IHSG Terguncang, Percepatan Reformasi Bursa jadi Sasaran
- 03 Feb 2026 15:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami tekanan signifikan dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Secara kumulatif, pelemahan yang terjadi mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap dinamika pasar saham domestik.
Tekanan terhadap pergerakan IHSG salah satunya dipengaruhi oleh penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap sistem pasar saham Indonesia. Penilaian tersebut memicu sentimen negatif dan meningkatkan kekhawatiran investor dalam jangka pendek.
Di tengah kondisi tersebut, investor diimbau untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan persepsi eksternal semata. Investor diminta untuk menjadikan penilaian pihak luar sebagai satu-satunya rujukan dalam menentukan langkah investasi.
Pendekatan berbasis fundamental perusahaan dinilai tetap menjadi kunci utama dalam berinvestasi di pasar modal. Investor perlu melihat kinerja, prospek usaha, serta daya tahan bisnis emiten dalam menghadapi berbagai kondisi ekonomi.
Apabila fundamental perusahaan dinilai solid dan memiliki prospek jangka panjang yang baik, saham emiten tersebut masih layak dipertimbangkan. Sebaliknya, perusahaan dengan kinerja lemah dan prospek terbatas sebaiknya dihindari meskipun harga sahamnya terlihat menarik.
Fluktuasi harga saham dalam jangka pendek merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar. Oleh karena itu, investor diharapkan tidak bersikap terlalu reaktif terhadap pergerakan harga harian yang dipengaruhi sentimen sesaat.
Secara umum, kondisi fundamental mayoritas emiten di Indonesia masih dinilai cukup baik. Hal ini sejalan dengan perekonomian nasional yang tetap menunjukkan ketahanan dan peluang pertumbuhan.
Dengan dasar tersebut, peluang pemulihan harga saham menuju nilai yang lebih mencerminkan kinerja perusahaan masih terbuka. Sikap tenang, rasional, dan berorientasi jangka panjang menjadi bekal penting bagi investor dalam menghadapi volatilitas pasar.
Apakah pelemahan IHSG saat ini bersifat sementara atau mengindikasikan tantangan struktural? Faktor apa yang menentukan arah pemulihan pasar ke depan?
Selanjutnya, Para Menteri Respons Fenomena IHSG Anjlok
Sejumlah menteri bidang ekonomi Kabinet Merah Putih memberikan respons atas anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu 28 Januari 2026. Pelemahan tajam tersebut bahkan sempat memicu penghentian sementara perdagangan saham atau trading halt di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyatakan, penurunan IHSG dipengaruhi laporan awal Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ia meminta BEI segera menindaklanjuti catatan MSCI, terutama terkait aspek transparansi dan akuntabilitas pasar modal.
Menurut Rosan, MSCI menjadi salah satu rujukan utama investor global dalam menanamkan modal di suatu negara. Karena itu, temuan yang disampaikan perlu segera ditindaklanjuti agar kepercayaan investor tetap terjaga.
"Kita tahu MSCI adalah acuan dari para investor dunia pada saat berinvestasi ke negara. Itu tentunya kita harus segera tindaklanjuti karena ini hanya masalah transparansi dan akuntabilitas," kata Menteri Rosan kepada wartawan di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu 28 Januari 2026.
Rosan menilai pasar modal nasional akan semakin kuat jika tata kelola perdagangan saham diperbaiki. Ia meyakini fundamental perusahaan-perusahaan tercatat di Indonesia masih solid sehingga berpotensi menopang pemulihan pasar.
Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta BEI melakukan evaluasi, khususnya dalam meningkatkan transparansi. Ia menegaskan transparansi merupakan syarat utama bagi penyelenggara pasar modal dan dapat ditingkatkan melalui mekanisme yang telah diterapkan di berbagai negara.
"Tentu kalau transparansi itu persyaratan bagi seluruh penyelenggara pasar modal. Jadi itu bisa dilakukan improvement dengan mekanisme yang sudah banyak dipraktikan banyak negara," kata Airlangga.
Airlangga juga mengimbau investor dan pelaku pasar agar tidak bereaksi berlebihan terhadap penurunan IHSG. Ia optimistis pergerakan pasar saham akan kembali stabil seiring waktu.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah telah mendorong BEI untuk membenahi pasar saham, terutama terkait praktik spekulatif atau penggorengan saham. Ia menilai arah perbaikan yang dilakukan BEI sudah tepat, meski masih memerlukan percepatan.
