Sinkhole Aceh Tengah Ancaman Serius Permukiman dan Infrastruktur
- 09 Feb 2026 15:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
FENOMENA tanah amblas membentuk lubang raksasa atau sinkhole terjadi di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Peristiwa ini berlangsung perlahan namun terus membesar dan berkembang dari tahun ke tahun.
Lokasi sinkhole ini berada di lahan perkebunan warga Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol. Kawasan tersebut terletak di jalur penghubung utama antara Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.
Pada tahap awal, pergerakan tanah tidak langsung menimbulkan dampak luas terhadap kehidupan warga sekitar. Namun, perkembangan longsoran mulai menunjukkan potensi ancaman serius terhadap infrastruktur dan permukiman.
Pantauan lapangan dan kajian geologi telah menunjukkan perluasan longsoran terus berlangsung hingga saat ini. Kondisi tersebut tentu mendorong keterlibatan berbagai pihak lintas sektor secara bertahap.
Badan Geologi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, hingga kementerian teknis mulai turun tangan menangani fenomena tersebut. Penanganan dilakukan secara bertahap di tengah risiko yang dinilai masih terus berkembang.
Fenomena ini tidak lagi dipandang hanya sebagai persoalan lokal semata oleh pemerintah daerah. Tetapi sinkhole Aceh Tengah ini menjadi contoh kompleksnya risiko geologi di wilayah vulkanik aktif.
Dari satu lubang kecil di lahan warga, persoalan ini berkembang menjadi isu keselamatan publik. Dampaknya mencakup infrastruktur, permukiman, hingga keberlanjutan wilayah dalam jangka panjang.
Selanjutnya, Jejak Panjang Longsoran Sejak Awal 2000-an
Fenomena longsoran tanah di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol ini bukan peristiwa baru. Pergerakan tanah di wilayah tersebut telah terpantau sejak awal 2000-an.
Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, menyebut lubang kecil mulai terbentuk sejak periode tersebut. Kemudian, pergerakan tanah berlangsung bertahap dan mulai tercatat sejak tahun 2004.
“Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Di mana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak 2004,” ucapnya, Kamis 15 Januari 2026.
Pada fase awal, longsoran terjadi di lahan perkebunan milik warga sekitar lokasi. Saat itu, dampaknya belum langsung mengganggu aktivitas utama masyarakat setempat.
Namun seiring waktu, laporan warga terus berdatangan terkait perubahan kontur tanah di lokasi tersebut. Retakan dan penurunan permukaan tanah mulai terlihat semakin jelas.
Andalika menyebut hingga kini belum ditemukan literasi pasti terkait awal mula kejadian tersebut, meskipun pergerakan tanah tercatat terus berlanjut. Kondisi tersebut memperkuat perlunya kajian lanjutan secara ilmiah.
Pergerakan yang awalnya terbatas di lahan warga kemudian meluas hingga mendekati akses jalan vital. Situasi inilah yang memicu dampak serius berikutnya.
Selanjutnya, Longsoran Memutus Jalan dan Paksa Relokasi Warga
Dampak signifikan longsoran mulai dirasakan masyarakat pada tahun 2006. Saat itu, akses jalan Blang Mancung–Simpang Balik yang menghubungkan Aceh Tengah-Bener Meriah sempat terputus akibat pergerakan tanah.
Kerusakan jalan memaksa warga menggunakan jalur alternatif dengan jarak tempuh lebih panjang. Mobilitas harian dan distribusi logistik masyarakat ikut terdampak signifikan.
Tidak hanya berdampak pada jalan, longsoran juga memengaruhi kawasan permukiman warga sekitar. Pemerintah daerah kemudian melakukan relokasi warga Kampung Bah Serempah.
Relokasi dilakukan ke kawasan Kampung Serempah Baru pada periode 2013 hingga 2014. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi dilaksanakan secara bertahap untuk memulihkan fungsi permukiman.
Selain itu, langkah tersebut juga menjamin keselamatan warga terdampak. “Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut,” kata Andalika.
Meski relokasi pernah dilakukan, pergerakan tanah tidak sepenuhnya berhenti. Kondisi ini menunjukkan ancaman longsoran masih berlanjut.
Selanjutnya, Fenomena Ini Bukan Sinkhole Karst Klasik
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai fenomena di Aceh Tengah bukan sinkhole karst klasik. Peristiwa ini lebih menyerupai pergerakan tanah akibat erosi bawah permukaan.
Plt Badan Geologi ESDM Lana Saria menjelaskan material penyusun berupa endapan vulkanik muda. Material tersebut mudah jenuh air dan kehilangan kekuatan dukung.
“Fenomena sinkhole (lubang amblevsan) memang identik dengan batuan gamping (karst). Namun kejadian di Pondok Balik, Ketol, Aceh Tengah, membuktikan bahwa material vulkanik juga memiliki kerentanan serupa, meski dengan mekanisme yang sedikit berbeda,” kata Lana, Minggu 1 Februari 2026.
