Cek Kesehatan Gratis, di Tengah Tantangan dan Capaian Positif
- 11 Feb 2026 14:44 WIB
- Pusat Pemberitaan
SETAHUN berjalan, Program Cek Kesehatan Gratis menjadi penanda perubahan arah kebijakan layanan kesehatan nasional. Program ini tidak lagi sekadar soal pemeriksaan, tetapi upaya membangun kesadaran kesehatan jangka panjang.
Sejak diterapkan nasional awal 2025, CKG diuji langsung oleh realitas lapangan yang beragam. Dari kota besar hingga wilayah terpenci, selama pelaksanaannya menghadapi tantangan struktural sekaligus harapan besar.
Program CKG secara bertahap mengubah cara masyarakat untuk memahami arti dari kesehatan. Dari sudut pandang reaktif (periksa saat sakit) menjadi proaktif (deteksi dini sebelum sakit parah).
Dalam kerangka transformasi kesehatan, CKG diposisikan sebagai fondasi layanan preventif berbasis fasilitas primer. Pemerintah dalam hal ini, mendorong masyarakat memeriksa kesehatan sebelum gejala muncul.
Namun, efektivitas program ini tidak hanya ditentukan oleh angka partisipasi. Konsistensi pelaksanaan, kesiapan fasilitas, serta tindak lanjut hasil pemeriksaan juga menjadi faktor penentu.
Seiring berjalannya waktu, CKG mulai membentuk gambaran nyata kondisi kesehatan masyarakat Indonesia. Dari sinilah evaluasi setahun pelaksanaan menjadi penting untuk menakar arah kebijakan berikutnya.
Selanjutnya, Awal Mula CKG Diselenggarakan
Pada awal peresmiannya 10 Februari 2025 lalu, CKG dimulai sebagai kado kesehatan bagi masyarakat yang berulang tahun. Setiap warga yang berulang tahun dalam periode tertentu bisa mendapatkan pemeriksaan gratis di puskesmas atau klinik yang bekerja sama.
"Sebagai hadiah ulang tahun untuk masyarakat. Program CKG ini diharapkan bisa memberikan pemeriksaan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari bayi hingga lanjut usia (lansia),” kata Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, dalam konferensi pers secara daring, Senin 10 Februari 2025 yang lalu.
Melalui aplikasi Satu Sehat Mobile (SSM) pendaftaran dapat dilakukan masyarakat dengan mudah darimana saja. Layanan chatbot WhatsApp juga diintegrasikan untuk memudahkan pendaftaran tanpa antre fisik di fasilitas kesehatan.
Dalam dua bulan awal pelaksanaan, respons masyarakat terhadap program Cek Kesehatan Gratis mulai menunjukkan tren yang cukup positif di berbagai daerah. Meskipun capaian partisipasi belum sepenuhnya besar secara nasional, antusiasme warga untuk memanfaatkan layanan ini mulai terlihat dan berkembang secara bertahap.
Per Maret 2025, total pendaftar Program Cek Kesehatan Gratis tercatat mencapai sekitar 360.000 orang di berbagai daerah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 169.000 peserta telah menjalani pemeriksaan langsung di fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk pemerintah.
Program CKG sendiri telah pada waktu itu telah tersedia di sekitar 10.200 puskesmas yang tersebar di seluruh Indonesia. Distribusi layanan ini dirancang agar masyarakat, termasuk di wilayah terpencil, tetap memiliki akses terhadap pemeriksaan kesehatan dasar secara gratis.
Capaian ini terus meningkat hingga akhir Maret 2025, data menunjukkan lebih dari 1 juta orang telah mengikuti pemeriksaan CKG. Temuan ini juga menunjukkan adanya tren tekanan darah tinggi, overweight, gangguan gula darah serta karies gigi di sejumlah peserta pemeriksaan.
Data Kemenkes melaporkan hingga pertengahan September 2025, sebanyak 29,8 juta orang telah mengikuti program CKG. "Dari total 32 juta pendaftar untuk mengikuti CKG, sebanyak 29,8 juta di antaranya sudah ditangani," ujar Endang dalam pernyataannya di Jakarta, Kamis 18 September 2025.
Seiring bertambahnya jumlah peserta dari bulan ke bulan, CKG perlahan membentuk potret nyata kondisi kesehatan masyarakat Indonesia. Data yang terkumpul tidak hanya merekam angka partisipasi, tetapi juga menjadi dasar evaluasi dan penguatan kebijakan preventif ke depan.
