanan. Dari MBG saja sekarang sudah lebih dari 1 juta orang bekerja,”kata Presiden Prabowo dalam sambutannya pada acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, 13 Februari 2026.

Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan pada peresmian dan groundbreaking 1.1179 SPPG dan 18 gudang ketahanan Polri di Polsek Palmerah, Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden/Cahyo)

Kepala Negara menargetkan penerima manfaat akan meningkat pada akhir tahun 2026, 82 juta penerima manfaat dengan 30 ribu SPPG. Dengan demikian akan membutuhkan lebih banyak tenaga di dapur MBG.

Presiden Prabowo menegaskan program MBG telah menggerakan perekonomian di desa dengan dampak ganda atau multiplier effect, tidak hanya menyentuk penerima manfaat. Program MBG telah memberikan dampak positif untuk kelompok masyarakat lain seperti petani, peternak, pedagang satu, pemerah susu dan lainnya.

“Di ujungnya akan 1,5 juta orang bekerja tiap hari, tapi tiap dapur akan menimbulkan dan sudah menimbulkan lima sampai 10 pemasok, supplier. Masing-masing pemasok punya 3, 4, 5 petani yang bekerja, sehingga ekonomi di desa hidup,”ujarnya.

Selanjutnya, Presiden Prabowo Bantah Program MBG Hambur-hamburkan Uang.

Presiden Prabowo menjawab tudingan, pengkritik yang menilai program MBG adalah program gagal yang tidak akan pernah sukses. Bahkan ada tudingan bahwa program MBG menghamburkan-hamburkan anggaran yang besar.

“Kita hadapi kampanye luar biasa menjelek-jelekkan, mengatakan bahwa saya menghambur-hamburkan uang. Padahal saudara-saudara, uang ini adalah hasil penghematan, hasil efisiensi dari anggaran yang saya dan tim saya,”kata Presiden Prabowo dalam sambutannya saat peresmian dan groundbreaking 1.179 SPPG dan peresmian 18 gudang ketahanan pangan Polri di Polsek Palmerah, Jumat, 13 Februari 2026.

Presiden Prabowo meyakini jika tidak dilakukan penghematan maka uang rakyat akan disalahgunakan oleh para koruptor dan memperkaya oknum tersebut. Rakyat Indonesia ditipu dengan ulah oknum penjahat uang negara.

Presiden Prabowo menyebut diawal pemerintahannya pada 2024, berhasil melakukan penghematan anggaran lebih dari Rp300 triliun. Penghematan tersebut berasal kegiatan yang tidak produktif di kementerian/lembaga, seperti rapat dan seminar di hotel, kunjungan kerja baik keluar negeri maupun ke luar kota.

“Rakyat ditipu, rakyat dibohongi. Ini yang kita hemat, uang ini yang kita alihkan untuk hal-hal seperti seperti MBG, membangun jembatan, ketahanan pangan dan infrastruktur,”ujarnya.

Selanjutnya, Program MBG untuk Mengentaskan Kemiskinan

Presiden Prabowo mengakui banyak pakar dan kritik negatif lainnya perihal keinginan pemerintah dalam mengatasi kemiskinan di Indonesia. Presiden Prabowo mengatakan, alasan yang melatar belakangi dirinya konsisten dan bersikukuh untuk menjalankan MBG adalah tingginya kasus anak gizi buruk akut atau stunting.

Presiden Prabowo mengungkap stunting mengakibatkan sel otak , tulang dan sel lainnya pada anak tidak berkembang dengan baik. Kondisi stunting merupakan salah satu penyebab kemiskinan di Tanah Air.

“Jadi stunting akibat juga dari proses pemiskinan, proyek pemiskinan rakyat Indonesia. Stunting waktu itu 25% dari anak-anak kita,”ungkapnya.

Indonesia banyak belajar dari banyak negara mengenai program MBG. Setidaknya ada 66 negara sebelum Indonesia yang telah menerapkan program MBG.