Menurutnya, aliran air bawah permukaan mempercepat pelemahan lapisan tanah di lokasi longsoran. Ia menyebut batuan di lubang raksasa tersebut dinilai menjadi gembur karena lereng tidak stabil dan kondisi air.
Penyebab lubang semakin meluas dinilai berasal dari proses pengikisan tebing ke arah samping oleh aliran air. Proses tersebut memperlebar tebing atau lembah secara bertahap seiring berlangsungnya pergerakan tanah.
"Hal ini membuat lereng tidak stabil dan jenuh air sehingga batuan menjadi gembur dan berat massa batuan bertambah. Ditambah dengan adanya erosi lateral oleh rembesan air yang berada pada bagian lembah lereng menyebabkan terjadinya longsoran dan runtuhan batuan," ucapnya
Badan Geologi menilai pergerakan tanah bersifat progresif dan sulit dihentikan. Menurut Lana risiko longsor susulan masih tinggi terutama saat hujan lebat.
Rekomendasi pembatasan aktivitas di sekitar lokasi juga telah disampaikan kepada pemerintah daerah guna mengurangi potensi korban. Analisis menunjukkan ancaman tidak hanya pada lahan warga, karena infrastruktur strategis juga berada dalam zona risiko.
Penilaian Badan Geologi tersebut memperkuat dugaan bahwa fenomena ini memiliki karakteristik geologi yang tidak lazim. Pandangan serupa juga disampaikan pakar geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menilai peristiwa ini berbeda dari sinkhole karst klasik.
Selanjutnya, Akademisi Nilai Lubang Bukan Sinkhole
Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM Dwikorita Karnawati menilai fenomena di Aceh Tengah bukan sinkhole klasik. Ia menyebut lubang raksasa tersebut lebih menyerupai mahkota longsoran yang berkembang perlahan.
Menurut Dwikorita, bentuk lubang yang memanjang menjadi pembeda utama dengan sinkhole pada umumnya. Sebab, sinkhole biasanya berbentuk corong vertikal akibat runtuhnya saluran air bawah tanah.
“Kalau saya melihat dari video dan foto-foto gambar itu. Ini nampaknya agak berbeda dengan Sinkhole yang pernah ditemukan di Sumatera Barat dan di beberapa wilayah lainnya,” ujarnya.
Dwikorita menjelaskan lubang raksasa di Pondok Balik memiliki kedalaman sekitar 20 hingga 30 meter. Kedalaman tersebut dinilai tidak sedalam sinkhole karst yang terhubung dengan sungai bawah tanah.
“Ini memanjang seperti lembah atau alur sungai, bukan corong vertikal,” katanya. Fenomena tersebut disebutnya mirip mahkota longsoran pada material tanah pasir.
Ia juga menilai material penyusun tebing telah mengalami pelapukan lanjut sehingga kohesinya sangat lemah. Kondisi tersebut membuat tanah mudah runtuh meski tanpa pemicu besar.
Dwikorita menduga longsoran dapat dipicu getaran gempa berskala kecil yang tidak selalu dirasakan manusia. Getaran kendaraan berat yang melintas di sekitar lokasi juga dinilai mempercepat keruntuhan lereng.
Pandangan pakar ini menekankan bahwa longsoran di Pondok Balik terus berkembang dan berpotensi membahayakan warga serta infrastruktur. Kondisi tersebut sejalan dengan kekhawatiran Bupati Aceh Tengah yang meminta penanganan cepat terhadap lubang yang terus melebar.
Selanjutnya, Bupati Aceh Tengah Minta Penanganan Lubang Raksasa
Bupati Aceh Tengah Haili Yoga menegaskan perlunya penanganan cepat untuk lubang raksasa di Pondok Balik, Kecamatan Ketol ini. Menurutnya, pergerakan tanah yang terus berkembang telah berdampak pada jalan raya Takengon–Buter.
“Lubang yang makin lebar dan dalam berdampak pada jalan raya Takengon-Buter yang telah termakan longsoran,” kata Haili pada perbincangan dengan Pro3 RRI, Senin 2 Februari 2026. Hal tersebut juga menimbulkan kerugian bagi masyarakat karena akses transportasi utama menjadi terganggu.
Selain jalan, areal pertanian hortikultura milik warga, seperti cabai dan bawang, turut terdampak. Bupati menekankan bahwa kehilangan lahan produktif ini menimbulkan dampak ekonomi yang nyata bagi warga terdampak.
Bupati menambahkan, pemukiman warga yang berjarak sekitar 400 meter dari lubang berada dalam zona risiko. Namun, pemerintah Kabupaten Aceh telah menyiapkan rencana cadangan untuk merelokasi warga ke tempat yang lebih aman.
“Namun, kami masih menunggu tim dari Badan Geologi Kementerian ESDM untuk melakukan kajian dan memberikan rekomendasi,” ujarnya. Selain itu, Pemkab juga menyampaikan permasalahan ini kepada Menteri Dalam Negeri sebagai tindak lanjut koordinasi pusat.
Lubang raksasa ini juga mengancam tower Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) milik PLN yang berada di sisi tenggara lokasi. Haili menyatakan, kondisi ini membutuhkan koordinasi lintas sektor agar risiko terhadap infrastruktur vital dapat diminimalkan.
