Jeffrey Epstein, Sang Arsitektur Perdagangan Manusia Paling Sistematis
- 10 Feb 2026 09:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
BIRO Investigasi Federal Amerika (FBI) resmi membocorkan tiga juta dokumen pengadilan dan arsip penyidikan yang merekam jejak kejahatan Jeffrey Epstein. Sejak kematian Epstein di sel tahanan federal pada tahun 2019 lalu, 'Epstein Files' berhasil menghebohkan masyarakat Amerika Serikat.
Dokumen tersebut berisikan persoalan kejahatan seksual dan perlakuan istimewa terhadap elite berpengaruh. Berkas-berkas itu juga mengungkap jaringan pergaulan Epstein dengan tokoh politik, pengusaha, hingga figur publik ternama.
Sejumlah nama besar tercantum dalam dokumen, meski tidak semuanya secara langsung dituduh melakukan tindak pidana. Namun, keterkaitan tersebut memicu desakan publik agar proses hukum dilakukan secara transparan dan menyeluruh.
Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat, Todd Blanche mengatakan bahwa tahap publikasi dokumen tersebut mengikuti pengesahan Undang-Undang Transparansi Arsip Epstein (EFTA). Hal itu mencakup 2.000 video dan 180.000 gambar yang terkait dengan kasus Epstein.
Ia mengatakan secara total ada enam juta halaman dokumen Epstein dalam arsip Departemen Kehakiman. Tetapi tidak semua dokumen dipublikasikan dalam rilis saat ini.
Bahkan, Departemen Kehakiman sempat menahan tiga juga dokumen tersebut karena berbagai alasan. Termasuk karena adanya materi pelecehan seksual anak dan kewajiban untuk melindungi hak-hak korban.
"Rilis hari ini menandai berakhirnya proses peninjauan dokumen yang sangat komprehensif. Untuk memastikan transparansi kepada rakyat Amerika," katanya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Sabtu, 7 Februari 2026.
Meskipun demikian, semua berkas Epstein yang berada di tangan pemerintah wajib dirilis, dengan beberapa pengecualian. Ia mengatakan beberapa kategori halaman ditahan dari rilis tersebut karena sifatnya yang sensitif.
Item-item ini termasuk informasi identitas pribadi para korban, berkas medis korban. "Masih ada 200.000 halaman lainnya ditahan karena hak istimewa hukum," ujarnya.
Selanjutnya, Sejarah Kriminal dan Struktur Operasional
Struktur kriminal yang dibangun oleh Jeffrey Epstein dan kekasihnya, Ghislaine Maxwell digambarkan dalam file tersebut cukup tertata. Keduanya menyusun skema piramida perdagangan manusia yang canggih.
Operasi perdagangan seksualnya dilakukan di berbagai lokasi, termasuk apartemen mewah di New York, perkebunan di Palm Beach. Yaitu peternakan di New Mexico, dan pulau pribadi Little St. James di Kepulauan Virgin AS.
Metode rekrutmen yang terdokumentasi dalam file menunjukkan penggunaan taktik yang sangat manipulatif. Para korban, yang sering kali masih berusia 14 tahun, didekati dengan tawaran pekerjaan sebagai terapis pijat profesional.
Kekasih Epstain, Ghisaleine Maxwell mengaku bahwa dirinya pertama kali bertemu Epstain pada tahun 1991. Pertemuan tersebut tentunya dibantu oleh kerabat dekatnya, mengingat Maxwell juga merupakan mantan sosialita asal Inggris.
Pertemuan tersebut akhirnya berlanjut, karena ia merasa bahwa Epstain memiliki ketertarikan yang sama dengan dirinya. Yaitu menjadi seorang pembisnis yang handal.
Sepanjang menjalani hubungan sepasang kekasih, Maxwell kerap bertemu dengan Donald Trump dan Bill Clinton, serta Pangeran Andrew. Bahkan Epstein tidak tanggung-tanggung untuk meyakini Maxwell untuk menetap di rumah mewahnya di New York seharga $5 juta.
