Minim Literasi Keuangan, Masa Depan Atlet jadi Suram
- 17 Jan 2026 22:03 WIB
- Pusat Pemberitaan
PEMERINTAH mengucurkan bonus untuk atlet peraih medali dari SEA Games 2025 yang berlangsung di Thailand. Bonus diberikan untuk atlet baik nomor perorangan maupun beregu dan pelatih.
Total bonus Rp465,25 miliar dan diserahkan secara simbolis oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta. Kontingen Merah Putih menempati peringkat ke-dua klasmen dengan 91 medali emas, 111 perak dan 131 perunggu.
Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi atas keberhasilan atlet mengharumkan nama Indonesia. Presiden Prabowo meminta agar bonus ditabung untuk masa depan.
“Penghargaan berupa uang untuk menjadi tabunganmu untuk masa mendatang, dipakai untuk hal yang baik. Saya titip, saudara masih muda, jangan dipakai untuk tidak positif, ditabung untuk orang tua dan dirimu, ditabung ya,” kata Presiden Prabowo dalam sambutannya di Istana Negara, Kamis 8 Januari 2026.
Pemberian bonus tersebut diatur dalam Keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga RI Nomor 219 tahun 2025. Keputusan menteri itu tentang pemberian penghargaan kepada olahragawan dan pelatih pada SEA Games ke-33 2025 di Thailand.
Adapun rincian jumlah bonus yakni atlet perorangan peraih medali emas Rp1.000.000.000 dan bonus tersebut terbesar di Indonesia. Selanjutnya atlet peorangan medali perak Rp315.000.000 dan perunggu Rp157.000.000.
Selanjutnya, Literasi Keuangan Atlet Indonesia Masih Rendah
Dikutip dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), literasi keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap dan perilaku. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan untuk mencapai kesejahteraan keuangan masyarakat.
Perencana Keuangan Safir Senduk mengatakan kesadaran atlet untuk mengelola keuangan harus ditingkatkan karena masih banyak atlet yang minim literasi. Para atlet merasa memiliki uang sehingga tidak memikirkan untuk masa depan.
“Kesadaran atlet 50:50, kembali ke orang masing-masing, ada yang bagus dan menabung. Selain itu ada juga habis ditempat karena merasa ada terus,”kata Safir saat dihubungi RRI.CO.ID, Sabtu 17 Januari 2026.
Safir menyebut rendahnya perencanaan keuangan dikalangan atlet karena minimnya edukasi literasi keuangan. Hal itu berdasarkan kasus yang ditanganinya di lapangan.
Faktor lain adalah sifat yang tidak dapat mengontrol emosi saat memiliki banyak uang. Jadi semakin banyak uang yang dipegang maka sulit untuk mengendalikan emosi dalam membelanjakan uang.
“Sifat manusia semakin banyak uang dia punya, semakin emosional dalam membelanjakannya, tidak pakai logika. Semakin sedikit uang yang dia pegang, semakin logis, jadi kalau banyak yang dia dapat maka kembali ke sifat dasar manusia,” ujarnya.
Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) OJK 2024 mencatat literasi keuangan masyarakat sebesar 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan 80,51 persen. Angka tersebut meningkatkan jika dibandingan SNLIK 2024 sebesar 65,43 persen.
SNLIK merupakan indeks literasi dan inklusi keuangan penduduk Indonesia sebagai landasan program peningkatan literasi dan inklusi keuangan ke depan. Kegiatan ini antara OJK dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Selanjutnya, Martina Ayu ‘Ratu Triathlon’, Bonus untuk Investasi
Atlet triathlon putri, Martina Ayu Pratiwi (22) menorehkan prestasi membanggakan di pesta olahraga terbesar di Asia Tenggara SEA Games. Ratu Triathlon memborong lima medali emas dan dua medali perak SEA Games XXXIII yang berlangsung di Thailand, pada 9-20 Desember 2025.
Prestasi dari Martina, menarik perhatian Kepala Negara. Bahkan Presiden Prabowo sempat menghitung medali yang dikalungkan Martina, saat pemberian bonus secara simbolis.
Martina mendapatkan bonus yang paling besar yakni Rp3,4 miliar karena prestasinya yang telah mengharumkan nama Indonesia. Martina mengaku tidak suka berbelanja sehingga akan menggunakan bonus secara bijak misal diinvestasikan membeli aset.
