Krisis Iklim Ancaman Nyata, Indonesia Dikepung Cuaca Ekstrem
- 14 Feb 2026 18:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan krisis iklim kini bukan lagi sekadar ancaman di masa mendatang. Salah satu konsekuensinya ialah meningkatnya intensitas hujan ekstrem yang belakangan sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyoroti kemunculan Siklon Tropis Senyar yang berdampak pada kawasan Sumatra. Ia menyebut fenomena tersebut memicu curah hujan melampaui ambang normal sekaligus mencetak rekor di sejumlah daerah.
“Siklon Senyar telah menghasilkan rekor curah hujan dasarian III November tertinggi sejak tahun 1991,” kata Ardhasena, di Universitas Sumatra Utara, Selasa 10 Februari 2026. Ia menjelaskan bahwa fenomena alam seperti Siklon Tropis Senyar merupakan bagian dari tren pemanasan global yang konsisten.
Di sisi lain, kecenderungan perubahan iklim saat ini diperkuat oleh berbagai data hasil analisis BMKG. Catatan menunjukkan tahun 2024 menjadi periode terpanas di Indonesia dengan suhu rata-rata mencapai 27,5 derajat Celsius.
Adapun tahun 2025 menempati posisi keenam sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah pengamatan nasional dengan rata-rata 27,04 derajat Celsius. Nilai anomali suhu juga tercatat berada di atas rata-rata klimatologis periode normal 1991–2020.
Ardhasena menilai kondisi iklim nasional cukup mengkhawatirkan apabila tidak diikuti langkah mitigasi bersama. Berdasarkan analisis BMKG, tren kenaikan suhu diproyeksikan masih akan berlanjut pada masa mendatang.
Seluruh wilayah Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan suhu hingga 1,6 derajat Celsius pada periode 2021–2050. Selain itu, perubahan iklim juga diprediksi memicu pergeseran pola curah hujan.
Wilayah bagian utara diproyeksikan menjadi lebih basah hingga sekitar 8 persen, sedangkan kawasan selatan berpotensi lebih kering hingga minus 9 persen. Dampaknya, hujan dengan periode ulang 100 tahun diperkirakan akan terjadi jauh lebih sering dibandingkan sebelumnya.
Dampak lain terlihat dari mencairnya lapisan es di Puncak Jaya yang telah menyusut sekitar 98 persen sejak 1988. Bahkan, sisa tutupan es tersebut diperkirakan akan lenyap sepenuhnya antara akhir 2025 hingga awal 2027.
Pentingnya Penguatan Peringatan Dini dan Kolaborasi
Melihat eskalasi dampak krisis iklim, BMKG mendorong penguatan sistem peringatan dini yang saling terhubung. Pihaknya menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor guna menekan potensi bencana hidrometeorologi di masa mendatang.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyatakan bahwa tahun 2024 tercatat sebagai periode terpanas sepanjang sejarah. Ia menyebut anomali suhu global telah melampaui ambang 1,5 derajat Celsius dibandingkan era praindustri.
“Data observasi menunjukkan tren kenaikan suhu yang konsisten, baik secara global maupun regional di Indonesia. Kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem yang memicu bencana hidrometeorologi,” ujar Andri, Kamis 5 Februari 2026.
Ia menilai situasi ini menuntut kesiapsiagaan serta kewaspadaan yang lebih tinggi. Terutama dalam menerjemahkan informasi peringatan dini BMKG menjadi peta kerentanan wilayah oleh pemerintah daerah.
Dalam aspek mitigasi, Andri menegaskan perlunya penguatan Sistem Peringatan Dini Multibahaya yang terintegrasi. Langkah itu sejalan dengan inisiatif global Early Warning for All yang mendorong perlindungan masyarakat dari risiko bencana.
Selain itu, peningkatan literasi kebencanaan di tengah masyarakat juga dinilai tak kalah krusial. Salah satu upaya yang dilakukan adalah edukasi melalui program Sekolah Lapang BMKG.
Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI, Sudjatmiko menilai sistem peringatan dini BMKG telah berjalan dengan baik. Meski begitu, ia menilai penguatan masih diperlukan melalui peningkatan literasi kebencanaan serta kesadaran pemerintah daerah.
“BMKG dengan Sekolah Lapang-nya memiliki peran strategis. Pemerintah daerah juga perlu menyadari bahwa informasi cuaca sangat penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan,” tutur Sudjatmiko.