Koordinasi cepat antara pemerintah daerah dan PLN dilakukan untuk menekan risiko kerusakan infrastruktur vital akibat lubang raksasa. Langkah strategis tersebut sejalan dengan permintaan Bupati Haili Yoga agar seluruh fasilitas terdampak dapat diamankan secara segera dan maksimal.
Selanjutnya, PLN Siapkan Tower Darurat Antisipasi Dampak Longsor
PT PLN (Persero) bergerak cepat melakukan penyambungan tower darurat pada SUTET 150 kilovolt Bireuen–Takengon. Langkah ini dimaksudkan untuk mengantisipasi potensi dampak longsor di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah.
TL Asosman Diagnosa dan Pengelolaan Data PLN UPT Banda Aceh, Abdurrahman, mengatakan langkah pengamanan dilakukan dengan merelokasi Tower SUTET Nomor 76. Ia menjelaskan relokasi tower dilakukan sejauh 50 meter ke titik lebih aman, sehingga risiko gangguan transmisi listrik berkurang.
"Tim P3B Sumatera telah menyiapkan 80 personel untuk mengamankan sistem transmisi pada 31 Januari 2026. Kami terus berupaya melakukan recovery dalam bencana sinkhole di Pondok Balik," ucap Abdurrahman, Kamis, 29 Januari 2026.
Selain itu, PLN juga akan menerapkan manajemen beban pada sistem kelistrikan di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Langkah ini dilakukan guna memastikan keandalan pasokan listrik tetap terjaga bagi masyarakat terdampak bencana.
Pada sektor kelistrikan mengamankan tower SUTET menjadi upaya awal mencegah gangguan listrik akibat longsor. Langkah ini juga mendukung persiapan penanganan risiko lebih luas yang akan dilakukan Kementerian PU.
Selanjutnya, Menteri PU Pantau Langsung Longsoran Tebing Ketol
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau langsung lokasi sinkhole di Aceh Tengah. Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat dampak terhadap infrastruktur nasional.
Dalam peninjauan tersebut, Menteri Dody menegaskan penanganan tidak boleh hanya berfokus pada titik longsoran. Ia menekankan pentingnya mengatasi faktor pemicu sekitar, termasuk aliran air dan kondisi geologi kawasan.
“Ada beberapa item yang akan kita kerjakan, mulai dari grouting, penanganan sungai, sampai penguatan di beberapa titik. Mesti kita lakukan penanganan cepat,” ujar Menteri Dody dalam keterangan pers, Jumat, 6 Februari 2026.
Menteri PU Dody Hanggodo (tengah) beserta jajaran saat meninjau runtuhan tebing di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Jumat 6 Februari 2026 (Foto: Humas Kementerian PU)
Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, kawasan tersebut dinilai belum sepenuhnya aman. Menurut Dody, masih terdapat pergerakan air di bawah permukaan tanah, yang berpotensi memperbesar runtuhan jika tidak segera ditangani.
“Tadi saat kita meninjau, terasa ada getaran, artinya area ini memang belum 100 persen secure. Di bawah ini masih ada pergerakan air dan itu harus kita hentikan,” ucapnya.
Dari titik ini, tantangan mitigasi jangka panjang semakin terlihat jelas. Risiko geologi membutuhkan pendekatan berkelanjutan.
Selanjutnya, Mitigasi Jangka Panjang di Tengah Risiko Geologi
Fenomena sinkhole yang terjadi di Aceh Tengah menunjukkan bahwa risiko geologi di wilayah ini bersifat jangka panjang dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Pergerakan tanah di kawasan tersebut berpotensi terus berkembang jika tidak ada pengelolaan menyeluruh yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Pengendalian aliran air bawah permukaan serta pengaturan tata ruang secara tepat menjadi kunci utama dalam mitigasi bencana. Tanpa langkah-langkah yang sistematis tersebut, proses perluasan longsoran akan sulit dihentikan dan dapat mengancam permukiman, jalan, serta infrastruktur vital.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya penerapan mitigasi berbasis sains dan data geologi yang akurat. Wilayah vulkanik aktif seperti Aceh Tengah menyimpan risiko laten yang bisa muncul kapan saja jika tidak diawasi secara terus-menerus.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga akademik, dan masyarakat setempat menjadi kebutuhan mutlak dalam menghadapi bencana geologi. Upaya parsial atau penanganan terbatas tidak akan cukup menghadapi kompleksitas risiko yang berkembang secara alami.
Dari Desa Pondok Balik, pelajaran penting tentang ketahanan wilayah muncul secara nyata. Sinkhole Aceh Tengah mencerminkan tantangan serius bagi pembangunan di daerah yang rawan bencana, termasuk dalam perencanaan infrastruktur dan tata ruang.
Peristiwa ini menegaskan bahwa keselamatan warga harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan dan tindakan mitigasi. Keberlanjutan wilayah, baik dari segi lingkungan maupun ekonomi masyarakat, harus menjadi tujuan utama dari seluruh upaya penanganan bencana di kawasan ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....