Memilah Tontonan Lewat Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri
- 05 Jan 2026 17:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
HADIRNYA konten film dan tayangan digital yang deras menjadi tantangan baru di era media modern. Sayangnya, kemudahan akses tersebut tidak selalu diiringi kesadaran memilih dan atau memilah tontonan sesuai usia.
Di tengah kondisi itu, Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) hadir mendorong kebiasaan menonton yang lebih bertanggung jawab. Gerakan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam menentukan pilihan tontonan.
Budaya sensor mandiri merupakan konsep literasi tontonan yang menekankan kesadaran individu dan keluarga. Sensor dipahami sebagai proses memahami isi dan dampak tontonan sebelum dikonsumsi.
Berbeda dengan penyensoran negara, sensor mandiri tidak bersifat memaksa. Negara memberi panduan melalui klasifikasi usia, sementara keputusan akhir ada pada penonton.
Melalui pendekatan ini, sensor tidak lagi dipahami sebagai pembatas kebebasan. Sensor mandiri justru dimaknai sebagai bentuk kedewasaan dalam mengonsumsi hiburan.
Selanjutnya, Latar Belakang Lahirnya GNBSM
Masuknya platform digital dan layanan streaming di Indonesia mengubah pola konsumsi tontonan masyarakat. Film dan tayangan kini dapat diakses kapan saja tanpa batas ruang.
Kemudahan tersebut membawa konsekuensi baru, terutama bagi anak dan remaja. Banyak tontonan yang dikonsumsi tanpa mempertimbangkan klasifikasi usia.
Ketua Komisi II Lembaga Sensor Film (LSF), Ervan Ismail, menjelaskan budaya sensor mandiri merupakan bentuk kesadaran pribadi dalam menyeleksi tontonan. Setiap penonton diharapkan memiliki 'alarm pribadi' untuk menentukan tayangan yang pantas dan sesuai usia.
Ia menyoroti besarnya pengaruh film terhadap psikologi penonton, khususnya anak-anak. Tontonan yang tidak sesuai usia dapat memicu rasa takut hingga perilaku yang bertentangan dengan norma sosial.
“Film punya pengaruh yang kuat pada diri manusia, baik secara personal maupun kolektif,” ujar Ervan, di XXI Margo City, Depok, Kamis (13/11/2025). Karena itu, ia mengajak masyarakat lebih selektif menonton dan pembuat film lebih bijak menetapkan klasifikasi usia sejak awal produksi.
Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap klasifikasi usia film masih tergolong rendah. Informasi sensor seringkali diabaikan sebelum memilih tontonan.
Kondisi ini mendorong perlunya pendekatan baru dalam pengawasan tontonan. Penyensoran semata dinilai tidak cukup menjawab tantangan di era digital, maka perlu adanya kesadaran mandiri.
Selanjutnya, Peran dan Strategi Lembaga Sensor Film
Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) memegang peran kunci dalam penguatan Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri. Selain menjalankan tugas menilai kelayakan film dan iklan film, LSF kini mendorong cara pandang masyarakat agar lebih sadar memilih tontonan.
Seiring berkembangnya era digital, LSF tidak lagi hanya memaknai sensor sebagai pemotongan atau pembatasan konten. Pendekatan tersebut bergeser ke sistem klasifikasi usia penonton, yang berfungsi sebagai panduan.
Ketua LSF, Naswardi menjelaskan peran LSF kini tidak lagi sebatas menyensor atau memotong adegan film. Melalui Undang-Undang yang baru lembaga tersebut telah bertransformasi.
“Kami sekarang bukan lagi tukang jagal film. Melalui Undang-Undangan Nomor 33 Tahun 2009, kami telah bertransformasi menjadi jembatan antara layar dan penonton.” ujar Naswardi di XXI Margo City, Depok, Kamis (13/11/2025)
Melalui gerakan nasional ini, LSF menempatkan klasifikasi usia sebagai instrumen edukasi publik. Informasi seperti Semua Umur, 13+, 17+, dan 21+ diharapkan tidak sekadar menjadi simbol, tetapi benar-benar dipahami.
Strategi LSF dalam GNBSM dirancang sebagai program berkelanjutan dan berskala nasional. Gerakan ini dijalankan melalui sosialisasi kepada masyarakat, penguatan literasi di daerah, serta kerja sama lintas lembaga.
Pelaksanaan strategi tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan di daerah dengan melibatkan pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas lokal. Sosialisasi dilakukan untuk memperluas pemahaman tentang dampak tontonan, terutama bagi anak dan remaja.
Selain pendekatan edukatif, LSF juga memanfaatkan strategi komunikasi kreatif untuk menjangkau publik yang lebih luas. Berbagai kampanye, kegiatan budaya, dan program partisipatif dirancang agar pesan sensor mandiri dapat diterima dengan baik.
Salah satunya dengan program nonton bareng film nasional di 30 di Indonesia kota sepanjang tahun 2025. Dalam program nonton bareng ini LSF juga memberikan edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya sensor mandiri.
Selanjutnya, Edukasi dan Literasi ke Masyarakat
Edukasi publik menjadi pilar penting dalam Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM). LSF menilai peningkatan literasi tontonan harus dilakukan secara langsung dan berkelanjutan di tengah masyarakat.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui program nonton bareng film nasional di 30 kota di Indonesia. Kegiatan ini dirancang tidak sekadar sebagai hiburan, tetapi juga sarana edukasi tentang pentingnya klasifikasi usia.
