Isra Mikraj: Teladan Iman, Akhlak, dan Tradisi
- 17 Jan 2026 05:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
CAHAYA lembut malam menyinari umat Islam saat merenungkan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. Peristiwa Isra Mikraj menandai perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit.
Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi simbol kedekatan manusia dengan Allah SWT. Nilai spiritual dari Isra Mikraj tetap relevan di tengah dinamika sosial dan tantangan moral kehidupan modern.
Setiap 27 Rajab peringatan ini mengajarkan bahwa iman lahir dari keteguhan hati dan kesungguhan menjalankan perintah Allah SWT. Teladan Nabi Muhammad SAW menjadi fondasi bagi setiap tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangan seperti konflik, ketidaksabaran, dan perbedaan pandangan memerlukan refleksi spiritual. Kedekatan dengan Tuhan menghadirkan ketenangan sekaligus keberanian menghadapi ujian hidup.
Momentum Isra Mikraj menjadi pengingat agar semangat meneladani Nabi terus dipupuk oleh umat Islam. Pengamalan nilai spiritual ini dapat mendorong kepemimpinan yang bijak, ikhlas, dan penuh kasih sayang.
Nilai-nilai spiritual dari Isra Mikraj juga menjadi dasar pandangan bagi umat Islam dalam menata akhlak dan ibadah. Semangat ini kemudian terlihat jelas melalui pandangan lembaga-lembaga keagamaan yang menafsirkan makna peringatan Isra Mikraj.
Selanjutnya, Makna Peristiwa Isra Mikraj
Majelis Ulama Indonesia (MUI) memaknai peringatan Isra Mikraj sebagai momentum untuk meningkatkan kedekatan umat Islam dengan Allah SWT. Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Umum MUI, Buya Dr. Anwar Abbas.
"Karena dengan peristiwa Isra dan Mikraj itu beliau bisa dekat dengan Tuhan ya. Oleh karena itu, ibrahnya kita dituntut untuk bisa mendekatkan diri dengan Tuhan," katanya dalam wawancara bersama RRI Pro3, Jumat, 16 Januari 2026.
Ia menjelaskan, momentum kedekatan umat muslim dengan Allah SWT tidak hanya sekadar menjalankan kewajiban. Tapi juga melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Menjalankan perintah Allah SWT juga dilakukan dengan baik oleh Nabi Muhammad SAW. Semasa hidupnya, sang nabi pernah membantu seseorang yang pernah mencaci makinya.
"Orang itu setiap hari mencaci-maki nabi. Tapi nabi tetap membalasnya dengan perilaku yang mulia kepada orang tersebut," ujarnya.
Perilaku mulia itu dilakukan saat Nabi Muhammad SAW menyuapi orang tersebut ketika sakit. Sehingga kemudian perilaku baiknya tersebut dikenang oleh umat Islam hingga saat ini sebagai teladan akhlak mulia Rasulullah SAW.
Pesan ini menjadi pijakan bagi masyarakat di berbagai daerah dalam memaknai peringatan Isra Mikraj. Semangat dan nilai akhlak mulia ini juga tercermin dalam kebersamaan masyarakat Aceh saat memperingati Isra Mikraj.
Selanjutnya, Sebagai Bentuk Kepercayaan Atas Kebesaran Allah SWT
Masyarakat Aceh tetap antusias menggelar peringatan Isra Mikraj dengan rangkaian tausiah, zikir, dan salat berjemaah. Sebelumnya, wilayah tersebut sempat dilanda banjir bandang yang merusak masjid, rumah, hingga permukiman warga.
Sekretaris Jenderal Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Ustadz Gunawan, mengatakan masyarakat bergotong royong membersihkan sejumlah masjid untuk dapat melaksanakan salat. "Semua rakyat berbondong-bondong walaupun mungkin ada beberapa tempat yang belum bisa digunakan untuk sholat berjamaah," kata Ustadz Gunawan dalam wawancara bersama Pro3 RRI di Jakarta, Jumat, 16 Januari 2026.
Imbas bencana banjir yang melanda wilayah Aceh dan sekitarnya sedikit membuat perayaan Isra Mikraj berbeda dari tahun sebelumnya. Namun demikian, ia tetap optimis, musibah ini dapat dilalui bersama.