Bagi Kementerian Kesehatan, capaian hingga puluhan juta peserta menunjukkan bahwa pendekatan promotif mulai diterima masyarakat luas. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap temuan pemeriksaan benar-benar ditindaklanjuti agar manfaat CKG tidak berhenti pada skrining semata.
Selanjutnya, Tantangan Pemerataan CKG di Tengah Capaian Nasional
Meskipun capaian nasional menunjukkan tren positif, pelaksanaan CKG tidak lepas dari berbagai tantangan di lapangan. Kesenjangan infrastruktur, distribusi tenaga kesehatan, serta literasi masyarakat menjadi faktor yang memengaruhi pemerataan partisipasi di sejumlah daerah.
November 2025, capaian CKG lebih dari 50,5 juta warga telah mengikuti pemeriksaan dari total pendaftar 53,6 juta orang. CKG umum mencatat 34,3 juta peserta, sementara CKG sekolah diikuti 16,2 juta siswa dan santri seluruh Indonesia.
Data tersebut bukan hanya angka pencapaian, tetapi juga menunjukkan profil kesehatan masyarakat. Proporsi orang dewasa dengan aktivitas fisik kurang tinggi sentuh 95,8 persen, disusul temuan signifikan pada kesehatan gigi, obesitas, dan tekanan darah.
Di sisi lain, tidak semua daerah memiliki tren capaian yang seragam. Data terbaru Kemenkes menunjukkan bahwa beberapa wilayah seperti Palembang masih belum mencapai target yang diharapkan.
Tantangan pemerataan pun muncul di level lokal. Baru sekitar 700 ribu warga Palembang yang menggunakan jasa pemeriksaan CKG hingga pertengahan Desember 2025.
"Kegiatan CKG dimulai sejak Februari 2025. Sekarang ini telah menjangkau 700 ribu warga atau masih di bawah 50 persen dari target, untuk itu perlu dilanjutkan pada 2026 dengan mengoptimalkan seluruh petugas puskesmas," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, Fenty Aprina dalam pernyataanya di Palembang, Sabtu 27 Desember 2025.
Sepanjang 2025, CKG bukan semata jumlah pemeriksaan, tetapi juga menjadi alat edukasi kesehatan. Integrasi data pemeriksaan memberi akses lanjutan bagi warga untuk memantau dan merujuk hasil pemeriksaan ke layanan kesehatan lebih lanjut.
Program ini juga memperlihatkan bahwa keterlibatan lintas sektor seperti Kemenkes, Kemenko PMK, sekolah, dan organisasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan perluasan layanan. Bahkan, program ini disebut-sebut sebagai salah satu quick win dalam agenda pemerintahan baru yang menempatkan kesehatan sebagai prioritas investasi sosial.
Secara keseluruhan, CKG sepanjang 2025 menunjukkan bahwa layanan preventif mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap perawatan kesehatan. Dari berbasis keluhan menjadi berbasis pencegahan dan deteksi dini, inilah pelecut awal menuju sistem kesehatan yang lebih adil dan proaktif.
Selanjutnya, Akhir Tahun Pertama, CKG Tembus 70 Juta Peserta
Memasuki akhir tahun pertama pelaksanaannya, Program Cek Kesehatan Gratis menunjukkan capaian yang melampaui ekspektasi awal pemerintah pusat. Lonjakan jumlah peserta secara nasional menjadi indikator kuat bahwa pendekatan preventif mulai diterima luas oleh masyarakat.
Program Cek Kesehatan Gratis mencatat capaian signifikan secara nasional sepanjang hampir satu tahun implementasi. Jumlah kehadiran peserta bahkan menembus 70 juta orang dalam periode tersebut.
Berdasarkan Daily Report CKG per 29 Desember 2025 pukul 22.15 WIB, sebanyak 70.292.151 peserta tercatat hadir. Angka itu berasal dari total 73.128.356 pendaftar atau setara 96,12 persen partisipasi nasional.
Capaian tertinggi berasal dari kategori CKG Umum yang mendominasi partisipasi masyarakat secara nasional. Dari 47.393.692 pendaftar, sebanyak 45.957.044 peserta hadir atau mencapai 96,97 persen.
Sementara itu, CKG Sekolah juga menunjukkan tingkat partisipasi yang relatif tinggi di berbagai daerah. Dari 25.734.664 pendaftar, sebanyak 24.335.107 peserta hadir atau 94,56 persen.
