Tarif Tiket Museum Naik, Akses Edukasi Kian Terhimpit
- 03 Jan 2026 11:42 WIB
- Pusat Pemberitaan
KEMENTERIAN Kebudayaan (Kemenbud) berencana meningkatkan kesejahteraan dan perkembangan bagi seluruh museum yang tersebar di Indonesia. Peningkatan tersebut dilakukan agar masa depan museum bisa lebih baik.
Salah satu yang dilakukan oleh pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan museum adalah dengan melibatkan sektor swasta. Yakni melalui kerja sama pendanaan, pengelolaan fasilitas, serta pengembangan program edukasi dan pameran berkelanjutan.
Saat ini, juga dibentuk Dewan Penyantun yang beranggotakan pengusaha dan filantropis untuk mendukung pengelolaan museum. Sehingga nantinya para pengusaha mampu memberikan pendanaan untuk memperbaiki museum.
"Para pengusaha tersebut memberikan pendanaan untuk memperbaiki museum, contohnya saat Museum Nasional Indonesia kebakaran pada dua tahun lalu. Jadi pendanaan museum tidak melulu mengandalkan dana APBN," kata Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon kepada wartawan usai Deklarasi Peringatan Hari Museum Indonesia, Plaza Insan Berprestasi, Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Minggu malam (12/10/2025).
Sebelumnya, Ketua Dewan Penyantun Museum Cagar dan Budaya, Hashim Djojohadikusumo mengatakan bahwa dirinya akan membangun kesejahteraan museum. Hal itu diungkapkannya usai pelantikan Ketua Dewan Penyantun Museum Cagar dan Budaya oleh Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon.
"Saya akan sekuat tenaga akan ikut mengawal, menggunakan ruang sebagai Dewan Penyantun. Kita akan mengundang sejumlah pengusaha, untuk ikut mengawal dan membangun suatu jaringan museum yang bisa kita banggakan," ucapnya.
Dalam hal itu, ia memastikan bahwa seluruh kerja Kementerian kebudayaan akan terbantu apabila Dewan Penyantun dapat terlaksana dengan baik. Terutama dalam mengakselerasi pemajuan kebudayaan.
Ia berharap Indonesia akan menjadi Negeri Beribu Museum, namun, tidak hanya menjadi tempat pameran artefak yang statis. Melainkan, museum juga menjadi ruang budaya, ruang peradaban yang hidup dengan berbagai macam aktivitas.
Selanjutnya, Rencana dan Awal Mula Kenaikan Tiket Museum
Rencana peningkatan kesejahteraan museum kemudian menjadi isu serius di tengah upaya peningkatan kualitas layanan. Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon kemudian melakukan studi banding pendanaan ke museum luar negeri, yaitu Prancis.
Menurutnya, pendanaan museum di negara tersebut berasal dari pemasukan tiket sebesar 30 persen. Dan penjualan merchandise hingga 50 persen.
"Jadi peran dari souvenir, merchandise itu sebenarnya sangatlah tinggi. Tapi ada juga pendanaan dari pemerintah sebanyak 20 persen saja," ujarnya saat menghadiri Deklarasi Peringatan Hari Museum Indonesia, Plaza Insan Berprestasi, Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Minggu malam (12/10/2025).
Pada prinsipnya, museum di Indonesia harus mampu menghadirkan souvenir (merchandise) yang tidak hanya bernilai ekonomi. Tetapi juga merepresentasikan identitas dan kekayaan budaya bangsa.
Produk tersebut dapat menjadi modal budaya yang memperkuat keberlanjutan museum. Selain itu, hal ini juga dapat menarik minat publik untuk berkunjung, belajar, dan berpartisipasi dalam pelestarian warisan bangsa.
Selanjutnya, Naiknya Harga Tiket Museum Nasional Indonesia
Peningkatan kesejahteraan museum kemudian berlanjut dengan naiknya harga tiket Museum Nasional Indonesia. Yang sebelumnya dipatok harga Rp25 ribu rupiah, kini menjadi Rp50 ribu per orang.
Naiknya harga tiket museum kemudian dibenarkan oleh Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon. Menurutnya, penyesuaian harga justru ditujukan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap museum.
Langkah ini menegaskan arah baru pengelolaan museum nasional–inklusif secara sosial, namun berkelanjutan secara kualitas. Pemerintah menilai selama ini harga tiket museum di Indonesia terlalu murah jika dibandingkan dengan standar internasional.
"Di Eropa, tiket masuk museum rata-rata dipatok mulai dari 12 hingga 65 euro. Sementara di Indonesia, harga masih tergolong sangat terjangkau," katanya saat ditemui wartawan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (31/12/2025).
Saat ini, tiket Museum Nasional untuk masyarakat umum ditetapkan sebesar Rp50 ribu. Sedangkan pelajar dan rombongan mendapat harga khusus Rp30 ribu.
Penyesuaian tarif ini tidak berdiri sendiri, Museum Nasional juga menghadirkan peningkatan fasilitas dan koleksi. Termasuk pameran langka Manusia Jawa (Javaman) atau Homo erectus yang baru kembali ke Indonesia.
Selain itu, pengunjung dapat menyaksikan lukisan-lukisan purba dari kawasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Yang kini menjadi bukti penting perjalanan peradaban manusia di Nusantara.