Ia pun memaknai perayaan Isra Mikraj sebagai bentuk kepercayaan manusia atas kebesaran Allah SWT. Salah satunya dengan mempercayai kuasa besar Allah SWT untuk memulihkan kondisi pascabanjir di Aceh dan Sumatra.
"Setelah berduka terkena bencana, kita tahu, Allah justru yang paling dekat. Karena Isra Mikraj telah janji bahwa setiap luka akan memiliki jalan cahaya," ujarnya.
Semangat kebersamaan dan iman yang kuat ini selaras dengan nilai yang disampaikan MUI. Kesadaran spiritual ini kemudian mengalir ke penguatan ibadah, seperti yang diterapkan di Pondok Pesantren Annur Bekasi.
Selanjutnya, Memperbaiki Sholat Sebagai Hikmah Isra Mikraj
Pondok Pesantren (Ponpes) Annur Bekasi mengajak umat Islam memaknai peristiwa Isra Mikraj yang pernah dialami Nabi Muhammad SAW. Yakni dengan cara memperbaiki sholat wajib baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya.
Menurut Pimpinan Pondok Pesantren Annur Bekasi, Ahmad Ushtuchri, seruan tersebut bukan tanpa dasar. Sebab perintah sholat erat kaitannya dengan peristiwa Isra Mikraj.
Ia mengatakan, dalam perjalanan Isra Mikraj itulah umat Islam mendapatkan perintah mengerjakan sholat. Yang itu disampaikan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
"Dalam peringatan Isra Mikraj kali ini, mari kita jadikan sebagai momentum memperbaiki sholat dari sisi kuantitas maupun kualitas. Apalagi kita Umat Nabi Muhammad telah diberikan keringanan dibandingkan dengan umat Nabi lainnya dalam hal salat," katanya, saat diwawancarai di Komplek Pondok Pesantren Annur Bekasi, Jumat, 16 Januari 2026.
Selain itu, ia juga menyebut bahwa perintah Isra Mikraj didapat saat Nabi Muhammad dalam kondisi berduka. Pada saat itu, Nabi Muhammad baru saja kehilangan istrinya, Siti Khadijah dan juga pamannya Abu Thalib.
Sehingga Isra Mikraj sendiri semacam hadiah Allah kepada Nabi Muhammad untuk menghibur Nabi Muhammad yang tengah berduka. Caranya dengan memperjalankan Nabi Muhammad dengan perjalan kilat.
"Saat itu Nabi Muhammad sedang sedih, itulah sisi kemanusian beliau dan Allah menghibur melalui Isra Mikraj. Sebuah perjalanan kilat yang sangat luar biasa yang sampai sekarang belum pernah ada yang menyamainya," katanya.
Melalui Isra Mikraj, ia berharap umat Islam mengambil pelajaran berharga dari kondisi kebatinan Nabi Muhammad. Saat itu Nabi Muhammad sedang dalam kondisi berduka akibat ditinggal orang-orang tercintanya.
"Hikmahnya adalah, bahwa dalam setiap fase kehidupan tidak selalu bahagia, ada juga datang fase kesedihan. Tapi semua yakinlah itu semua sementara semua pasti bisa terlewati," ujarnya.
Sementara, Eri Mutawalli yang juga merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Annur, mengatakan Ponpes Annur akan menggelar peringatan Isra Mikraj. Agenda itu akan dilangsungkan pada 25 Januari 2026.
"Kami akan gelar peringatan Isra Mikraj pada 25 Januari 2026. Kami harap umat Islam di sekitar Ponpes Annur maupun di Bekasi bisa ikuta hadir meramaikan," ujarnya.
Melalui Isra Mikraj, ia berharap umat Islam mengambil pelajaran berharga dari kondisi kebatinan Nabi Muhammad. Hikmah ini selaras dengan nilai pembinaan spiritual yang diterapkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
Selanjutnya, Memperkuat Keimanan dan Harapan Masa Depan
Selawat menggema di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang saat peringatan Isra Mikraj 1447 Hijriah, Kamis, 15 Januari 2026. Kegiatan ini dikemas dalam pengajian bertema Bangkit dari Kesalahan, Naik Menuju Ampunan.
Pengajian diisi ceramah dan selawat bersama Pimpinan Majelis Mafia Sholawat, Gus Ali Gondrong. Suasana semakin khidmat dengan iringan hadroh dan penampilan tarian sufi.