Program ini menjangkau siswa di berbagai jenjang pendidikan secara nasional dengan cakupan yang luas. Cakupan tersebut meliputi SD, SMP, SMA, pesantren, hingga sekolah luar biasa.
Sebagai quickwin Presiden Prabowo Subianto, CKG telah dilaksanakan di 38 provinsi di Indonesia. Pelaksanaannya didukung 514 kabupaten dan kota serta 10.588 fasilitas kesehatan di seluruh wilayah.
Pada sektor pendidikan, sebanyak 16.758.454 siswa telah memperoleh pemeriksaan kesehatan lengkap hingga akhir tahun. Ribuan puskesmas aktif melayani sekolah, termasuk yang berada di wilayah terpencil.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai partisipasi tinggi mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan.
“Capaian lebih dari 70 juta peserta menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat. Mereka kini mulai memahami akan pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Jumat, 30 Desember 2026.
Ia juga mengapresiasi peran tenaga kesehatan yang terlibat langsung dalam pelaksanaan program ini. Menurutnya, mereka menjadi ujung tombak keberhasilan CKG di berbagai wilayah.
“Tenaga kesehatan menjadi garda terdepan dalam memastikan layanan CKG dapat menjangkau masyarakat. Baik di puskesmas, sekolah, maupun komunitas,” katanya.
Lebih lanjut, Aji menegaskan keberhasilan CKG merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak lintas sektor. Pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai berperan penting dalam pelaksanaannya.
Ke depan, Kementerian Kesehatan berharap program ini terus diperkuat secara berkelanjutan melalui evaluasi menyeluruh. CKG diposisikan sebagai fondasi layanan promotif dan preventif nasional dalam sistem kesehatan Indonesia.
Selanjutnya, Pelayanan CKG Terasa di Berbagai Lapisan Masyarakat
Sebagai program preventif nasional, CKG tidak hanya diukur dari capaian angka partisipasi. Keberhasilannya juga terlihat dari bagaimana layanan ini menjangkau berbagai kelompok masyarakat.
Seorang warga bernama Grace Kumala (66), warga Kembangan, Jakarta Barat, merasakan langsung manfaat program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Ia mengaku pemeriksaan tersebut membantunya mengetahui kondisi kesehatan secara lebih menyeluruh.
Grace menuturkan, sebelumnya ia tidak menyadari memiliki sejumlah gangguan kesehatan. Melalui pemeriksaan rutin di puskesmas, lanjut Grace, ia mengetahui kondisi jantung dan kadar gula darahnya.
“Lewat pemeriksaan itu saya jadi tahu ada sedikit gangguan jantung serta diabetes dan kolesterol terdeteksi. Setelah tahu lebih awal, saya bisa minum obat dan menjaga pola hidup supaya tidak makin parah,” ujarnya saat melakukan pemeriksaan CKG, Jakarta, Selasa 10 Februari 2026.
Ia menilai, program CKG sangat membantu masyarakat, khususnya lanjut usia yang jarang melakukan pemeriksaan berkala. Menurutnya, layanan tersebut mudah diakses dan prosesnya tidak berbelit.
“Prosesnya tidak sulit dan tidak perlu antre lama. Saya berharap lebih banyak warga mau memeriksakan diri sebelum sakitnya bertambah berat,” ucapnya.
Sebagai penerima manfaat, Grace berharap sosialisasi program terus diperluas hingga menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Ia meyakini deteksi dini menjadi langkah penting menjaga kualitas hidup di usia lanjut.
Sementara itu, Mitra pengemudi Gojek Rryohana Endang Purwanti menyatakan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sangat membantu para pekerja lapangan. Yohana menilai inisiatif ini memberikan pemahaman mendalam mengenai kondisi fisik para pengendara ojek daring sekarang.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan Gojek atas adanya kegiatan ini. Melalui program tersebut, kami mengetahui kondisi fisik masing-masing dan memahami hal-hal yang perlu dihindari agar tetap sehat,” ujar Yohana di Kantor Gojek Kemang Timur, Jakarta, Rabu 11 Februari 2026.
Layanan medis ini memungkinkan para mitra untuk mengantisipasi potensi risiko penyakit kronis sejak dini. Kesadaran akan pentingnya menjaga kebugaran tubuh mulai meningkat di kalangan para mitra pengemudi transportasi daring.