Purbaya menambahkan Otoritas Jasa Keuangan berkomitmen menindaklanjuti seluruh catatan MSCI sebelum batas waktu Mei 2026. Langkah ini diharapkan mampu memperbaiki kualitas dan kredibilitas pasar saham nasional.
Menurut Purbaya, penurunan IHSG merupakan guncangan sementara dan diyakini akan kembali normal dalam waktu dekat. Ia menekankan fokus utama pemerintah tetap pada penguatan ekonomi nasional, peningkatan efisiensi belanja kementerian dan lembaga, serta perbaikan iklim investasi.
Selanjutnya, Jajaran Petinggi BEI-OJK Kompak Lepas Jabatan
Dalam satu hari, empat pejabat penting sektor keuangan Indonesia kompak mengundurkan diri, Jumat 30 Januari 2026. Pengunduran diri terjadi di tengah gejolak pasar modal nasional selama dua hari terakhir.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengumumkan pengunduran diri sesaat setelah perdagangan dibuka Jumat pagi. Pernyataan tersebut disampaikan langsung kepada awak media di Gedung Bursa Efek Indonesia.
Iman menegaskan keputusan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab pribadi atas dinamika pasar. Ia menilai langkah mundur diperlukan demi menjaga kepercayaan dan stabilitas pasar modal nasional.
“Sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, saya menyatakan mengundurkan diri dari jabatan ini. Saya berharap ini yang terbaik bagi pasar modal Indonesia ke depan,” katanya.
Ia memastikan mekanisme penggantian pimpinan BEI berjalan sesuai AD/ART perseroan. Untuk sementara, BEI akan menunjuk Pelaksana Tugas Direktur Utama hingga ditetapkan pimpinan definitif.
Pada malam harinya, tiga pejabat tinggi Otoritas Jasa Keuangan juga menyampaikan pengunduran diri. Mereka adalah Ketua OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua Mirza Adityaswara, dan Kepala Eksekutif PMDK Inarno Djajadi.
Padahal sebelumnya, Mahendra dan Inarno masih menyampaikan keterangan pers di Gedung Bursa Efek Indonesia. Keduanya menyatakan komitmen melakukan pembenahan sesuai catatan Morgan Stanley Capital International.
OJK menyebut pengunduran diri juga diajukan Deputi Komisioner Pengawas Emiten Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) I.B. Aditya Jayaantara. Seluruh pengunduran diri disampaikan secara resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Mahendra menyatakan langkah tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral pimpinan. Keputusan diambil untuk mendukung upaya pemulihan sektor jasa keuangan nasional.
“OJK menegaskan proses ini tidak memengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan lembaga. OJK tetap menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Pelaksanaan tugas pimpinan OJK sementara dijalankan sesuai tata kelola yang berlaku. Langkah ini untuk memastikan keberlanjutan pengawasan dan pelayanan kepada masyarakat.
OJK menegaskan komitmen menjaga kepercayaan publik melalui transparansi dan akuntabilitas. Prinsip tata kelola yang baik tetap menjadi pedoman utama kelembagaan.
Selanjutnya, Penunjukan Pimpinan Sementara BEI-OJK
Pengunduran diri sejumlah pimpinan Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan pada Jumat 30 Januari 2026, langsung direspons pemerintah. Pemerintah menggelar rapat di Wisma Danantara untuk membahas kondisi pasar modal nasional pada Sabtu 31 Januari 2026 malam.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap penunjukan Jeffrey Hendrik sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI. Jeffrey menggantikan Iman Rachman yang telah mengundurkan diri dari jabatannya.
Purbaya menegaskan Jeffrey akan memimpin BEI selama masa transisi. Ia juga memastikan Jeffrey akan hadir bersama jajaran manajemen BEI dalam pertemuan dengan MSCI pada Senin 2 Februari 2026.
Sebelum menjabat Pjs Dirut BEI, Jeffrey Hendrik merupakan Direktur Pengembangan BEI. Ia diangkat melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 29 Juni 2022.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto turut membenarkan posisi Jeffrey sebagai Pjs Direktur Utama BEI. Airlangga menyebut, kepemimpinan sementara tersebut telah berjalan sesuai ketentuan internal.
Jeffrey memastikan proses transisi kepemimpinan tidak akan mengganggu operasional maupun kinerja bursa. Ia menyebut BEI tetap menjalankan fungsi perdagangan dan pengawasan pasar secara normal.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan juga menunjuk pejabat pengganti Dewan Komisioner usai pengunduran diri empat pimpinan. Penunjukan dilakukan beberapa jam sebelum rapat pemerintah di Wisma Danantara.