Dua grup hadroh turut mengiringi selawatan, yakni Semut Ireng dan Albadas Lapas Semarang. Penampilan tersebut menambah semarak sekaligus kekhusyukan rangkaian kegiatan.
Acara diawali pembacaan Surah Al-Isra oleh salah satu warga binaan. Kegiatan dilanjutkan penyerahan hadiah lomba oleh Kepala Bidang Pembinaan Lapas Semarang.
Kepala Bidang Pembinaan Lapas Semarang, Donny Setiawan, menyampaikan sambutan mewakili Kepala Lapas. Ia menekankan, setiap kesulitan selalu disertai harapan dan jalan keluar.
“Keberadaan saudara di tempat ini bukanlah akhir dari segalanya. Lapas adalah tempat pembinaan, tempat memperbaiki diri, dan tempat menata kembali kehidupan agar menjadi lebih baik di masa depan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Lapas Semarang berharap pembinaan spiritual warga binaan semakin meningkat. Peringatan Isra Mikraj menjadi sarana memperkuat keimanan dan harapan masa depan.
Gus Ali Gondrong juga menyampaikan tausiyah kepada warga binaan. Ia memotivasi agar warga binaan menata hati dan mengambil hikmah dari setiap ujian.
“Tata hatimu, belum tentu yang jelek menurut manusia, jelek juga menurut Allah. Saudara saat ini dipondokkan oleh Allah di pesantren At Taubah Lapas Semarang, pasti ada hikmah yang bisa diambil ,” kata Gus Ali.
Melalui kegiatan ini, Lapas Semarang berharap pembinaan spiritual warga binaan semakin meningkat. Nilai-nilai spiritual ini kemudian bersinergi dengan tradisi Isra Mikraj di Yogyakarta yang menggabungkan aspek budaya dan agama.
Selanjutnya, Pelestarian Tradisi Isra Mikraj di Tengah Modernisasi
Tradisi unik Peringatan Isra Mikraj tetap dilestarikan meski modernisasi meningkat di Yogyakarta. Salah satu tradisi khas disebut Hajat Dalem Yasa Peksi Burak, yang telah berlangsung sejak Hamengkubuwono pertama.
Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Wahjudi Djaja, menyebut tradisi ini menggabungkan nilai religius dan budaya Kraton. Ia mengatakan prosesi ini dilaksanakan selama dua hari menjelang hari Isra Mikraj.
“Jadi ini dilaksanakan pada hari Kamis kemarin. Tetapi prosesnya sudah dilaksanakan pada hari Rabu,” kata Wahjudi saat berdialog dengan Pro3 RRI, Jakarta, Jumat, 16 Desember 2026.
Ia menjelaskan prosesi ini dimulai dengan pembuatan burung peksi dari buah jeruk Bali. Kemudian kirab budaya, dan diakhiri pembacaan risalah Nabi Muhammad SAW pada Kamis, 15 Januari 2026 malam.
Burung peksi dibuat dalam jumlah dua, laki-laki dan perempuan, dan diletakkan di atas pohon-pohon berisi tujuh buah. Seluruh rangkaian prosesi diakhiri dengan doa dan pembagian gunungan buah-buahan kepada masyarakat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.
Ia menambahkan bahwa tradisi ini merupakan akulturasi yang memungkinkan masyarakat menerima nilai keagamaan tanpa resistensi. Ketua Umum Kasagama ini menyebut organisasinya berperan menjaga tradisi dengan membangun narasi berbasis akar sejarah. “Kita membantu membangun narasi bahwa dari akar tradisi sejarah itu bisa dimaknai ulang dalam konteks ke Indonesian zaman sekarang,” ujarnya. Tantangan pelestarian tradisi ke depan, menurut Wahjudi, adalah modernisasi dan digitalisasi yang menggeser perhatian generasi muda.
“Bagaimana kita dengan tradisi yang ada, kita kelola, kita kemas, kita sajikan dalam multimedia. Itu menjadi bahan pembelajaran bagi siswa dimanapun berada, lalu terjadi regenerasi tentang adat budaya,” kata Wahjudi.
Tradisi ini menjadi sarana menghubungkan nilai spiritual, pendidikan agama, dan budaya lokal. Semangat pelestarian ini menjadi wujud keberlanjutan nilai Isra Mikraj di tengah modernisasi dan digitalisasi generasi muda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....