Selain itu, Mitra pengemudi Gojek Ronal Andri mengungkapkan rasa syukur atas tersedianya fasilitas pemeriksaan kesehatan tanpa dipungut biaya. Ronal mengatakan bahwa kesadaran akan kondisi tubuh merupakan kewajiban mutlak bagi para pekerja sektor transportasi.
Risiko kelelahan fisik di jalan raya menuntut setiap individu untuk selalu waspada terhadap kesehatan pribadi mereka. Program kolaboratif ini dianggap sebagai solusi nyata dalam melindungi kesejahteraan para mitra di seluruh wilayah.
“Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah dan Gojek. Apresiasi tersebut atas adanya pemeriksaan kesehatan gratis ini,” ujar Ronal.
Para pengemudi menaruh harapan besar agar program ini dapat terlaksana secara rutin dan berkesinambungan ke depannya. Keberlanjutan akses medis gratis sangat dibutuhkan guna menjamin produktivitas para tenaga kerja di sektor informal.
Melalui jangkauan yang semakin luas, CKG memperlihatkan perannya sebagai instrumen pemerataan layanan preventif nasional. Pendekatan ini menegaskan bahwa kesehatan bukan hanya urusan individu, tetapi bagian dari kebijakan publik yang terstruktur.
Selanjutnya, DPR Apresiasi Program Cek Kesehatan Gratis
Anggota Komisi IX DPR Achmad Ru’yat mengapresiasi Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau puluhan juta masyarakat. Namun, ia menegaskan tantangan terbesar saat ini terletak pada tindak lanjut hasil screening kesehatan.
Meski demikian,Achmad menilai keberhasilan pendataan kesehatan nasional belum cukup tanpa pengobatan berkelanjutan. Ia menyoroti lemahnya pengendalian penyakit kronis pasca screening.
“Program ini sudah melakukan screening pada 70 juta masyarakat Indonesia, di mana sejumlah 46 juta orang di puskesmas kemudian 24 juta di sekolah,” ujarnya dalam Rapat Kerja dengan Menteri Kesehatan di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Senin, 19 Januari 2026.
“Di satu sisi ini suatu prestasi yang sangat baik, tapi juga terkait dengan tindak lanjut hasil CKG. Karena dari data yang kami dapatkan untuk penanganan hipertensi saja itu baru bisa dikendalikan di angka tiga persen,” katanya.
Ia juga menyoroti temuan dominan pada hasil pemeriksaan kesehatan anak dan remaja. Achmad menyebut, persoalan gigi serta kesehatan mental membutuhkan kebijakan lanjutan yang konkret.
Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Nuroji mendorong masyarakat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Hal ini penting agar masyarakat bisa hidup lebih sehat sehingga bisa menekan biaya kesehatan secara nasional yang dikeluarkan pemerintah.
Selain menekan biaya kesehatan yang dikeluarkan pemerintah, CKG penting dilakukan agar pemerintah bisa memetakan kondisi kesehatan masyarakat. Sehingga akan membantu pemerintah dalam melakukan intervensi atau merumuskan kebijakan kesehatan.
Dari CKG, bisa terlihat bahwa di daerah tertentu kekurangan fasilitas kesehatan atau alat kesehatan. Sehingga pemerintah bisa membangunkan fasilitas kesehatan termasuk menyediakan alat kesehatan.
Selanjutnya, Target 130 Juta Masyarakat Cek Kesehatan Gratis 2026
Pada tahun 2026, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan 130 juta masyarakat mengikuti Cek Kesehatan Gratis di seluruh Indonesia. Target tersebut ditingkatkan secara signifikan dibandingkan dengan target tahun sebelumnya.
Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Murti Utami menyebut, capaian 2025 hampir menyentuh 70 juta populasi. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan respons positif masyarakat terhadap layanan preventif pemerintah.
“Jadi tahun lalu sudah tercapai hampir 70 juta populasi dari penduduk kita yang menerima Cek Kesehatan Gratis. Capaian itu menjadi dasar pemerintah meningkatkan target tahun ini,” ujarnya saat melakukan peninjauan di Mabes TNI, Jakarta Timur, Rabu 11 Februari 2026.
Ia mengungkapkan, pada tahun 2025, pelayanan Cek Kesehatan Gratis dilakukan di sekitar 10.300 puskesmas di seluruh Indonesia. Pada tahun ini, Kemenkes akan memperluas program layanan yang nantinya akan melibatkan berbagai sektor.