OJK menetapkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK. Sebelumnya, posisi tersebut dijabat Mahendra Siregar dan Mirza Adityaswara.
“Friderica Widyasari Dewi selaku Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK,” tulis OJK dalam keterangannya, Sabtu 31 Januari 2026.
Selain itu, Hasan Fawzi ditunjuk sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal. Jabatan tersebut sebelumnya diemban Inarno Djajadi.
OJK menegaskan penunjukan pejabat pengganti dilakukan melalui Rapat Dewan Komisioner. Keputusan berlaku efektif mulai 31 Januari 2026.
Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari mekanisme kelembagaan. OJK memastikan stabilitas organisasi dan fungsi pengawasan sektor jasa keuangan tetap terjaga.
Selanjutnya, Mandat Presiden Terkait Pembenahan Bursa Saham
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait percepatan pembenahan pasar modal nasional. Pemerintah menilai reformasi struktural bursa menjadi langkah mendesak untuk membangun sistem perdagangan saham yang transparan dan berintegritas.
Salah satu fokus utama pembenahan adalah peningkatan likuiditas pasar melalui kebijakan kenaikan batas minimum saham publik atau free float. Pemerintah menargetkan porsi free float minimal 15 persen agar pasar modal Indonesia sejajar dengan standar internasional.
“Bapak Presiden Prabowo memerintahkan percepatan reformasi integritas pasar melalui reformasi struktural pasar modal, termasuk demutualisasi bursa. Presiden juga mendorong peningkatan likuiditas melalui kenaikan minimum free float menjadi 15 persen sesuai standar global,” ujar Airlangga dalam Konferensi Pers di Wisma Danantara Jakarta, Sabtu 31 Januari 2026.
Airlangga menegaskan pemerintah bersikap tegas terhadap praktik manipulasi harga saham. Menurutnya, praktik tersebut tidak hanya merugikan investor, tetapi juga merusak kredibilitas sistem ekonomi nasional.
“Pemerintah tidak mentolerir praktik manipulatif share pricing atau saham gorengan yang merugikan investor. Praktik tersebut merusak integritas pasar modal Indonesia,” katanya.
Untuk mencegah penyalahgunaan di pasar saham, pemerintah mewajibkan keterbukaan penuh terkait kepemilikan akhir saham. Pengetatan aturan beneficial ownership menjadi bagian penting dalam memperkuat tata kelola pasar modal modern.
Airlangga juga menekankan sinergi antara otoritas pasar modal dan aparat penegak hukum. Kolaborasi tersebut bertujuan menindak tegas setiap pelanggaran yang mengganggu stabilitas bursa.
“Bursa Efek Indonesia bersama aparat penegak hukum akan melakukan tindakan tegas. Langkah ini ditujukan kepada siapa pun yang melanggar peraturan bursa,” ujarnya.
Di sisi lain, Presiden Prabowo memastikan aktivitas pasar modal tetap berjalan normal di tengah masa transisi kepemimpinan. Pejabat pelaksana tugas disebut memiliki mandat penuh untuk menjaga fungsi regulasi dan pengawasan.
“Presiden telah menginstruksikan Kementerian Keuangan serta jajaran OJK dan BEI. Tujuannya memastikan operasional bursa tetap berjalan normal selama masa transisi,” katanya.
Presiden juga menyampaikan pesan kepada investor domestik dan global mengenai ketahanan ekonomi Indonesia. Pemerintah menegaskan komitmennya menciptakan iklim investasi yang adil, transparan, dan berkelas dunia.
“Fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan tangguh. Pemerintah berdiri di belakang pasar keuangan nasional dan berkomitmen pada iklim investasi yang transparan dan adil,” ujarnya.
Selanjutnya, Upaya Percepatan Reformasi Bursa Efek
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan percepatan reformasi di Bursa Efek Indonesia. Menurutnya, peningkatan kualitas emiten dan penguatan perlindungan investor menjadi kunci menghadapi volatilitas pasar.
OJK juga akan mendorong peningkatan literasi masyarakat terhadap instrumen investasi di pasar modal. Di sisi lain, penegakan hukum akan dilakukan secara konsisten untuk menjaga integritas perdagangan saham.