“Bonus untuk investasi, seperti emas, apapunlah yang bisa memutar uang. Bonus diinvestasikan agar tidak habis secara cuma-cuma,” kata Martina dalam perbincangan bersama RRI Pro3, Sabtu 10 Januari 2026.
Hasil kerja keras sebagai atlet, Martina telah memiliki rumah dan aset tanah di Jawa Timur. Ia juga berhasil memenuhi kebutuhan orang tuanya yang saat ini berada di perantauan Papua.
Selanjutnya, Atlet Muda Alwi ‘Melek’ Pentingnya Literasi Keuangan
Pebulu tangkis muda Alwi Farhan menyampaikan rasa syukur atas bonus yang diberikan negara atas keberhasilannya di Thailand. Alwi mengatakan bonus dari pemerintah semakin memotivasi untuk berprestasi.
Alwi sukses meraih medali emas SEA Games 2025 usai mengalahkan rekan senegaranya, Moh Zaki Ubaidillah (Ubed) dengan skor 13-21, 21-8, 21-12. Alwi juga sukses membawa tim putra merebut medali emas di nomor beregu usai mengandaskan tim putra Malaysia dengan skor 3-0.
Atas keberhasilan tersebut, Alwi mendapat bonus Rp 1,5 miliar. Alwi mengatakan bonus dari pemerintah akan ditabung dan diinvestasikan.
“Pastinya langsung ditabung namun ketika dibutuhkan untuk diinvestasi akan saya investasi. Ketika dibutuhkan untuk berbagi, saya akan pakai untuk itu,” kata Alwi kepada RRI.CO.ID.
Pemain asal Klub Exist menilai sangat penting untuk mengelola keuangan dengan bijak. Literasi keuangan yang bagus untuk masa depan apalagi setelah tidak aktif menjadi atlet.
“Sangat penting, karena melihat ekonomi sekarang sepertinya tidak semudah itu untuk mencari uang di luar sana. Saya sendiri cukup bersyukur dan senang dan akan menggunakan materi ini sebaik dan semanfaat mungkin,” katanya.
Alwi menyebut uang bonus atau prize money usai menang pertandingan, dikelola dan diatur oleh kedua orang tua. “Yang membatu mengatur keuangan saya adalah orang tua,” katanya.
Selanjutnya, Cabor Bulu Tangkis Janjikan Kesejahteraan Atlet Berprestasi
Bulu tangkis masih menjadi salah satu cabang olahraga yang mengharumkan nama Indonesia di dunia. Banyak legenda dunia asal Indonesia dari olahraga bulu tangkis.
Pertandingan padat dengan prize money yang besar, bonus dan sponsor seharusnya membuat atlet berprestasi lebih Sejahtera. Mantan pemain ganda putra Luluk Hadiyanto bersyukur dengan olahraga bulu tangkis karena memberikan banyak harapan untuk kesejahteraan.
Oleh sebab itu, para atlet harus memanfaatkan peluang tersebut untuk meraih kesuksesan. Para pebulu tangkis seharusnya mampu mengelola keuangan tersebut dengan baik.
“Kami berysukur lahir dari olahraga memberikan harapan, peluang dan opportunity untuk mendapatkan kesejahteraan. Sekarang kan banyak even,” kata Luluk.
Luluk mengatakan semasa aktif sebagai atlet, ia menyisihkan pendapatannya untuk disimpan dan membeli tanah, deposito dan Tabungan. Orang tuanya pun selalu mengajarkan agar menyimpan uang dari pertandingan.
“Saya bersyukur orang tua mengajarkan menyimpan uang seperti membeli tanah memebli emas, deposito dan tabungan. Ini saya terapkan ketika jadi menjadi atlet,” katanya.
Biasanya ia menyisihkan 80 persen pendapatan sebagai atlet sebagai Tabungan dan 20 persen sisanya untuk keperluan pribadi. Luluk meminta agar atlet terutama pemain muda untuk pandai mengatur keuangan.
“Saat ini mestinya mampu mengelola dengan baik, misal emas sekarang per gram mencapai jutaan rupiah. Hal ini harus disadari. Tidak mudah sekarang mencari uang kalau tidak menjadi atlet, kalau mendapatkan uang maka dimanage dengan baik,” ujarnya.