“Masyarakat harus turut aktif mengingatkan lingkungan sekitar tentang pentingnta tontonan sesuai usia, aktif menjadi Sahabat Sensor Mandiri. Kami juga terus berupaya meningkatkan kualitas literasi,” ujar Ketua LSF Naswardi, Kamis (13/11/2025)
Dalam setiap kegiatan nonton bareng, LSF menyisipkan diskusi dan sosialisasi mengenai makna sensor mandiri. Masyarakat diajak memahami bahwa klasifikasi usia bukan pembatas, melainkan panduan untuk melindungi penonton sesuai tahap usia.
Program ini menyasar beragam kelompok, mulai dari pelajar, mahasiswa, keluarga, hingga komunitas lokal. Pendekatan langsung dinilai efektif karena memungkinkan dialog dua arah antara LSF dan masyarakat.
LSF sendiri menargetkan 11.500 penonton mendapatkan edukasi budaya sensor mandiri penjanag tahun 2025. “Kami berkolaborasi dengan film-film nasional yang rilis untuk agenda literasi ini,” kata Naswardi.
Program Nonton Bareng LSF ini diharapkan memperkuat Budaya sensor mandiri di masyarakat agar tercipta tontonan aman dan bertanggung jawab. Literasi tontonan diharapkan tumbuh dari pengalaman bersama.
Selanjutnya, Suara Industri Perfilman, Perspektif Reza Rahadian
Aktor dan sutradara Reza Rahadian menyambut positif peran Lembaga Sensor Film dalam era perubahan fungsi lembaga tersebut. Ia melihat LSF kini lebih terbuka, edukatif, dan relevan dengan perkembangan industri serta kebutuhan penonton masa kini.
Menurut Reza, transformasi LSF yang tidak sekadar menyensor konten secara linear tetapi juga mengedukasi publik. Upaya ini sangat penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat antara karya film dan penonton.
Dalam dukungannya terhadap GNBSM, Reza menekankan bahwa literasi sensor mandiri sejalan dengan semangat perfilman nasional. Menurutnya, penonton perlu memiliki kesadaran untuk memahami konteks dan batas usia suatu karya sebelum menontonnya.
“Sensor seharusnya tidak dipahami sebagai bentuk pembatasan semata aja ya. Tapi lebih bagaimana sensor ini menjadi bentuk kesadaran bersama yang tumbuh secara mandiri di masyarakat,” ujar Reza Rahadian, Kamis (13/11/2025).
Reza juga menyinggung peran orang tua dalam membimbing anak saat menonton di bioskop. Ia menilai penting bagi keluarga untuk memahami apakah film yang dipilih sesuai usia anak.
“Peran orang tua penting untuk membangun budaya sensor mandiri. Memilih film misalnya, ini kalau anak saya nonton ini tepat atau tidak ya dengan itu sendiri udah jadi bentuk sensor,” kata Reza.
Sebagai sineas film yang terlibat langsung dalam kegiatan LSF, Reza melihat kegiatan semacam ini punya nilai ganda. Kegiatan itu bukan hanya ajang hiburan, tetapi juga ruang dialog yang memperkuat pemahaman penonton terhadap pentingnya memilah dan memilih tontonan.
Selanjutnya, Modernisasi dan Strategi Komunikasi Publik
Strategi komunikasi publik menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM). LSF mengembangkan pendekatan yang lebih kreatif agar pesan memilah dan memilih tontonan sesuai usia dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkenalkan maskot baru bernama Mama Culla, badak jawa betina sebagai identitas visual. Maskot ini dirancang sebagai simbol seorang ibu yang menjaga anaknya menjadi representasi pentingnya menghindarkan anak dari konten sensitif.
“Kita memilih badak jawa karena hewan endemik yang terancam punah. Prinsip dasarnya dari badak adalah pada saat ada ancaman selalu menempatkan anaknya berada di bawah perlindungannya,” kata Naswardi pada acara Peluncuran Maskot, Iklan Layanan Masyarakat, dan Telop Lembaga Sensor Film, di Djakarta Theatre, Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Maskot ‘Mama Culla’ dipilih untuk menggambarkan perlindungan kelompok rentan, seperti anak-anak. Pesan utamanya adalah untuk para orang tua agar bisa memilih tontonan sesuai usia.
Selain maskot, LSF juga menghadirkan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) terbaru. ILM tersebut berfungsi sebagai pengingat agar penonton memperhatikan klasifikasi usia sebelum memilih tontonan, baik di bioskop maupun di platform digital.
ILM tersebut dibuat lebih modern dengan visual yang kreatif. Strategi ini merupakan upaya LSF untuk dapat menyampaikan pesan edukatif yang kuat, berkarakter dan segar di mata penonton masa ini
LSF juga akan menjajaki kerja sama dengan berbagai platform OTT seperti Netflix dan Disney. Langkah ini dilakukan agar edukasi tetap menjangkau penonton daring.
Upaya lain dilakukan melalui pembaruan telop klasifikasi usia yang ditampilkan sebelum pemutaran film di bioskop. Telop baru ini dibuat lebih modern dan komunikatif dengan menghadirkan karakter visual yang menarik.
LSF juga memperbarui telop klasifikasi usia agar tampak segar dan menarik. “Kita ingin telop itu tidak hanya sekadar formalitas, tetapi mampu menarik penonton untuk lebih terhibur,” ucap Naswardi.
Kolaborasi untuk telop baru ini dilakukan bersama 4 IP (Intellectual Property) lokal milik anak muda Indonesia. Diantaranya, Fun Cican, Si Nopal, Emak-Emak Matic, dan Si Juki, menghadirkan visual baru yang lebih akrab dengan generasi muda.
Melalui kombinasi tersebut, LSF berharap masyarakat dapat membangun kebiasaan menonton yang lebih bertanggung jawab. Upaya ini menjadi bagian dari langkah jangka panjang agar budaya sensor mandiri tertanam kuat di tengah masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....