“Kami terus mendorong peningkatan likuiditas dan pendalaman pasar melalui kebijakan free float minimal 15 persen. Langkah ini juga diiringi optimalisasi peran liquidity provider serta penguatan investor institusional, termasuk asuransi dan dana pensiun pemerintah,” ujarnya.
Friderica menyampaikan OJK tengah menyiapkan regulasi untuk memperluas keterlibatan bank umum di sektor pasar modal. Pemerintah juga akan merevisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan guna mendukung kebijakan tersebut.
Selain itu, OJK akan memperketat kewajiban keterbukaan terkait kepemilikan akhir saham oleh emiten. Perusahaan efek diwajibkan meningkatkan uji tuntas dan menjamin kualitas data yang disampaikan kepada publik.
“Penanganan kasus besar akan dilakukan melalui penegakan hukum yang memberikan efek jera. Pengawasan pasar juga diperkuat, termasuk terhadap aktivitas para influencer,” ujarnya.
OJK memastikan akan segera memulai penyelidikan menyeluruh terhadap praktik manipulasi harga saham. Langkah ini ditujukan kepada pihak-pihak yang merugikan pasar modal, termasuk pelaku promosi investasi yang menyesatkan.
Selanjutnya, Gelar Pertemuan dengan MSCI
Otoritas Pasar Modal Indonesia menyelenggarakan pertemuan daring dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) sesuai rencana. Pertemuan berlangsung di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Senin 2 Februari 2026 sore.
“Secara umum hari ini yang dilakukan adalah, OJK bersama BEI dan KSEI telah mengajukan proposal solusi. Proposal ini pada prinsipnya untuk menjawab keseluruhan concern dan isu terkait tranparansi,” kata Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam keterangan pers usai pertemuan.
Hasan mengungkapkan bahwa ada tiga rencana yang disiapkan untuk memperhatikan perhatian MSCI. Ketiga langkah tersebut dirancang untuk meningkatkan transparansi dan kredibilitas pasar modal.
Pertama, mengenai pengungkapan kepemilikan saham oleh pemegang dengan porsi di bawah 5 persen. Hasan menekankan, “Kami bahkan berkomitmen untuk membuka data kepemilikan saham di atas satu persen,” ujarnya.
Kedua, klasifikasi investor akan dibuat lebih rinci. Saat ini terdapat sembilan tipe investor, dan ke depannya akan diperluas menjadi 27 sub-tipe untuk meningkatkan klarifikasi dan kredibilitas pengungkapan beneficial ownership.
Ketiga, OJK mengusulkan peningkatan free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen. Penerapannya akan dilakukan secara bertahap bersama seluruh pelaku pasar.
Hasan menambahkan bahwa diskusi dengan MSCI berlangsung lancar. Selanjutnya akan dilakukan pembahasan kembali dalam pertemuan di tingkat teknis.
“MSCI bahkan bersedia memberikan panduan terkait metodologi dan cara perhitungan mereka. Kami sepakat dan akan terus memberikan update perkembangan ini kepada publik,” ujarnya.
Dalam pertemuan dengan MSCI, selain perwakilan OJK juga hadir perwakilan dari Danantara. Selain dari Self-Regulatory Organization, yakni Bursa Efek Indonesia dan Kustodian Sentral Efek Indonesia.
Selanjutnya, Pemerintah Beberkan Hasil Pertemuan dengan MSCI
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan hasil pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menteri Airlangga mengatakan pertemuan digelar secara daring (zoom).
"Pertemuan MSCI dengan Bursa Efek Indonesia dilakukan secara zoom. Jadi saya sih melihat dengan masuknya net inflow asing, mereka percaya dengan upaya reform yang dilakukan," kata Menteri Airlangga di Sentul Bogor, Jawa Barat, Senin 2 Februari 2026.
Foreign flow menjadi indikator untuk memantu aliran dana asing pada saham. Sebelumnya MSCI memberikan laporan yang mengakibatkan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga delapan persen pada Rabu 28 Januari 2026.
MSCI menyoroti transparansi pasar saham Indonesia yang dinilai masih kurang, banyaknya praktik 'goreng saham' dan persyaratan free float emiten. Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan reformasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai yang disyaratkan oleh MSCI.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menindaklanjuti dengan menyiapkan delapan aksi percepatan reformasi integritas pasar modal yakni menaikkan batas minimum free float emiten menjadi 15 persen. Free float meningkat dari ketentuan sebelumnya 7,5 persen, diharapkan dengan kebijakan baru tersebut, kepemilikan saham publik meningkat.