Selanjutnya, Pemerintah Menggandeng Perbankan untuk Edukasi Keuangan Atlet
Bonus yang diberikan negara untuk atlet dan pelatih, jumlahnya fantastis. Bonus langsung dikirim pemerintah kepada atlet melalui rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengumpulkan atlet dan pelatih untuk mengikuti kegiatan literasi dan edukasi keuangan. Kegiatan yang digagas oleh Kemenpora dan BRI sebagai bank penyalur bonus atlet SEA Games, digelar di Jakarta, Rabu 7 Januari 2026.
Kegiatan bertajuk ‘Champions Beyond the Arena: Smart Finance for Champion Athletes’. Edukasi menghadirkan perencana keuangan dan praktisi literasi finansial Prita Ghozie.
Pada sesi edukasi, para atlet dibekali pemahaman mengenai tantangan pengelolaan keuangan pasca penerimaan bonus dan penghargaan. Menteri Erick mengatakan literasi keuangan menindaklanjuti amanah dari Presiden Prabowo agar bonus dikelola dengan bijak.
“Kita kumpulkan 400 atlet dan pelatih, ikut kegiatan 1,5 jam. Ini sesuai arahan bapak, bonus yang diberikan untuk masa depan mereka, harus mereka jaga,” kata Erick.
Erick mengatakan kolaborasi dengan BRI akan berkelanjutan termasuk pengambilan keputusan keuangan yang bijak. Ia berharap dengan edukasi dan literasi, atlet dan pelatih dapat mengelola penghasilan dan berinvestasi secara tepat.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan tantangan bagi atlet berprestasi adalah mengelola keuangan dan menjaga pendapatan agar stabil. Hery menegaskan pemahaman yang baik dalam pengelolaan keuangan, maka akan membantu atlet mengatur penghasilan secara bijak.
“Prestasi di arena olahraga merupakan puncak dedikasi dan disiplin tantangan sesungguhnya sering kali muncul di luar arena. Tantangan terutama dalam mengelola pendapatan, merencanakan masa depan, serta menjaga stabilitas finansial jangka panjang,” ujar Hery Gunardi, seperti dikutip bri.co.id, Sabtu 17 Januari 2026.
Selanjutnya, Jangan Menunggu Prestasi, Baru Menabung
Tantangan sebagai atlet adalah masa puncak karir atau golden age yang singkat. Selain itu, atlet rawan cedera sehingga dikhawatirkan akan mengakhiri karir sebagai atlet lebih cepat.
Perencana Keuangan Safir Senduk menyarankan selama masih aktif sebagai atlet memanfaatkan dengan menabung atau investasi lain. Jangan menunggu uang banyak untuk menabung.
“Menabung dari sekarang walau sedikit, sisihkan dari sekarang, banyak atlet yang memiliki keinginan bagus. Tapi tahun depan tidak aktif, jadi menabung dari sekarang, jangan menunggu prestasi dulu baru menabung,” ujarnya.
Menurutnya investasi yang menjanjikan bagi seorang atlet adalah saham atau reksadana. Adapun untuk investasi properti atau perumahaan dinilai riskan dengan berbagai risiko.
“Jadi sebenarnya bagusnya saham dan reksadana, dua hal itu bisa dicoba. Alasannya karena bisa dipelajari, prospek bagus dan cukup likuid, tidak butuh dana besar,” ujarnya.
Ia juga meminta agar pemerintah atau federasi olahraga untuk memperbanyak seminar literasi keuangan. Menurutnya, jika atlet tidak mampu mengelola keuangan dengan baik karena tidak sosialisasi literasi keuangan.
Safir kembali menegaskan pentingnya pemahaman literasi keuangan agar penghasilan dapat dinikmati dimasa mendatang, menghindari risiko dan meningkatkan kesehjateraan. Adapun kurangnya literasi keuangan akan berdampak buruk kepada pengaturan keuangan seperti utang menumpuk, keuangan tidak stabil.
“Perlu diadakan seminar, dikumpulkan bersama dan diberikan pendidikan seminar literasi. Mereka akan tau mengelola keuangan, jadi seminar adalah salah satu cara pemberian literasi yang paling mudah tapi dampaknya besar,” kata Safir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....