Ketangguhan Iran Menaklukkan Dominasi Asing
- 21 Jan 2026 23:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
IRAN kembali menunjukkan ketangguhannya sebagai negara berdaulat yang menolak hegemoni Amerika Serikat. Situasi Iran berangsur pulih setelah diguncang aksi protes yang berubah menjadi aksi kerusuhan sepekan kemarin.
Aksi protes yang ditunggangi pihak asing bertujuan ingin menumbangkan pemerintah Islam Iran di bawah kepemimpinan Ali Khamenei. Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu dalam wawancara dengan Radio Militer Israel, mengakui keterlibatan agen-agen intelijen Israel dalam aksi kerusuhan di Iran.
Amerika Serikat juga ikut berperan dalam menyulut kerusuhan di Iran sehingga menimbulkan banyak korban. Keterlibatan AS bisa terlihat dari masuknya layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk.
Namun layanan internet itu menjadi senjata buat Iran untuk melacak keberadaan agen-agen asing pemicu kerusuhan. Iran dengan kecanggihannya juga mampu memblokir layanan internet Starlink.
Filter Watch, lembaga pembela hak internet mengatakan, Iran berhasil mengacaukan sinyal satelit Starlink sehingga tidak bisa diakses. Rakyat Iran pun berbalik melakukan aksi besar-besaran menolak campur tangan AS dan Israel dalam urusan negaranya.
Mereka yang semula aksi protes karena kondisi ekonomi di Iran, berbalik memberikan dukungan kepada pemerintah Iran. Presiden Donald Trump yang semula dengan garangnya mengancam akan melakukan serangan militer ke Iran, tiba-tiba membatalkannya.
Konspirasi Barat untuk meruntuhkan Iran gagal lagi, setelahnya Iran malah melakukan uji rudal balistik antar benua berkordinasi dengan Rusia.
Selanjutnya, Operasi Ajax di Iran
Keterlibatan agen-agen asing, khususnya Amerika Serikat sebenarnya bukan cerita baru. AS dengan CIA nya pernah melakukan operasi penggulingan Perdana Menteri Iran, Mohammed Mossadeg pada tahun 1953.
AS yang kala itu dipimpin Presiden Dwight Eisenhower menilai Mossadeq terlalu dekat dengan blok Timur. Kebijakan-kebijakan Mossadeq dianggap sering berseberangan dengan kepentingan AS.
Tapi kekhawatiran utama AS sebenarnya adalah, takut kehilangan kontrol terhadap Iran. AS yang saat itu menikmati hasil minyak Iran, khawatir akses minyak itu akan beralih ke Uni Soviet.
Apalagi Mossadeq melakukan langkah berani, mulai menasionalisasi industri minyaknya yang selama ini dikuasai Anglo-Iranian Oil Company, Perusahaan minyak milik Inggris. Inggris dan AS yang merasa terganggu kepentingannya atas minyak Iran, akhirnya bersepakat untuk menggulingkan Mossadeq.
Agen intelijen kedua negara itu menyusun skenario penggulingan dengan kode “Operasi Ajax”. Operasi klandestin pun dilaksanakan dengan cara melakukan kampanye hitam terhadap Mossadeq.
Para agen intelijen Inggris dan AS melakukan penyusupan, memprovokasi untuk menciptakan kebencian rakyat Iran terhadap pemerintahnya. Kudeta terselubung itu berhasil menggulingkan pemerintahan Mossadeq.
Kepemimpinan Iran pun beralih ke Shah Reza Pahlevi yang memang sudah disiapkan AS untuk berkuasa di Iran. Pola yang dilakukan dalam Operasi Ajax ini, kalau dicermati mirip dengan apa yang terjadi di Iran kemarin.
Ketika aksi unjuk rasa damai warga Iran disusupi, aksi menuntut perbaikan ekonomi berubah menjadi tuntutan perubahan rezim. Setelah Shah Reza Pahlevi berkuasa, bisa ditebak, ia menjadi boneka yang memuluskan kepentingan AS di Iran.
Tapi pemerintah Shah Reza Pahlevi yang korup dan gemar bermewah-mewahan itu, akhirnya berakhir oleh Revolusi Islam Iran tahun 1979. Lewat referendum, Iran menjadi negara yang berdasarkan hukum Islam dan namanya menjadi Republik Islam Iran.
Sejak itu pula, Iran kembali menjadi musuh AS dan sekutunya, termasuk Zionis Israel.
Selanjutnya, Kebangkitan Iran di Tengah Sanksi Internasional
Tekanan Barat yang dikomandani Amerika Serikat kembali berlanjut terhadap pemerintahan Republik Islam Iran yang baru berdiri. Iran dikenakan berbagai sanksi ekonomi dan politik, bahkan dikucilkan dari pergaulan internasional.
AS misalnya, memblokir dana deposito Iran di bank-bank AS yang merupakan kekyaan rakyat Iran. Jumlahnya mencapai puluhan miliaran dolar dan AS menolak mengembalikan dana milik rakyat Iran itu.