Selanjutnya penguatan Transparansi Ultimate Beneficial Ownership dan keterbukaan afiliasi pemegang saham. Upaya ini untuk meningkatkan kredibilitas dan daya tarik investasi melalui pengaturan yang tegas dan selaras dengan praktik internasional.
Aksi berikutnya penguatan data kepemilikan saham oleh KSEI agar lebih granular dan reliable, dan data tersebut akan dipublikasikan melalui BEI. Keempat, demutualisasi BEI sesuai amanat undang-undang, guna meningkatkan tata kelola, mengurangi konflik kepentingan, memperkuat independensi, transparansi, dan efisiensi penyelenggaraan bursa.
Kelima, OJK memperkuat enforcement atau penegakan hukum secara tegas dan berkelanjutan. Penegakan hukum terutama terhadap manipulasi transaksi saham serta penyebaran informasi menyesatkan yang merugikan investor, khususnya investor ritel.
Keenam, penguatan tata kelola emiten, yakni OJK mewajibkan pendidikan berkelanjutan bagi direksi, komisaris, dan komite audit emiten. Kewajiban lain mensyaratkan penyusun laporan keuangan emiten memiliki sertifikasi Certified Accountant (CA).
Pendalaman pasar secara terintegrasi guna memperkuat peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang. Terakhir, reformasi dilakukan melalui sinergi berkelanjutan dengan pemerintah, SRO, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lainnya.
Selanjutnya, IHSG Kembali Anjlok, OJK Imbau Investor tidak Panik
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta investor pasar modal untuk tidak panik meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali turun. IHSG ditutup melemah 4,88 persen atau 406,87 poin ke level 7.922,73 pada Senin 2 Februari 2026.
“OJK bersama seluruh SRO memastikan perdagangan berjalan tertib, wajar, dan efisien. Kami mengimbau seluruh investor di tanah air tetap tenang dan tidak panik,” ujar Pejabat Sementara Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, di gedung BEI, Senin 2 Februari 2026.
Meski pasar mengalami penurunan, Friderica menyebut ada kabar positif berupa masuknya aliran modal asing. “Setelah empat hari mengalami net sell, hari ini investor asing mencatat net buy sebesar Rp654,9 miliar,” ujarnya.
Ia juga mencatat bursa-bursa lain di kawasan mengalami penurunan signifikan, seperti indeks KOSPI Korea Selatan yang turun 5,4 persen. Bursa saham di India, Hong Kong, Singapura, dan Tiongkok juga mencatatkan pelemahan, sementara harga emas terus turun.
Menurut Kiki, para investor sedang melakukan rebalancing portofolio. Saham-saham dengan fundamental baik mengalami kenaikan meski tidak besar, sedangkan saham yang turun umumnya sudah naik terlalu tinggi sebelumnya.
Selanjutnya, Investor Asing Kembali Masuk
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan investor asing kembali menanam modal di pasar saham domestik. Hal ini menunjukkan kepercayaan asing menguat setelah pemerintah melakukan perbaikan di Bursa Efek Indonesia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat net buy asing mencapai Rp654,9 miliar pada perdagangan Senin 2 Februari 2026. Angka ini menjadi indikasi meningkatnya kepercayaan asing meski IHSG mengalami pelemahan.
“Kita melihat adanya net inflow asing yang menunjukkan kepercayaan mereka terhadap perbaikan pasar saham,” kata Airlangga di Sentul, Senin 2 Februari 2026. Menurutnya, hal ini menandakan investor asing percaya pada reformasi dan kebijakan pasar modal nasional.
Airlangga menjelaskan saham dengan fundamental kuat menunjukkan tren positif di tengah fluktuasi pasar. Sementara pelemahan IHSG dipicu kekhawatiran investor atau Fear of Missing Out (FOMO) beberapa hari terakhir.
“Kami melihat saham yang kurang likuid sering ditinggalkan, karena investor takut ketinggalan peluang pasar modal,” ujarnya. Ia menyebut, investor biasanya mengikuti tren, sehingga saham illiquid menjadi sangat sensitif terhadap sentimen pasar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan pasar masih menunggu keputusan pergantian Ketua OJK. Namun Purbaya menegaskan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat dan prospek ke depan akan membaik.
“Pasar menunggu siapa ketua OJK yang baru, inikan sementara. Tapi ekonomi kita solid dan akan terus membaik,” kata Purbaya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....