"Saya adalah orang yang sangat setia. Dan Jeffrey sangat baik kepada saya ketika ayah saya meninggal," katanya.
Ghislaine Maxwell dan Jeffrey Epstein. (Foto: Dokumentasi/Departemen Kehakiman AS)
Pada tahun 1994, Epstein mengajak Maxwell untuk tergabung dalam bisnis gelapnya. Ia memiliki tugas khusus untuk merekrut perempuan dibawah umur untuk di eksploitasi.
Mulanya, Maxwell tidak curiga, karena Epstein hanya ingin membutuhkan seorang pekerja wanita untuk bekerja menjadi tukang pijat di rumahnya. Berbeda dari tempat pijat lainnya, Epstein memiliki persyaratan khusus dalam merekrut para pekerja perempuan tersebut.
Di dalam eksistensinya, para korban tidak merasa curiga dengan Maxwell. Hal ini dikarenakan ia adalah seorang wanita berkelas, para korban sering kali merasa lebih aman melihatnya.
Usai mendapatkan korban, Maxwell kemudian langsung memaparkan pekerjaan gelap tersebut. Ia meyakinkan para korban bahwa melakukan "pijat" kepada Epstein adalah hal yang normal dan merupakan bagian dari gaya hidup orang kaya.
"Saya menjelaskan pekerjaannya. Awalnya sedikit curiga, namun saya meyakini mereka bahwa itu adalah hal yang normal," ujarnya, menjelaskan.
Lihainya Maxwell dalam pekerjaan ini, membuat Epstein semakin yakin untuk menjadikan Maxwell sebagai kemitraan profesional. Hingga kemudian, Maxwell menjadi orang kepercayaan Epstein dan mengelola staf rumah tangganya di berbagai properti mewah.
Selanjutnya, Tokoh Politik dan Internasional yang Terlibat
Hubungan Jeffrey Epstain dan Bill Clinton dimulai pada awal tahun 1990-an dan berlanjut hingga awal tahun 2000-an. Selama masa kepresidenannya, Epstein melakukan beberapa kunjungan ke Gedung Putih dan mempertahankan hubungan dengan rekan-rekan Clinton.
Usai Clinton meninggalkan jabatannya, ia melakukan perjalanan dengan jet pribadi milik Epstein. Dan kerap beberapa kali disorot untuk perjalanan amal.
Sejak penangkapan Epstain pada tahun 2019, tak lama setelah itu, hubungan mereka sebelumnya semakin menjadi sorotan. Clinton membantah mengetahui aktivitas kriminal Epstein dan menjauhkan diri dari pemodal yang tercela tersebut.
Ghislaine Maxwell, Jeffrey Epstein, dan Bill Clinton. (Foto: Dokumentasi/Departemen Kehakiman AS)
Hilangnya Clinton dari sorotan tidak terhenti sampai disana. Usai FBI kembali membuka dokumen Epstain pada tahun 2026, ia pun turut bersuara atas keterlibatannya dengan Epstain.
Ia meminta agar kesaksiannya di hadapan Kongres terkait hubungan dengan pelaku perdagangan seks Jeffrey Epstein dilakukan secara terbuka. Hal ini dilakukan karena ia ingin mencegah pihak Republik mempolitisasi masalah dan kesaksian tersebut
"Mari kita hentikan permainan ini dan lakukan dengan cara yang benar. Yakni dalam sidang terbuka untuk umum," ujar mantan presiden dari Partai Demokrat tersebut di akun X miliknya, Jumat 7 Februari 2026.
Lebih lanjut, sang istri, Hillary Clinton juga turut bersuara atas keterlibatan suaminya dalam jaringan gelap Epstain. Ia menyatakan bahwa keduanya telah memberi tahu Komite Pengawas yang dipimpin Partai Republik tentang yang sebenarnya terjadi.
"Jika kalian ingin perselisihan ini, mari kita lakukan di depan umum," ujarnya. Keduanya diperintahkan untuk memberikan kesaksian secara tertutup di hadapan Komite Pengawas DPR.
