Super Flu Menghebohkan, Kemenkes Ungkap Faktanya
- 14 Jan 2026 06:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
BELAKANGAN ini publik sangat dihebohkan dengan kemunculan super flu yang ramai dialami sejumlah masyarakat Indonesia. Isu tersebut memicu kekhawatiran publik.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan Super Flu bukanlah virus baru, melainkan virus lama dan tidak sebanding dengan ancaman COVID-19. Perbedaan yang mendasar antara COVID-19 dengan Influenza terletak pada kesiapan sistem imun dari manusia.
“Ini bukan virus baru seperti COVID-19, ini (Super Flu) sudah beredar dan sudah tahunan. Kalau COVID itu virus baru, imun sistem kita enggak siap, sehingga kemungkinan meninggalnya besar, tetapi yang ini sudah lama, tubuh kita seharusnya bisa mengatasi,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.
Karena itu, Kemenkes meminta kepada masyarakat untuk tidak bereaksi secara berlebihan. Pasalnya, kepanikan justru bisa menimbulkan dampak sosial dan kesehatan yang tidak perlu.
Budi menjelaskan, karakteristik virus Influenza saat ini menunjukkan tingkat penularan yang tinggi, namun tingkat kematiannya sangat rendah. “Yang tinggi itu penyebarannya, tapi tingkat kematiannya rendah sekali,” ucap Budi.
Ia menjelaskan fenomena secara ilmiah di balik evolusi virus tersebut. Menurutnya, virus secara alami akan bermutasi menjadi lebih lemah agar bisa bertahan hidup lebih lama di tubuh manusia.
“Virus itu kalau tingkat kematiannya tinggi, biasanya penyebarannya lamban, karena virus juga butuh inang untuk hidup. Kalau inangnya cepat meninggal, virusnya ikut mati,” ujarnya.
Virus influenza H3N2 yang kini terdeteksi, khususnya subclade K, disebut memiliki pola serupa. Virus ini juga cepat menyebar, namun relatif ringan.
Selanjutnya, Kasus Kematian di Bandung Bukan Akibat Super Flu
Kemenkes meluruskan informasi mengenai adanya laporan kematian di Bandung yang dikaitkan dengan super flu. Kematian tersebut ditegaskan Kemenkes bukan disebabkan oleh Virus Influenza yang ramai dibicarakan oleh publik.
“Yang di Bandung itu meninggalnya bukan karena flu. Dia punya penyakit lain,” ucap Budi menegaskan.
Menkes Budi kemudian memberikan analogi sederhana. Pernyataan ini sekaligus menepis narasi bahwa super flu telah menyebabkan kematian langsung.
“Misalnya ada orang flu, lalu ketabrak mobil dia langsung meninggal ketabrak mobil bukan karena flu. Ini sama, penyakit penyertanya yang menyebabkan meninggal,” kata Budi.
Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, memaparkan hasil pemeriksaan laboratorium secara rinci. Aji menyebut, bahwa Kemenkes telah menerima sekitar 800 sampel positif influenza dari berbagai daerah.
“Sampel itu berasal dari lab daerah, rumah sakit, hingga balai karantina kesehatan,” ujar Aji. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 persen dilakukan whole genome sequencing (WGS) di Laboratorium Biokesehatan Jakarta.
Hasilnya, kata Aji, ditemukan beberapa jenis virus influenza yang sudah dikenal. “Ada influenza A PDN09, yang pandemi 2009 itu dan ditemukan juga influenza A H3N2,” ucap Aji.
Dari kasus H3N2, sebagian masuk dalam subclade K, sementara sisanya adalah influenza B. Aji menekankan bahwa WGS tidak bisa dilakukan setiap saat karena memerlukan pengumpulan sampel dalam jumlah besar.
Selanjutnya, Surveillnce Diperketat, Pintu Masuk Diawasi
Menjawab kekhawatiran publik akan potensi pandemi baru, Kemenkes memastikan sistem kewaspadaan nasional tetap berjalan ketat. Pemantauan dilakukan setiap hari melalui berbagai jejaring surveilans.
“Kami punya sentinel ILI, SARI, rumah sakit, lab kesehatan daerah, balai karantina kesehatan. Semua laporan kita himpun,” ujarnya.
Bahkan, pengawasan di pintu masuk negara mulai diaktifkan kembali. “Thermal scanner sudah mulai diaktifkan lagi di beberapa pintu masuk,” kata Aji.
Namun, ia menegaskan kebijakan di Negara Indonesia tidak bisa disamakan dengan negara lain. Seperti Amerika Serikat atau Inggris yang sudah menerapkan pembelajaran daring (Online) di sekolah.
“Kita tidak bisa sembrono. Kebijakan harus berdasarkan data dan fakta,” kata Aji menegaskan.
Terkait imbauan vaksin flu, Kemenkes menegaskan bahwa vaksinasi tidak bersifat wajib. Saat ini, Kemenkes hanya berfokus kepada penguatan imunitas tubuh manusia.
“Pertahanan terbaik adalah imunitas tubuh yang kuat. Makan bergizi, istirahat cukup,” kata Aji.
Aji menyatakan bahwa vaksin flu boleh dilakukan, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan tenaga kesehatan. Namun, Aji menegaskan vaksin flu hanya bersifat opsional.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk kembali menerapkan kebiasaan sehat. “Kalau sakit, istirahat di rumah. Pakai masker, terapkan etiket batuk, dan cuci tangan."
Selanjutnya, Semua Pasien Sudah Sembuh
Dari 62 pasien yang terdeteksi subclade K, Kemenkes memastikan seluruhnya sudah sembuh. Data tersebut berasal dari minggu ke-36 tahun 2025.
“Tidak ada yang sakit berat, tidak ada yang meninggal. Sekarang semuanya sudah normal,” kata Aji.
Gejala yang muncul pun menyerupai flu biasa seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan sebagian kecil sesak napas. “Demamnya rata-rata 38 sampai 39 derajat,” ujarnya.
Kemenkes menegaskan posisi pemerintah berada di tengah tidak panik, tapi juga tidak lengah. Kewaspadaan tetap dilakukan oleh seluruh masyarakat, termasuk memantau laporan WHO dan CDC.
“Kita pantau betul secara epidemiologis. Apakah situasinya ringan, sedang, atau meningkat,” kata Aji.
Dengan pendekatan berbasis data dan pengalaman pandemi sebelumnya, pemerintah berharap masyarakat tetap tenang, rasional, dan menjaga kesehatan tanpa ketakutan berlebihan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....