Pemblokiran dana dan berbagai sanksi ekonomi yang dikenakan terhadap Iran, berpengaruh pada kondisi ekonomi Iran, hingga sekarang. Kemampuan ekonomi negara Iran menjadi terbatas.
Apalagi di tengah gejolak ekonomi global seperti sekarang ini, perekonomian Iran menjadi tertekan. Mata uang Iran jatuh dan inflasi tinggi, yang memicu aksi protes para pedagang di Iran akhir Desember kemarin.
Aksi protes itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh AS dan sekutunya zionis Israel untuk melakukan kampanye hitam terhadap pemerintah Iran. Kampanye yang kemudian disertai aksi kerusuhan dengan tuntutan bukan lagi soal ekonomi, tapi berubah menjadi tuntutan penggantian pemerintahan.
Tekanan terhadap Iran semakin menguat, ketika Iran mengembangkan program nuklirnya. AS dan sekutunya menyebut program nuklir Iran membahayakan dan harus dihentikan.
Padahal program nuklir Iran untuk keperluan damai dan di bawah pengawasan Badan Energi Nuklir Internasional (IAEA). Iran tidak pernah melarang IAEA yang selalu melakukan inspeksi berkala.
Larangan AS terhadap program nuklir Iran justru menunjukkan wajah munafik AS. AS sendiri memberikan perlindungan terhadap program nuklir Israel, dan selalu menolak pemeriksaan oleh IAEA.
Sampai hari ini, Iran membuka diri untuk bernegosiasi terkait program nuklirnya. Sebelum merebak aksi protes di Iran, Iran baru saja melakukan negosiasi terkait nuklirnya dengan AS.
Tapi negosiasi itu menemui jalan buntu. Iran menolak didikte oleh AS dalam pengembangan nuklirnya.
Berbagai sanksi dan tekanan terhadap Iran, tidak membuat Iran menjadi negara yang lemah. Iran dengan segala keterbatasannya menjadi negara yang maju di bidang ilmu pengentahuan dan teknologi.
Ketangguhan dan kecanggihan teknologi Iran terlihat saat Iran membalas serangan Zionis Israel. Misil-misil Iran mampu menembus Iron Dome Israel dan meluluhlantakkan sejumlah kota di Israel.
Selanjutnya, Iran, Negara Cantik dan Unik
Iran bisa dibilang, satu-satunya negara muslim yang masih bertahan dan paling berani menghadapi arogansi AS. Bagi AS, posisi Iran sangat penting, karena AS belum menguasai Timur Tengah kalau belum menguasai Iran.
Keberanian Iran kerap membuat Iran dipandang sebagai negara yang garang. Padahal Iran adalah negara yang indah dengan karakter masyarakatnya yang hangat.
Banyak orang yang terkecoh dengan pemberitaan negatif seputar Iran. Mereka yang berkunjung langsung ke Iran, justru menyaksikan pemandangan yang jauh berbeda.
Pada tahun 2012, Iran menggelar serangkaian konferensi internasional bertajuk Islamic Awakening Conference. Salah satu bagiannya adalah konferensi “Women and Islamic Awakening”.
Konferensi itu bertepatan dengan pecahnya gerakan “Arab Spring” yang mengusung demokratisasi di Timur Tengah. Namun aksi tersebut malah menjadi aksi anti pemerintah dan pemberontakan bersenjata di kawasan jazirah Arab.
Iran sepertinya lagi-lagi jeli melihat siapa yang ‘bermain’ di balik Arab Spring. Namun Iran mengambil langkah cerdas dengan mengumpulkan para cendikiawan, tokoh masyarakat dan tokoh agama, serta aktivis perempuan dari berbagai negara.
Iran mengundang mereka untuk berkumpul untuk berdiskusi dan mengemukakan pemikiran tentang kebangkitan Islam. Gerakan kebangkitan dengan memberdayakan sumber daya manusia, bukan dengan pemberontakan apalagi aksi protes anarkis.
Sepulangnya dari konferensi itu, delegasi perempuan Indonesia berinisiatif membuat buku. Tulisan-tulisan berisi pengalaman mereka yang berjudul “A Note from Tehran” menunjukan wajah Iran yang sesungguhnya.
“Selama ini persepsiku tentang perempuan Iran adalah identik dengan perempuan yang kegiatannya seputar domestik rumah tangga saja. Di luar dugaanku, perempuan Iran berkiprah secara profesional di bidangnya masing-masing,” tulis Septi Peni Wulandani, salah satu delegasi perempuan Indonesia yang aktif di bidang pendidikan.
Delegasi lainnya, jurnalis senior almarhumah Sirikit Syah menulis,”Kunjungan sepluh hari ke Iran merupakan pengalaman ‘breaking the prejudice’”. Kunjungan yang telah memecah prasangka.
Iran, tambah Sirikit, bukan negara yang ideal dan sempurna, tapi yang jelas Iran bukan negara yang menakutkan. Sesekali berkunjunglah ke Iran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....