Presiden Prabowo banyak belajar bahwa untuk mengatasi kemiskinan, tidak boleh dengan teori yang indah. Pemerintah harus mengintervensi langsung anak dan ibu hamil dan lansia karena mereka adalah kelompok rentan.

“Kita tidak bisa dengan teori, tidak bisa dengan hanya dengan kata-kata, hanya dengan program-program indah. Saya belajar dari pengalaman bangsa-bangsa lain bahwa satu-satunya jalan adalah intervensi langsung dari pemerintah, kepada anak-anak, ibu-ibu hamil, dan orang tua yang tidak berdaya, orang tua lansia,”ujarnya menegaskan.

Presiden Prabowo Subianto meninjau SPPG atau dapur umum milik Polri di Polsek, Palmerah, Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden/Cahyo)

Selanjutnya, Program MBG Dongrak Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun 2026. Purbaya optimis pertumbuhan ekonomi meningkat 5,6 hingga 6 persen.

Purbaya akan menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan belanja secara besar-besar di sektor produktif seperti program MBG. Khusus program MBG, pemerintah menggelontorkan Rp62 triliun.

“Seluruh belanja pemerintah yang berhubungan dengan program-program kita akan kita pastikan dibelanjakan tepat waktu, betul-betul dibelanjakan tepat waktu. Ada THR ASN Rp55 triliun, ada rehablitasi rekonstruksi bencana Sumatera Rp6 triliun, ada paket stimulus Rp13 triliun,”kata Purbaya dalam keterangan pers di Wisma Danantara, Jumat 13 Februari 2026.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan usai acara Indonesia Economic Outlook di Wisma Danantara, Jumat, 13 Februari 2026. Turut mendampingi Menteri Airlangga adalah (Kiri-kanan), Plt Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Frederica Widyasari Dewi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa , Menteri Koordinator bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti (Foto: RRI/Sugandi)

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Adapun upaya pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi diantaranya mempercepat program prioritas seperti MBG.

“Strategi pemerintah yakni mempercepat program prioritas MBG, Koperasi Desa Merah Putih, program tiga juta rumah. Meningkatkan produktivitas nasional dengan pembayaran atau pembiayaan kreatif non-APBN dan memperkuat hilirisasi dan pengolahan agar nilai tambah substitusi import dan ekspor meningkat,”kata Airlangga.

Selanjutnya, Pemerintah Fokus Pemenuhan Asupan Protein 2026.

Menteri Koordinator bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan Pemerintah Indonesia sukses dengan swasembada beras. Cadangan beras nasional mencapai 4 juta ton.

Selanjutnya, pemerintah akan fokus kepada pemenuhan protein seperti dari ikan, telur dan ayam pada 2026. Nantinya akan menggerakan perekonomian kerakyatan.

“Tahun ini fokus kepada protein, ikan, telur, ayam, itu luar biasa nanti gerakan usaha rakyat di kecamatan, di desa-desa. MBG akan mencapai 82,9 juta, bayangkan itu dampaknya nanti terhadap ekonomi kerakyatan itu,”kata Zulhas.

Selanjutnya, Dapur MBG Polri Berpotensi Sumbang 58 Ribu Lapangan Kerja

Presiden Prabowo Subianto meresmikan dan Ggroundbreaking 1.179 SPPG serta presmian 18 gudang ketahanan pangan Polri. Jumlah tersebut rinciannya adalah 411 SPPG telah beroperasi, 162 SPPG persiapan operasional.

Selanjutnya 499 SPPG dalam tahap pembangunan dan akan selesai pada bulan Maret 2026 ini, dan 107 SPPG dalam tahap groundbreaking. Polri menargetkan pembangunan 1.500 SPPG Polri di Seluruh Indonesia pada 2026.

“Apabila seluruh SPPG tersebut telah beroperasi, diproyeksikan dapat memberi manfaat bagi 2.947.500 orang. SPPG dapat menyerap 58.950 tenaga kerja,”kata Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....