Namun demikian, dalam dokumen Epstain, mantan presiden Amerika Serikat ke-42 tersebut terlihat sedang menikmati 'pijatan' dari seorang perempuan. Diduga aksi tersebut dilakukan pada saat Clinton mengunjungi pulau Little St. James, hal ini yang kemudian membuka tabir baru dalam kesaksian Clinton.
Bill Clinton sedang menikmati pijatan dari seorang wanita di dalam sebuah ruangan. (Foto: Dokumentasi/Departemen Kehakiman AS)
Selanjutnya, Presiden Amerika Lainnya yang Ikut Terseret
Selain Bill Clinton, Presiden Amerika ke-45 Donald Trump juga ikut terseret dalam kasus pelecehan seksual anak, Jeffrey Epstain. Nama Trump disebut sebnayak 1.800 kali dalam dokumen Epstain.
Dalam file tersebut, Trump dan Epstain sering bersosialisasi sepanjang tahun 1990-an dan awal 2000-an. Keduanya diketahui sempat menghadiri pesta di resor Mar-a-Lago milik Trump di Florida dan kediaman Epstain.
Catatan penerbangan yang dirilis selama persidangan juga dibuktikan bahwa Trump terbang dengan jet pribadi Epstain beberapa kali pada tahun 1990-an. Di tahun yang sama, Trump juga pernah melakukan hubungan suami istri dengan calon istrinya, Melania Knauss di jet pribadinya.
Hubungan yang telah terjalin baik harus berakhir pahit pada tahun 2004. Hal ini dikarenakan Epstain telah melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan dibawah umur dari anggota Mar-a-Lago.
Bukti email Jeffrey Epstein saat berkirim pesan dengan staf Donald Trump. (Foto: Dokumentasi/Departemen Kehakiman AS)
Trump pernah membantah mengetahui aktivitas kriminal Epstein dan menjauhkan diri dari mendiang pengusaha tersebut pada tahun-tahun sebelum penangkapan dan kematian Epstein. Trump juga sempat mempromosikan teori konspirasi yang tidak berdasar tentang keadaan tersebut dan menyarankan Epstein dibunuh.
Keadaan tersebut kian memanas hingga namanya kembali menjadi perhatian publik pada tahun 2025. Hal ini dikarenakan pemerintahan Trump belum merilis berkas-berkas yang berkaitan dengan Epstain.
Kasus Epstain yang menarik nama Trump kemudian menjadi sorotan kembali di tahun 2026. Trump meminta masyarakat Amerika Serikat untuk tidak lagi memusatkan perhatian mereka pada kasus hukum mendiang Jeffrey Epstain.
Bahkan, dirinya sempat mengkritik kesaksian yang akan dilakukan oleh Bill Clinton dan Hilarry Clinton tentang keterlibatannya dalam kasus Jeffrey Epstain. Ia mengatakan bahwa tindakan keduanya sangatlah memalukan.
"Dia adalah wanita yang sangat pintar, dia lebih baik dalam berdebat daripada orang lain. Dia ingin mengejar saya dalam keterlibatan saya dalam kasus ituc mereka ingin saya dipenjara seumur hidup," katanya seperti dikutip Reuters, Selasa 3 Februari 2026.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak terlibat dalam kasus Epstain. ia juga menilai bahwa rivalnya pada tahun 2016 tersebut berupaya untuk menjatuhkannya melalui kasus Epstain.
Selanjutnya, Perantara Skandal Pengeran Andrew
File Epstain sempat merinci tuduhan Virginia Giuffre bahwa dirinya dipaksa bersetubuh dengan Pangeran Andrew pada saat dia masih berusia 17 tahun. Aksi tersebut dilakukan Pangeran Andrew di beberapa lokasi termasuk di rumah Maxwell di London.
Bukti korespondensi email dari tahun 2010 menunjukkan Epstein terus bertindak sebagai perantara sosial bagi Andrew. Rilis berkas ini memicu tekanan politik yang luar biasa di Inggris, yang pada akhirnya menyebabkan pencabutan gelar kerajaan dan pengusiran Andrew dari kediaman resminya.