“Nah, tahun ini kita ingin ada keterlibatan dari swasta, dari institusi, tempat-tempat kerja, teman-teman dari TNI-Polri untuk membuka pelayanan-pelayanan Cek Kesehatan Gratis supaya tahun ini kita bisa memeriksa sekitar 130 juta penduduk kita untuk mendapatkan Cek Kesehatan Gratis,” jelasnya.
Ke depan, Kemenkes akan memperkuat tata laksana program agar tidak berhenti pada skrining semata. Murti berharap pemeriksaan kesehatan diikuti dengan pengobatan atau pelayanan lanjutan sesuai hasil deteksi awal.
“Jadi misalnya seorang yang mendapatkan pengecekan tensi tekanan darah gitu ya, terus diketahui memiliki hipertensi. Lalu, bisa langsung mendapatkan pengobatan saat mereka menerima CKG ini,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat memanfaatkan program ini sebagai pemeriksaan rutin setiap tahun. Deteksi dini dinilai penting agar penyakit dapat ditangani lebih cepat dan efektif.
Selanjutnya, Dukungan CKG dari Berbagai Lintas Sektor
Dukungan terhadap keberlanjutan Program Cek Kesehatan Gratis terus menguat dari berbagai sektor. Selain pemerintah, kolaborasi swasta dan institusi negara menjadi penggerak perluasan layanan preventif nasional.
Head Strategic Partnership, Public Policy & Government Relations GoTo Group, Muhammad Chairil mengapresiasi keberlanjutan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari pemerintah pusat. Chairil menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen penuh mendukung inisiatif medis tahunan bagi para mitra pengemudi daring.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan seluruh pejuang ekonomi digital memiliki kondisi fisik yang prima saat bekerja. Perusahaan aktif melakukan sosialisasi secara masif agar informasi mengenai layanan kesehatan ini sampai kepada setiap individu.
“Gojek melalui komunitas, kita selalu berpartisipasi aktif. Tidak hanya menghadirkan mitra untuk diperiksa, tetapi juga kita mensosialisasikan kegiatan tahunan,” ujar Chairil di Kantor Gojek Kemang Timur Jakarta, Rabu 11 Februari 2026.
GoTo Group memanfaatkan jalur komunikasi komunitas guna meningkatkan partisipasi aktif para mitra dalam kegiatan skrining medis. Perusahaan tidak hanya memfasilitasi kehadiran fisik tetapi juga mengedukasi pentingnya deteksi dini kesehatan bagi pekerja lapangan.
Sementara itu dari Tentara Nasional Indonesia, memberikan pelayanan Cek Kesehatan Gratis bagi masyarakat umum dan personel TNI. Layanan ini menjangkau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.
Wakil Kepala Pusat Kesehatan TNI Laksamana Pertama TNI, Tjahja Nurrobi, menyatakan CKG dapat diberikan kepada personel satgas di wilayah 3T. Menurutnya, layanan dapat dilakukan selama fasilitas kesehatan terdaftar dalam aplikasi Satu Sehat.
“Bahkan nanti kalau yang di satuan tugas itu memang ada kesempatan untuk melakukan CKG, kita lakukan. Di mana pun bisa dilakukan selama fasilitas kesehatan di situ terdaftar dalam satu sehat,” katanya di Mabes TNI, Jakarta.
Ia menjelaskan terdapat lebih dari 600 fasilitas kesehatan tingkat pertama TNI yang mendukung pelaksanaan CKG. Fasilitas tersebut termasuk yang berada di kawasan 3T.
Nurrobi menegaskan seluruh personel TNI beserta keluarganya dapat memanfaatkan program CKG. Layanan tersebut berlaku di satuan tempat mereka bertugas.
“Nantinya ini akan dikenakan ke semua personel anggota TNI. Bahkan keluarganya sekalipun,” ujarnya.
Selain itu, fasilitas kesehatan TNI juga dapat diakses masyarakat umum dengan membawa kartu tanda penduduk. Menurutnya, akses tersebut terbuka selama memenuhi persyaratan administrasi sederhana.
“Betul sekali. Jadi, nanti semua faskes TNI bisa diakses oleh masyarakat, tidak hanya TNI dan keluarganya. Berarti hanya membawa KTP,” katanya.
Dengan adanya dukungan lintas sektor, jangkauan CKG diperkirakan semakin meluas hingga ke wilayah 3T. Langkah ini diharapkan membantu pemerintah mencapai target 130 juta peserta pada 2026 secara lebih merata dan efektif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....