"Dengan koleksi yang semakin lengkap, mereka yang membayar bisa benar-benar memahami peradaban Indonesia. Khususnya melalui artefak yang tidak bisa ditemukan di tempat lain," ujarnya
Selanjutnya, Peningkatan Fasilitas, Tiket Museum Nasional Disesuaikan
Direktur Museum dan Cagar Budaya (MCB) Kementerian Kebudayaan Esti Nurjadin, mengatakan pihaknya telah merencanakan menaikkan harga tiket sejak Agustus 2025. Namun hal itu ditunda sampai 1 Januari 2026 hingga fasilitas yang dimiliki Museum Nasional Indonesia (MNI) sudah beres.
Ia menyebut, sistem Badan Layanan Umum (BLU) menerapkan public service dengan pola pikir (mindset) bisnis. Dan pihak MCB mengutamakan pelayanan demi kenyamanan pengunjung.
Apabila sebelumnya pintu masuk dan tiket ada di Gedung A, maka kini pindah ke Majapahit Hall yang lebih luas. MNI juga akan mengubah alih fungsi auditorium di basement gedung jadi masjid dan akan siap pada akhir Januari 2026.
"Untuk mengubah itu juga butuh proses, apakah sudah sesuai dengan emergency exit cukup atau tidak. Kami sudah buat shaf-nya, tapi tempat wudhu yang belum ready, diharapkan siap akhir bulan Januari," ucapnya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Jumat (2/1/2026).
Ia juga mengatakan setelah ada peningkatan fasilitas, luas area non-tiket sebelumnya 3.800 meter persegi. Mayoritas dari bagian taman di depan fasad, akan tetapi, MCB akan menyesuaikannya jadi 8.100 meter persegi.
"Ada area non-tiket yang lebih banyak dan kita pertimbangkan untuk kenyamanan pengunjung. Kita juga menyiapkan peta, jadi pengunjung yang sudah bayar dapat peta fisik buat kenang-kenangan dan gelang tiket," katanya, menjelaskan.
Esti turut menyampaikan mulai Januari 2026 ruang ImersifA akan diganti dengan konsep yang tidak kalah seru. "Pelan-pelan kita berjalan dulu sekarang, pindah tiket, sekarang pun sistem tiket yang mempercepat tanpa layanan orang," ujarnya, menambahkan.
Selanjutnya, DPR Kawal Kenaikan Tarif Tiket Museum Nasional Indonesia
Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian menyebut pihaknya akan memastikan kenaikan tarif Museum Nasional Indonesia (MNI). Hal ini dilakukan agar tidak menimbulkan kontra produktif dengan minat masyarakat untuk belajar sejarah dan kebudayaan Indonesia.
Ia semula mengatakan kenaikan harga tiket MNI harus diimbangi peningkatan pelayanan dan akses. Ia menyebut museum adalah ruang edukasi.
Ia menilai kenaikan tarif tiket MNI harus dilihat dengan berimbang. Diantaranya tentang kebutuhan peningkatan layanan dan akses publik terhadap pendidikan dan kebudayaan.
"Museum adalah ruang edukasi yang seharusnya inklusif. Sehingga kebijakan tarif perlu disertai kajian yang transparan," ujarnya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Jumat (2/1/2026).
Ia juga meminta ada skema diferensiasi atau perbedaan harga untuk pelajar, mahasiswa, dan kelompok rentan. Ia berharap adanya perbaikan kualitas, keamanan, dan pengalaman dari kenaikan tarif tersebut.
Ia menegaskan pihaknya akan mengawasi situasi setelah kenaikan harga tiket. Ia tidak ingin kebijakan ini malah menghambat minat masyarakat untuk belajar.
"Saya mendorong dialog antara pengelola dan publik, serta selaku pimpinan Komisi X DPR, tentu akan melakukan pengawasan. Agar kebijakan ini tidak justru menghambat minat masyarakat untuk belajar sejarah dan budaya bangsa," katanya, menjelaskan.
Selanjutnya, Tarif Kenaikan Tiket Memberatkan Masyarakat
Kenaikan harga tiket Museum Nasional memicu respon beragam dari masyarakat, salah satunya adalah warga Jakarta Utara, Widjaya. Ia merasa tidak setuju dengan tarif tiket masuk Museum Nasional Indonesia yang naik dua kali lipat.
Sebelumnya, harga tiket museum tersebut berkisar Rp25 ribu pun masih dianggap terlalu mahal bagi sebagian warga Jakarta. Belum lagi kenaikan harga yang mencapai dua kali lipat yang kini menjadi Rp50 ribu.
"Mahal sekali, Rp25 ribu saja sudah mahal, itu saja orang masih mikir belinya. Apalagi sudah Rp50 ribu, makin sepi," katanya saat dihubungi RRI, Jumat (2/1/2026).
Ia menilai seharusnya pemerintah bisa mengkaji lebih cermat lagi untuk tiket masuk Museum Nasional Indonesia. Sehingga tarif tiket masuk tidak memberatkan para pengunjung.
Banyak pula yang berharap Museum Nasional bisa mengutamakan tujuan edukasi dan menggratiskan tiket. Ketimbang mencari pemasukan dari kunjungan masyarakat.
"Harusnya lebih murah, banyak kok museum di sekitar Jakarta yang harganya terjangkau. Semoga pemerintah bisa menurunkan harga tiketnya," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....