Meksipun gelar kerajaan Andrew telah dicabut. Namun dirinya merupakan anggota pertama keluarga kerajaaan Inggris yang secara terbuka berbicara kontroversi Jeffrey Epstain.
Pernyataan itu muncul menyusul rilisnya foto-foto dan email baru yang melibatkan dirinya dengan mantan istrinya, Sarah Ferguson. "Sangat penting untuk mengingat para korban, dan siapa para korban dalam semua ini," katanya saat ditemui wartawan usai mengahdiri Wolrd Governments Summit, Dubai, Uni Emirat Arab, Selasa 3 Februari 2026.
Pangeran Andrew, Virginia Giuffre, dan Ghiseleine Maxwell. (Foto: Dokumentasi/Departemen Kehakiman AS)
Dalam rilis terbaru berkas Epstein oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat, korespondensi Andrew dengan Epstein mencakup pengiriman foto kedua putrinya. Yaitu Putri Beatrice dan Putri Eugenie, ketika mereka masih lebih muda.
Mantan Duchess of York, Sarah juga mengirim email kepada Epstein yang memuat penyebutan vulgar terhadap Eugenie. Mengingat saat itu Eugenie belum berusia 20 tahun.
Selanjutnya, Sektor Teknologi dan Keuangan
Korespondensi yang dirilis pada tahun 2026 menunjukkan bahwa Elon Musk memiliki komunikasi yang lebih ramah dengan Epstein. Hal itu terbukti pada email yang pernah dilakukannya sejak tahun 2012 di mana Musk bertanya tentang jadwal pesta di pulau pribadi Epstain.
Komunikasi tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Musk di tahun-tahun berikutnya. Di mana ia berulang kali menyatakan tidak pernah tertarik mengunjungi pulau Epstein maupun menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Epstein.
"Inilah mengapa saya sudah lama tahu bahwa Reid Hoffman pergi ke pulau Epstein. Epstein menggunakan kehadiran Reid di sana untuk mencoba membujuk saya agar ikut pergi," ujarnya.
Meski rencana kunjungan itu akhirnya dibatalkan dengan alasan logistik. Isi email menunjukkan adanya minat yang sebelumnya tidak pernah diakui secara terbuka.
Kontradiksi lain muncul terkait SpaceX. Pada 2020. Musk menyatakan bahwa Epstein tidak pernah mengunjungi fasilitas SpaceX.
Bukti email antara Jeffrey Epstein dengan Elon Musk di tahun 2012 lalu. (Foto: Dokumentasi/Departemen Kehakiman AS)
Namun dokumen Februari 2013 memperlihatkan bahwa Epstein dan beberapa asistennya melakukan tur ke fasilitas tersebut. Terutama bagi mereka yang mendapat undangan.
Nama Reid Hoffman ikut menjadi sorotan setelah arsip mencatat kunjungannya ke pulau Epstein pada November 2014. Perjalanan tersebut difasilitasi menggunakan helikopter yang disiapkan oleh Epstein.
Beberapa minggu kemudian, Hoffman tercatat mengirim hadiah kepada Epstein pada Desember 2014. Termasuk es krim yang disebut ditujukan “for the girls” serta benda lain yang dinilai cocok untuk pulau tersebut.
Pengiriman hadiah itu terjadi ketika Epstein telah dikenal luas sebagai pelaku kejahatan seksual. Dokumen lain menunjukkan Hoffman sempat menawarkan bantuan terkait penanganan pemberitaan negatif yang menimpa Epstein.
Hoffman sebelumnya menyatakan bahwa hubungannya dengan Epstein hanya sebatas konteks penggalangan dana MIT dan berakhir pada 2015. "Saya hanya mengenal Jeffrey Epstein karena hubungan penggalangan dana dengan MIT," katanya.
Namun pada Februari 2026, Hoffman mengakui bahwa pertemuannya dengan Epstein berlangsung hingga 2018. Perubahan pernyataan ini memperkuat sorotan publik terhadap ketidaksesuaian klaim para tokoh berpengaruh yang tercantum dalam Epstein Files.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....