BMKG pun mengajak seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk rutin memantau informasi resmi terkait cuaca dan iklim. Imbauan ini terutama penting selama periode puncak musim hujan yang masih berlangsung pada Februari 2026.
BMKG dan ITB Perkuat Rantai Informasi Peringatan Dini
Guna mentransformasi imbauan kolaborasi tersebut, BMKG menjalin kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung. Kemitraan ini ditujukan memperkuat ketepatan rantai informasi peringatan dini melalui inovasi teknologi serta pemodelan cuaca beresolusi tinggi.
Menurut Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, penguatan sistem peringatan dini menjadi prioritas utama lembaganya. Hal itu dinilai krusial terutama untuk menghadapi dinamika cuaca ekstrem yang semakin kompleks.
“Informasi peringatan dini harus komprehensif, mudah dipahami, dan dapat langsung ditindaklanjuti untuk dasar melakukan mitigasi di lapangan. Spirit yang kami dorong adalah Early Warning, Early Action, Zero Victim,” ujarnya di Jakarta 13 Februari 2026.
BMKG juga menyoroti pentingnya kolaborasi multipihak melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, sektor usaha, dan media. Sinergi tersebut mencakup koordinasi lintas lembaga, pertukaran data, hingga berbagi keahlian.
Kepala Pusat Analisis dan Penerapan Geospasial ITB, Wedyanto, menyatakan bahwa semangat ini harus menjadi fondasi bersama. “Zero victim adalah target bersama yang harus terus kita upayakan,” ujar Wedyanto.
Tim BMKG bersama ITB mengembangkan model cuaca resolusi tinggi melalui skema pengembangan bersama. Sistem ini diharapkan mampu meningkatkan ketelitian prakiraan hingga skala wilayah lokal.
Selain itu, penguatan juga dilakukan pada penyampaian informasi berbasis dampak beserta model pendukungnya. Pendekatan tersebut meliputi pemanfaatan model risiko, hidrologi, serta hidrodinamika.
Pada tahap awal, implementasi difokuskan di kawasan Jabodetabek yang memiliki tingkat kompleksitas risiko banjir tinggi. Integrasi model hidrologi dan kelautan menjadi komponen penting agar sistem peringatan dini dapat bekerja lebih komprehensif.
Cuaca Lebaran 2026 Relatif Kondusif
Menjelang Hari Raya serta libur Idul Fitri, BMKG menegaskan bahwa kondisi cuaca diperkirakan relatif kondusif bagi arus mudik dan balik masyarakat. Meski demikian, potensi hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan Indonesia saat ini masih berada pada puncak musim hujan. Umumnya, periode ini berlangsung pada Januari hingga Februari sebelum mulai berkurang.
Menurut prediksi BMKG, selama Februari 2026, curah hujan di Indonesia diperkirakan berkisar dari rendah sampai tinggi. Sementara itu, peluang hujan sangat tinggi terutama di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Pada Maret 2026 mendatang, hujan diprediksi berada pada kategori menengah hingga tinggi. Terutama di kawasan yang sama serta di Papua Tengah.
Selain itu, sejumlah fenomena atmosfer seperti Monsun Asia, Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, dan bibit siklon tropis diperkirakan masih aktif pada periode Lebaran. BMKG juga mengingatkan adanya kemungkinan peningkatan intensitas hujan antara akhir Februari hingga pertengahan Maret 2026.
Untuk bulan Maret secara keseluruhan, kondisi cuaca diperkirakan akan didominasi oleh awan hingga hujan ringan-sedang. Namun, peluang hujan lebat tetap ada pada awal bulan di beberapa daerah seperti DI Yogyakarta, Papua, dan Papua Tengah.
Dalam mendiseminasikan data, BMKG aktif menyebarkan informasi cuaca ekstrem secara langsung melalui grup WhatsApp kepada para pemangku kepentingan. Pihaknya juga menerbitkan rilis resmi bagi kepala daerah guna mempercepat pengambilan keputusan.
Penguatan operasional juga dilakukan dengan menyiagakan Posko Pusat di Kantor BMKG dan Kementerian Perhubungan. Sementara itu, terdapat 38 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di tiap provinsi, termasuk posko gabungan yang tersebar di 13 pelabuhan dan 96 bandara di seluruh Indonesia.
Sebagai langkah mitigasi aktif, BMKG juga siap menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hal ini guna meredam curah hujan di wilayah yang berisiko tinggi terjadi bencana hidrometeorologi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....